"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Rumor dan Amarah Sang Alpha
Kedamaian pagi di pulau pribadi terpencil itu mendadak menguap begitu mentari belum sepenuhnya naik. Di dalam kamar tidur utama vila apung, aroma kopi yang baru diseduh oleh Arthur masih mengepul hangat, namun atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi sedingin es.
Arthur berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke samudra. Gawai khususnya yang terenkripsi bergetar tanpa henti. Di layar, wajah Evan tampak tegang dengan gurat kecemasan yang jarang sekali diperlihatkannya.
"Laporkan, Evan," perintah Arthur, suaranya rendah namun bergetar oleh otoritas yang menekan.
"Tuan Arthur, mohon maaf mengganggu waktu bulan madu Anda," ucap Evan takzim di seberang telepon. "Namun situasi di Jakarta memburuk dalam tiga jam terakhir. Beberapa media portal berita kelas dua dan akun-akun gosip finansial papan atas serentak merilis artikel yang menyerang validitas identitas Tuan Muda Leon dan Nona Muda Lia."
Alis tebal Arthur bertaut tajam. Sinar matanya yang semula hangat saat menatap Elena yang masih tertidur lelap di ranjang, kini berubah menjadi setajam belati. "Apa isi artikelnya?"
"Mereka menuduh bahwa Nyonya Elena memalsukan hasil tes DNA lima tahun lalu untuk memeras Dinasti Arkananta. Mereka juga mempertanyakan mengapa anak-anak genius seperti Leon tidak pernah dipublikasikan dokumen kelahirannya secara legal oleh pihak rumah sakit di Milan," jawab Evan dengan nada hati-hati. "Ini adalah serangan terstruktur, Tuan. Saham Arkananta Group di bursa pagi ini bahkan sempat bergejolak turun sebesar 1,2% karena rumor ketidakpastian pewaris sah."
Arthur mengepalkan tangan kanannya hingga urat-urat di lengan kekarnya menonjol keras. Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka: mengusik ketenangan anak dan istrinya.
"Siapkan helikopter pribadi sekarang juga. Kita kembali ke Jakarta dalam waktu tiga puluh menit," perintah Arthur mutlak sebelum memutus sambungan telepon.
Elena terbangun karena merasakan kecupan intens namun sedikit terburu-buru di keningnya. Begitu membuka mata, dia melihat Arthur sudah mengenakan pakaian kasual hitamnya yang rapi, dengan raut wajah yang mengeras seperti batu karang.
"Arthur? Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Elena, mendudukkan diri sambil merapikan selimutnya.
Arthur duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan Elena dengan tatapan mata yang dipenuhi proteksi protektif. "Elena, ada sedikit tikus yang mencoba membuat kebisingan di Jakarta. Mereka menyebarkan rumor bodoh tentang Leon dan Lia di media."
Elena seketika menegang, rasa kantuknya hilang seketika. "Rumor apa? Apakah anak-anak kita dalam bahaya?"
"Tidak akan pernah, selama aku masih bernapas," potong Arthur cepat, suaranya sarat akan janji perlindungan mutlak. "Mereka hanya mempertanyakan asal-usul si kembar untuk menggoyang saham perusahaan. Tapi mereka lupa, siapa pemilik nama Arkananta yang sebenarnya. Kita harus kembali sekarang."
Menggunakan helikopter pribadi sebagai opsi transportasi tercepat, perjalanan kembali ke ibu kota terasa begitu menegangkan bagi Elena. Sepanjang penerbangan, Arthur terus menggenggam tangannya, sementara tangan kirinya tidak berhenti mengetik instruksi taktis di tabletnya untuk memblokir seluruh akses berita tersebut.
Begitu helikopter mendarat di helipad gedung utama Arkananta Tower di Jakarta Pusat, puluhan pengawal berbadan tegap sudah membuat barikade ketat. Evan langsung menyambut mereka dengan dokumen fisik di tangannya.
"Tuan, peretas internal kita berhasil melacak sumber aliran dana pembiayaan artikel hoaks ini. Semuanya bermuara pada beberapa akun luar negeri yang berafiliasi dengan sisa-sisa sekutu lama Rosa yang melarikan diri ke Singapura," lapor Evan saat mereka berjalan cepat menuju ruang rapat utama di lantai teratas.
Arthur berhenti melangkah, membuat seluruh pengawal di belakangnya ikut berhenti seketika. Aura intimidasi yang keluar dari tubuh pria itu begitu pekat hingga membuat beberapa staf yang lewat menundukkan kepala dalam-dalam karena ketakutan.
"Singapura?" Arthur mendengus sinis, senyuman miring yang mengerikan terukir di wajah tampannya. "Mereka pikir jarak satu selat bisa menyelamatkan mereka dari tanganku? Evan, beli seluruh saham perusahaan media yang menerbitkan berita itu dalam waktu satu jam ini. Pecat kepala redaksinya, dan tuntut mereka atas pencemaran nama baik keluarga jaminan mutlak."
"Baik, Tuan."
"Dan untuk para tikus di Singapura... bekukan seluruh aset spekulasi mereka di bursa efek kita. Aku ingin mereka berlutut memohon ampun sebelum matahari terbenam hari ini," tambah Arthur dingin.
Di mansi lama, Kakek William rupanya tidak tinggal diam. Ketika Arthur dan Elena baru saja tiba di mansi utama untuk menjemput anak-anak, mereka melihat Kakek William sedang duduk di ruang tengah bersama Leon yang memegang laptop kuantum barunya.
"Papa, Mama!" Lia berlari memeluk kaki Elena, tidak menyadari badai yang sedang terjadi di luar sana.
"Kakek, bagaimana keadaan di sini?" tanya Elena cemas.
William mengayunkan tongkat peraknya dengan santai, matanya berbinar jenaka namun tajam. "Jangan khawatir, Elena. Sebelum Arthur sempat bergerak, cicitku Leon sudah menghancurkan server utama dari tiga situs berita yang menyebarkan hoaks tersebut. Anak itu bener-bener tidak memberi ampun."
Leon mendongak dari layar laptopnya, menatap ayahnya dengan ekspresi datar yang sangat tenang. "Papa, aku melacak alamat IP mereka. Mereka mencoba menggunakan enkripsi berlapis, tapi sistem proteksi mereka seperti mainan anak-anak. Aku sudah menghapus seluruh basis data (database) mereka dan mengirimkan serangan DDoS balik ke sistem perbankan pribadi mereka."
Arthur melangkah mendekat, berlutut di depan putranya yang berusia lima tahun itu. Untuk pertama kalinya hari ini, senyuman bangga yang tulus terukir di wajah sang CEO garang. Pria itu menepuk bahu kecil Leon.
"Bagus, Leon. Seorang Arkananta tidak akan membiarkan ada orang lain yang menginjak harga diri keluarga," ucap Arthur bangga. Dia kemudian berdiri, merangkul Elena dan menggendong Lia. "Badai ini sudah berakhir bahkan sebelum sempat membesar. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia luar apa konsekuensinya jika berani mencari masalah dengan keluarga kita."
Dengan kekompakan dan kekuatan yang tak tertandingi dari ketegasan Arthur, dukungan emosional Elena, hingga kegeniusan siber Leon Dinasti Arkananta membuktikan bahwa mereka bukan sekadar nama korporasi yang dingin. Mereka adalah satu kesatuan yang utuh, sebuah benteng baja yang siap menghancurkan siapa pun yang mencoba mengusik kebahagiaan mereka.