NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 01

Deretan cermin di toilet sekolah memantulkan wajah-wajah penuh semangat. Tawa kecil bersahutan, bercampur suara resleting tas dan gemerisik kain yang berganti. Beberapa gadis berdiri di depan wastafel, sebagian lainnya menutup pintu bilik dengan wajah tegang sekaligus antusias—seolah mereka sedang melakukan misi rahasia.

Seragam putih abu-abu perlahan menghilang, digantikan pakaian yang jauh lebih berani.

Jolina Zaneva berdiri di salah satu bilik, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengeluarkan rok mini hitam dari dalam tas. Rok itu terlipat rapi, baru, dan jelas bukan pakaian yang akan pernah diizinkan ibunya untuk ia pakai.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Sekali ini aja,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Rok mini itu melingkari pinggangnya dengan pas, memperlihatkan kaki jenjang yang selama ini selalu tersembunyi di balik kain seragam. Setelahnya, Jolina meraih jaket kulit hitam model crop—jaket yang ia beli diam-diam dari uang tabungannya, lengkap dengan rasa bersalah yang menyertainya. Saat jaket itu membalut tubuhnya, bayangan di cermin terasa asing… tapi juga memukau, Bukan Jolina yang biasa.

Ia mendekat ke cermin, mengambil pouch kecil berisi alat make up. Tak berlebihan—hanya bedak tipis, sedikit blush, maskara, dan lip tint berwarna natural. Cukup untuk membuat wajahnya tampak segar, cukup untuk membuatnya merasa percaya diri.

Rambut panjangnya ia kuncir setengah, menyisakan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah.

“Lo yakin kita nggak bakal ketahuan?” suara Zoya terdengar dari luar bilik, disertai tawa kecil.

Jolina tersenyum, meski jantungnya berdebar. “Udah kepalang,” jawabnya singkat.

Ia melangkah keluar bilik. Seketika pandangan Zoya dan satu temannya lagi tertuju padanya.

“Gila, Jo,” Zoya berdecak kagum. “Lo keliatan beda banget.”

Jolina menahan senyum. “Berlebihan nggak?”

“Enggak,” sahut temannya cepat. “Justru pas.”

Kalimat sederhana itu membuat Jolina sedikit lebih tenang. Ia meraih botol parfum kecil dari tasnya, menyemprotkan aroma lembut ke pergelangan tangan dan belakang leher. Sekali lagi, ia menatap cermin, memastikan riasannya rapi, tidak terlalu mencolok—namun cukup untuk membuatnya merasa… siap.

Siap untuk malam ini.

Sebelum benar-benar keluar dari toilet, Jolina berhenti sejenak. Ia berdiri menghadap cermin, lalu—tanpa sadar—jarinya bergerak seolah memetik senar gitar. Bahunya ikut bergoyang kecil, bibirnya melengkung dalam senyum lebar.

Ia membayangkan panggung. Lampu sorot. Dentingan gitar yang sudah sangat ia hafal. Sosok itu—berdiri di sana, memejamkan mata saat memainkan nada favoritnya.

“Kalau dia ngajak ngobrol,” bisik Jolina pada bayangannya sendiri, “gue nggak boleh gugup.”

Ia pernah berlatih, berkali-kali. Di depan cermin kamar, sambil menggenggam sisir seperti mikrofon. Kalimat demi kalimat sudah ia susun rapi di kepalanya, sapaan santai, senyum yang nggak lebay, tertawa yang wajar, semua sudah siap.

Jolina mengangguk pada dirinya sendiri, lalu melangkah keluar dari toilet dengan langkah mantap. Zoya dan temannya sudah menunggu di dekat pintu, sama-sama tampak bersemangat.

“Yuk cepetan, nanti kita telat!” seru Zoya sambil menarik tangan Jolina.

“Oke, gue udah siap,” jawab Jolina cepat.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah, menyembunyikan tawa dan rasa gugup di balik langkah tergesa. Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di luar.

Saat pintu mobil tertutup dan mesin dinyalakan, Jolina menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Senyum kecil masih bertahan di wajahnya.

Ia tidak tahu bahwa malam ini, bukan hanya mimpinya yang akan berubah—

tetapi juga cara ia memandang seseorang yang selama ini ia kagumi sepenuh hati.

***

Keramaian langsung menyergap mereka begitu mobil berhenti di area parkir. Bahkan sebelum turun, suara tawa, teriakan, dan dentuman musik dari kejauhan sudah terasa seperti denyut nadi yang tak sabar.

“Gila… rame banget,” gumam Jolina sambil menelan ludah.

Di hadapannya, lautan manusia bergerak tak beraturan namun penuh semangat. Para fans berdiri berkelompok, sebagian sibuk berfoto, sebagian lagi mengangkat poster-poster berwarna mencolok. Ada yang membawa papan bertuliskan nama anggota band dengan huruf besar dan glitter berkilauan, ada pula yang membawa foto-foto lucu yang jelas dibuat dengan niat agar diperhatikan dari atas panggung.

Pakaian mereka tak kalah heboh. Kaos band, jaket kulit, boots tinggi, aksesoris mencolok—semuanya menyatu dalam satu tujuan yang sama.

Malam ini milik mereka.

Jolina berdiri terpaku sejenak. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena tak percaya. Ia benar-benar ada di sini.

“Jo, ayo,” Zoya menarik lengannya pelan. “Kita masuk antrean.”

Para penonton diarahkan masuk dengan tertib. Staf membagikan gelang konser satu per satu. Saat gelang itu melingkar di pergelangan tangannya, Jolina menatapnya lama, seolah takut benda itu menghilang jika ia berkedip.

Ini nyata.

Langkah demi langkah membawanya semakin dekat ke dalam area konser. Begitu melewati pintu masuk, pemandangan yang terbentang membuat Jolina berhenti tanpa sadar.

Panggung itu besar. Terlalu besar untuk sekadar ia bayangkan dari layar ponsel.

Lampu-lampu menggantung megah, layar LED raksasa menyala dengan visual yang memukau. Peralatan musik tertata rapi, seolah menunggu saatnya bernyawa. Jolina merasa matanya menghangat. Dadanya bergetar oleh perasaan yang sulit ia jelaskan.

“Jo?” Zoya meliriknya. “Lo kenapa?”

Jolina menggeleng cepat, tersenyum sambil mengusap sudut matanya. “Nggak apa-apa. Gue cuma… nggak nyangka.”

Ini konser pertamanya. Konser band yang selama ini hanya bisa ia dengarkan diam-diam lewat earphone di kamar, dengan pintu terkunci rapat agar ibunya tak curiga.

Sekarang semuanya ada di depannya.

Ia merogoh ponsel, berniat mengabari seseorang—entah siapa—tapi sebelum sempat mengetik apa pun, suara notifikasi yang masuk terabaikan begitu saja. Tak ada yang lebih penting dari apa yang akan terjadi malam ini.

Lampu mulai meredup.

Sorakan penonton langsung membahana, memecah udara malam. Jolina ikut berteriak, suaranya bercampur dengan ribuan suara lain yang sama-sama tak sabar.

Satu per satu, anggota band keluar ke atas panggung. Teriakan semakin kencang.

Mereka menyapa penonton dengan senyum lebar, melambaikan tangan, mengucapkan terima kasih karena telah hadir. Jolina ikut bertepuk tangan, ikut tertawa, ikut larut dalam suasana yang begitu hidup. Dan ketika giliran Jr melangkah maju, dunia Jolina seakan berhenti berputar.

“Jr! JRRR!” teriakan itu menggema di mana-mana.

Jolina tak kalah heboh. Ia ikut meneriakkan nama itu, sekuat yang ia bisa, dadanya berdebar seperti hendak meledak. Sosok itu terlihat jauh lebih nyata dari semua bayangannya—jaket gelap, gitar di tangan, senyum yang membuat banyak orang histeris dalam sekejap.

Ia buru-buru mengangkat ponsel, mengabadikan momen saat Jr berbicara. Suaranya terdengar jelas, hangat, dan percaya diri. Setiap katanya disambut sorak sorai yang tak putus.

Ketika musik akhirnya dimulai, Jolina ikut bernyanyi tanpa sadar. Lirik-lirik yang selama ini hanya ia hafal dalam hati kini meluncur begitu saja dari bibirnya. Matanya tak lepas dari panggung, terutama dari sosok gitaris favoritnya itu.

Ia membayangkan hal-hal konyol.

Jr duduk di sampingnya, mengajarinya memetik gitar dengan sabar. Tangannya menuntun jari-jarinya, suaranya rendah dan lembut. Jolina hampir tertawa sendiri menyadari betapa tidak masuk akalnya khayalan itu—namun ia tak ingin menghentikannya.

Saat Jr memetik gitar, lampu sorot menyorot tepat ke arahnya. Jolina cepat-cepat merekam, tangannya gemetar karena terlalu bersemangat.

“Gue mau pingsan,” bisiknya sambil menepuk-nepuk bahu Zoya.

Zoya tertawa keras. “Santai, Jo! Jangan mati dulu!"

Namun bagi Jolina, malam ini terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk sekadar dilewatkan.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!