NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: SPEEDRUN

​07:19:05

​Mata Vero terbuka.

Tidak ada kedipan. Tidak ada tarikan napas kaget.

Dia bangun dengan fokus setajam laser.

​Dia langsung berdiri, menyambar tas Sarah yang ada di pangkuan wanita itu.

"Bangun. Kita pindah gerbong," perintah Vero datar.

​Sarah terlonjak. "Heh? Tas gu—"

​"Ikut atau mati," potong Vero, sudah berjalan cepat ke arah sambungan gerbong.

​Vero menendang pintu penyambung ke Gerbong 4.

Dia melihat Pria Jaket Hitam (Bomber 1). Pria itu sedang duduk tenang, belum menyadari bahwa "malaikat maut"-nya sudah datang.

​Vero tidak berhenti untuk bicara. Dia berlari di lorong sempit itu.

Tiga langkah terakhir, dia melompat.

​BUAGH!

​Lutut Vero menghantam wajah Pria Jaket Hitam itu dengan presisi bedah. Hidung patah seketika. Pria itu pingsan bahkan sebelum punggungnya menyentuh sandaran kursi.

​Penumpang di sekitar menjerit.

Vero mengabaikan mereka. Tangannya bergerak secepat kilat merogoh tubuh pria yang tak sadarkan diri itu.

​Satu detik: Ambil Ponsel Militer dari saku dada. (Lempar ke Sarah).

Dua detik: Ambil Glock 19 dari pinggang belakang. (Selipkan ke pinggang sendiri).

Tiga detik: Ambil dompet pria itu (butuh uang tunai untuk darurat).

​"Pegang ini," Vero menjejalkan ponsel militer itu ke tangan Sarah yang gemetar. "Jangan tanya. Simpan."

​"Kau... kau baru saja memukul orang!" desis Sarah ngeri.

​"Dia teroris. Dan kita akan turun sekarang."

​Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun terdengar.

"Sesaat lagi kita tiba di Stasiun Manggarai..."

​07:30:00.

​Pintu terbuka.

Vero menarik Sarah keluar, membelah lautan manusia dengan kekerasan fisik. Dia menggunakan bahunya sebagai pendobrak.

"Minggir! Polisi! Minggir!" teriak Vero bohong. Orang-orang menyibak memberinya jalan.

​Mereka berlari keluar stasiun, menuju pangkalan ojek tempat motor Kawasaki KLX itu berada.

Vero sudah hafal posisinya. Dia sudah hafal wajah pemiliknya.

​Di loop lalu, pemiliknya sedang merokok menghadap jalan.

Vero berlari mendekat dari arah belakang.

​Dia tidak menarik kerah jaketnya kali ini. Terlalu lambat.

Vero memukul tengkuk pria itu dengan gagang pistol yang disembunyikan di balik kemeja.

Brak.

​Pria itu ambruk diam.

Vero menangkap kunci motor yang masih tergantung di tangan pria itu, lalu melompat ke atas jok motor.

​"Naik!" bentak Vero pada Sarah.

​Sarah melihat pria yang pingsan itu, lalu melihat pistol di pinggang Vero. Dia sadar dia tidak punya pilihan. Dia melompat naik ke boncengan.

​Mesin menderu. Vero menarik gas.

Ban pacul motor trail itu mencakar aspal.

​07:32:00.

​Mereka keluar dari area stasiun 3 menit lebih cepat daripada loop sebelumnya.

Ini rekor baru.

​Vero memacu motor itu memasuki kemacetan Jakarta.

Di loop lalu, dia belajar pola kemacetannya.

Dia tahu di mana angkot akan berhenti mendadak. Dia tahu di mana ada lubang di jalan. Dia tahu durasi lampu merah.

​Vero berkendara seperti orang yang bisa melihat masa depan—karena memang dia bisa.

​"Awas ada bajaj!" teriak Sarah.

​Vero tidak mengerem. Dia justru memiringkan motor ke kiri.

Bajaj oranye itu memotong jalan tepat di tempat Vero seharusnya berada jika dia lurus. Karena Vero sudah membelok duluan, mereka lolos dengan mulus.

​"Aku tahu," gumam Vero tenang.

​Mereka melesat di Jalan Cikini Raya.

Macet total di depan kantor pos.

Vero langsung membanting setir ke kanan, menaiki trotoar, melompati akar pohon besar, dan menyalip deretan mobil mewah yang terjebak.

​Sarah memeluk pinggang Vero erat-erat, matanya terpejam rapat. "Kita bakal mati! Kita bakal mati!"

​"Tidak di jalanan ini," jawab Vero.

​07:45:00.

​Mereka sampai di Harmoni.

Polisi lalu lintas yang mengejar mereka di loop lalu sudah terlihat bersiap di posnya.

Vero tidak lewat jalan utama.

Dia membelokkan motor masuk ke jalur busway yang berlawanan arah.

​"Vero! Itu bus!" jerit Sarah.

​Sebuah bus TransJakarta besar melaju ke arah mereka.

Vero tenang. Dia melihat celah sempit di antara separator beton dan tiang jembatan layang.

Dia memiringkan motor, menyempil di celah itu tepat saat bus lewat. Angin dari bus menampar wajah mereka.

​Lolos.

​07:55:00.

​Gedung Stasiun Pusat terlihat.

Vero tidak menurunkan kecepatan.

Dia memacu motor trail itu menaiki tangga masuk pelataran stasiun.

Brum! Motor melompat, mendarat di lobi depan, membuat satpam dan calon penumpang berhamburan kaget.

​Vero mengerem mendadak dengan teknik skid, memutar motor 90 derajat.

"Turun."

​Mereka melompat turun.

Vero mencabut Glock 19 dari pinggangnya. Dia tidak menyembunyikannya lagi.

Sarah memegang ponsel militer curian itu erat-erat.

​"Lantai 2. Sayap Barat," kata Vero.

​Mereka berlari.

Satpam yang mengejar mereka di loop lalu muncul dari arah kiri.

"Hei! Berhenti!"

​Vero tidak menabraknya untuk ambil kartu akses kali ini. Dia tidak butuh kartu akses.

Vero mengarahkan pistolnya ke langit-langit lobi dan melepaskan satu tembakan peringatan.

​DOR!

​"Semuanya tiarap!" teriak Vero.

​Kepanikan pecah. Orang-orang menjerit dan tiarap. Satpam itu mundur ketakutan, mengangkat tangan.

Jalan terbuka lebar.

​Vero dan Sarah berlari menaiki tangga eskalator yang mati.

Napas mereka memburu. Keringat bercucuran.

​07:58:00.

​Mereka sampai di koridor Lantai 2.

Di ujung lorong, pintu baja RUANG KONTROL OPERASIONAL (OCC) berdiri kokoh.

​Vero tahu di balik pintu itu ada dua penjaga elit (Unit Delta) dan si Pengawas (Adrian).

Dia tahu posisi mereka.

Kiri dan Kanan.

​Vero mengecek peluru. Penuh.

"Sarah, tetap di belakangku. Begitu aku masuk, kau cari tempat berlindung."

​"Kau mau mendobraknya?" tanya Sarah gemetar.

​"Kuncinya elektronik. Kartu akses terlalu lama," kata Vero.

​Dia mengangkat pistolnya, membidik panel kunci digital di samping pintu.

​07:58:50.

​Sepuluh detik sebelum batas waktu ideal.

Vero menarik napas panjang. Mengatur detak jantungnya agar tangannya stabil.

​"Tiga... Dua... Satu..."

​DOR! DOR!

​Dua peluru 9mm menghantam panel kunci.

Bunga api memercik. Mekanisme magnetik pintu itu mati karena sirkuitnya hancur.

Pintu baja itu bergeser sedikit, kehilangan daya penguncinya.

​Vero menendang pintu itu sekuat tenaga.

​BAM!

​Pintu terbuka lebar.

Vero melangkah masuk ke dalam sarang singa, membawa serta amarah dari 19 kematian sebelumnya.

​Di dalam sana, takdir sudah menunggu.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Sarah
Satunya bikin heran... ini nihh. Kadang Pembom terlihat seperti rela mati demi misi... (kayak di loop 2) pas karena provokasi jadi bomnya diledakkan lebih cepat. Tapi kadang juga pengen hidup. Yang bener yang mana sih? Tokohnya kurang konsisten.
Sarah
Ceritanya bagus, menarik, keren dan lorenya dalem. Ceritanya kompleks banget. Aksinya juga keren. 🤩

Untuk karakter... aku gak banyak komen.
Aku suka banget MC-nya sih...
Si Vero tuh... jenius banget, jeli mengamati sekitar dan cepet hafal. Dia keren banget. Aku udah terpukau sejak bab 5 sama dia.
Cuma...kekurangan di karakternya ada yang terasa nyaris mustahil buat seorang akuntan biasa: lompat pindah kereta (dan selamat), berdiri di motor yang jalan, dan lari sambil ditembak tapi gak kena padahal dia juga gak bawa senjata. Tapi ketiga aksi tadi terasa gak wajar, terlalu...
“Beruntung”.
Kalau dia agen, mata-mata, detektif atau polisi, baru masuk akal. 🧐

Ceritanya kompleks dan dalem, tapi terlalu padat dibungkus cuma 27 bab. Kalau bagiku pribadi sih, Lebih enak kalau stop di lawan Adrian saja. Adrian final boss. Novel online 27 bab itu termasuk pendek, jadi rasanya agak terlalu penuh. Meskipun ini menurutku sih.

Satu hal belum terjawab: kenapa harus Vero yang jadi looper? Ini masih jadi celah besar, padahal yang lain sudah terjawab karena lorenya dalam. 🤨

Intinya tetap bagus, kekurangannya sedikit banget kok, itu aja. Worth it banget dibaca.

Rekomendasi: Cocok buat yang suka aksi, alur cepat, cerita kompleks, plot twist, konflik berat, ketegangan tinggi, dan bikin pusing bacanya. Terima kasih untuk karyanya yang luar biasa, Author. 🙂👍❤
Sarah
Bagus, author pantas dapat (gift) kopi dariku~☕
Sarah
Pokoknya aku bakal rate cerita ini sih, tapi tidak sekarang.... karena aku masih capek banget dengan kerumitan ceritanya. 😂
Sarah
Gila sih ceritanya, thor. Aku baca dari jam setengah tiga sore kawat dikit kemarin, sampai jam setengah tujuh langsung tamat 27 bab ini. 😂
Sarah
Oke, dia punya poin paling besar untuk membenci hari Senin. Karena dia membenci hari senin bukan karena sekadar rasa malas. 😂
Sarah
BANGG!





LU AKUNTAN APA AKUNTAN SIH?!! 😭
Sarah
Unit 01 yang tadinya antagonis ngeri sekarang jadi NPC yang bikin aku ketawa tiap kali Vero kembali datang dan “Meminjam Pistol”. 😂
Sarah
Lho? Dia tahu namanya Adrian...


dari mana??
Sarah
“Berdoa pada Tuhan yang dia ingat” Jadi Tuhanmu siapa? Di Indonesia gak ada atheis lho. 😂
Sarah
WOY LAH APA-APAAN INI?! BOM BISA DIHENTIKAN DENGAN USAHA MESKI SULIT, TAPI GEMPA? WOYY ITU KEHENDAK ALAM! GAK BISA DIKONTROL!! 😭
Sarah
Santai karena terbiasa. 😭🙂
Sarah
Tapi Si Vero fisiknya kok kuat banget yah? Emangnya akuntan... ada hubungannya sama fisik? Bukannya angka?
Sarah
Aku sudah menebaknya karena dia “Menang” di bab baru 16 dari 27 bab. 😭✋
Sarah
Emang Sarah bakal ingat?
Sarah
Fix, Sarah ini... pasti heroine novel ini sih. 😂
Sarah
Ughh, akun sudah merasakannya sejak bab 5... MC satu ini kerenn bangett. ✋😐✋
Sarah
Busettt. 💀
Sarah
Aku temani kok, mas. Tapi kalau aku temani ceritamu doang soalnya Sarah yang satu ini cuma pembaca. ✋😂
Sarah
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!