Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Pria Menyebalkan
Abimana masuk ke dalam rumah dengan wajah kesalnya. “Loh, kenapa balik lagi? Kamu gak jadi jogging?” tanya Papa Suharto.
“Baju Abi basah, Pa. Tadi ada cewek gila yang nyiram Abi pakai air,” kesal Abimana.
“Hah, cewek gila? Ini komplek perumahan elit Bi, mana mungkin ada cewek gila masuk ke sini pasti sekuritinya tidak akan membiarkan orang gila masuk,” seru Papa Suharto.
“Tapi buktinya, ada cewek gila di sini,” sahut Abimana.
Abi segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Abi benar-benar kesal, dia yang awalnya begitu semangat untuk melakukan jogging akhirnya harus batal karena moodnya sudah berubah jelek. “Ah, pagi-pagi sudah membuat mood aku jelek,” kesal Abimana.
Tidak jauh berbeda dengan Abi, Belva pun tampak kelihatan kesal. “Kamu kenapa, Bel?” tanya Yuri.
“Barusan aku baru bertemu pria menyebalkan di depan,” ketus Belva.
“Pria menyebalkan? Siapa?” tanya Yuri penasaran.
“Itu yang membeli rumah di depan. Tadi aku gak sengaja nyiram dia dan aku sudah minta maaf, tapi dia masih saja bentak-bentak bagaimana aku gak kesal coba,” sahut Belva dengan wajah kesalnya.
“Cowoknya ganteng gak, Bel?” tanya Yuri senyum-senyum.
“Ganteng apanya? Wajah datar kaya gitu, mana kaku gak ada ekspresi, aku yakin dia sudah gak punya urat untuk tersenyum,” sahut Belva.
“Dia masih muda gak?” tanya Yuri kembali.
“Iya.”
“Ah, aku jadi ingin lihat deh. Siapa tahu dia jodohku,” seru Yuri.
“Idih, apaan sih,” kesal Belva.
Belva masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap karena hari ini dia akan pergi ke toko. Setelah selesai mandi, dia sarapan bersama Yuri dan yang lainnya. Sementara itu, di rumah depan Abimana pun sudah berganti baju dan sarapan bersama Papanya.
“Pa, hari ini Abi mau jalan-jalan dulu sebentar sebelum besok Abi mulai dinas lagi di tempat yang baru,” seru Abimana.
“Iya, terserah kamu saja,” sahut Papa Suharto.
Abimana selesai sarapan, lalu dia mengeluarkan mobilnya. Tapi pada saat dia baru saja sampai di depan gerbang, tiba-tiba dia kebelet ingin ke toilet. “Astaga, ada-ada saja mana kebelet lagi,” kesal Abi.
Abi keluar dari mobilnya dan langsung masuk kembali ke rumahnya. Dia tidak sadar jika mobilnya menghalangi pintu gerbang rumah Belva. Belva keluar dan melihat pintu gerbangnya terhalang oleh mobil Abi.
“Lah, ini mobil siapa Pak? Kok nongkrong di sini?” tanya Belva kesal.
“Kayanya penghuni rumah depan Non, tadi saya tidak sempat menegur karena dia berlari ke dalam rumah,” sahut Pak Deden.
“Astaga.” Belva kesal dia menekan klakson beberapa kali untuk membuat penghuni rumah keluar.
Abi cepat-cepat keluar karena berisik mendengar bunyi klakson. “Kamu gila ya? Pagi-pagi berisik banget, kamu sudah mengganggu kenyamanan tetangga di sini,” kesal Abi.
“Kamu ngapain nyimpan mobil di depan pintu gerbang rumah aku? Sudah jelas kamu yang salah, parkir sembarangan,” sahut Belva dengan kesalnya.
“Kamu yang gak sabaran, aku hanya ke toilet sebentar,” seru Abi dingin.
“Kamu benar-benar membuat mood aku hancur hari ini,” kesal Belva.
“Justru kamu yang bikin masalah, aku sampai gak jadi jogging gara-gara kamu,” sahut Abi tidak mau kalah.
Yuri bukanya melerai, malah bengong melihat Abi. Deden dengan cepat menyudahi pertengkaran itu dengan membujuk Belva untuk segera masuk ke dalam mobil. Beruntung Belva mau menurut, setelah Abi memundurkan mobilnya Deden pun segera keluar dan tancap gas.
“Tuh orang benar-benar nyebelin,” kesal Belva.
“Dia tampan sekali Bel, aku sampai terkesima melihat dia,” seru Yuri dengan senyumannya.
“Gila, tampan dari mananya?” kesal Belva.
“Tapi kok aku kaya kenal dengan pria itu, wajah dia mengingatkan aku kepada siapa gitu?” seru Yuri mulai berpikir.
“Siapa? Jangan banyak mengkhayal deh,” ketua Belva.
Belva dan Abi selalu saja bertengkar, setiap bertemu ada saja hal yang mesti dipermasalahkan. Belva dan Yuri sampai di toko, Belva langsung menuju gudang untuk men-cek barang-barang yang siap dikirimkan. Ternyata barang yang siap dikirimkan sudah sangat menggunung membuat Belva tidak percaya sama sekali dengan pencapaian dia saat ini.
“Masya Allah, aku gak nyangka bisa sampai di titik ini, Yur,” ucap Belva tidak percaya.
“Kamu hebat Bel, selamat ya,” sahut Yuri.
“Sepertinya kita harus undang brand ambasador kita di ulang tahun pertama berdirinya skincare B-Glow,” ucap Belva.
“Tentu dong, nanti kita adakan live sama dia dan aku yakin live kita akan meledak dengan kedatangan artis itu,” sahut Yuri.
“Nanti aku coba hubungi dia, karena takutnya waktunya gak ada yang kosong saat tanggal itu, maklum dia kan aktris yang lumayan terkenal,” ucap Belva.
***
Sementara itu, Tissa yang seperti biasa menemani Mario kerja di kedai kopi Mario. “Sayang, aku mau ke Bandung besok,” ucap Mario.
“Hah, mau ngapain?” tanya Tissa.
“Papa dan kakak aku pindah ke Bandung dan kemarin mereka baru sampai di Bandung. Aku mau menemui mereka, sekalian cek kedai kopi cabang aku yang ada di Bandung,” sahut Mario.
“Kok kamu gak ajak aku? Memangnya kamu gak mau kenalin aku sama Papa dan Kakak kamu?” seru Tissa dengan wajah yang cemberut.
“Iya, nanti aku kenalkan kamu sama mereka tapi tidak sekarang soalnya aku belum bilang juga sama mereka,” sahut Mario.
“Ih nyebelin banget kamu,” kesal Tissa.
Mario menghampiri Tissa dan memeluknya. “Aku janji, nanti akan bawa kamu ke Bandung. Bukanya kamu mau ke tokonya B-Glow? Nanti kita ke sana dan borong skincare yang kamu mau,” bujuk Mario.
“Janji ya, Kakak bakalan bawa aku ke Bandung ya,” seru Tissa.
“Iya, aku janji.”
“Berapa lama Kakak di Bandung?” tanya Tissa.
“Hanya tiga hari kok gak bakalan lama,” sahut Mario.
Tissa pun dengan terpaksa mengizinkan Mario pergi ke Bandung. Sebenarnya Tissa dulu sudah membohongi Mario sehingga Mario tiba-tiba berpaling dari Belva dan memilih Tissa. Tissa mengatakan kalau Belva hanya anak tiri yang sebenarnya, cerita Belva selama ini salah dan mengaku jika dirinyalah anak kandung yang sering mendapatkan perlakuan buruk dari Belva.
Maka dari itu Mario sangat marah kepada Belva dan memilih Tissa. Sementara itu, Belva duduk termenung di ruangan kerjanya. “Ini, aku bawakan kopi untukmu,” seru Yuri.
“Terima kasih.”
“Kamu kenapa? Kok, melamun?” tanya Yuri.
“Aku ingat sama Papa, Yuri. Sepertinya besok aku mau pergi ke Jakarta dulu, mau ke makam Papa,” sahut Belva.
“Mau aku antar?” tanya Yuri.
“Tidak usah, aku sendiri saja. Kamu di sini awasi anak-anak,” sahut Belva.
“Serius, kamu mau sendiri?” tanya Yuri meyakinkan.
“Iya, aku diantar sama Pak Deden. Kamu tenang saja aku gak bakalan lama kok, sore juga pulang lagi ke Bandung,” sahut Belva.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva