Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Tak Membawa Pertolongan
Hening menyergap setelahnya. Pesan itu, dengan kata-kata resmi yang dingin, justru membuat segalanya terasa lebih nyata dan lebih mengerikan.
Jimin yang dari tadi dengerin, akhirnya nyebur.
"Jadi... gak ada penyelamatan dadakan gitu? Kita harus nunggu?"
"Kayaknya iya," jawab Jaemin, suaranya datar. Dia lagi duduk di atas meja deket papan tulis, matanya kosong. "Dan sambil nunggu, ya kita harus ikutin aturan tadi."
"Bahkan nggak tau itu apa," tambah Yeri, memeluk lengan Mark. "Alien? Monster? Eksperimen yang bocor?"
Jaemin menghela napas, mengusap wajahnya. "Gue juga nggak tahu YER,"
Minjeong angkat alis ke arah Jaemin. "Tapi Lu tadi yang keren sih, Jaem. Langsung nyuruh matiin lampu. Padahal semua lagi histeris."
Jaemin cuma angkat bahu, malu-malu. "gue cuma... nebak dari reaksinya tadi. Waktu kita berisik dan ada cahaya, dia datang. Waktu gelap dan diam, dia pergi. Logika dasar predator." Ada keraguan yang dalam di matanya.
"Tapi bener kan?" sungging Sungchan, yang posisinya lumayan deket sama Minjeong.
"Dia pergi pas gelap."
"Bener," kata Jaemin. "Tapi itu cuma tebakan. Gue gak tau itu makhluk apa. Beneran gak tau."
"Tapi Kita gak bisa tinggal di sini selamanya,. Kita butuh air. makanan. Kamar mandi." kata Sohee, suaranya kecil
"Dan kita nggak bisa pergi keluar," balas Shotaro. "Koridor... isinya..." Shotaro tidak menyelesaikan kalimatnya.
Eunseok yang selama ini diam, berbicara. "Pesan itu bilang 'tunggu instruksi selanjutnya'. Berarti mungkin masih ada komunikasi. Mungkin masih ada harapan bantuan."
"Tapi sambil nunggu, kita harus bertahan," Jimin menegaskan, berdiri. Di cahaya redup ponsel, sosoknya terlihat lebih tegas. "Dan kita bertahan dengan ikutin aturan itu: gelap, dan sunyi. Itu senjata kita sekarang."
Jaemin berkata " Kita butuh rencana. Kita butuh ngatur giliran jaga, menghemat baterai ponsel, cari tahu apa di sekolahan ini ada persediaan yang bisa kita pakai."
"Kita? Rencana?" singgung Hina sinis, tapi suaranya lemas. "Kita cuma sekelas siswa bermasalah. Bukan pahlawan super."
"Tepat sekali," jawab Jaemin, tatapannya tajam. "Kita cuma siswa. Tapi kita ada tiga puluh. Dan kita punya pilihan: bertahan bersama dengan aturan yang kita sekarang tau, atau... panik masing-masing dan menarik perhatian mereka lagi." jaemin jeda, memastikan kata-katanya terdengar. "gue milih bertahan. Siapa yang ikut?"
"Gue sih setuju sama Jaemin," Jeno angkat suara. "Kita harus punya rencana. Gak bisa cuma nunggu di sini sampe besok. Butuh air, mungkin makanan, baterai buat HP."
"Terus gimana selanjutnya? Keluar? Lu lupa koridor ada... ehem?" potong A-na, suaranya masih tinggi dikit.
"husst!! Jangan keras keras," desis Stella.
Jaemin lompat turun dari meja. "Gue gak bilang keluar sekarang. Tapi kita musti ngumpulin data dulu. Siapa tau di sekolahan ini ada kantin yang masih kebuka, atau gudang olahraga yang gelap. Kita atur tim. Yang jaga di sini, yang cari info, tapi SEMUA PAKE ATURAN: gelap, dan sunyi. Deal?"
Di tengah cahaya redup HP yang mulai pada diem satu-satu, mereka saling liat. Wajah temen-temen sekelas yang sehari sebelumnya mereka ledek, mereka lawan, atau mereka gak peduliin, sekarang jadi satu-satunya wajah yang bisa dipercaya.
"Deal," bisik Jimin pertama.
"Deal," Minjeong nyusul.
"Deal lah, mana ada pilihan lain," gumam Haechan.
"Deal..." bisik Chenle lemah.
Jisung angkat muka dari bahu Carmen. "Gue... gue juga deal. Tapi tolong, jangan suruh gue keluar duluan."
Carmen tepuk punggungnya. "Gak akan, Ji."
Jaemin manggut, meski di gelap mereka gak terlalu keliatan. "Oke. Langkah pertama: kita hematin baterai HP. Kedua, cari tau siapa yang bawa apa. Ketiga... kita coba bertahan sampe ada kabar beneran dari luar."
Luar, makin gelap. Tapi di dalem kelas 3-B, meski masih ditutupi rasa takut yang gak akan ilang cepet, ada sesuatu yang mulai nyala: tekad buat gak jadi santapan selanjutnya. Main gelap-gelapan ini baru aja mulai.
Kegelapan total masih menyelimuti. Hening yang menegangkan tiba-tiba pecah oleh suara A-na yang nyaris histeris, meski dia berbisik.
"Gimana nih? Kita gimana? Ada yang bisa mikir jernih nggak sih?" desisnya, suaranya bergetar. Lalu dia menatap arah Mark, yang hanya terduduk diam di samping Yeri. "MARK! Lo kan ketua kelas! Lo yang harusnya ngatur kita! Lo harus ngomong, dong!?!"
Suara itu seperti membuka katup. Beberapa pasang mata, meski tak terlihat, tertuju ke arah Mark.
Mark mengangkat kepalanya perlahan. Di kegelapan, hanya nada suaranya yang terdengar-datar, lelah, dan jujur.
"A-na... gue jadi ketua kelas itu pas lagi KBM. Pas lagi ulangan, rapat osis, atur acara kelas. Bukan... bukan pas kita dikepung makhluk aneh yang lagi pengin makan kita." Dia jeda, tarik napas. "Di sini, di kondisi kayak gini... gelap, kita semua ketakutan setengah mati... gue nggak bisa pake 'otoritas' ketua kelas. Itu nggak ada gunanya. Kita harus... harus mikir bareng. Siapa yang bisa ngasih ide, silakan. Gue juga cuma bisa nebak kayak kalian."
Kejujurannya yang polos justru membuat ruangan sedikit lebih tenang. Dia tidak berpura-pura jadi pahlawan. Itu melegakan.
Jimin, sang wakil, mengambil alih dengan gaya yang lebih praktis. "Oke. Kalau gitu, kita kerja bareng. Urusan pertama: logistik. Kita kumpulin apa aja yang masih ada. Siapa yang masih punya air minum? Makanan? Barang apa aja yang mungkin berguna?"
Suasana langsung berubah menjadi operasi kecil-kecilan. Cahaya ponsel dinyalakan seperlunya, dengan kecerahan minimum, hanya untuk memeriksa tas.
"Gue ada setengah botol aqua," bisik Shotaro.
"Gue ada sebungkus chiki, belum kebuka," ujar Anton.
"Permen jahe, boleh nggak? Dari nenek gue," tambah Yeon.
"Ada P3K kecil di tas gue," kata Jimin.
"Gue bawa powerbank, masih 60%," sahut Giselle.
"Senter di HP gue masih bisa," ucap Hina.
Mereka berbicara dengan bisikan pelan, berantai. Chenle dan Ningning, meski masih syok, ikut memeriksa tas mereka. Wonbin membantu mencatat secara mental.
"Oke, bagus," Jimin melanjutkan. "Sekarang, kita atur giliran jaga. Ada 30 orang. Paling efisien: 15 jaga, 15 istirahat. bergiliran, ini jam 10.50, anggap aja jam 11, rencana kita semua besok bangun jam 7 pagi, jadi ada waktu 8 jam, kita bagi 4 jam, 4 jam. Jam 11 kelompok 1 jaga duluan, kelompok 2 tidur, jam 3 kelompok 2 mau gak mau harus bangun gantian jaga dan kelompok 1 giliran tidur, Yang jaga, tugasnya dengerin baik-baik keadaan di luar, khususnya lewat jendela retak itu dan pintu. oke? Siapa yang mau jaga di giliran pertama?"
Tanpa pikir panjang, Jaemin mengangkat tangan, meski di gelap tak terlihat. "Gue."
"Gue juga," Minjeong menyusul.
"Count me in," kata Jeno.
"Gue mau jaga," Sungchan ikut menawarkan diri.
Begitu seterusnya. Tim pertama terbentuk: Jaemin, Minjeong, Jeno, Sungchan, Jimin, Haechan, Giselle, Shotaro, Eunseok, Wonbin, Renjun, Yeri, Stella, Sohee, dan Anton. Kelima belas orang itu akan membagi posisi di sekitar jendela, pintu, dan area tengah kelas.
"Yang tidur, coba rileks sebisa mungkin. Jangan pikirkan yang lain. Simpan tenaga," pesan Jimin kepada 15 orang sisanya, termasuk Mark, Jisung, Chenle, Ningning, A-na, Sunkyung, yeon, hina, carmen, jiwoo, yuha, juun, ian, koeun, sion yang tampak lebih kelelahan secara mental.
Mereka yang jaga segera mengambil posisi. Jaemin dan Minjeong bersembunyi di balik tirai dekat jendela retak, mengintip ke koridor yang gelap dan sunyi. Jeno dan Sungchan menjaga pintu, telinga mereka menempel di kayu. Yang lain duduk atau berbaring di lantai di berbagai titik, mata dan telinga mereka waspada.
Di bagian lain kelas, Mark memandangi langit-langit. Yeri, yang memilih jaga, memberinya senyuman kecil sebelum bergabung dengan posnya. Koeun, yang termasuk yang tidur, memejamkan mata, tapi pikiran masih dipenuhi oleh rasa takut dan sisa perasaan rumitnya.
Chenle, yang berbaring di lantai dekat Ningning, berbisik, "Ning... lo takut nggak?"
"Bodoh banget lu nanya gitu," jawab Ningning pelan, tanpa membuka mata. "Tentu aja takut. Tapi... tapi sedikit lebih tenang sekarang. Karena kita bareng-bareng."
Rencana itu memang sederhana. Bahkan rapuh. Tapi bagi 30 siswa SMA Nambu yang terperangkap di antara kegelapan dan monster, rencana itu adalah satu-satunya tali penyelamat mereka. Dan malam itu, mereka menggenggamnya erat-erat, sambil mendengarkan setiap gesekan dan desisan dari dunia luar yang telah berubah menjadi begitu asing dan kejam.
PUKUL 01:20 - DI TENGAH PENJAGAAN
Dua jam lebih berlalu dalam ketegangan sunyi. Beberapa dari Tim Istirahat, seperti Chenle dan Sunkyung, akhirnya tertidur lelah. Yang lain, seperti Mark dan Koeun, hanya berbaring dengan mata terbuka, memandangi langit-langit yang gelap.
Di area penjagaan dekat jendela retak, Jaemin dan Minjeong duduk bersebelahan, punggung menempel dinginnya tembok. Jarak antara mereka hanya sekitar setengah meter. Dalam keheningan yang mencekam itu, Jaemin merasa keberanian yang aneh mengalir dalam dadanya. Mungkin karena takut besok tidak ada kesempatan lagi.
Dengan suara yang nyaris hanya hembusan napas, dia membisikkan, "Minjeong... lo... tangan lo dingin?" Pertanyaan yang bodoh, tapi itu saja yang bisa dia pikirkan.
Minjeong menoleh padanya, matanya membesar sedikit di kegelapan. "Ya iyalah dingin. Dingin, gelap, dan kita lagi nungguin kemungkinan dimakan alien. Perfect date material," jawabnya datar, tapi nada sarkasme itu terasa seperti tameng yang rapuh.
Jaemin nyaris tersenyum. "Gue ada sarung tangan... bekas, tapi bersih." Dia merogoh saku jaketnya dan mengulurkan sepasang sarung tangan hitam tipis.
Minjeong memandanginya sejenak, lalu menerimanya. "Thanks." Suaranya sedikit lebih lembut. Dia memakainya perlahan. "Lo selalu bawa barang random, ya."
"Always prepared," bisik Jaemin, lalu diam lagi. Namun, tangan kirinya yang bersandar di lantai, bergerak perlahan, sedikit... mendekati tangan kanan Minjeong yang kini bersarung tangan. Jarak antar kelingking mereka mungkin tinggal beberapa sentimeter.
Dari seberang ruangan, dari posisinya menjaga di dekat lemari, Sungchan melihat ke arah mereka. Mata yang sudah mulai terbiasa gelap menangkap siluet dua kepala yang saling berdekatan, dan gerakan tangan Jaemin yang hampir tak terlihat itu. Dadanya sesak. Dia mengepalkan tangan di samping tubuhnya, lalu memalingkan muka, memaksakan fokusnya untuk mengawasi pintu.
"Lo baik-baik aja?" bisik Jimin di sebelah Sungchan, memperhatikan raut wajahnya yang tegang.
Sungchan mengangguk cepat. "Gue oke. Cuma... waspada aja."
PUKUL 02:45 - SUARA & KEPANIKAN KECIL
Tiba-tiba, dari arah koridor sebelah kiri (arah lab IPA), terdengar suara gemerincing logam jatuh, diikuti oleh decitan pendek yang tajam.
Semua orang langsung tegang. Yang tidur terbangun dengan terengah-engah. Chenle nyaris menjerit sebelum ditutup mulutnya oleh Ningning.
"Diam! Jangan ada suara!" desis Jaemin dengan mendesak.
Mereka semua membeku, jantung berdebar kencang. Suara itu tidak berulang. Hanya ada sunyi lagi, namun sekarang sunyi itu terasa berbeda-lebih mengancam, seperti ada yang sedang mendengarkan balik.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti satu jam, tidak ada lagi suara mencurigakan. Perlahan, mereka mulai bisa bernapas lagi.
"Mungkin... tikus? Atau... sesuatu yang kejedot pipa?" bisik Haechan, mencoba menenangkan.
"Atau sesuatu yang lagi jelajahin sekolah," gumam Giselle dengan suara datar, membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Insiden kecil itu mengingatkan mereka sekali lagi: mereka tidak sendirian di gedung ini. Dan makhluk-makhluk itu mungkin sedang berpatroli.
Jaemin, tanpa sadar, tangannya sekarang benar-benar menyentuh sisi tangan Minjeong. Minjeong tidak menariknya. Di tengah ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui di luar sana, sentuhan manusia yang hangat (meski sarung tangan) terasa seperti jangkar kecil di tengah badai.
Sungchan, yang melihat sentuhan itu dari kejauhan, hanya menarik napas dalam dan menutup matanya sebentar. Prioritasnya sekarang adalah bertahan hidup. Namun, di sudut hatinya, rasa kecewa yang pahit mulai merambat.
Pukul 03.00 tepat, pergantian penjaga berlangsung dalam sunyi yang disengaja. Tim Kedua yang terdiri dari Mark, Jisung, Chenle, Ningning, A-na, Sunkyung, Juun, Yeon, Hina, Koeun, Carmen, Yuha, Jiwoo, Ian, dan Oh Sion mulai mengambil posisi. Wajah-wajah mereka masih mengantuk dan bingung, namun ada tekad kecil di mata mereka setelah 'istirahat' selama empat jam yang tidak benar-benar nyenyak.
Tim Pertama yang sudah menjaga selama empat jam terakhir, perlahan-lahan mengendurkan kewaspadaan mereka. Jaemin merasa otot bahunya kaku bagaikan batu. Dia merosot ke lantai di sudut ruangan, bersandar di dinding dengan mata setengah tertutup. Di sebelahnya, Minjeong melakukan hal yang sama. Jarak antara mereka hanya beberapa sentimeter.
"Lo jaga di jendela terus?" tanya Minjeong dengan suara serak.
"Iya. Lo juga kan. Mata lo merah," jawab Jaemin, berusaha tersenyum kecil.
"Gak usah ngomongin penampilan. Kita semua pasti kelihatan kayak zombie," balas Minjeong, tapi nada suaranya tidak lagi sekasar biasanya.
Dari seberang ruangan, Sungchan yang memilih untuk tetap berjaga di Tim Kedua, duduk di dekat pintu. Posisinya memungkinkannya untuk melihat sosok Jaemin dan Minjeong yang duduk bersebelahan dalam cahaya remang yang mulai menerobos dari balik tirai. Dia melihat Jaemin menggeser tubuhnya sedikit, bahunya hampir menyentuh bahu Minjeong. Minjeong tidak menjauh. Sungchan menelan ludah dan memalingkan muka, memilih untuk fokus pada gagang pintu yang dingin.
PUKUL 05:30 - FAJAR YANG SUNYI
Warna hitam di luar jendela perlahan berubah menjadi abu-abu kebiruan. Fajar datang tanpa suara. Biasanya, pada jam segini, mereka akan mendengar suara mesin pembersih jalan atau motor pengantar koran. Sekarang, hanya ada keheningan yang menakutkan.
"Kok serem banget ya," bisik Yuha dari pos penjagaannya. "Kayak kota mati."
"Jangan mikirin yang aneh-aneh," balas Hina, meski suaranya juga bergetar.
Jimin yang termasuk Tim Istirahat sekarang, membuka matanya. Dia tidak pernah benar-benar tidur. Dia duduk dan melihat ke arah jendela. Wajahnya serius.
"Gak ada suara sama sekali. Itu pertanda buruk," gumamnya pada diri sendiri.
....