NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Skandal Pembunuhan Berdarah

Sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim tergeletak manis di atas meja kerja kayu jati milik Aaron.

Ruangan direktur utama Jayanegara Group itu sepi bagai kuburan. Cahaya abu-abu dari langit mendung Jakarta menembus kaca jendela besar berselubung tirai tipis.

Hawa dingin pendingin ruangan menusuk tulang, tetapi Aaron justru berkeringat.

Pria itu bersandar kaku di kursi kulit mahalnya. Kemeja hitamnya berantakan. Tiga kancing atasnya terlepas secara paksa, memperlihatkan otot lehernya yang menegang kaku.

Kantong matanya mencetak bayangan gelap yang kentara. Ia tidak tidur sedetik pun. Tubuhnya masih menanggung sisa adrenalin dari kepanikan absolut semalam.

Baskara, kakak kandungnya, baru saja lolos dari renggutan maut di jalan layang ibukota.

Aaron mengingat jelas kepulangan Baskara dini hari tadi. Kakaknya melangkah gontai melewati pintu utama mansion. Setelan abu-abunya kotor oleh lumpur dan debu aspal. Wajah pria arogan itu seputih kertas.

Napas Baskara memburu dengan tatapan mata kosong yang seketika membuat darah di pembuluh Aaron membeku.

Mimpi buruk itu tidak berhenti di situ. Tiga jam kemudian, sepasukan polisi menyatroni gerbang kediaman mereka. Sirine meraung memecah ketenangan pagi buta.

Surat perintah penangkapan dilemparkan dengan congkak. Tuduhannya adalah tabrak lari yang menyebabkan hilangnya nyawa.

Tim hukum Jayanegara harus bekerja mati-matian menahan aparat bayaran tersebut di depan gerbang. Satu dorongan kecil lagi, kakaknya akan diseret ke dalam sel tahanan. Dinasti bisnis keluarga mereka akan hancur lebur oleh skandal pembunuhan berdarah.

Aaron memijat pelipisnya keras-keras. Denyut nyeri terasa menghunjam tengkoraknya.

Matanya memindai amplop cokelat misterius di atas mejanya. Benda itu lolos dari tiga lapis penjagaan biometrik gedung Jayanegara. Tidak ada stempel kurir. Tidak ada nama pengirim.

Tangan besar Aaron terulur. Kertas tebal amplop itu terasa kasar menyentuh kulitnya. Tanpa keraguan, ia merobek ujung amplop itu dengan gerakan kasar.

Sebuah flashdisk hitam pekat meluncur jatuh. Bunyi dentingan logam beradu dengan kaca meja memantul di sudut ruangan.

Alis tebal Aaron bertaut tajam. Insting predatornya meronta mendeteksi anomali. Ia meraih benda kecil itu, memutarnya sejenak, lalu menancapkannya langsung ke port laptop di hadapannya.

Layar berkedip sesaat. Sebuah fail video tanpa judul muncul secara otomatis di tengah layar desktop.

Telunjuk Aaron menekan tombol putar.

Video itu dimulai tanpa suara. Kualitas visualnya luar biasa jernih. Perekaman ini tidak dilakukan menggunakan lensa amatir atau ponsel murahan.

Layar memantulkan siluet jalan layang yang sangat ia kenal. Gelap, basah, dan mencekam.

Dua sosok pria bertubuh gempal menyeret sebuah karung goni tebal. Suara gesekan aspal terekam bersih menembus speaker laptop.

Rahang Aaron mengeras kaku saat mikrofon terarah di video itu menangkap percakapan kedua algojo tersebut.

"Bos Wijaya berani bayar mahal buat skenario ini."

Jantung Aaron serasa dipukul palu godam.

Wijaya Dharma.

Nama iblis itu berdengung bagai lebah beracun di telinga Aaron. Pria sosiopat yang selalu tersenyum hangat di depan media itu ternyata menyusun rencana jagal secara rapi di belakang layar.

Buku-buku jari Aaron memutih pasi mencengkeram tepi meja kerjanya. Urat-urat halus menonjol di punggung tangannya. Sosiopat gila itu tidak sekadar menargetkan kehancuran saham Jayanegara Group. Wijaya menginginkan darah.

Video terus berputar. Napas Aaron tertahan di kerongkongan.

Sedan hitam milik kakaknya muncul melesat di layar. Mobil itu mengerem mendadak, menabrak pembatas beton dengan percikan api. Baskara melangkah keluar dari balik kemudi dengan wajah kebingungan.

Detik berikutnya, raungan mesin diesel kelas berat membelah malam.

Aaron menelan ludah yang terasa setajam pecahan kaca. Ia melihat bayangan truk kargo raksasa itu melaju beringas menargetkan kakaknya yang berjongkok tanpa daya.

Jika logam raksasa itu menghantam tubuh Baskara, Aaron tahu kewarasannya akan ikut hancur malam itu juga. Jiwa pelindungnya akan mati tercekik bersama hancurnya tulang belulang sang kakak. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Namun, keajaiban aneh terjadi. Kilatan cahaya putih membutakan menyambar dari sudut layar.

Cahaya strobo berintensitas maksimal itu menembak lurus ke arah kaca depan truk. Truk itu oleng hebat, kehilangan kendali, lalu menabrak beton pembatas dengan suara ledakan memekakkan telinga.

Kakaknya selamat dari maut.

Aaron mengembuskan napas kasar. Dadanya naik turun dengan tempo berantakan. Paru-parunya terasa membakar suplai oksigen yang masuk.

Kamera digital itu bergoyang sedikit sebelum videonya terputus total menjadi layar hitam.

Seseorang berada di sana semalam. Seseorang berdiri dalam kegelapan jalan layang, menantang maut secara langsung.

Orang misterius ini tidak hanya merekam konspirasi mematikan Wijaya. Orang ini sengaja turun tangan, menembakkan cahaya, dan mengubah takdir keluarganya secara mutlak.

Tangan Aaron bergerak cepat menekan tombol interkom di mejanya.

"Rey. Ke ruanganku. Sekarang." Suaranya terdengar serak, dingin, dan menuntut.

Pintu kayu ganda ruangannya terdorong terbuka kurang dari sepuluh detik kemudian. Reyhan, kepala keamanan utama Jayanegara Group, melangkah masuk dengan postur tegap. Wajah pria itu pias menyadari kemarahan bosnya.

"Siapa yang meletakkan amplop ini di mejaku?" Aaron menatap asistennya dengan sorot mata setajam pisau bedah.

Reyhan melirik amplop cokelat yang terkoyak itu. Jakunnya naik turun menelan ludah. "Kamera pengawas lorong utama mati selama dua menit pagi ini, Pak. Sistem kita diretas sepenuhnya dari luar."

Aaron berdiri perlahan dari kursinya. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi seketika memancarkan aura intimidasi yang mencekik udara ruangan.

"Diretas?" Nada suara Aaron merendah mendesis. "Keamanan siber yang kita bangun dengan triliunan rupiah diretas tanpa jejak, hanya untuk menaruh sebuah flashdisk kecil?"

Reyhan menundukkan pandangannya. "Kami sedang mencoba melacak jejak IP peretasnya, Pak. Enkripsi sandinya sangat rapi dan berlapis. Kami butuh waktu."

Aaron memutar tubuhnya kasar, menghadap jendela kaca penuh. Rintik hujan mulai turun di luar, membasahi kaca dan mengaburkan garis langit Jakarta.

Keluarganya baru saja diselamatkan oleh hantu. Seorang hantu jenius yang mengetahui rencana jagal Wijaya Dharma secara presisi.

Memori Aaron berputar kembali pada percakapan mencekamnya bersama Baskara subuh tadi di ruang keluarga.

Kakaknya duduk meringkuk di sofa kulit. Tangan Baskara bergetar hebat saat memegang cangkir kopi panas.

"Seorang gadis menyelamatkanku, Ron." Baskara berbisik parau waktu itu, matanya menatap kosong ke lantai. "Dia menarik kemejaku dari belakang. Memaksaku lari menyusuri lorong gelap."

Aaron memejamkan matanya rapat-rapat, merangkai setiap keping teka-teki.

"Wajahnya?" Aaron mendesak kakaknya pagi tadi.

"Tertutup tudung jaket. Gelap sekali." Baskara menggelengkan kepala pelan. "Tapi suaranya sangat dingin, Ron. Dia tahu itu jebakan murni Wijaya. Gadis itu tidak takut sama sekali."

Seorang gadis misterius berani menantang monster sekelas Wijaya Dharma.

Para pejabat dan aparat hukum pun langsung bersujud pada uang sogokan Wijaya. Namun gadis ini secara sadar memilih melawan arus, menyelamatkan musuh bisnis sang monster, dan tidak menuntut apa pun.

Aaron membuka matanya. Sorot kelam di manik matanya mulai menyala terang oleh bara rasa penasaran yang pekat.

Rasa penasaran itu berevolusi cepat menjadi obsesi perlindungan yang mengakar di dadanya.

Ia harus menemukan gadis ini. Segera. Bukan semata untuk membalas utang nyawa kakaknya. Ia harus memastikan nyawa orang yang berani bermain api dengan Wijaya Dharma ini tetap aman.

Wijaya Dharma adalah sosiopat rapi yang sangat membenci kegagalan. Jika pria tua itu tahu ada lalat yang merusak skenarionya, gadis ini akan menjadi target buruan tanpa ampun.

"Rey," panggil Aaron dingin, tanpa menoleh sedikit pun dari jendela.

"Siap, Pak."

"Salin video di flashdisk ini. Bawa ke tim hukum kita sekarang juga. Hancurkan semua alibi aparat bajingan yang mencoba menangkap Baskara pagi ini. Pukul mundur tuduhan mereka dengan bukti rekaman preman itu."

Reyhan mengangguk tegas. "Bagaimana dengan posisi Wijaya Dharma, Pak?"

"Biarkan sosiopat itu merasa aman sejenak. Kita bersihkan nama Baskara dulu. Simpan video ini sebagai senjata rahasia saat Wijaya mulai menyerang saham kita."

Asistennya itu maju dan mengambil flashdisk hitam tersebut dengan gerakan hati-hati.

"Dan Rey," suara Aaron kini terdengar jauh lebih mematikan. "Kerahkan seluruh unit intelijen swasta kita. Cari tahu siapa pengirim paket ini. Lacak setiap kamera jalanan di sekitar gedung ini."

"Baik, Pak."

"Jangan sampai anjing-anjing Wijaya menemukannya lebih dulu. Bawa dia kepadaku."

1
DdCantik
ironis banget, baru bab1 padahal 👍
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!