NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suasana ruangan Nara berubah panas.

"Jadi sekarang kau berniat membangkang dengan membawa orang asing masuk ke dalam urusan keluarga kita?" tanya Seokjin memecah keheningan yang sempat tercipta. Senyum tipis di wajahnya sama sekali tidak terlihat ramah. "Menarik sekali, Nara."

Nara membalas dengan tatapan itu tanpa gentar. "Aku tidak memiliki niat apa pun," jawabnya datar.

Ia berusaha mengabaikan Seokjin dengan menyalakan layar laptop di hadapannya. Jemarinya bergerak membuka beberapa berkas pekerjaan, meski pikirannya sama sekali tidak fokus.

Sebenarnya Nara sedang berusaha menenangkan diri. Jangan Sampai Seokjin menangkap kegelisahannya.

"Kau tidak bisa membohongiku, Nara."

Kalimat itu membuat gerakan tangan Nara berhenti sesaat. Namun, ia tetap tidak menoleh. "Aku tidak tahu maksudmu," ucapnya datar.

Seokjin terkekeh pelan. "Kau mendatangi bengkel tempatnya bekerja. Kau pergi ke kontrakannya tengah malam. Dan sekarang seluruh orang di sekitar pria itu mulai mengenalmu." Seokjin mencondongkan tubuhnya sedikit. "Apa kau benar-benar berpikir itu aman?"

Nara berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras. Sorot matanya tajam menatap Seokjin yang masih berdiri tenang di hadapannya. Ia yakin, sepupunya itu pasti menyuruh seseorang untuk memata-matainya selama ini.

"Apa yang kau lakukan, Oppa? kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku."

Seokjin tidak langsung menjawab. Tatapannya justru turun pada wajah Nara yang mulai kehilangan kesabaran. Namun, pria itu tetap terlihat tenang, seolah kemarahan Nara sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Aku melakukan itu karena kau mulai bertindak ceroboh," ucapnya rendah.

"Itu bukan urusanmu."

"Sayangnya, itu tetap menjadi urusanku selama kau masih bagian dari keluarga ini."

Nara terkekeh sinis. "Keluarga?" ulangnya pelan. "Lucu sekali mendengar kata itu keluar dari mulutmu."

Tatapan Seokjin berubah tipis. Ruangan kembali di penuhi ketegangan.

Nara membuang napas kasar lalu memalingkan wajah. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, berusaha menahan emosinya sendiri. Ia tahu Seokjin sengaja menekan dirinya sedikit demi sedikit agar ia kehilangan kendali.

Namun, sebelum salah satu dari mereka kembali bicara, ponsel Seokjin tiba-tiba berdering. Pria itu melirik layar ponselnya sekilas. Ekspresinya berubah samar begitu melihat nama yang muncul di sana. Tanpa mengatakan apa-apa ia mengangkat panggilan itu.

Nara memperhatikan Seokjin dengan tatapan waspada. Ia tidak bisa mendengar isi percakapan itu. Namun, dari perubahan wajah Seokjin yang perlahan menjadi serius, Nara sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya.

Beberapa detik kemudian, Seokjin menurunkan ponselnya perlahan.

"Kakek memanggil kita ke mansion sekarang."

Alis Nara langsung bertaut. "Aku sedang bekerja sekarang."

"Kurasa kali ini kau tidak diberi pilihan."

"Aku tidak akan datang hanya karena Kakek memanggil."

Seokjin menatapnya dalam diam beberapa saat sebelum kembali bicara pelan. "Nara, berhentilah keras kepala," ucapnya. Nada suaranya jauh lebih rendah dari sebelumnya. "Ikutlah denganku sekarang. Kakek menunggu kita."

****

Sepanjang perjalanan menuju mansion Dhanubrata, suasana di dalam mobil terasa sunyi.

Seokjin fokus menyetir tanpa banyak bicara. Sementara Nara duduk di sampingnya dengan tatapan lurus ke depan. Namun, pikirannya sama sekali tidak tenang.

Sejak tadi ia sibuk menyusun kalimat demi kalimat di kepalanya. Ia tahu persis alasan Kakek memanggilnya. Bahkan sejak pagi tadi, pria tua itu sudah mengirimnya pesan yang sengaja ia abaikan. Sayangnya Seokjin datang dan malah membuatnya tidak bisa lagi menghindar.

Nara menghembuskan napas pelan sambil menyandarkan kepala ke kursi. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana interogasi itu akan berlangsung nanti.

Kakeknya pasti akan mempertanyakan siapa Sagara, dari mana pria itu berasal, dan kenapa ia bisa muncul di tempat pertemuan penting keluarga Dhanubrata. Dan yang paling merepotkan, bagaimana status hubungannya dengan pria itu.

Jemari Nara perlahan mengetuk paha sendiri pelan. Ia harus berhati-hati menjawab. Sedikit saja salah bicara, Pria tua itu pasti langsung mulai menyelidiki Sagara lebih jauh. Dan itu hal terakhir yang ia inginkan.

Sementara di sampingnya, Seokjin sempat melirik sekilas.

"Kau terlihat tegang."

"Aku sedang malas berdebat," jawab Nara singkat.

"Kau tahu Kakek tidak akan berhenti sampai mendapat jawaban."

Nara terkekeh kecil tanpa humor. "Aku tahu," jawabnya singkat lalu menatap tajam pada Seokjin. "Dan ku harap kali ini Oppa tidak ikut campur."

Seokjin melirik sekilas pada Nara.

"Jangan mengatakan apa pun pada Kakek tentang pria itu," tekan Nara tegas. "Atau aku akan benar-benar menjauh darimu."

Suasana dalam kabin kembali hening. Seokjin sendiri memilih untuk diam. Ia tidak berniat mengucap janji atau pun membiarkan hal itu. Hingga akhirnya mobil yang Seokjin kemudikan memasuki gerbang besar mansion Dhanubrata.

Lampu-lampu besar di halaman utama sudah menyala terang meski hari belum terlalu sore. Mansion megah itu berdiri angkuh seperti biasa. Dingin dan menekan.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Begitu turun, Nara langsung melangkah masuk tanpa ragu. Seokjin berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Seorang pelayan segera membungkuk hormat. "Tuan Besar sudah menunggu di ruang utama."

Nara hanya mengangguk singkat. Dan benar saja begitu memasuki ruang utama mansion, sosok Kakek Dhanubrata sudah duduk di kursi besarnya dengan tongkat di tangan.

Tatapan pria itu langsung tertuju pada Nara. Tajam, penuh tekanan.

"Naraya," panggilnya berat.

Nara berhenti beberapa langkah di depan pria itu. "Kakek."

"Duduk."

Nara menuruti tanpa membantah. Sementara Seokjin memilih berdiri di samping ruangan dengan tenang.

Suasana langsung sunyi beberapa detik. Hingga akhirnya Kakek Dhanubrata membuka suara pelan, namun cukup membuat udara terasa berat.

"Aku mendengar," tatapannya menyipit tipis, "Kau membawa seorang pria asing ke pertemuanmu dengan putra sulung keluarga Dirgantara semalam."

Nara terdiam sejenak. Ia memang sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, tapi saat berhadapan langsung dengan sang Kakek, nyalinya tetap sedikit menciut.

"Nara," ucap Kakek Dhanubrata tegas. "Aku menunggu penjelasanmu."

Nara menarik napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul. "Itu bukan masalah besar," jawabnya.

"Bukan masalah besar?" ulang Pria tua itu datar. "Kau datang ke pertemuan penting dengan Samudra sambil membawa pria asing yang bahkan tidak dikenal."

Nara menggigit bagian dalam bibirnya pelan. Ia tahu, jika mengatakan yang sebenarnya bahwa Sagara hanyalah montir bengkel yang kebetulan membantunya malam itu, maka pria itu justru akan semakin dipermasalahkan.

Dan entah kenapa, Nara tidak ingin Sagara direndahkan di ruangan ini. Karena itu, sebelum pikirannya berubah, ia langsung mengangkat wajahnya.

"Dia bukan orang asing."

Tatapan Kakek Dhanubrata langsung menajam. "Maksudmu?"

Nara menahan napas sesaat. "Dia kekasihku."

*** bersambung.

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!