Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Lapor Polisi
Angel tertawa sinis setelah ancaman Maya selesai menggantung di udara.
“Halah…” ejeknya sambil menyilangkan tangan. “Lo kira gue takut?”
Beberapa anggota Geng Violet ikut tertawa kecil meski wajah mereka masih tegang. Ziva sendiri diam sambil terus memperhatikan Maya dengan perasaan tak nyaman.
Tatapan Maya sekarang terlalu dingin.
Angel melangkah maju sambil mengangkat ponselnya lagi. Video Maya asli masih terus diputar di layar. “Lihat nih!” katanya puas. “Babu sekolah akhirnya ngamuk!”
Tawa kembali terdengar. Namun detik berikutnya, gerakan Maya begitu cepat sampai Angel bahkan tak sempat bereaksi. Maya merebut ponsel itu dari tangan Angel dengan kasar.
“Hah—?!”
Maya menatap layar ponsel beberapa detik. Tangannya mengepal kuat. Video itu masih memperlihatkan Maya asli menangis sambil menutupi tubuhnya. Lalu tanpa ragu, ponsel itu dihempaskan keras ke lantai.
Semua langsung tersentak. Namun Maya belum selesai.
Bugh!
Dia menginjak ponsel itu sekali. Layar retak total. Injakan kedua lebih brutal. Beberapa komponen langsung terlempar keluar.
Bughh!!
Injakan ketiga benar-benar menghancurkan sisa ponsel itu sampai nyaris gepeng.
Semua orang menatap Maya dengan mata membelalak. Angel bahkan seperti tak percaya dengan apa yang baru terjadi.
“SIALAN!”
Angel menjerit histeris lalu langsung menyerang Maya. Tangannya menjambak rambut Maya kuat-kuat.
“PSIKOPAT LO!”
Beberapa anggota geng ikut panik.
“Angel!”
“Mereka berantem!”
Namun Maya tidak menjerit seperti Maya dulu. Justru matanya berubah semakin tajam. Priska sudah terlalu sering berkelahi di dunia lamanya. Tarikan rambut seperti ini bahkan terasa ringan dibanding disiksa mafia.
Maya langsung mencengkeram pergelangan tangan Angel. “Kecil ini,” ucapnya dingin.
Lalu dengan gerakan cepat, Maya memutar tubuh Angel dan membantingnya keras ke lantai.
BRAKKK!
Suara benturan menggema di area gerbang sekolah yang mulai sepi.
“AAAAKHH!”
Angel menjerit kesakitan. Punggungnya menghantam lantai sampai napasnya terasa hilang sesaat.
Semua orang membeku total.
Ziva bahkan sampai menutup mulutnya sendiri.
“G-Gila…”
Tak ada yang pernah melihat Maya melawan balik seperti ini. Maya berdiri tegak di atas Angel. Napasnya masih stabil. Bahkan ekspresinya nyaris datar. Dia menatap satu per satu anggota Geng Violet.
“Siapa lagi yang mau dibanting?” tanya Maya.
Tak ada yang bergerak.
“Masih ada yang mau gue banting nih?”
Salah satu anggota geng langsung mundur ketakutan.
“Enggak…”
Maya tersenyum kecil. Senyum yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Ziva buru-buru membantu Angel bangun. Angel meringis sambil memegangi punggungnya.
“Maya…” desisnya penuh benci.
Maya melangkah mendekat sedikit lagi. Semua refleks menegang.
“Dengerin gue sekali lagi,” katanya dingin. “Kalau video itu nyebar…”
Tatapannya turun tajam ke Angel. “…gue kasih pelajaran lebih parah dari ini.”
Tak ada yang berani menyahut. Maya akhirnya berbalik pergi begitu saja meninggalkan mereka. Langkahnya tenang. Namun hawa amarahnya masih terasa kuat.
Begitu Maya benar-benar pergi dari area gerbang, Angel perlahan duduk sambil menggertakkan gigi kesakitan.
“Kurang ajar…”
Ziva masih tampak pucat. “Angel… udahan aja…”
“Udahan apaan?!”
Angel langsung melotot marah. “Itu cewek udah bikin gue malu!”
“Tapi dia sekarang beda…”
Angel mendecakkan lidah. “Gue nggak peduli!”
Perlahan dia mengeluarkan ponsel lain dari tasnya.
Ziva membelalak. “Lo masih punya?!”
Angel tersenyum dingin. “Cadangan.”
Wajahnya berubah penuh dendam. “Kalau dia mau perang…” bisiknya pelan. “Ya gue bikin dia hancur sekalian.”
Sementara itu, Maya berjalan keluar area sekolah sambil memasukkan tangan ke saku training. Pipinya masih sedikit merah bekas tamparan Ziva. Namun ekspresinya tetap tenang.
Langit mulai gelap perlahan ketika Maya berhenti di depan sebuah bangunan. Kantor polisi sektor kota.
Maya menatap papan nama itu beberapa detik. “Oh iya…” gumamnya kecil. “Jamie.”
Ingatan tentang kakak tiri brengsek itu kembali muncul. Jamie yang mencoba melecehkan Maya. Jamie yang sering memukul dan mengancamnya.
Priska mendecakkan lidah. “Sekalian aja.”
Maya akhirnya masuk ke kantor polisi. Suasana di dalam cukup ramai. Beberapa polisi sedang mengetik laporan, ngobrol, dan minum kopi.
Begitu melihat Maya masuk dengan seragam olahraga sekolah, beberapa polisi hanya melirik sekilas lalu kembali sibuk sendiri.
Maya mendekati meja laporan. “Saya mau lapor!" ujarnya
Seorang polisi gemuk mengangkat kepala malas. “Lapor apa?”
“Kasus pemerkosaan dan kekerasan.”
Ruangan langsung sedikit sunyi.
Polisi itu mengernyit. “Hah?”
Maya tetap tenang. “Kakak tiri saya mencoba terus melecehkan saya selama dua tahun ini.”
Beberapa polisi saling pandang. Namun bukannya langsung serius, polisi gemuk itu malah terlihat ragu.
“Kamu ada bukti?”
“Belum ada.”
“Nah…” pria itu langsung bersandar malas lagi. “Kalau nggak ada bukti susah, Dek.”
Maya mulai kesal. “Saya juga dipukul.”
“Foto?”
“Nggak ada.”
“Rekaman?”
“Nggak ada.”
Polisi itu menghela napas seperti malas meladeni anak SMA.
“Kalau cuma ngomong doang—”
“Pak!”
Suara lain memotong. Seorang polisi muda yang sedari tadi duduk di meja belakang akhirnya berdiri. Tubuhnya tinggi tegap dengan wajah tegas namun tidak menyeramkan. Nametag di dadanya bertuliskan Rangga. Dia berjalan mendekat sambil membawa map.
“Biar saya yang tangani.”
Polisi gemuk tadi mengangkat bahu. “Terserah.”
Rangga lalu duduk di depan Maya. Tatapannya jauh lebih serius dibanding polisi lain. “Nama kamu?”
“Maya.”
“Kelas?”
“XI SMA.”
Rangga mengangguk kecil lalu membuka catatan.
“Sekarang ceritakan pelan-pelan dari awal.”
Maya memperhatikan pria itu beberapa detik. Setidaknya polisi ini tidak langsung meremehkannya. Akhirnya Maya mulai bicara. Tentang perlakuan Jamie kepadanya selama ini.
Rangga mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama wajahnya makin serius.
“Dan kamu bilang pernah divisum?” tanyanya akhirnya.
Maya mengangguk. “Ada hasil visumnya.”
Rangga langsung mengangkat kepala cepat. “Di mana?”
“Di rumah sakit tempat saya dirawat dulu.”
Itu sebenarnya ingatan Maya asli. Setelah dipukuli Jamie, Maya pernah dibawa ke rumah sakit oleh tetangga.
Rangga langsung menulis sesuatu. “Kalau memang ada hasil visum,” katanya tegas, “itu bisa jadi bukti awal.”
Polisi lain yang tadi meremehkan mulai melirik.
Maya menyilangkan tangan santai. “Jadi sekarang saya nggak dianggap halu lagi?”
Rangga hampir tersedak kecil mendengar nada bicara datarnya. “Bukan begitu…”
Maya mendecakkan lidah.
Rangga menatap gadis itu lagi. Jujur saja, dia merasa aneh. Anak SMA seusia Maya seharusnya ketakutan saat datang ke kantor polisi. Tapi gadis ini terlalu tenang. Tatapannya bahkan seperti orang dewasa yang sudah biasa melihat masalah berat.
“Kamu tinggal sama siapa sekarang?” tanya Rangga.
“Teman.”
“Orang tua?”
“Udah nggak ada.”
Rangga menghela napas pelan. Hidup anak ini jelas tidak baik-baik saja. Namun di balik ekspresi santainya, Rangga bisa melihat sesuatu. Maya sedang menahan banyak sekali kemarahan.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔