NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jangan Biarkan Aku Pergi

Cahaya matahari baru menyelinap malu-malu melalui celah bebatuan gua, menyinari debu halus yang melayang di udara dingin. Laras sudah terbangun sepenuhnya sejak fajar belum menyingsing, kebiasaan lama yang tak pernah hilang—bahkan saat ia tidur paling nyenyak sekalipun, telinganya tetap menangkap setiap suara kecil: gesekan daun, langkah hewan, atau angin yang berubah arah. Ia duduk diam di mulut gua, memeluk lutut, menatap kabut putih tebal yang melayang rendah di atas puncak-puncak pohon hutan pedalaman. Udara di sini terasa berbeda—lebih dingin, lebih tajam, dan membawa aroma tanah yang seolah sudah lama tak tersentuh kehidupan.

Di pangkuannya tergeletak peta tua yang sudah ia lipat berulang kali, sudutnya mulai lecek dan warnanya memudar. Ia membukanya pelan, jari telunjuknya menelusuri garis hitam yang menuju ke utara, menandai Sungai Berputar—satu-satunya jalan menuju reruntuhan benteng tempat semua rahasia tersembunyi. Di sana, di titik yang ditandai dengan tanda silang samar, ia pernah berjanji pada satu orang untuk menjaga kebenaran sampai kapan pun.

"Kau tidak tidur lagi?"

Suara Dika terdengar lembut dari belakang, memecah keheningan tanpa mengejutkan. Laras menoleh, melihat pria itu merapikan selimut dan menyembunyikan sisa api unggun dengan tanah dan dedaunan kering—gerakannya tenang, teliti, seolah ia sudah terlatih berjalan di tempat berbahaya sejak lama.

"Aku terbiasa begini," jawab Laras pelan, lalu melipat peta kembali dengan hati-hati. "Dulu, setiap fajar adalah waktu di mana perintah baru bisa datang kapan saja. Aku takut terlambat bersiap, takut gagal melindungi orang yang harus aku jaga."

Dika berjalan mendekat, duduk di sebelahnya, lalu meletakkan tangan hangat di atas punggung tangannya yang dingin. "Sekarang fajar bukan lagi tentang perintah orang lain. Ini tentang kebebasanmu. Tentang menutup luka yang sudah lima tahun kau biarkan terbuka."

Laras menatapnya lama, lalu senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang perlahan mulai terasa wajar, bukan lagi topeng yang ia pakai untuk menipu dunia. "Kau selalu tahu cara membuat beban di pundakku terasa lebih ringan."

Mereka segera berangkat. Semakin jauh mereka melangkah meninggalkan desa, pemandangan di sekeliling berubah drastis. Pepohonan hijau rimbun perlahan digantikan oleh pohon-pohon raksasa dengan batang kelabu, kulitnya mengelupas kasar, dan cabang-cabangnya menjulur ke langit seperti jari tangan yang memohon pertolongan. Tanah di bawah kaki berwarna cokelat pucat, jarang ada rumput segar, dan dedaunan yang jatuh berwarna cokelat tua layu. Keheningan di sini terasa menindih dada—tidak ada kicauan burung, tidak ada suara serangga, hanya suara langkah kaki mereka yang bergema pelan di antara pepohonan.

Tiba-tiba Laras berhenti mendadak, tangannya secara naluriah menyentuh gagang belati di pinggang. Tubuhnya menegang seketika, mata elangnya memindai setiap sudut gelap di balik batang pohon besar.

"Ada yang salah," bisiknya, suaranya rendah namun penuh kewaspadaan. "Dari tadi aku merasa ada yang mengawasi kita."

Dika segera berdiri di sampingnya, posisinya menutupi sisi kanan Laras sambil matanya meneliti jejak di tanah. "Lihat di sini—jejak sepatu berujung besi, baru ditinggalkan sekitar satu jam lalu. Bukan satu atau dua orang, melainkan sekelompok berbaris rapi."

Belum sempat mereka memutuskan untuk bersembunyi atau berubah arah, suara desis tajam membelah udara! Tiga anak panah melesat dengan kecepatan kilat, tepat mengarah ke leher dan dada mereka berdua. Laras menarik lengan Dika ke bawah secepat kilat, hingga anak panah itu menancap di batang pohon di belakang mereka dengan suara plak keras, bulu panahnya masih bergetar hebat.

"Keluar, Mantan Ratu Pembunuh! Kami tahu kau bersembunyi di sana!" teriak suara lantang dari balik semak, diikuti suara langkah kaki yang mendekat cepat.

Laras mengatupkan rahangnya erat, amarah dan kesedihan bercampur jadi satu di dadanya. "Mereka sudah menunggu di sini. Pengkhianat itu benar-benar tak memberi aku jeda satu hari pun untuk bernapas lega."

"Aku akan menahan mereka," ujar Dika sambil mencabut pedang dari sarungnya, matanya tajam menatap arah suara. "Kau teruskan jalan menuju sungai, cari bukti yang kau cari—"

"Tidak!" potong Laras tegas, matanya menatap tajam ke arah pria itu, tak sedikit pun goyah. "Kita sudah berjanji tidak akan berpisah. Dan jangan lupa—siapa yang dulu melatih pasukan paling mematikan di kerajaan ini? Siapa yang tahu setiap celah dan kelemahan gaya bertarung mereka?"

Tanpa menunggu jawaban, Laras melompat keluar dari balik persembunyian. Gerakannya secepat bayangan, menyelinap di antara pepohonan sebelum penyerang sempat mengarahkan senjata lagi. Saat dua orang berlari menghadangnya dengan pedang terhunus, ia tidak menangkis dengan kekuatan kasar—ia hanya menunduk sedikit, memutar tubuhnya di bawah lengan lawan, dan sekejap mata gagang belatinya menghantam perut mereka berdua tepat hingga senjata terlepas.

Namun jumlah mereka terlalu banyak. Ada belasan orang, dan mereka bertarung dengan gaya yang sangat ia kenal—gaya Pengawal Kerajaan elit yang dulu ia bentuk sendiri. Saat seseorang melemparkan rantai besi ke arah kakinya, Laras hampir terpeleset, dan hanya berkat Dika yang datang tepat waktu menangkis serangan dari belakang dengan pedangnya, ia selamat dari luka di bahu.

Mereka bertarung berdampingan dengan sempurna. Laras bergerak cepat dan lincah, menyerang titik lemah dengan presisi tinggi, sementara Dika berdiri kokoh menutupi setiap celah di pertahanan wanita itu, menangkis serangan yang tak sempat ia hindari. Hingga penyerang terakhir jatuh terluka dan lari terbirit-birit ke dalam hutan yang gelap.

Laras mundur perlahan, napasnya terengah-engah, bersandar di batang pohon besar sambil menatap gagang pedang yang tertinggal di tanah. Di sana terukir jelas lambang singga emas—lambang resmi Pengawal Kerajaan. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi.

"Ini pasukan yang dulu aku percayai sepenuhnya," bisiknya, suaranya bergetar menahan tangis. "Orang-orang yang aku latih, yang aku beri makan, yang aku anggap saudara... sekarang mereka diperintahkan untuk membunuhku."

Dika segera mendekat, memegang bahunya erat, memaksanya menatap matanya. "Jangan berasumsi terlalu cepat. Banyak dari mereka mungkin hanya patuh pada perintah yang diterima—bahwa kau adalah pengkhianat yang membakar istana dan membunuh pemimpin kerajaan. Mereka tidak tahu kebenarannya sama sekali."

"Jika begitu," balas Laras pelan namun penuh kepedihan, "berarti pengkhianat itu sudah memegang kendali penuh atas istana dan seluruh pasukan. Dan jika dia sudah berkuasa sepenuhnya... orang-orang yang benar-benar setia padaku kemungkinan besar sudah tidak ada lagi."

Sisa perjalanan menuju sungai dilalui dalam keheningan yang berat, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur namun penuh beban. Ketika matahari mulai condong ke barat, mereka akhirnya tiba di tepian Sungai Berputar. Pemandangan di sana membuat keduanya tertegun sejenak—air sungai berwarna cokelat keruh, berputar deras membentuk pusaran raksasa di sepanjang aliran, menghantam batu-batu besar dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah. Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan seolah tidak ada jalan yang bisa dilewati.

"Dulu ada satu jalan rahasia," ujar Laras sambil menyusuri tepian batu dengan teliti, matanya mencari tanda yang sudah ia hafal di luar kepala. "Hanya pemimpin pasukan elit dan aku yang tahu tempat ini. Jalan ini terbuat dari batu datar yang tersembunyi di bawah permukaan air surut."

Ia mencari hampir setengah jam tanpa hasil, hingga akhirnya jari-jarinya menyentuh bekas goresan kecil berbentuk bintang di permukaan batu yang tertutup lumut tebal. Tangannya bergetar hebat saat ia membersihkan lumut itu perlahan.

"Ada!" serunya pelan, matanya berkaca-kaca. Ia menekan bagian tengah tanda bintang itu dengan kuat. Perlahan dinding batu di sampingnya bergeser, memperlihatkan deretan batu datar yang tersusun rapi di tengah arus deras—jalan penyeberangan rahasia itu masih utuh, persis seperti lima tahun lalu.

Laras menatap jalan itu lama, lalu menoleh ke arah Dika. "Mulai sini bahayanya nyata sekali. Jika ada yang salah langkah, arus akan menyeret kita ke dasar sungai. Jika kau ragu, kau masih bisa menunggu di sini, atau kembali ke desa."

Dika tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan Laras erat, melangkah lebih dulu menapaki batu pertama, lalu menoleh dan tersenyum tenang. "Aku sudah berjanji sampai akhir. Dan aku tidak akan membiarkanmu menyeberang ke tempat yang asing dan berbahaya sendirian."

Laras mengangguk pelan, menahan rasa haru yang meluap di dadanya. Ia melangkah di samping Dika, berpegangan tangan erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap tegak. Di seberang sana, kabut semakin tebal menyelimuti tanah kelabu yang menanti. Ia tahu, di balik kabut itu ia akan menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi—entah itu kebenaran yang bisa menyembuhkan lukanya, atau kebenaran yang akan menghancurkan sisa hatinya yang masih utuh. Namun kali ini, ia tidak takut. Karena ia tidak berjalan sendirian.

 

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!