"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Beberapa hari berlalu sejak pertarungan di arena bawah tanah itu, namun Bully sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Justru sebaliknya, serangan mereka kini bergeser sasaran, tidak lagi menargetkan Juna secara langsung, melainkan mengincar dua orang yang paling dekat dengannya.
Hari Senin, Gery pulang lebih lambat dari biasanya dengan lengan memar setelah didorong paksa ke tangga belakang gedung olahraga oleh dua anak berjaket hitam yang sengaja menunggunya di sana. Tidak ada guru yang lewat, tidak ada saksi mata selain tembok-tembok kosong yang mengelilingi tangga darurat itu.
Hari Rabu, giliran Kevin yang kembali ke asrama dengan seragam robek di bagian lengan, luka lecet memanjang dari siku hingga pergelangan tangannya. Ia dikepung tiga orang di lorong perpustakaan tua yang jarang dilewati siswa lain pada jam istirahat siang.
"Mereka nyari tempat yang nggak ada gurunya," Kevin bercerita dengan suara gemetar saat Juna menemuinya di kantin hari itu, tangannya masih sedikit gemetar memegang gelas air minum. "Kayak sengaja, tiap kali mereka mau ganggu aku, mereka pastiin dulu nggak ada guru piket di deket situ. Kayak mereka udah apal jadwal patroli guru di sekolah ini."
Juna mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya menatap luka-luka kecil di lengan Kevin yang masih membekas kemerahan, beberapa di antaranya bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.
"Mereka juga bilang sesuatu," Gery menambahkan pelan, duduk di sebelah Kevin dengan wajah yang masih menyimpan bekas ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. "Katanya, ini semua supaya kamu muncul lagi. Mereka pengen mancing kamu keluar, ke tempat yang mereka pilih sendiri."
"Salah satu dari mereka bahkan bilang langsung ke muka aku," Kevin melanjutkan, suaranya semakin lirih, "katanya, 'kalau anak baru lu itu emang jantan, dia bakal muncul sendiri buat lindungin kalian.' Terus mereka ketawa."
Gery menunduk, jarinya meremas ujung lengan bajunya sendiri, gestur yang selalu muncul setiap kali ia merasa bersalah tanpa alasan yang jelas.
"Aku juga sempet mau lapor ke guru piket," ia menambahkan pelan, "tapi mereka bilang, kalau aku lapor, kejadiannya bakal lebih parah lagi besok. Jadi aku diem aja."
"Sama," Kevin mengangguk setuju, "Aku juga diancem gitu. Katanya, sekali lapor, targetnya bukan cuma aku lagi, tapi semua orang yang deket samaku."
'Jadi begitu caranya,' batin Juna, jarinya mengetuk pelan permukaan meja kantin, pikirannya berputar cepat menyusun berbagai kemungkinan. 'Kalau nggak bisa lawan aku langsung, mereka incar orang-orang di sekitarku. Licik, tapi bukan cara yang cerdas. Cuma cara orang yang udah kehabisan akal buat lawan aku secara langsung.'
Ia menatap kedua sahabatnya bergantian, memperhatikan bagaimana keduanya kini duduk lebih dekat satu sama lain dari biasanya, seolah mencari perlindungan dari bayang-bayang ketakutan yang terus membuntuti mereka setiap kali berjalan sendirian.
"Kalian nggak usah jalan sendirian dulu," Juna akhirnya berkata, suaranya tenang namun penuh ketegasan. "Aku bakal cari cara buat menghentikan ini. Sementara ini, selalu jalan bareng, jangan pisah, apalagi ke tempat sepi."
"Terus kamu sendiri gimana?" Gery bertanya, matanya penuh kekhawatiran. "Kalau mereka emang niat mancing kamu, cepat atau lambat kamu bakal ketemu mereka lagi."
"Biar itu urusanku," Juna menjawab singkat, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk seringai yang tidak sepenuhnya meyakinkan bagi kedua sahabatnya itu.
Gery dan Kevin saling bertukar pandang, ada kelegaan samar di mata mereka mendengar jaminan itu, meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa waswas yang masih menggantung di udara di antara mereka bertiga.
"Lagian," Kevin menambahkan setelah jeda cukup lama, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa berat, "kalo dipikir-pikir, ini pertama kalinya ada yang beneran mau lawan kita. Biasanya kita cuma dianggap angin lalu sama semua orang, faksi mana pun."
Gery mengangguk setuju, senyum tipis muncul di wajahnya yang masih lebam. "Iya, bener. Makanya aku nggak nyesel udah ikut kamu, Juna, walaupun awalnya kepaksa banget."
Juna hanya mendengus pelan mendengar itu, namun ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, sesuatu yang berbeda dari amarah yang tadi membakar pikirannya.
Juna sendiri tahu, ini bukan sekadar gangguan biasa. Ini adalah pesan yang sengaja dikirim oleh Kaisar Dirgantara, sebuah undangan terselubung untuk kembali bertemu, kali ini dengan cara yang jauh lebih personal, memanfaatkan orang-orang yang paling ia lindungi sebagai umpan hidup.
'Kalau ini yang kamu mau,' batin Juna, menatap kosong ke arah meja kantin yang penuh sisa makanan, 'aku bakal kasih apa yang kamu minta. Tapi bukan dengan cara yang kamu bayangkan.'