Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NINETEEN
"Minum ini dulu, Aksa," ucap Della, menyodorkan obat itu ke depan bibir suaminya. "Agar kondisi mentalmu cukup terkendali di dalam sana nanti."
Aksa menerima pil itu tanpa membantah, menelannya dalam sekali teguk bersama air putih hingga tandas.
Della kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di dada bidang Aksa, merasakan detak jantung pria itu yang terasa konstan namun bertenaga. Della mendongak, menatap tepat ke dalam manik mata gelap Aksa dengan pandangan mata yang sangat intens dan penuh penekanan.
"Dengarkan aku, Tuan Muda Aksa," ucap Della dengan suara yang tegas namun lembut, mengalirkan kekuatan ke dalam sanubari suaminya. "Hari ini di ruang rapat, jangan terlalu memaksakan dirimu. Tahan emosimu sedalam mungkin, dan jangan mudah terpengaruh oleh provokasi apa pun yang keluar dari mulut bajingan-bajingan tua itu. Mereka sengaja ingin melihatmu marah."
Aksa menatap mata Della, mendengarkan setiap patah kata dengan saksama.
"Ikuti semua petunjuk dan kode dari Zacky. Jangan membuat masalah kecil menjadi besar di depan komisaris," lanjut Della, jemarinya sedikit meremas kain jas Aksa. "Jika di tengah rapat nanti kamu sudah merasakan ada tanda-tanda tidak nyaman di kepalamu... jika bisikan-bisikan itu mulai datang lagi, segera beritahu Zacky. Cari alasan hukum untuk menunda rapat, keluar dari ruangan, dan cari tempat yang aman. Aku akan menunggumu di sini, mengerti?"
Aksa terdiam selama beberapa detik. Perlahan, seulas senyum miring yang tipis dan penuh arti muncul di bibirnya. Ia mengangkat kedua tangannya yang terbebas dari perban luar, lalu menangkup kedua pipi Della dengan kelembutan yang hanya ia miliki untuk wanita ini.
"Aku mengerti, Istriku sayang," bisik Aksa, suaranya terdengar berat dan penuh dengan keyakinan yang mematikan. Pria itu menundukkan kepalanya, memberikan ciuman yang dalam dan penuh kepemilikan di kening Della selama beberapa saat.
Saat ia melepaskan kecupannya, binar di mata Aksa berubah menjadi sedingin es. "Hari ini, aku akan menunjukkan kepada mereka siapa pemilik takhta kerajaan bisnis Herlos yang sesungguhnya."
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Tiga mobil SUV hitam mewah keluar dari gerbang kediaman Herlos dengan pengawalan ketat. Aksa duduk di kursi belakang mobil tengah bersama Zacky, sementara Della melepas keberangkatan mereka dari halaman utama dengan perasaan yang berkecamuk.
Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Zacky sesekali melirik tablet digitalnya, memeriksa daftar hadir dewan direksi yang sudah mulai berdatangan di gedung pusat Herlos Grup.
"Tuan Muda, semua komisaris utama sudah berada di ruang rapat lantai tiga puluh enam," lapor Zacky tanpa menoleh. "Termasuk Tuan hendrik, orang yang paling vokal menuntut pergantian posisi Anda. Dia tampaknya sudah menggalang suara dari para pemegang saham minoritas."
Aksa yang sedang menatap keluar jendela kaca yang gelap hanya mengetuk-ngetukan jarinya di atas lutut dengan ritme yang konstan. "Hendrik... Tua bangkai yang selalu mengincar deviden tambahan. Biarkan dia menikmati mimpunya selama beberapa menit lagi, Zacky."
Mobil akhirnya tiba di pelataran gedung pencakar langit Herlos Grup yang menjulang megah di pusat distrik bisnis kota. Puluhan wartawan media bisnis ternyata sudah berkerumun di depan lobi, tertahan oleh barikade ketat petugas keamanan gedung. Berita tentang 'sidang pleno darurat' ini rupanya sudah bocor, menciptakan spekulasi liar di lantai bursa efek yang membuat saham Herlos sedikit berfluktuasi pagi ini.
Pintu mobil dibuka oleh Zacky. Begitu kaki bot kulit hitam Aksa menginjak lantai lobi, puluhan lampu kilat kamera langsung menyala secara bersamaan, menciptakan kilatan cahaya yang membutakan. Suara riuh pertanyaan dari para jurnalis langsung menggema.
"Tuan Muda Dayaksa! Apakah benar Anda mengalami gangguan mental yang membuat Anda tidak mampu memimpin perusahaan?!"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai mosi tidak percaya dari dewan komisaris?!"
Aksa tidak berkedip sedikit pun di hadapan ratusan kamera tersebut. Ia berjalan dengan langkah lebar yang tegap, dagunya terangkat dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya kaku dan dingin bagai malaikat maut. Aura dominasi yang ia pancarkan begitu kuat hingga para wartawan secara tidak sadar mundur beberapa langkah, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda Herlos.
Zacky dan beberapa pengawal berbadan tegap mengawal Aksa langsung menuju lift khusus eksekutif yang akan membawa mereka langsung menuju lantai tertinggi gedung lantai tiga puluh enam, tempat di mana takhta kekuasaan Herlos Grup akan dipertaruhkan di atas meja sidang yang kejam.
Begitu pintu lift tertutup dengan denting halus, Aksa menarik napas panjang, membiarkan obat di dalam tubuhnya bekerja menekan setiap gejolak kemarahan yang mulai merayap naik saat mendengar kata 'gangguan mental' dari para wartawan tadi. Pertempuran yang sesungguhnya telah dimulai, dan Aksa tahu, ia tidak boleh kalah demi wanita yang sedang menunggunya di rumah.
...****************...
Asap tebal berwarna kelabu membubung tinggi ke langit-langit ruang kerja bernuansa klasikal itu, membawa aroma pekat tembakau Kuba kualitas nomor satu. Fabio Herlos, pria paruh baya dengan gurat wajah yang tegas namun menyimpan kelicikan mendalam, tampak menyandarkan tubuh gempalnya pada kursi kulit buatan Italia. Jari-jemarinya yang dihiasi cincin emas bermata zamrud dengan santai menjepit sebatang cerutu favoritnya.
Sebagai salah satu komisaris dengan porsi saham yang tidak bisa diremehkan, posisi Fabio di Herlos Grup sangatlah unik. Ia adalah paman Dayaksa atau lebih tepatnya, salah satu sepupu kedua dari mendiang orang tua Dayaksa. Setelah kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua Aksa belasan tahun lalu, Jerry Herlos mengangkat Fabio sebagai anak demi menjaga keutuhan dinastinya. Selama bertahun-tahun, Fabio dengan nyaman duduk di posisi paling berpengaruh di bawah bayang-bayang sang Tuan Besar, menggerogoti kekuasaan perlahan-lahan dari dalam.
BRAKK!
Pintu ruang kerja itu dihempaskan dengan kasar. Emily Herlos, anak kandung Fabio yang saat ini menjabat sebagai Manajer Operasional Herlos Grup, melangkah masuk dengan napas memburu. Gaun kerjanya yang ketat dan riasan wajahnya yang tebal tidak mampu menyembunyikan rasa panik sekaligus amarah yang sedang membakar dadanya. Ia memprotes ayahnya yang masih bisa duduk bersantai menikmati cerutu di tengah situasi genting ini.
"Ayah! Si gila itu benar-benar akan datang ke perusahaan!" pekik Emily, suaranya melengking memenuhi ruangan. Ia menggebrak meja kerja Fabio dengan kedua telapak tangannya. "Aku kira itu hanya rumor untuk menakut-nakuti kita! Tapi barusan sekretaris di bawah bilang mobilnya sudah masuk lobi! Dan Ayah hanya bersantai di sini? Apa Ayah sama sekali tidak khawatir?!"
Fabio tidak bergeming. Ia mengembuskan asap cerutunya perlahan ke udara, membiarkan aroma tembakau itu membuat Emily semakin kesal. Sepasang matanya yang kecil menatap sang putri dengan ketenangan seorang predator senior.
"Tenang saja, anakku," ucap Fabio dengan nada suara yang berat dan santai. Ia mengetukkan abu cerutunya ke asbak kristal di atas meja. "Ada Hendrik di sana. Si bodoh yang rakus itu yang akan berteriak paling keras di ruang rapat untuk menjatuhkan si gila. Kenapa kita harus repot-repot mengotori tangan kita untuk melakukan hal yang tidak berguna?"
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua