NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK SECANGKIR LUKA

Shift kerja Maira akhirnya usai ketika jam di dinding kafe menunjukkan waktu petang. Setelah berpamitan dengan Aisyah, Maira melangkah keluar dari pintu kaca kafe yang estetik itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Udara luar menyambutnya dengan embusan angin yang cukup dingin. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan menuju halte, langkah kakinya mendadak terhenti seketika. Tubuhnya kaku, dan darahnya seolah berdesir dingin.

Di depannya, bersandar pada tiang lampu jalan, seorang Rayn sudah berdiri tegap menunggunya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Begitu melihat presensi Maira, Rayn langsung menegakkan tubuhnya dan melangkah maju, menghadang jalan Maira tanpa basa-basi.

“Mai, dengerin aku dulu. Aku ke sini mau minta maaf,” ucap Rayn, suaranya sengaja dilembut-lembutkan, mencoba terdengar penuh penyesalan. “Aku gak sadar, Mai. Waktu malam itu aku bener-bener lagi mabuk berat, dan Naomi... dia yang nempel-nempel terus ke aku. Aku khilaf, Mai.”

Maira sama sekali tidak menjawab. Sepasang matanya menatap Rayn dengan tatapan sedingin es. Semua penjelasan Rayn terdengar seperti kaset rusak yang menjijikkan di telinganya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Maira mengabaikan pria itu, menggeser langkahnya ke samping demi bisa pergi menjauh dari hadapan sang mantan kekasih.

Namun, Rayn tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan gerakan cepat dan kasar, Rayn menyambar pergelangan tangan Maira, menggenggamnya dengan teramat erat hingga membuat kulit Maira memerah.

“Mai, tunggu! Jangan kayak gini lah! Masa cuman karena masalah sepele kayak gitu kamu langsung mutusin hubungan kita?” ucap Rayn, nadanya mulai berubah, terselip ego yang terusik.

Mendengar kata 'sepele' meluncur dari bibir pria yang sudah bersamanya selama lima tahun itu, emosi Maira yang sejak pagi tadi ia tekan kuat-kuat akhirnya pecah ke permukaan. Ia menyentakkan tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Rayn terlepas.

“Sepele Lu bilang?! Jadi sakit hati gue selama ini, pengkhianatan Lu di depan mata kepala gue sendiri, Lu anggap remeh, Rayn?!” bentak Maira, suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kafe.

Rayn mendengus kasar, wajah penyesalannya menguap, digantikan oleh raut wajahnya yang asli—keras dan manipulatif. “Ahh... bukan gitu maksud gue! Kita ini udah lama pacaran, Mai! Lima tahun! Dan selama lima tahun ini, siapa yang selalu ada buat Lu? Gue! Cuman karena satu kesalahan kecil malam itu, Lu langsung amnesia dan lupa sama semua kebaikan-kebaikan gue ke Lu selama ini? Egois banget Lu!”

Maira terkekeh sumbang, sebuah tawa getir yang sarat akan rasa perih. “Oh, enggak. Kebaikan Lu ke gue juga cuman karena ada maunya, kan? Dan Lu... Lu udah dapetin semua apa yang Lu mau dari tubuh gue!” balas Maira menohok, menatap tajam tepat ke manik mata Rayn.

Dipojokkan seperti itu, topeng kepura-puraan Rayn runtuh sepenuhnya. Rahangnya mengatup rapat, dan kilat amarah yang menjijikkan terpancar dari wajahnya. Pria itu maju satu langkah, menekan Maira dengan kalimat paling beracun yang pernah ada.

“Arrghhh, Mai! Dengerin gue! Lu pikir... setelah Lu lepas dari gue, bakal ada laki-laki lain yang mau nerima Lu, hah?! Lu itu cewek rusak, Mai! Masa lalu Lu hancur! Masih untung gue mau sama cewek kayak Lu!”

Deg.

Kata-kata kasar Rayn menyasar tepat ke ulu hati Maira, menghantam lubang trauma masa kecilnya yang belum sepenuhnya sembuh. Maira merasa seluruh persendiannya mendadak lemas. Ia tidak menyangka, pria yang selama lima tahun ini ia jadikan tempat bersandar dan pelarian, bisa dengan begitu mudah melontarkan kalimat serendah itu untuk membunuh karakternya.

Namun, Maira menolak untuk terlihat runtuh di depan bajingan ini. Ia menegakkan bahunya, membusungkan dada di tengah amarah yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.

“Iya! Gue emang cewek rusak! Dan Lu... Lu juga sangat menikmati kerusakkan gue itu, kan? Lu sengaja ngambil kesempatan dari kerapuhan gue buat bisa bertingkah seenaknya sama gue! Dan sekarang, setelah Lu bosan sama gue, Lu nyari pelampiasan lain ke sahabat gue sendiri! Gitu, kan? Puas Lu?! Itu kan yang mau Lu denger dari mulut gue?!” teriak Maira dengan napas memburu dan mata yang merah padam.

Rayn menatap Maira dengan tatapan benci. “Oke, fine! Gue setuju kita putus! Kita lihat aja nanti, tanpa gue di sisi Lu, hidup Lu setelah ini pasti bakal jauh lebih hancur, Mai!” ancam Rayn tajam. Setelah puas menumpahkan racunnya, pria itu berbalik dan melangkah pergi, menaiki motornya lalu melesat membelah jalanan, meninggalkan Maira sendirian.

Maira berdiri mematung di atas trotoar yang mulai gelap. Begitu bayangan Rayn hilang, pertahanannya roboh. Air matanya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya yang terasa dingin.

Malam itu, Maira pulang ke rumah tua peninggalan neneknya dengan perasaan yang teramat kosong. Langkah kakinya terasa seperti beban ratusan ton. Sepanjang perjalanan hingga ia mengunci pintu rumah, kata-kata kasar dan kutukan Rayn berputar-putar terus di dalam kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batin.

“Lagian siapa yang mau sama cewek rusak kayak Lu.”

Maira duduk di tepi kasurnya yang sunyi. Ia tertawa lirih di dalam kegelapan kamar, sebuah tawa yang terdengar sangat memilukan. Hahaha... emang bener. Gak akan ada satu pun orang di dunia ini yang mau sama cewek rusak kayak gue. Dan gue... gue gak peduli lagi soal itu, batin Maira, mencoba mati rasa.

Maira menarik napasnya dalam-dalam. Malam ini ia benar-benar hanya ingin mengurung dirinya dari dunia luar. Di dalam sudut hatinya yang terdalam, ego lamanya sempat berontak. Ia ingin sekali pergi ke clubbing, menenggak alkohol berkadar tinggi hingga mabuk tak sadarkan diri, untuk setidaknya melupakan semua masalah hidupnya sejenak. Namun, akal sehatnya yang baru terketuk semalam menahan niat itu. Ia berpikir, semua pelarian malam itu hanya bersifat sementara. Begitu ia sadar dari mabuk, dunia akan kembali seperti ini lagi. Dunia akan tetap terasa jahat.

Dengan langkah pelan, Maira berjalan menuju lemari pakaian kayu milik almarhumah neneknya. Ia membuka pintu lemari tersebut, lalu jemarinya bergerak mengambil kotak beludru kecil tempat ia menyimpan surat tulis tangan dari neneknya.

Ia membaca ulang kalimat pendek di kertas usang itu. Sholat. Pesan terakhir dari neneknya hanya itu. Sholat!

“Sebenarnya... sholat tuh buat apa sih? Kenapa Nenek selalu nyuruh Maira sholat? Kenapa orang asing di jembatan kemarin juga nyuruh Maira sholat?” gumam Maira pelan pada keheningan ruangan.

Pertanyaan-pertanyaan liar dan skeptis di otaknya terus bermunculan, menuntut jawaban yang selama ini tidak pernah ia cari. Maira menghela napas, lalu menyimpan kembali kotak beludru itu. Saat pandangannya beralih menatap tumpukan kain di bagian lemari yang paling atas, mata Maira terpaku. Di sana, ia menemukan banyak sekali mukena dan beberapa lembar sajadah yang tersusun rapi. Jumlahnya bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada baju harian neneknya semasa hidup.

“Kenapa mukenanya bisa sebanyak ini? Warnanya putih bersih semua lagi,” batin Maira, menyentuh permukaan kain mukena yang halus.

Ia menatap lama kain putih itu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, mendadak terbesit sebuah kerinduan yang besar untuk kembali bersujud. Rasa rindu pada ketenangan yang ia rasakan pada jam dua malam tadi di masjid.

Maira pun akhirnya melangkah ke kamar mandi. Ia menghidupkan kran, lalu mulai mengambil air wudhu. Meskipun bacaan-bacaan sholatnya sudah banyak yang lupa dan rancu di dalam kepala, ia bersyukur gerakan-gerakan fisiknya masih terekam jelas di dalam ingatannya.

Malam itu, di dalam kamarnya yang temaram, Maira membentangkan sajadah. Ia mendirikan sholat Isya seorang diri, berbalut mukena putih milik neneknya.

Begitu gerakan salam terakhir selesai dilakukan, Maira tidak langsung berdiri. Ia terdiam lama di atas sajadah, duduk bersimpuh dalam keheningan yang mencekam. Ia ingin sekali menadahkan kedua tangannya, mengangkat jemarinya ke atas untuk berdoa dan meminta sesuatu pada Tuhannya. Namun, tangannya terasa begitu berat untuk terangkat.

Rasa insecure, rasa bersalah, dan perasaan bahwa dirinya terlampau kotor dan bernoda mendadak hinggap dengan begitu kokoh di dalam dadanya. Ia merasa tidak pantas meminta apa-apa pada Yang Maha Suci. Dan akhirnya, di atas sajadah tua itu, Maira tidak mampu berucap sepatah kata pun. Ia hanya bisa kembali menundukkan kepala, membiarkan air matanya luruh menetes membasahi kain sajadah, menangis sejadi-jadinya dalam sunyi, persis seperti apa yang terjadi malam tadi di rumah Tuhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!