Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SPEEDRUN
07:19:05
Mata Vero terbuka.
Tidak ada kedipan. Tidak ada tarikan napas kaget.
Dia bangun dengan fokus setajam laser.
Dia langsung berdiri, menyambar tas Sarah yang ada di pangkuan wanita itu.
"Bangun. Kita pindah gerbong," perintah Vero datar.
Sarah terlonjak. "Heh? Tas gu—"
"Ikut atau mati," potong Vero, sudah berjalan cepat ke arah sambungan gerbong.
Vero menendang pintu penyambung ke Gerbong 4.
Dia melihat Pria Jaket Hitam (Bomber 1). Pria itu sedang duduk tenang, belum menyadari bahwa "malaikat maut"-nya sudah datang.
Vero tidak berhenti untuk bicara. Dia berlari di lorong sempit itu.
Tiga langkah terakhir, dia melompat.
BUAGH!
Lutut Vero menghantam wajah Pria Jaket Hitam itu dengan presisi bedah. Hidung patah seketika. Pria itu pingsan bahkan sebelum punggungnya menyentuh sandaran kursi.
Penumpang di sekitar menjerit.
Vero mengabaikan mereka. Tangannya bergerak secepat kilat merogoh tubuh pria yang tak sadarkan diri itu.
Satu detik: Ambil Ponsel Militer dari saku dada. (Lempar ke Sarah).
Dua detik: Ambil Glock 19 dari pinggang belakang. (Selipkan ke pinggang sendiri).
Tiga detik: Ambil dompet pria itu (butuh uang tunai untuk darurat).
"Pegang ini," Vero menjejalkan ponsel militer itu ke tangan Sarah yang gemetar. "Jangan tanya. Simpan."
"Kau... kau baru saja memukul orang!" desis Sarah ngeri.
"Dia teroris. Dan kita akan turun sekarang."
Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun terdengar.
"Sesaat lagi kita tiba di Stasiun Manggarai..."
07:30:00.
Pintu terbuka.
Vero menarik Sarah keluar, membelah lautan manusia dengan kekerasan fisik. Dia menggunakan bahunya sebagai pendobrak.
"Minggir! Polisi! Minggir!" teriak Vero bohong. Orang-orang menyibak memberinya jalan.
Mereka berlari keluar stasiun, menuju pangkalan ojek tempat motor Kawasaki KLX itu berada.
Vero sudah hafal posisinya. Dia sudah hafal wajah pemiliknya.
Di loop lalu, pemiliknya sedang merokok menghadap jalan.
Vero berlari mendekat dari arah belakang.
Dia tidak menarik kerah jaketnya kali ini. Terlalu lambat.
Vero memukul tengkuk pria itu dengan gagang pistol yang disembunyikan di balik kemeja.
Brak.
Pria itu ambruk diam.
Vero menangkap kunci motor yang masih tergantung di tangan pria itu, lalu melompat ke atas jok motor.
"Naik!" bentak Vero pada Sarah.
Sarah melihat pria yang pingsan itu, lalu melihat pistol di pinggang Vero. Dia sadar dia tidak punya pilihan. Dia melompat naik ke boncengan.
Mesin menderu. Vero menarik gas.
Ban pacul motor trail itu mencakar aspal.
07:32:00.
Mereka keluar dari area stasiun 3 menit lebih cepat daripada loop sebelumnya.
Ini rekor baru.
Vero memacu motor itu memasuki kemacetan Jakarta.
Di loop lalu, dia belajar pola kemacetannya.
Dia tahu di mana angkot akan berhenti mendadak. Dia tahu di mana ada lubang di jalan. Dia tahu durasi lampu merah.
Vero berkendara seperti orang yang bisa melihat masa depan—karena memang dia bisa.
"Awas ada bajaj!" teriak Sarah.
Vero tidak mengerem. Dia justru memiringkan motor ke kiri.
Bajaj oranye itu memotong jalan tepat di tempat Vero seharusnya berada jika dia lurus. Karena Vero sudah membelok duluan, mereka lolos dengan mulus.
"Aku tahu," gumam Vero tenang.
Mereka melesat di Jalan Cikini Raya.
Macet total di depan kantor pos.
Vero langsung membanting setir ke kanan, menaiki trotoar, melompati akar pohon besar, dan menyalip deretan mobil mewah yang terjebak.
Sarah memeluk pinggang Vero erat-erat, matanya terpejam rapat. "Kita bakal mati! Kita bakal mati!"
"Tidak di jalanan ini," jawab Vero.
07:45:00.
Mereka sampai di Harmoni.
Polisi lalu lintas yang mengejar mereka di loop lalu sudah terlihat bersiap di posnya.
Vero tidak lewat jalan utama.
Dia membelokkan motor masuk ke jalur busway yang berlawanan arah.
"Vero! Itu bus!" jerit Sarah.
Sebuah bus TransJakarta besar melaju ke arah mereka.
Vero tenang. Dia melihat celah sempit di antara separator beton dan tiang jembatan layang.
Dia memiringkan motor, menyempil di celah itu tepat saat bus lewat. Angin dari bus menampar wajah mereka.
Lolos.
07:55:00.
Gedung Stasiun Pusat terlihat.
Vero tidak menurunkan kecepatan.
Dia memacu motor trail itu menaiki tangga masuk pelataran stasiun.
Brum! Motor melompat, mendarat di lobi depan, membuat satpam dan calon penumpang berhamburan kaget.
Vero mengerem mendadak dengan teknik skid, memutar motor 90 derajat.
"Turun."
Mereka melompat turun.
Vero mencabut Glock 19 dari pinggangnya. Dia tidak menyembunyikannya lagi.
Sarah memegang ponsel militer curian itu erat-erat.
"Lantai 2. Sayap Barat," kata Vero.
Mereka berlari.
Satpam yang mengejar mereka di loop lalu muncul dari arah kiri.
"Hei! Berhenti!"
Vero tidak menabraknya untuk ambil kartu akses kali ini. Dia tidak butuh kartu akses.
Vero mengarahkan pistolnya ke langit-langit lobi dan melepaskan satu tembakan peringatan.
DOR!
"Semuanya tiarap!" teriak Vero.
Kepanikan pecah. Orang-orang menjerit dan tiarap. Satpam itu mundur ketakutan, mengangkat tangan.
Jalan terbuka lebar.
Vero dan Sarah berlari menaiki tangga eskalator yang mati.
Napas mereka memburu. Keringat bercucuran.
07:58:00.
Mereka sampai di koridor Lantai 2.
Di ujung lorong, pintu baja RUANG KONTROL OPERASIONAL (OCC) berdiri kokoh.
Vero tahu di balik pintu itu ada dua penjaga elit (Unit Delta) dan si Pengawas (Adrian).
Dia tahu posisi mereka.
Kiri dan Kanan.
Vero mengecek peluru. Penuh.
"Sarah, tetap di belakangku. Begitu aku masuk, kau cari tempat berlindung."
"Kau mau mendobraknya?" tanya Sarah gemetar.
"Kuncinya elektronik. Kartu akses terlalu lama," kata Vero.
Dia mengangkat pistolnya, membidik panel kunci digital di samping pintu.
07:58:50.
Sepuluh detik sebelum batas waktu ideal.
Vero menarik napas panjang. Mengatur detak jantungnya agar tangannya stabil.
"Tiga... Dua... Satu..."
DOR! DOR!
Dua peluru 9mm menghantam panel kunci.
Bunga api memercik. Mekanisme magnetik pintu itu mati karena sirkuitnya hancur.
Pintu baja itu bergeser sedikit, kehilangan daya penguncinya.
Vero menendang pintu itu sekuat tenaga.
BAM!
Pintu terbuka lebar.
Vero melangkah masuk ke dalam sarang singa, membawa serta amarah dari 19 kematian sebelumnya.
Di dalam sana, takdir sudah menunggu.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔