Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Oli, Keringat, dan Kemeja Putih yang Kotor
Kirei terpaksa mengakhiri masa persembunyian dasternya di apartemen Sherly sebelum tengah hari. Sebuah surel mendesak masuk dari sekretariat Mahendra Motors: kunjungan lapangan untuk sinkronisasi fisik Zhaklyn OS pada prototipe mobil SUV listrik teranyar mereka harus dilakukan hari ini juga di pabrik perakitan utama di pinggiran Jakarta.
Begitu mobil sedan Kirei memasuki kawasan kompleks pabrik, atmosfer industri yang masif langsung menyambutnya. Gedung-gedung pabrik itu berdiri kokoh, didominasi warna abu-abu baja dan kaca-kaca besar. Bunyi desis robot perakit dan ketukan logam yang presisi terdengar dari kejauhan, menciptakan irama kerja yang disiplin tinggi.
Kirei turun dari mobil dengan langkah tegas. Hari ini dia memilih pakaian yang lebih kasual namun tetap tajam: kemeja putih berpotongan maskulin dan celana jins hitam yang membungkus kaki jenjangnya, dipadukan dengan sepatu bot kulit tanpa hak tinggi. Dia menolak dikawal banyak orang; hanya ada Maya yang berjalan di belakangnya sambil memeluk dokumen teknis.
"Nona Kirei, Tuan Vaxerion tidak ada di ruang pertemuan utama. Kepala pabrik bilang beliau ada di hanggar nomor empat, area prototipe," bisik Maya setelah bertanya pada resepsionis.
Kirei mengangguk. Mereka berjalan menyusuri koridor kaca yang bersih, menuju hanggar nomor empat yang pintunya terbuka separuh. Begitu melangkah masuk, Kirei langsung menghentikan langkahnya.
Ruangan itu dipenuhi oleh aroma oli yang bersih, karet ban baru, dan desis halus mesin hidrolik. Di tengah hanggar, sebuah mobil SUV listrik purwarupa berwarna hitam pekat tanpa logo sedang terangkat di atas dongkrak hidrolik raksasa. Tapi bukan mobil itu yang membuat mata jernih Kirei terpaku.
Itu Vaxerion.
Raja industri otomotif itu sama sekali tidak kelihatan seperti CEO old money yang biasa duduk di balik meja mahoni. Vaxerion sedang berdiri di bawah sasis mobil, mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan lipatan lehernya yang tegap. Lengan kemejanya digulung asal-asalan sampai ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh dan dipenuhi noda oli hitam.
Di sebelahnya, seorang mekanik tua berambut putih tampak sedang kesulitan menahan beban kabel konduktor baterai utama yang sangat tegap. Tanpa ragu, Vaxerion mengulurkan kedua tangannya yang besar, ikut menahan beban besi seberat puluhan kilogram itu bersama sang mekanik sambil memberikan instruksi dengan suara beratnya yang tenang. Keringat tipis mengalir dari pelipis Vaxerion, membasahi kerah kemejanya hingga menempel di dada bidangnya.
"Tahan di situ, Pak Joko. Saya yang kunci bautnya dari bawah," kata Vaxerion, suaranya mengalun dewasa dan penuh wibawa, sama sekali tidak ada nada meremehkan atau jijik melihat lingkungan bengkel yang kotor.
Kirei tertegun di ambang pintu hanggar. Dadanya mendadak berdenyut dengan ritme yang lambat. Seumur hidupnya bersentuhan dengan kalangan elit Jakarta, dia cuma pernah melihat pria-pria yang sibuk memamerkan jam tangan mewah dan kebersihan kuku mereka. Tapi pria di depannya ini... pria yang memiliki kekayaan tersembunyi yang bisa mengguncang bursa efek dalam semalam, justru tidak segan mengotori tangannya dengan oli demi memastikan keselamatan mekaniknya.
Sisi manusiawi dan membumi dari Vaxerion sore itu menghantam hati es Kirei dengan getaran yang jauh lebih mematikan daripada rayuan apa pun di dunia.
Klontang.
Suara kunci pas yang tidak sengaja tersenggol kaki Maya membuat Vaxerion menoleh cepat. Begitu mata jernih dan tajam milik Vaxerion menangkap sosok Kirei yang sedang berdiri mematung menatapnya, sudut bibir pria itu langsung terangkat sedikit. Senyuman dewasanya yang khas kembali muncul, menghapus semua kesan kaku dari wajah tegasnya.
Vaxerion mengambil kain lap usang di atas meja, mengelap tangannya yang hitam karena oli sambil berjalan santai menghampiri Kirei. Jarak mereka mengikis hingga Kirei bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi sisa keringat dan oli bersih dari tubuh Vaxerion—aroma yang mendadak membuat tenggorokan Kirei terasa kering.
"Tepat waktu, Nona Zhaklyn," ujar Vaxerion, suaranya melembut, matanya menatap Kirei dari atas ke bawah dengan pandangan intens yang selalu sukses membuat Kirei merasa tidak berdaya. Dia melihat kemeja putih Kirei yang bersih, lalu melirik kemejanya sendiri yang kotor. "Maaf, aku agak berantakan. Tadi ada sedikit kendala pada dudukan modul komputer utamamu di sasis bawah."
Kirei mencoba menstabilkan suaranya, memasang kembali topeng profesionalnya walau jantungnya sudah berdegup gila di balik kemejanya. "Nggak apa-apa, Tuan Mahendra. Saya ke sini buat memastikan tim Anda tidak salah memasang jalur bus data dari Zhaklyn OS ke sistem kemudi."
Vaxerion terkekeh rendah, suara tawa yang begitu serak dan menawan di telinga Kirei. Dia melangkah maju satu langkah lagi, membuat tubuh tegapnya hampir bersentuhan dengan Kirei.
"Timku tidak akan salah, Kirei," bisik Vaxerion, suaranya merendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Dia mencondongkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Kirei dengan ketulusan yang begitu pekat. "Karena aku sendiri yang mengawasi pemasangannya. Aku tidak akan membiarkan sistem operasi milik calon istriku mengalami crash di dalam mobil buatanku."
Pipi Kirei mendadak terasa terbakar hebat. Rayuan romantis yang diucapkan dengan wajah tanpa dosa dan baju penuh noda oli itu benar-benar meluluhkan sisa-sisa pertahanan Kirei. Kirei langsung membalikkan badannya dengan ketus, menyambar tablet dari tangan Maya buat menutupi kepanikannya yang sudah menggila.
"Mari langsung ke uji coba koneksi, Tuan Mahendra. Waktu saya mahal," ketus Kirei sambil berjalan cepat menuju kabin mobil, memicu tawa rendah Vaxerion yang terdengar sangat puas menggoda Ratu Es-nya yang mulai mencair.
Bersambung...