Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Rencana Tersembunyi
Huang menghela napas, lalu wajahnya berubah serius. "Saya akan bersiap menghadapi segala kemungkinan, Kakak Senior. Jika mereka datang lagi, saya tidak akan menahan diri seperti tadi."
Luo Mei menggeleng pelan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, namun tatapannya mengandung keseriusan yang jarang terlihat. "Huang, kau memandang persoalan ini terlalu sederhana."
Huang sedikit mengernyit. "Mohon petunjuk, Kakak Senior. Maksud Kakak Senior apa?"
Luo Mei menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. "Jika mereka tidak mampu menyakitimu secara langsung, karena adanya perlindungan kami atau karena keberadaan Guru.... mereka akan menggunakan cara lain. Dunia kultivasi tidak hanya berisi pertarungan terbuka. Ada fitnah, jebakan, pengkhianatan, dan berbagai tipu muslihat yang lebih sulit dihadapi daripada pedang."
Huang terdiam. Dia menyadari hal tersebut, namun bukan berarti tau cara mengatasinya.
Lei Shan tiba-tiba tertawa kecil lalu menepuk bahu Huang. "Sudahlah, Luo Mei. Jangan membebani pikiran adik junior kita yang baru datang dari desa. Dia baru saja memasuki Ranah Fondasi Tahap Menengah. Biarkan dia bernapas sedikit."
Luo Mei memalingkan wajahnya. "Aku hanya mengingatkan. Sebagai kakak senior, itu sudah menjadi tugasku."
Lei Shan mengangguk. "Kau tidak salah. Hanya saja waktunya bukan sekarang." Kemudian dia menoleh ke arah Huang. "Ayo ikut kami. Guru ingin bertemu denganmu."
Huang segera menangkupkan kedua tangannya. "Baik, Kakak Senior."
Mereka bertiga mulai berjalan meninggalkan area paviliun. Jalur batu yang mereka lalui membelah kawasan tempat tinggal murid dalam. Beberapa murid yang lewat memperhatikan Huang dengan tatapan penasaran. Sebagian mengenalinya sebagai juara kompetisi murid luar, sementara sebagian lainnya hanya pernah mendengar namanya.
Huang berjalan sambil berpikir mengenai ucapan Luo Mei sebelumnya. Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa bahwa dunia kultivasi memang jauh lebih rumit daripada yang dia bayangkan.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya bertanya. "Kakak Senior Lei, kira-kira latihan seperti apa yang akan Guru berikan?"
Lei Shan hanya tersenyum misterius. "Kau akan segera mengetahuinya."
Huang kemudian menoleh kepada Luo Mei.
"Kakak Senior Luo?"
Luo Mei meliriknya sekilas. "Untuk latihan pertama..." Dia berhenti sejenak. "Guru pernah mengatakan bahwa latihanmu akan berbeda dari kami."
Huang semakin penasaran. "Berbeda bagaimana?"
"Kami juga tidak tahu," jawab Luo Mei jujur. "Guru tidak pernah menjelaskan. Beliau hanya mengatakan bahwa jalan kultivasimu tidak cocok ditempa dengan cara yang sama seperti kami."
Huang mengangguk perlahan. Dia tidak bertanya lagi. Jika bahkan Luo Mei dan Lei Shan tidak mengetahui jawabannya, maka tidak ada gunanya terus menebak-nebak.
---
Sementara itu, di bagian lain Sekte Yunwu, beberapa murid dalam berkumpul di sebuah paviliun besar yang berdiri di dekat tebing tinggi.
Di tengah kelompok itu duduk seorang pemuda berjubah biru tua. Dhu Yan. Di tangannya terdapat cawan giok berisi arak spiritual. Wajahnya terlihat santai, seolah kegagalan yang dialami rekannya beberapa waktu lalu tidak berarti apa pun.
Di sekelilingnya duduk enam murid dalam lainnya. Sebagian berada di Ranah Fondasi Tahap Akhir. Sebagian lagi di Ranah Fondasi Tahap Kesempurnaan Agung. Mereka semua memiliki status yang cukup tinggi di antara murid dalam.
Seorang pria berambut panjang menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu lalu berkata, "Kudengar Gao Ding dan Jiu Yue gagal memberi pelajaran kepada anak baru itu."
Dhu Yan tersenyum tipis. "Memang mereka gagal."
"Tidak marah?" Pria itu terlihat heran.
Dhu Yan menggeleng. "Untuk apa marah?"
Beberapa orang saling berpandangan.
Seorang wanita berjubah merah berbicara.
"Bukankah Huang sudah menjadi duri dalam matamu?"
Dhu Yan meneguk araknya sebelum menjawab. "Duri kecil tidak layak membuatku marah."
Sebagian orang mengangguk setuju. Namun beberapa lainnya memahami bahwa Dhu Yan bukanlah orang yang mudah melupakan masalah. Pria ini mungkin tampak tenang, tetapi justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Seorang murid di Ranah Fondasi Tahap Akhir berbicara dengan suara pelan, "Kalau begitu, apa kau akan membiarkannya berkembang?"
Dhu Yan meletakkan cawannya di atas meja. "Siapa bilang aku akan membiarkannya?"
Semua mata tertuju kepadanya.
Dhu Yan tersenyum tipis. "Namun tidak sekarang." Dia mengangkat pandangannya ke luar paviliun. "Dua bulan lagi, berbagai sekte besar dan klan besar akan bersama-sama memasuki Lima Puluh Bukit Berduri."
Ekspresi beberapa orang langsung berubah serius. Tempat itu baru ditemukan beberapa waktu lalu. Menurut berbagai laporan, wilayah tersebut merupakan peninggalan kuno yang sangat luas. Banyak area belum berhasil dijelajahi sepenuhnya.
Karena itu, berbagai kekuatan besar di wilayah sekitar akhirnya mencapai kesepakatan.
Mereka akan mengirim murid-murid muda untuk menjelajah bersama. Tentu saja, alasan di permukaan adalah kerja sama.
Namun semua orang memahami kenyataan sebenarnya: kerja sama hanya berlaku selama kepentingan mereka sejalan. Ketika harta karun muncul, siapa yang lebih kuat akan mendapatkan bagian lebih besar.
Seorang murid bertubuh kekar bertanya, "Apakah informasi terbaru sudah keluar?"
Dhu Yan mengangguk. "Sudah." Dia mengeluarkan gulungan bambu dari cincin ruangnya lalu melemparkannya ke atas meja.
Seorang murid segera mengambilnya. Setelah membaca beberapa bagian, ekspresinya berubah. "Banyak tanaman spiritual?"
"Itu hanya sebagian kecil," kata Dhu Yan sambil menyilangkan kedua tangannya. "Kudengar bahkan ada kemungkinan warisan kultivator kuno berada di sana."
Ruangan menjadi hening. Warisan kultivator kuno, kalimat itu cukup untuk membuat banyak kultivator kehilangan akal sehat.
Seorang wanita bertanya, "Apakah para tetua sudah memastikan tingkat bahaya tempat itu?"
"Belum," jawab Dhu Yan. "Itulah sebabnya para murid yang dikirim sebagian besar akan berasal dari Ranah Fondasi."
Beberapa orang terlihat lega. Jika para kultivator Ranah Inti Emas atau lebih tinggi ikut masuk dalam jumlah besar, peluang mereka mendapatkan keuntungan akan sangat kecil.
Pria berambut panjang tersenyum. "Kalau begitu ini kesempatan bagus."
Dhu Yan mengangguk. "Memang kesempatan bagus." Tatapannya perlahan menjadi lebih dalam. "Kesempatan mendapatkan harta." Dia berhenti sejenak. "Dan kesempatan menyelesaikan beberapa masalah."
Beberapa murid saling berpandangan. Mereka semua memahami siapa yang dimaksud.
Seorang murid tertawa pelan. "Huang?"
Dhu Yan tidak menjawab. Namun senyum tipis di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.
Pria bertubuh kekar tertawa. "Kalau dia benar-benar ikut ke Lima Puluh Bukit Berduri, mungkin keberuntungannya akan berakhir di sana."
"Jangan meremehkannya," kata Dhu Yan dengan nada tenang. "Dia memang berasal dari desa kecil. Namun kemampuannya nyata."
Wanita berjubah merah mengangkat alis. "Jarang sekali aku mendengarmu memuji seseorang."
"Aku hanya mengatakan fakta." Dhu Yan meneguk araknya lagi. "Kultivator yang mampu mencapai Ranah Fondasi Tahap Menengah dalam lima belas hari bukanlah orang biasa."
Dia meletakkan cawannya. "Tetapi semakin berbakat seseorang, semakin besar pula ancamannya."
Suasana kembali hening. Mereka semua memahami maksud perkataan itu. Di dunia kultivasi, banyak orang mati bukan karena lemah. Mereka mati karena tumbuh terlalu cepat.
Di sisi lain sekte, Huang masih mengikuti Luo Mei dan Lei Shan menuju kediaman Tetua Xu. Dia sama sekali tidak mengetahui percakapan yang sedang berlangsung.
Yang dia tahu hanyalah satu hal: kini dia telah memasuki Ranah Fondasi Tahap Menengah. Namun jalan kultivasinya masih sangat panjang.