"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Beberapa hari kemudian, Dewa mengajak Aira ke sebuah gudang penyimpanan milik keluarga Pradipta. Ia ingin mencari sesuatu yang sudah lama ia simpan. Di pojok gudang yang bersih itu, terdapat sebuah kotak kayu besar yang digembok.
"Ini apa, Mas?" tanya Aira penasaran.
Dewa membuka kotak itu. Isinya adalah kumpulan mainan kayu tua, sepatu bayi yang sudah menguning, dan sebuah buku catatan kecil.
"Ini milik mendiang ayahku. Dia menyiapkannya untukku saat aku belum lahir," suara Dewa terdengar serak. "Ayahku tidak pernah sempat melihatku sukses. Dia pergi saat kondisi keluarga kami sedang di titik terendah."
Dewa mengambil sepasang sepatu bayi dari dalam kotak dan memberikannya pada Aira.
"Ayah dulu selalu bilang, harta bisa dicuri, jabatan bisa hilang, tapi martabat dan kasih sayang adalah warisan yang abadi. Itulah kenapa aku berani hidup jadi kuli saat mencarimu. Aku ingin memastikan bahwa aku tidak membeli cinta dengan uang, persis seperti yang Ayah ajarkan."
Aira memeluk sepatu kecil itu. Ia merasa ada ikatan batin yang kuat dengan mertua yang belum pernah ia temui itu.
"Kita akan ceritakan semua ini pada anak kita nanti, Mas. Bahwa kakeknya adalah orang yang luar biasa, dan papanya adalah pria paling terhormat yang pernah aku kenal."
Waktu berjalan begitu cepat hingga tiba pada puncaknya. Suatu sore saat mereka sedang menikmati teh di taman, Aira tiba-tiba mencengkeram lengan Dewa. Wajahnya memucat, dan cangkir tehnya hampir jatuh.
"Mas... perutku..."
Dewa langsung berdiri, kepanikannya yang dulu kini kembali dengan sepuluh kali lipat kekuatan. "Ai? Kenapa? Sekarang?"
"Sepertinya... aww! Sakit, Mas!"
Dewa tidak memanggil Hans. Ia langsung menggendong Aira menuju mobil Bentley-nya. "Buka gerbang! Hans, perintahkan Dokter terbaik di rumah sakit sekarang!" teriak Dewa saat ia mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil, Aira terus merintih. Dewa memegang tangan istrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya di kemudi. "Tahan, Ai. Sebentar lagi sampai. Jangan takut, aku di sini."
Sesampainya di rumah sakit, Aira langsung dilarikan ke ruang bersalin. Dewa tidak diizinkan masuk untuk beberapa saat karena prosedur medis, dan ia terus berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan cemas.
Nyonya Widya, Siska, bahkan Papa Surya yang sudah bisa duduk di kursi roda, ikut datang menunggu.
"Tenang, Dewa. Istrimu itu wanita kuat," hibur Nyonya Widya.
Dewa hanya bisa berdoa. Ia yang biasanya bisa mengendalikan segala situasi ekonomi, kini merasa tidak berdaya di depan takdir kehidupan.
Beberapa jam kemudian, suara tangisan bayi yang kencang memecah kesunyian lorong rumah sakit. Pintu terbuka, dan dokter keluar dengan senyuman.
"Selamat, Tuan Pradipta. Bayinya laki-laki, sehat dan tampan sekali. Nyonya Aira juga dalam kondisi stabil."
Dewa hampir jatuh lemas di lantai karena lega. Ia langsung masuk ke dalam ruangan. Di sana, Aira terbaring lemah namun wajahnya memancarkan cahaya kebahagiaan yang belum pernah Dewa lihat sebelumnya. Di pelukannya, ada seorang bayi mungil yang sedang menggeliat.
Dewa mendekat, ia mencium kening Aira, lalu beralih mencium pipi bayi kecilnya. Air mata Dewa jatuh mengenai selimut bayi itu.
"Dia mirip kamu, Mas," bisik Aira parau.
"Tidak, dia punya mata yang indah sepertimu, Ai," jawab Dewa. "Halo, jagoan Papa... selamat datang di dunia. Namamu adalah Arka Pradipta Junior. Cahaya dalam keluarga kita."
Siska dan orang tua mereka masuk ke dalam ruangan dengan penuh haru. Papa Surya menatap cucunya dengan air mata penyesalan dan syukur. Keluarga yang dulu hampir hancur karena keserakahan, kini dipersatukan kembali oleh sebuah kehidupan baru.
Satu bulan setelah kelahiran Arka, Dewa benar-benar menepati janjinya. Ia tidak membawa Aira keliling dunia dengan jet pribadi yang formal, melainkan membawa Aira dan bayi mereka kembali ke gang sempit tempat kontrakan lama mereka berada.
Ia memarkir mobil mewahnya di ujung gang. Penduduk sekitar keluar dengan heboh menyambut mereka. Dewa menggendong Arka, sementara Aira berjalan di sampingnya.
Mereka berhenti di depan bekas kontrakan mereka yang kini sudah dibeli oleh Dewa dan direnovasi menjadi sebuah perpustakaan gratis untuk anak-anak sekitar.
"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Aira haru.
"Aku ingin Arka tahu dari mana papanya menemukan berlian paling berharga di dunia. Aku ingin dia tahu bahwa rumah bukan tentang seberapa megah bangunannya, tapi tentang siapa yang ada di dalamnya," ucap Dewa.
Mereka duduk di teras perpustakaan itu, sama seperti dulu saat mereka makan bakwan jagung beralaskan koran. Aira menyusui Arka dengan tenang, sementara Dewa menatap mereka dengan penuh rasa syukur.
Harta Pradipta mungkin sangat banyak, tapi bagi Dewa, hartanya yang paling sejati sedang duduk di sampingnya, mengenakan daster katun sederhana yang tetap membuatnya terlihat seperti ratu di matanya.
"Mas Dewa," panggil Aira.
"Ya, Sayang?"
"Aku mencintaimu. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai orang kaya. Tapi sebagai pria yang mau kehujanan demi nasi uduk jam dua pagi."
Dewa tertawa, ia menarik Aira dan Arka ke dalam pelukan hangatnya. "Dan aku mencintaimu karena kamu adalah Aira. Wanita yang mau mencintai kuli bangunan dengan mahar seratus ribu rupiah."
Matahari terbenam di ufuk barat, menutup satu babak perjuangan mereka dan membuka babak baru yang penuh dengan harapan.
Drama pernikahan mereka mungkin akan terus berlanjut dengan tantangan baru, tapi mereka tahu, selama ada cinta dan kesederhanaan di hati, tidak ada badai yang tidak bisa mereka lalui.
...----------------...
**To Be Continue** ....
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa