NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

happy reading guys

------------------------------

Bab 17: Jarak yang Tersisa

Cengkeraman jemari kecil Alta pada ujung blazer formal milik Anastasia terasa begitu kuat, seolah bocah berusia empat tahun itu sedang memasang barikade tak kasat mata demi menahan langkah ibunya.

Di saat yang sama, Devan Mahendra mempererat remasan lemahnya pada telapak tangan Arka.

Netra elang pria itu yang semula meredup, kini memancarkan binar permohonan yang teramat pekat, menatap Anastasia dengan tatapan yang seolah siap mengorbankan seluruh sisa hidupnya demi sebuah kesempatan.

"Anya... saya mohon..." bisik Devan, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan bergetar hebat di balik keheningan ruang ICU.

"Biarkan... biarkan saya menatap mereka sedikit lebih lama. Hanya ini sisa keinginan saya sebelum saya harus mempertanggungjawabkan seluruh dosa masa lalu saya di hadapanmu."

Anastasia mematung seutuhnya di sisi ranjang pesakitan.

Napasnya memburu satu-satu, mencoba meraup pasokan oksigen demi menenangkan gemuruh badai yang baru saja memporak-porandakan seluruh dinding kebencian di dalam dadanya.

Pengakuan Devan mengenai pembalasan dendam sistematis terhadap Siska selama tiga tahun terakhir, ditambah dengan pemindahan seluruh aset bersih Mahendra Group menjadi dana perwalian (Trust Fund) atas nama si kembar, menghantam telak ego dendam yang ia pelihara selama lima tahun ini di Singapura.

Pria ini tidak pernah berhenti mencarinya. Pria ini telah membayar kesalahannya dengan darahnya sendiri di tangga darurat hotel demi melindungi Alta.

Melihat bagaimana kedua putra kembarnya menatap Devan tanpa ada lagi riak penolakan, Anastasia menyadari satu hal,ia tidak memiliki hak untuk memutus benang kasih sayang antara ayah dan anak, sekotor apa pun masa lalu mereka.

Namun sebagai seorang wanita yang jiwanya pernah hancur lebur di atas aspal dingin malam pengusiran dulu, ia butuh jarak.

Ia butuh waktu untuk menata kembali serpihan batinnya yang telanjur mati rasa.

Anastasia perlahan melepaskan cengkeraman tangan Alta dari jasnya, lalu mengusap lembut helai rambut kedua putranya secara bergantian.

"Alta... Arka... tetap di sini bersama Ayah untuk sementara waktu. Mami... ada urusan medis yang harus diurus di luar bersama Paman Hendra."

Suara Anastasia terdengar begitu datar namun sarat akan kelembutan seorang ibu.

Setelah memberikan satu anggukan kecil yang sangat samar kepada Devan—sebuah isyarat bahwa ia memberikan izin penuh bagi pria itu untuk berbicara dengan anak-anak—Anastasia berbalik melangkah lebar keluar dari ruangan.

Klik.

Pintu elektronik ruang ICU bergeser menutup rapat, seketika memotong seluruh riuh ketegangan emosional dari dalam sana.

Anastasia berdiri bersandar pada dinding koridor rumah sakit yang dingin, membiarkan setitik air mata kelapangan hati akhirnya meluncur melewati pipinya tanpa bisa ia bendung lagi.

"Nona Anastasia, Anda baik-baik saja?"

Sekretaris Hendra melangkah mendekat dengan raut wajah cemas, menyerahkan selembar tisu bersih kepada atasannya.

Anastasia menerima tisu tersebut, menyeka sisa air mata di sudut netranya dengan gerakan yang kembali tegas dan profesional khas pimpinan tertinggi Wijaya Corps.

"Saya baik-baik saja, Hendra. Biarkan anak-anak di dalam bersama Devan untuk sementara waktu. Jaga ketat koridor ini, jangan biarkan ada satu pun pihak luar yang mendekat."

------------------------------

Sementara itu, di dalam ruang ICU yang sunyi, atmosfer emosional yang teramat mengharukan sedang tercipta di antara tiga orang yang memiliki garis darah yang sama.

Devan Mahendra masih terbaring lemah dengan tubuh yang dipenuhi selang medis, namun sepasang netra elangnya memancarkan kehangatan yang luar biasa saat menatap Alta dan Arka yang kini berdiri tepat di sisi kanan dan kiri tubuh tegapnya.

Arka, dengan keluguan anak seusianya, perlahan memajukan tubuh mungilnya.

Jemari kecilnya yang hangat mengusap pelan permukaan kulit tangan Devan yang dipenuhi bekas selang infus.

"Ayah... apakah lukanya masih terasa sangat sakit?" bisik Arka lembut, sepasang mata bulatnya menatap Devan dengan pandangan penuh rasa tidak tega.

"Waktu di hotel dulu, Ayah hebat sekali bisa melawan orang jahat bertopeng itu. Kak Alta bilang, Ayah terluka karena melindungi kami."

Mendengar panggilan "Ayah" keluar dari bibir putra bungsunya dengan begitu tulus, dada Devan seketika bergemuruh hebat menahan buncahan emosi yang nyaris meruntuhkan pertahanan air matanya.

Pria yang biasanya dikenal sebagai CEO es yang angkuh dan kejam di dunia bisnis itu, kini tampak begitu ringkih dan rapuh di hadapan darah dagingnya sendiri.

"Tidak... lukanya sudah tidak sakit lagi sejak melihat Arka dan Kak Alta datang ke sini," suara bariton Devan terdengar begitu serak dan bergetar hebat menahan tangis.

"Maafkan Ayah... Maaf karena selama lima tahun ini Ayah tidak pernah ada di samping kalian untuk membacakan dongeng atau memeluk kalian saat malam hari..."

Arka tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang seketika mengusir sisa kegelapan di dalam batin Devan.

"Arka sudah memaafkan Ayah, kok. Mami selalu bilang kalau anak yang baik tidak boleh menyimpan rasa benci di dalam hati."

Di sisi lain ranjang, Alta tetap berdiri mematung dengan posisi kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana jinsnya.

Sepasang netra elangnya yang tajam terus menatap lurus ke arah garis rahang Devan, seolah sedang menganalisis setiap emosi jujur yang terpancar dari wajah pria tersebut.

Kemiripan struktur wajah mereka berdua benar-benar laksana cermin yang memantulkan masa lalu dan masa depan.

"Alta..."

Devan menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah putra sulungnya, menatap Alta dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.

"Ayah tahu kamu adalah anak yang sangat cerdas. Ayah tahu kamu menyimpan banyak pertanyaan dan rasa kecewa di dalam hatimu atas apa yang menimpa mamimu dulu. Ayah tidak meminta kamu untuk langsung memaafkanku malam ini, Alta. Ayah hanya ingin kamu tahu... bahwa Ayah bersedia menyerahkan seluruh hidup dan sisa napas Ayah demi membayar semua air mata mamimu."

Alta terdiam sejenak, tidak ada riak kepanikan atau keharuan instan di wajah tampannya.

Bocah berusia empat tahun itu menarik napas panjang, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke tepi ranjang, mengeluarkan tangan kanan kecilnya dari dalam saku celana.

"Kakek Wijaya selalu mengajarkan aku untuk menilai seseorang berdasarkan tindakan nyatanya, bukan dari sekadar untaian kata-kata maaf," ucap Alta,

suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan kedewasaan batin yang luar biasa matang.

Alta perlahan meletakkan telapak tangan mungilnya di atas lengan tegap Devan yang tidak terpasang infus.

"Malam itu di tangga darurat, Anda sudah membuktikan tindakan nyata itu dengan darah Anda sendiri demi melindungi saya dari bilah pisau penculik. Jadi, untuk sementara waktu... saya akan menerima Anda sebagai pelindung kami. Namun, jika di masa depan Anda kembali membuat mami saya melamun sedih di malam hari... saya sendiri yang akan membawa Arka pergi menjauh dari hidup Anda seumur hidup."

Mendengar kalimat ketegasan yang luar biasa berbobot dari putra sulungnya, Devan tidak merasa tersinggung sedikit pun.

Sebaliknya, rasa bangga yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dadanya.

Karakter Alta benar-benar merupakan replika sempurna dari dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih bermoral dan protektif terhadap keluarga.

"Ayah berjanji, Alta... Ayah bersumpah dengan taruhan nyawa Ayah sendiri, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi," ucap Devan dengan ketetapan hati yang jujur, sepasang matanya berkilat memancarkan janji seorang ksatria sejati.

------------------------------

Di balik kaca besar ruang ICU, Anastasia Wijaya menyaksikan seluruh interaksi mengharukan tersebut dalam keheningan.

Namun, tepat di saat atmosfer kelegaan itu berada di puncaknya, Sekretaris Hendra kembali berlari mendekati posisi Anastasia dengan langkah kaki yang terburu-buru.

Wajah sekretaris itu tampak sangat tegang, memegang sebuah komputer tablet yang menampilkan sebuah notifikasi darurat berwarna merah menyala dari pusat siber Wijaya Corps.

"Nona Anastasia, mohon maaf mengganggu waktu Anda!" bisik Hendra dengan nada suara yang bergetar menahan panik.

"Samuel Amalia... setelah melarikan diri dari ruangan ini dua jam lalu, ternyata dia tidak langsung kembali ke Swiss! Tim siber kita baru saja mendeteksi adanya aktivitas transfer aset skala rahasia yang tidak wajar. Samuel sedang mencoba melakukan likuidasi paksa terhadap seluruh saham Mahendra Group yang berisi utang busuk tadi, dan dia sengaja mengarahkan gugatan pailit internasional tersebut secara hukum langsung ke alamat properti pribadi tempat tinggal Den Alta dan Den Arka!"

Anastasia seketika menoleh, sepasang netra indahnya melebar sempurna oleh kepanikan baru yang kembali mengganas.

"Apa kamu bilang Hendra?! Bagaimana bisa dia mengarahkan utang busuk itu ke alamat anak-anakku?!"

"Karena dana perwalian (Trust Fund) yang ditandatangani Tuan Devan tiga minggu lalu mencantumkan alamat rumah tinggal rahasia si kembar sebagai domisili hukum kepemilikan aset! Samuel memanfaatkan celah hukum itu untuk menyeret nama anak-anak ke dalam pusaran kasus korporasi internasional besok pagi di pengadilan bursa efek!"

Guncangan intrik bisnis tingkat tinggi ini kembali meledak di detik-detik terakhir, meninggalkan akhir cerita yang teramat menggantung (cliffhanger) tentang bagaimana cara Anastasia dan Devan yang masih lemah harus bekerja sama untuk mematahkan serangan balik yang mematikan dari Samuel Amalia demi melindungi masa depan si kembar dari kebangkrutan hukum internasional esok pagi.

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!