NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.

Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.

Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.

Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.

Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Tubuh Meledak dan Hancur

Cia yang mendengar hal itu tak bisa menahan diri untuk tidak berpikir, 'apa alasannya menanamkan tanda penyelamat pada kami semua? Dia tak mungkin cukup baik untuk melakukannya. Tapi kenapa sekarang dia bahkan menggunakan sebuah artefak, memberikan tanda penyelamat pada kami?' dia melirik lengan kanannya, melihat tanda itu tertanam sempurna di lengannya seperti tato. 'Apa kita akan mencari mutiara di tempat lain? Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu wilayah mana lautan ini, aku sangat asing dengan tempat ini.'

Memang benar, sebagai Ras Athu, Cia, dia lebih senang tinggal di lautan daripada di daratan. Tapi bukan berarti dia mengetahui seluruh lautan di dunia ini. Dunia begitu luas, tak mungkin dia sanggup menjelajahi semuanya. Dia hanya benar-benar mengenal lautan di sekitar tempat tinggalnya. Paling jauh, dia pernah pergi ke lautan lain yang jaraknya sangat jauh dari rumah. Tapi, setelah orang tuanya mengetahui hal itu, dia dikurung di dalam kamar selama seminggu penuh.

Tapi, bukan berarti dia tak mengetahui wilayah lain selain tempat tinggalnya. Walaupun dia mengetahui nama beberapa wilayah lautan dan kota-kota manusia melalui peta dunia, tapi dia tak pernah melihatnya secara langsung, dia hanya membaca informasinya di sebuah buku.

Cia sempat berpikir dia berada sangat, sangat jauh dari rumahnya. Mungkin bahkan dia sudah berada di benua lain. Siapa yang tahu? Bisa jadi. Di lautan tempatnya tinggal dulu, tak pernah ada mutiara sebanyak ini yang bisa dipanen oleh para bajak laut. Jadi, kemungkinan besar mereka memang sudah pindah ke wilayah lautan yang jauh lebih kaya akan mutiara.

Selama berminggu-minggu menjadi tahanan mereka, Cia sudah mendapatkan begitu banyak mutiara. Terlalu banyak untuk dia hitung. Lagi pula, untuk apa menghitungnya? Semua mutiara yang dia dan para tahanan lainnya kumpulkan toh pada akhirnya akan diambil oleh para bajak laut itu.

Membuat kekayaan mereka bertambah, sementara para tahanan masih tersiksa.

Pada momen itu, kapal tiba-tiba bergerak, berputar ke arah selatan, lalu melesat dengan kecepatan luar biasa di atas permukaan laut. Kecepatannya yang begitu tinggi membuat air laut terbelah dalam dua jalur buih putih yang menganga, seolah lautan itu sendiri sedang disibak oleh kekuatan tak kasatmata. Cia yang duduk di haluan nyaris terjungkal. Angin bertiup kencang menerpa wajahnya, membawa serta butiran-butiran air asin yang menyengat mata.

"Cepat sekali..." gumamnya setengah tercekat, jemarinya menekan erat lantai di bawahnya.

Kapal itu terus melaju. Semakin lama semakin cepat, seakan-akan sedang dikejar sesuatu... atau justru sedang mengejar sesuatu.

Dalam perjalanan itu, para penjaga dan awak kapal terus mengawasi gerak-gerik para tahanan, jika ada yang bertindak mencurigakan, mereka akan segera diseret keluar dan diberikan hukuman. Tapi tak ada yang bertindak aneh, mereka telah ditandai oleh Q Larangan Kumbang Bombardir, jika ada yang berniat memberontak, maka tubuh mereka akan meledak dari dalam.

Pada momen itu, seorang Ras Athu perempuan dengan mata berwarna ungu cerah yang duduk di sampingnya berbisik ke arahnya, "menurutmu, kita akan dibawa ke mana?"

Cia melirik ke arahnya singkat, berusaha untuk tidak menunjukkan gerakan yang mencurigakan. Setelah itu dia berkata dengan sangat pelan, "aku tidak tahu, jujur saja aku sangat asing dengan wilayah ini."

"Benarkah?" pada momen itu, perempuan yang berbisik padanya melihat warna ekor ikan dan pupil matanya yang berwarna biru safir. "Apa kau berasal dari Keluarga Palmata?"

Mendengar hal itu, Cia mengangguk.

"Hm, yang aku heran, kenapa kau bisa ada di sini?" dia memiringkan kepalanya sambil menatap Cia, "kita saat ini sedang berada di Benua Barat, lebih tepatnya berada di Laut Amhor. Keluarga Palmata seharusnya tinggal di Benua Utara, kan? Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"

Mendengar informasi itu, jelas Cia tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya. 'Banua Barat? Laut Amhor?' hati Cia tertekan, seolah-olah ada batu raksasa yang menimpanya. 'Aku sungguh tak menyangka aku berada sangat jauh dari rumahku. Aku memang sempat mengira kalau aku mungkin sudah pindah benua, tapi tak kusangka itu benar. Aku awalnya berpikir kalau aku masih berada di Benua Utara, hanya saja berada di wilayah lautan asing. Tapi sekarang, siapa sangka aku berada di Benua Barat. Jika seperti ini, mustahil aku bisa kembali hanya mengandalkan diriku sendiri.'

Melihat Cia terdiam, membuat perempuan itu merasa bersalah. Sepertinya dia telah mengatakan sesuatu yang membuat perempuan itu terkejut.

Beberapa jam kemudian, lautan yang awalnya berwarna biru berubah menjadi sedikit kehijauan. Walaupun Cia berasal dari Benua Utara, tapi dia selalu melihat peta dunia, dan dia juga mempelajari wilayah manusia melalui sebuah buku. Peta, buku, dan kenyataan jelas berbeda, tanpa tahu dia berada di wilayah mana, itu sama saja seperti tersesat. Tapi, kini dia sudah tahu berada di mana. Dia berada di Laut Amhor, Benua Barat.

'Air laut telah berubah warna, jika kita sebelumnya berada di Laut Amhor, seharusnya kita berada di... Laut Xyoltre...' awalnya, Cia menganggap bahwa mereka akan mencari mutiara di laut ini. Tapi setelah satu jam, kapal masih terus bergerak dengan kecepatan tinggi, tubuhnya mulai menegang, begitu juga dengan beberapa Ras Athu yang tahu kemana sebenarnya tujuan kapal ini.

'Jangan-jangan,' Cia menelan salivanya, sangat sulit untuk mengatakan nama Laut tersebut. 'Jangan-jangan kita akan pergi ke Laut Nug'got? Gawat, itu adalah tempat yang berbahaya. Banyak Anomali yang berkeliaran di sana, pantas saja penjahat itu menanamkan kita tanda penyelamat, ternyata ada maksud tersembunyi di dalamnya.

'Tidak hanya itu, legenda juga mengatakan bahwa Laut Nug'got adalah pintu masuk menuju Laut Mayat. Sebuah tempat yang sangat misterius dan sangat berbahaya. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Kapten itu? Apa dia sudah gila? Atau dia hanya menganggap legenda itu hanya omong kosong belaka?'

Beberapa jam kemudian, warna air laut kembali berubah, dari yang awalnya berwarna hijau berubah menjadi perak kemerahan. Disertai dengan kabut tebal yang menutupi jarak pandang.

'Apa yang kekhawatiran ternyata menjadi kenyataan,' Cia tanpa sadar mengepalkan tangannya sendiri, jantungnya berdetak dengan lebih cepat. 'Kita sedang berada di Laut Nug'got! Kita benar-benar berada du Laut Nug'got! Kita sepertinya akan mencari mutiara di tempat ini. Kapten itu sudah gila! Dia benar-benar sudah gila!

Beberapa puluh menit kemudian, kapal berhenti di tengah-tengah Laut Nug'got. Sang Kapten kemudian muncul dan melangkah ke haluan, berkata dengan suara seperti petir, "kalian akan mencari mutiara di tempat ini."

Tapi, pada momen itu, seorang pria Ras Athu dengan pupil berwarna hijau zamrud menyuarakan protes, "hei, pak tua, apa kau sudah gila?"

Mendengar hal itu, seluruh orang yang ada di kapal menoleh ke arahnya. Sang Kapten menyipitkan mata dan menatap tajam ke arahnya.

"Apa keserakahan telah membuat otakmu pindah ke pantat? Apa kau pikir ini laut biasa? Kau menyuruh kami mencari mutiara di Laut Nug'got?"

Mendengar ucapan pria itu membuat seluruh tahanan menjadi terkejut, kecuali mereka yang sudah mengetahuinya. Di dunia ini, siapa yang tidak tahu legenda yang berhubungan dengan Laut Nug'got? Laut Nug'got adalah tempat berbahaya, dengan banyaknya Anomali berkeliaran di dalam lautan. Cuacanya juga tak menentu, badai besar bisa muncul begitu saja tanpa bisa diprediksi. Juga menjadi legenda bahwa Laut Nug'got adalah pintu masuk menuju Laut Mayat.

"Apa kau ingin menyuruh kami bunuh diri? Apa kalian semua ingin berakhir di sini? Apa kau tidak tahu kalau tempat ini adalah pintu masuk menuju Laut Mayat? Apa k—aghh!!!"

Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah jeritan mengerikan keluar dari mulutnya, begitu kencang hingga menggema nyaring menembus luasnya lautan, memantul-mantul seakan lautan itu sendiri ikut menjerit bersamanya.

Tubuhnya mulai membesar secara perlahan, namun pasti. Perutnya yang semula kurus kering kini menggelembung seperti balon daging yang dipompa terlalu penuh. Kulitnya meregang, menipis, nyaris transparan, menampakkan urat-urat biru kehitaman yang berdenyut-denyut di bawahnya. Lalu muncullah bintik-bintik hitam, satu per satu, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti jamur busuk yang merayap di atas bangkai. Bintik-bintik itu melepuh, pecah, mengeluarkan cairan kuning kental berbau anyir yang menyengat hidung.

Wajahnya berubah. Perlahan, kulitnya memucat, lalu menghijau, lalu berubah menjadi ungu kehitaman seperti buah yang membusuk dari dalam. Darah mulai menetes dari setiap lubang di wajahnya, dari sudut matanya, dari lubang hidungnya, dari telinganya, dari sudut bibirnya yang gemetar. Tetesan-tetesan itu mengental, merah pekat, seperti darah busuk yang mengalir lambat di pipinya.

Kedua bola matanya melotot, mendorong kelopak mata hingga nyaris robek. Suara basah dan licin terdengar saat bola mata itu bergerak, menonjol keluar dari rongganya dengan bunyi plop yang menjijikkan. Satu per satu, kedua bola matanya jatuh dan menggelinding ke lantai kayu yang kasar, meninggalkan lubang hitam menganga di wajahnya. Lobang mata yang kosong itu terus berkedut, seakan masih mencari sesuatu untuk dilihat.

Wajahnya lalu mulai membesar dan mengecil, membesar dan mengecil, seperti ada sesuatu di dalam sana yang bernapas. Kulit di sekitar pipi dan rahangnya mengendur lalu meregang, mengendur lalu meregang, sampai akhirnya retakan-retakan kecil mulai muncul di sepanjang tulang pipinya, mengeluarkan semburan-semburan kecil darah merah yang mendesis.

Lalu, tanpa peringatan, tubuhnya meledak.

Dagingnya hancur berkeping-keping, menyemburkan darah merah kental yang bercampur dengan cairan limpa dan serpihan organ dalam. Ususnya terlontar seperti ular mati, berputar di udara sebelum mendarat dengan bunyi basah di atas dek. Potongan hati, paru-paru, dan gumpalan-gumpalan daging tak berbentuk berhamburan ke segala arah, mengenai para tahanan yang duduk di haluan. Darahnya menyembur seperti hujan merah, panas dan lengket, membasahi wajah-wajah mereka yang membeku dalam teror.

Salah satu tahanan menjerit histeris saat sepotong jari yang masih utuh mendarat di bahunya, kukunya masih utuh, masih berwarna merah muda pucat. Seorang lainnya muntah saat dia menyadari ada sesuatu yang hangat dan licin meluncur dari rambutnya, jatuh ke pipinya, lalu ke bibirnya. Bau besi dari darah bercampur dengan aroma asam lambung dan kematian, memenuhi udara, begitu pekat hingga nyaris bisa dirasakan di lidah.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!