Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mendengar ketegasan Kenzo yang sarat akan perlindungan, seluruh pertahanan dan rasa takut yang selama bertahun-tahun ini Rindu pikul sendiri runtuh total. Ia tidak membantah, tidak juga bersuara.
Rindu hanya bergerak perlahan, lalu menyandarkan kepalanya di pundak tegap Kenzo. Beban berat yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyum ketatnya sebagai seorang atlet, rasanya meluncur jatuh begitu saja. Pundak Kenzo terasa begitu kokoh dan pas untuk menumpu segala lelahnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur angin laut dari tubuh cowok itu entah bagaimana menjadi penenang paling ampuh, bahkan lebih cepat daripada kerja obat inhaler di kantong jaketnya.
Kenzo sempat tertegun sesaat menerima sandaran tiba-tiba itu. Namun sedetik kemudian, seulas senyum teduh terbit di wajah tampannya. Ia melingkarkan lengan kokohnya di bahu Rindu, menarik tubuh gadis itu agar makin merapat dalam dekapannya, lalu mengecup puncak kepala Rindu dengan lembut.
"Capek ya, Rin?" bisik Kenzo sangat pelan, sambil mengusap-usap lengan Rindu untuk menghalau angin pantai yang mulai terasa dingin. "Mulai hari ini, bagi dua capeknya sama kakak. Kamu gak usah pura-pura kuat lagi di depan siapa pun, apalagi di depan kakak."
Rindu memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang menjalar di hatinya. Di tepi pantai yang sepi itu, di bawah langit sore yang perlahan meredup, Rindu akhirnya tahu rasanya memiliki tempat pulang yang aman. Tempat di mana ia tidak perlu menjadi "Ratu Lintasan" yang sempurna, melainkan cukup menjadi Rindu yang apa adanya.
“Terima kasih kak” ucap Rindu lirih
Tangis Rindu yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah seada-adanya. Bahunya berguncang hebat di dalam dekapan Kenzo. Air mata yang selama ini ia bendung rapat-rapat demi terlihat tegar di depan dunia, kini mengalir deras membasahi jaket cowok itu.
Sejak ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan Diana bahkan dalam waktu yang terhitung sangat singkat setelah kepergian ibu tercintanya Rindu merasa benar-benar kehilangan rumah. Rumahnya yang dulu hangat mendadak terasa asing. Tidak ada lagi tempat bagi Rindu untuk mengadu, tidak ada lagi pelukan hangat yang menampung keluh kesahnya. Di rumah, ia harus selalu terlihat baik-baik saja agar tidak memicu konflik.
Namun sore ini, di pundak Kenzo, semua rasa sepi, kemarahan, dan kerinduan pada almarhumah ibunya membuncah keluar. Kenzo tidak melepaskan dekapannya sedikit pun. Mendengar tangisan pilu Rindu, hati Kenzo rasanya ikut teriris. Ia mempererat pelukannya, membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh rasa sakit yang selama ini dipendamnya sendiri. Tangan tegap Kenzo bergerak lembut, terus mengusap punggung dan rambut Rindu dengan sabar.
"Menangis aja, Rin... tumpahin semuanya," bisik Kenzo hangat, suaranya sarat akan rasa sayang dan perlindungan. "Kakak di sini. Gak akan ke mana-mana."
Kenzo membiarkan Rindu menangis cukup lama, sampai deru ombak pantai seolah ikut mengiringi rasa sesak yang perlahan-lahan terangkat dari dada gadis itu. Di bawah langit senja yang mulai temaram, Kenzo berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi tempat mengadu yang baru untuk Rindu tempat di mana gadis itu tidak akan pernah merasa sendirian lagi.
"Kakak! Kenapa semuanya harus kayak gini?!" Jerit Rindu akhirnya pecah, suaranya melengking pilu di antara deru ombak. Tangannya mencengkeram erat jaket Kenzo hingga buku-buku jarinya memutih.
Semua pertahanan Rindu runtuh total. Ia histeris, mengeluarkan semua kegelisahan, kemarahan, dan rasa sakit yang selama bertahun-tahun ini mengendap dan meracuni dadanya.
"Ibu belum lama pergi, Kak... tapi Papa dengan mudahnya bawa Tante Diana ke rumah! Rumah Rin gak ada lagi, Kak! Di sana rasanya asing, Rin gak punya tempat buat cerita. Rin harus pura-pura kuat, pura-pura bahagia di depan Papa, padahal Rin hancur! Rin kangen Ibu... Rin capek harus sembunyiin semuanya sendirian!" Tangisnya makin menjadi, napasnya mulai putus-putus karena emosi yang meluap-luap.
Mendengar jeritan hati Rindu yang begitu menyakitkan, Kenzo langsung merengkuh tubuh gadis itu lebih erat lagi, seolah mencoba menyatukan kembali kepingan hati Rindu yang hancur. Ia tidak memotong ucapan Rindu, biarlah gadis itu menumpahkan semua racun di dadanya.
"Rin, tenang, Sayang... atur napas kamu perlahan. Kakak di sini," bisik Kenzo intens, menaruh dagunya di puncak kepala Rindu yang masih berguncang hebat.
Kenzo mendekap Rindu dengan seluruh kekuatannya, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang paling kokoh. "Kakak tahu itu berat, Rin. Kakak tahu kamu anak yang hebat karena sudah bertahan sejauh ini. Mulai sekarang, keluarin semuanya sama kakak. Gak usah ditahan lagi. Kamu punya kakak sekarang, Rin. Kakak gak akan pernah biarin kamu sendirian lagi menghadapi ini semua."
Setelah puas menumpahkan seluruh sesak dan air mata yang bertahun-tahun dipendamnya di dada bidang Kenzo, Rindu perlahan-lahan mulai tenang. Isakannya mereda, digantikan oleh hela napas yang kini terasa jauh lebih plong dan lega. Dengan gerakan pelan, Rindu mengurai pelukannya, sedikit menjauhkan tubuhnya meski tangannya masih enggan lepas sepenuhnya dari jaket Kenzo.
Wajah Rindu tampak sembap, matanya memerah, dan ujung hidungnya terlihat begitu mungil dengan warna merah muda akibat menangis histeris. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergapnya begitu menyadari bahwa ia baru saja menangis sejadi-jadinya di hadapan kapten tim renang yang terkenal dingin itu dan sekarang statusnya sudah menjadi pacarnya.
Kenzo tidak langsung menjauhkan tangannya. Ia membiarkan satu tangannya tetap merengkuh pinggang Rindu dengan protektif, sementara tangan yang lain bergerak lembut merapikan beberapa helai rambut Rindu yang menempel di pipinya yang basah.
"Udah lebih lega?" tanya Kenzo lembut, seulas senyum tulus terbit di wajah tampannya tanpa ada kilat jenaka seperti biasanya. Sorot matanya murni memancarkan rasa sayang dan kelegaan melihat beban di pundak gadisnya sudah sedikit terangkat.
Rindu menunduk malu, lalu mengangguk pelan sambil mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Maaf ya, Kak... baju Kakak jadi basah semua gara-gara Rin."
Kenzo terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat menenangkan di antara deru ombak sore itu. Ia menangkap tangan Rindu yang sedang mengusap pipi, lalu menggenggamnya erat. "Baju bisa kering, Rin. Yang penting itu dada kamu, gak terasa sakit atau sesak lagi, kan?"
Rindu menggeleng lalu memukul gemas dada bidang Kenzo.
"Aww," ringis Kenzo pura-pura kesakitan, walau pukulan gemas dari Rindu sama sekali tidak ada rasanya di dada bidangnya yang terlatih sebagai atlet. Cowok itu justru tertawa renyah, senang melihat binar kehidupan dan sifat manja Rindu akhirnya keluar setelah badai emosi tadi.
Kenzo langsung menangkap kedua pergelangan tangan Rindu, mengunci gerakan gadis itu, lalu menariknya sedikit mendekat hingga jarak mereka kembali mengikis.
"Tuh kan, kalau tenaganya udah balik buat mukul kakak, berarti paru-parunya udah aman," goda Kenzo dengan senyum jahil khasnya yang sempat hilang beberapa saat lalu. "Bagus deh, berarti besok kita udah bisa mulai porsi latihan... eh, maksud kakak, besok kita jadi ke dokternya."
Rindu yang awalnya cemberut langsung mendelik mendengar kata 'latihan', namun sedetik kemudian ia tak bisa menahan senyum tipis yang terbit di bibirnya. Rasa hangat menjalar di hatinya melihat bagaimana Kenzo dengan begitu mudah mengembalikan suasana hatinya yang sempat hancur lebur.
Kenzo melepaskan kuncian tangannya, lalu beralih merapikan jaketnya yang sedikit berantakan karena cengkeraman Rindu tadi. Ia menatap langit pantai yang kini sudah berubah warna menjadi jingga keunguan, menandakan senja sudah di ambang batasnya.
"Yuk, balik ke mobil," ajak Kenzo lembut, mengulurkan tangannya kembali untuk digandeng. "Anginnya mulai dingin, gak bagus buat kamu lama-lama di luar. Kakak anter kamu pulang, ya?"
“Kak, Rin pengen sama kakak. Rin malas balik ke rumah, apalagi liat mukanya di Diana, dia suka menghasut Papa.” Ucap Rindu dengan manja.
Kenzo yang baru saja hendak berdiri, langsung mengurungkan niatnya. Ia kembali mendudukkan tubuhnya di samping Rindu. Mendengar keluhan jujur dari pacar barunya itu, rahang Kenzo sempat mengeras sejenak ada rasa amarah yang tersulut di dadanya membayangkan bagaimana ibu tiri Rindu memperlakukan gadis rapuh ini di rumah.
Namun, Kenzo tahu ia harus tetap menjadi kepala yang dingin di sini. Ia menangkup kedua tangan Rindu, membawanya ke atas pangkuannya lalu mengusapnya lembut.
"Rin, dengerin kakak," ucap Kenzo dengan nada bariton yang sangat tenang namun tegas. "Kakak paham banget rasanya. Kalau bisa, kakak juga mau egois buat bawa kamu pergi dari rumah itu sekarang juga supaya kamu gak perlu ngadepin wanita itu lagi."
Kenzo menatap lurus ke dalam sepasang mata Rindu yang masih menyiratkan rasa enggan dan lelah.
"Tapi kita gak bisa kayak gini. Sopir kamu tadi udah izin ke Papa kamu, dan posisinya sekarang Papa kamu tahunya kamu lagi latihan tambahan sama kakak. Kalau kamu gak pulang atau kakak bawa kamu kabur malam ini, yang ada Papa kamu bakal hilang kepercayaan sama kakak, dan imbasnya... kamu bisa dilarang latihan renang lagi sama kakak. Kita gak mau itu terjadi, kan?"
Rindu terdiam, menyadari kebenaran dari ucapan Kenzo.
Kenzo tersenyum tipis, lalu memajukan wajahnya, menatap Rindu dengan sorot mata yang penuh janji dan perlindungan.
"Malam ini kamu pulang, oke? Anggap ini misi rahasia kita. Kamu masuk kamar, istirahat, dan gak usah peduliin apa pun yang diomongin Tante Diana. Kalau dia mulai macam-macam atau Papa kamu kemakan hasutan, kamu langsung telepon kakak. Detik itu juga, kakak yang bakal telepon Papa kamu buat selesaiin urusannya."
Kenzo mencolek dagu Rindu gemas agar gadis itu kembali tersenyum. "Lagian, besok pagi kan kakak udah janji mau jemput kamu buat ke dokter. Jadi, kamu cuma harus bertahan malam ini aja. Sisanya, biar kakak yang pasang badan buat kamu. Gimana, Sayang? Mau ya pulang demi kakak?"
Rindu melingkarkan tangannya di pinggang Kenzo dan merebahkan kepalanya di dada kenzo.
Mendapat respons yang begitu manja dan penuh kepasrahan, Kenzo tidak bisa menahan senyum teduhnya. Ia membiarkan Rindu melingkarkan lengan kecilnya di pinggangnya, sementara kepala gadis itu bersandar nyaman di dada bidangnya, tepat di mana detak jantung Kenzo berdegup dengan ritme yang konstan dan menenangkan.
Kenzo membalas pelukan itu dengan tak kalah erat. Satu tangannya melingkar di punggung Rindu, sementara tangan lainnya mengusap lembut rambut panjang gadis itu, menghirup aroma familier yang menenangkan.
"Manja banget sih sekarang pacar kakak," bisik Kenzo lembut, ada nada kekehan kecil dalam suaranya yang bergetar di dada, yang bisa dirasakan langsung oleh pipi Rindu.
Rindu tidak menyahut, ia hanya semakin menenggelamkan wajahnya di dada Kenzo, seolah ingin mengisi penuh daya dan keberaniannya sebelum harus kembali menghadapi realitas di rumahnya. Pelukan Kenzo malam ini adalah pelabuhan terbaik yang membuatnya merasa benar-benar dilindungi.
"Sebentar aja ya kayak gini... lima menit," gumam Kenzo lagi, menaruh dagunya di puncak kepala Rindu. "Habis itu kita balik. Kakak gak mau kamu dicariin Papa kamu, dan kakak juga gak mau kamu makin kedinginan di sini."
Di bawah langit senja yang perlahan menggelap dan digantikan oleh lampu-lampu kota di kejauhan, mereka berdua terdiam dalam pelukan yang hangat. Bagi Rindu, dinginnya angin pantai dan bayang-bayang ibu tirinya mendadak tidak lagi menakutkan, selama ada detak jantung Kenzo yang mendampingi setiap embusan napasnya.
“Ayo pulang kak” ucap Rindu pelan.
Kenzo terkekeh pelan mendengar ucapan Rindu. Ia merasa gemas sekaligus sangat menyayangi gadis yang kini sudah resmi menjadi miliknya ini. Meski Rindu sudah mengajak pulang, tangannya sama sekali tidak mau lepas dari pinggang Kenzo, membuat langkah mereka berdua menjadi agak canggung namun terasa begitu manis.
"Gimana kita bisa jalan sampai ke mobil kalau kamunya nempel terus kayak koala gini, Sayang?" goda Kenzo, suaranya terdengar sangat lembut di dekat telinga Rindu.
Walau mengejek, Kenzo sama sekali tidak berniat melepaskan lingkaran tangan Rindu. Ia justru menyesuaikan langkah kakinya, berjalan pelan-pelan menyusuri pasir pantai yang mulai menggelap, menuntun gadis itu kembali ke arah mobil SUV-nya yang terparkir di pinggir jalan. Satu lengan kokoh
Kenzo merangkul pundak Rindu, menjaga agar tubuh mungil itu tetap hangat dari terpaan angin malam. Begitu sampai di samping mobil, Kenzo membukakan pintu penumpang. Sebelum Rindu masuk, Kenzo sempat menangkup kedua pipi sembap Rindu dan mengecup keningnya lama.
"Ingat janji kakak tadi, kan? Masuk kamar, istirahat, dan jangan dengerin wanita itu. Besok pagi-pagi sekali, kakak udah ada di depan rumah kamu buat jemput ke dokter," ujar Kenzo, menatap lekat mata Rindu, memberikan seluruh kepastian yang gadis itu butuhkan.
Rindu mengangguk patuh, akhirnya melepaskan pelukannya di pinggang Kenzo dengan berat hati, lalu duduk di jok mobil. Kenzo tersenyum puas, menutup pintu dengan pelan, dan segera berlari kecil memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi, siap mengantarkan Tuan Putri-nya pulang dengan aman.
Keheningan di dalam mobil terasa begitu menenangkan, bukan tipe keheningan yang canggung, melainkan sebuah jeda yang sangat dibutuhkan oleh Rindu setelah badai emosi yang menguras tenaganya di pantai tadi. Sepanjang jalan, Kenzo sesekali melirik ke arah Rindu, memastikan gadis itu tetap nyaman, sembari satu tangannya yang bebas sesekali menggenggam jemari Rindu di atas kompartemen tengah.
Mobil SUV hitam milik Kenzo akhirnya melambat dan berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang sebuah rumah megah di kawasan perumahan elit. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk Rindu, namun kini justru terasa asing baginya.
Kenzo mematikan mesin mobil, membuat suasana di dalam kabin menjadi benar-benar sunyi. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Rindu, menatap wajah pacarnya yang kembali tampak tegang begitu melihat gerbang rumahnya sendiri.
"Hei," panggil Kenzo lembut, memecah keheningan. Ia meraih kedua tangan Rindu, menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan. "Jangan takut. Kakak ada di sini, di belakang kamu. Begitu kamu masuk ke dalam, langsung ke kamar, bersih-bersih, terus tidur. Oke?"
Kenzo mengusap punggung tangan Rindu dengan ibu jarinya, mencoba mengikis gumpalan kecemasan yang kembali naik di dada gadis itu.
"Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu tiba-tiba merasa sesak lagi, detik itu juga kamu harus hubungi kakak. Janji?" Mata bariton Kenzo menatapnya lurus, menuntut sebuah kepastian sebelum ia benar-benar melepas Rindu masuk ke dalam rumah itu.
—bersambung—