"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dua hari menjelang pernikahan, rumahku tidak seperti rumah calon pengantin pada umumnya. Tidak ada tawa riang para tetangga yang biasanya datang untuk rewang atau sekadar bercengkerama. Memang ada beberapa orang yang sibuk di dapur dan di halaman depan, namun mereka bekerja dalam kepasrahan yang sunyi. Pernikahan ini akan digelar sesederhana mungkin di rumahku, sebuah keputusan yang diambil Bapak agar tidak terlalu banyak pasang mata yang menyaksikan aib kami yang kian terlihat nyata.
Deru motor Mas Dika yang memasuki halaman rumah membuat beberapa tetangga yang sedang memasang tenda kecil di depan menoleh sekilas, lalu kembali menunduk. Mereka semua tahu, namun mereka memilih diam sebuah diam yang justru terasa lebih menyakitkan daripada gunjingan.
Mas Dika turun dari motor, wajahnya tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia membawa map cokelat berisi berkas-berkas terakhir yang dibutuhkan untuk akad nikah nanti. Urusan berkas memang sudah dipasrahkan sepenuhnya kepada pegawai desa dan pihak KUA; Mas Dika harus mengeluarkan biaya lebih agar segalanya bisa diproses secepat kilat tanpa banyak prosedur yang menyulitkan posisi kami.
"Ini berkasnya, Pak," ucap Mas Dika pelan saat menyerahkan map itu kepada Bapak yang sedang duduk di teras, mengawasi pemasangan terpal.
Bapak menerima map itu tanpa sepatah kata pun. Beliau membukanya sekilas, memastikan nama kami tertera di sana, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kayu. Sejak hari kedatangannya, Bapak belum benar-benar bicara banyak dengan Mas Dika. Komunikasi mereka hanya sebatas urusan administratif pernikahan.
Aku berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua dengan perasaan yang remuk redam. Di dalam rumah, Mbah Neni dan beberapa bulek sedang menyiapkan nasi kotak sederhana. Tidak ada pelaminan mewah, tidak ada janur kuning yang melengkung tinggi. Hanya sebuah meja kecil untuk akad dan kursi-kursi plastik yang dipinjam dari balai desa.
"Sudah makan, Ra?" tanya Mas Dika menghampiriku setelah urusannya dengan Bapak selesai. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu tampak sangat rapuh.
"Belum, Mas. Nggak nafsu," jawabku lirih. Aku mengelus perutku yang kini terasa sangat berat. Rasanya ironis, di saat orang-orang sibuk mempersiapkan pernikahan, aku justru merasa seperti sedang mempersiapkan upacara pemakaman bagi impian-impianku.
"Kamu harus makan, demi anak kita," bisik Mas Dika lagi. Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat di depan semua orang seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak akan lari.
Ibu keluar dari dapur membawa nampan berisi air putih, meletakkannya di depan Bapak dan Mas Dika. Ibu tidak menyapa, hanya memberikan tatapan kosong sebelum kembali masuk ke dalam. Di rumah ini, kebahagiaan sudah menjadi barang mewah yang tidak mampu kami beli lagi. Kami semua sedang bergerak dalam otomatisasi; menyiapkan pernikahan bukan karena keinginan, melainkan karena keharusan untuk menutup luka agar tidak semakin membusuk di mata orang lain.
Bapak menyesap air putih yang baru saja diletakkan Ibu, matanya menatap lurus ke depan, ke arah jalanan desa yang mulai temaram. Setelah beberapa saat hening yang terasa abadi, Bapak akhirnya membuka suara. Pertanyaannya tidak lagi soal berkas, melainkan soal nasibku setelah hari akad itu usai.
"Bagaimana dengan kerjaan Aira, Dik? Apa setelah menikah nanti Aira tetap bekerja?" tanya Bapak dengan nada suara yang berat. Beliau menoleh sedikit ke arahku, seolah sedang menimbang-nimbang masa depanku yang sudah terlanjur berantakan. "Beberapa hari ini saya melarang Aira berangkat kerja. Saya malu jika dia harus terus bertemu orang dalam kondisi seperti ini."
Mendengar pertanyaan Bapak, aku menahan napas. Pekerjaan di toko adalah satu-satunya harga diri yang masih kupegang, satu-satunya tempat di mana aku merasa masih menjadi manusia yang berguna. Namun, aku juga sadar bahwa Bapak benar; perutku yang kian membesar bukan lagi rahasia yang bisa disembunyikan di balik meja kasir.
Mas Dika memposisikan duduknya menjadi lebih tegak. Ia menatap Bapak dengan sorot mata yang penuh kesungguhan, seolah ingin meyakinkan pria di hadapannya bahwa ia tidak hanya sekadar bertanggung jawab karena keadaan.
"Jika Aira tetap ingin bekerja, saya akan mendukung sepenuhnya, Pak. Selama ia merasa sanggup dan sehat, saya tidak akan melarang," jawab Mas Dika mantap. Ia sempat melirikku sejenak, memberikan dukungan lewat tatapan matanya. "Namun, jika Aira memilih untuk berhenti dan fokus pada kehamilan serta persalinannya, saya sanggup menafkahi Aira lahir dan batin. Saya tidak akan membiarkan Aira kekurangan."
Mas Dika menjeda kalimatnya, ia menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
"Dan satu hal lagi, Pak... saya tahu mimpi Aira adalah untuk melanjutkan sekolah. Kalaupun nanti setelah melahirkan Aira ingin kuliah, saya yang akan membiayai seluruh pendidikannya sampai selesai. Saya ingin Aira tetap bisa meraih apa yang ia cita-citakan, meskipun jalannya harus berputar seperti ini."
Bapak terdiam mendengar janji Mas Dika. Aku melihat rahang Bapak sedikit melunak, meski matanya masih menyiratkan luka yang sangat dalam. Janji tentang kuliah itu,janji yang dulu menjadi tanggung jawab Bapak kini berpindah tangan. Ada rasa lega sekaligus sesak yang luar biasa di dadaku. Mas Dika seolah sedang mencoba menjahit kembali puing-puing mimpiku yang telah kuhancurkan sendiri.
"Pegang kata-katamu, Dik," ucap Bapak pelan namun penuh penekanan. "Jangan sampai kamu hanya manis di mulut sekarang karena merasa bersalah. Menikah itu selamanya, apalagi kamu sudah mengambil kebanggaan saya. Jika suatu saat kamu menyia-nyiakan anak saya... saya sendiri yang akan menjemputnya pulang."
Sore itu, di bawah tenda sederhana yang belum sepenuhnya terpasang, sebuah kesepakatan baru tercipta. Bukan hanya kesepakatan untuk menikah, tapi janji tentang masa depan yang sempat kupikir telah mati. Meski begitu, aku tahu jalan menuju sana masih sangat panjang dan penuh duri, terutama dengan restu dari pihak Mas Dika yang masih menggantung tak tentu arah.