"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 PERCIKAN DI LABORATORIUM
Di perjalanan menuju arah pulang, jalanan semakin macet dan Raka menemukan seseorang yang sudah lama ia tak temui.
"Itu bukannya Bibi Laila?" Raka melihat dari kaca bis.
Seorang perempuan usianya sekitar 55 tahun, beliau mengurus Anabella ketika saat masih bayi hingga usianya 8 tahun. Dan Raka juga sangat dekat dengan Bibi Laila.
Memanggil namanya, disamping kaca jendela bis itu.
"BIBI! BIBI LAILA!" panggil Raka, agar perempuan itu melihatnya.
Dan benar saja, ikatan batin kasih sayang keluarga memang begitu nyata. Bibi Laila langsung tau ketika ada yang memanggilnya dengan sebutan "Bibi Laila."
Wajahnya yang sudah tak terlihat kencang tapi senyumnya yang indah dan hangat. Membuat Raka teringat masa kecilnya lagi.
"Eh! Raka! Raka, kenapa kamu disini? Ini jauh banget dari rumah kamu yang sekarang, kan?" sahut Bibi membuka kaca jendela bis.
Bis yang Bibi tumpangi, berhenti dan Bibi langsung turun dari bis.
Raka menepikan motornya dan memeluk Bibi Laila, begitu wanita paruh baya itu sampai menangis haru.
"Kamu sangat tinggi, dulu kamu paling kecil diantara Kakak-kakakmu." Lalu tertawa bahagia bisa bertemu dengan anak kecil yang sering diasuhnya.
"Bibi gimana, sehat? Ibu selalu bilang kalau dia kangen sama Bibi. Ayo main ke rumah, Bi." ajak Raka.
"(Mengangguk setuju.) Bibi memang mau pergi kesana, karena ada sesuatu yang ingin Bibi bicarakan dengan Ibumu."
Raka tiba - tiba terdiam karena terlihat wajah Bibi berubah serius.
Disamping itu, rumah sudah kembali hangat apalagi mendadak kedatangan Bibi bersama Raka ke rumah mereka.
Ibu yang tadinya akan marah kepada Raka karena sudah malam dia baru pulang. Tapi rupanya, Bibi bersamanya dan Bibi memberikan jawaban agar Raka tidak dimarahi.
"Dia menjemput ku. Aku yang memintanya. Sudah.. jangan marahi dia, dia sudah dewasa." tegas Bibi, membuat Ibu terdiam mendengar Omelan dari kakaknya itu.
Ana merasa sangat senang, ia tak berhenti bicara dan Bibi Laila pun tidak lelah menatap satu persatu keponakannya dimulai dari Citra yang masih sama seperti waktu kecil dengan ciri khas rambut Bob-nya, Ana ciri khas pipi apel karena merah merona dan si bungsu Raka terlihat berbeda, sekarang lebih dewasa.
"Bibi senang kalian tumbuh dengan baik." sahut Bibi Laila, karena dia tinggal sendirian tak mempunyai anak dan suaminya meninggal 3 tahun lalu. Membuatnya sangat bahagia ketika datang ke rumah keluarga Ana.
Keesokan harinya, Ana sudah bersiap - siap dan tak lupa ia juga makeup seperti biasa.
Menuruni tangga, Bibi terkejut dan tak mengenalinya.
"Aa!! Kaget! Nak, kamu datang darimana? Kenapa keluar dari kamar Ana?" tanya Bibi.
"Euh,, A-aku Ana, Bi. Hehe.." sahut Ana, sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
"Ya ampun, cantik sekali." kagumnya sampai bibirnya terbuka karena takjub.
Setelah sarapan, Ana dan Raka pergi bersama naik bis karena motor Raka di bengkel karena tiba - tiba mogok.
Di perjalanan, Ana tidak banyak bertanya kepada Raka soal kemarin pergi kemana. Karena dari raut wajah adiknya itu, tampak sedang merasa kesal dan sedih.
Sesampainya di Sekolah, Ana langsung duduk setelah menyapa teman - temannya. Sheila langsung membuka obrolan.
"Guys! Nanti pelajaran kimia, kita digabungkan sama kelas 12 IPS lho. Karena Guru Kimia mau ambil cuti menikah."
"Hah?! Mendadak banget." terkejut Ana.
"Iya. Nggak biasanya." timpal Jeje.
Kai ternyata memperhatikan Ana dan Ana baru tersadar. Ana langsung menghampiri Kai.
"Ka-Kai. Kayaknya hari ini aku nggak jadi belajar bareng deh. Kita undur aja belajar barengnya ya?"
Kai menatap tanpa ekspresi, "Oke."
Ana menghela nafas lega.
"Aku tinggal bilang aja ke Pak Anton."
"Apa? Aku pikir tadi kamu setuju. Jangan gitu dong." rengek Ana tapi tak berani mendekat.
Kai yang melihat Ana memohon pun semakin dingin. "Kenapa nggak jadi?"
"Aku mau nonton bioskop sama mereka." Sambil menunjuk ke arah Jeje dan Sheila.
Dengan nada yang datar, "Belajar lebih penting."
Kai beranjak pergi karena yang lainnya juga pergi ke Laboratorium. Ana hanya mengerucutkan bibirnya, merajuk.
"Kamu habis ngomongin apa sama Kai?" tanya Jeje.
"Ngomongin belajar bareng disuruh sama Pak Anton." jawab gadis itu dengan nada lemas.
Jeje hanya terdiam, sedangkan Sheila heboh.
Di Laboratorium, Nathan pun bersama geng-nya sudah duduk disana.
"Hai cewek aneh! Kita ketemu lagi." teriak Nathan sambil melambaikan tangan ke arah Ana, membuat geng-nya jadi heboh dan berisik.
Kai yang berdiri di ujung, mendengar hal itu memandang ke arah Nathan dengan sinis dan tajam.
Sedangkan Ana hanya menepuk jidatnya. Karena baru saja ia berhadapan dengan cowok cuek dan keras kepala, sekarang dia dihadapkan lagi dengan cowok usil dan super menyebalkan.
Meja kelompok mereka bersebrangan tapi Nathan curi - curi kesempatan untuk berbuat usil kepada Ana.
"Pinjam ya." Mengambil gelas ukur yang sedang Ana pegang.
"Lho, kamu kan udah ada alatnya?! Kembalikan dong!" gerutu Ana.
"Pinjam yang disini aja, toh masih banyak. Ya, nggak?" melirik ke arah Sheila.
Sheila menjawab dengan terbata - bata, karena Nathan terkenal cuek dan sangat disegani.
"Tuh teman - teman kamu aja nggak keberatan kalau aku pinjam. Wleee!!" ledek Nathan, sambil mencoba kabur ketika Ana akan mengambil alat dari tangan Nathan.
Guru melihat Nathan yang sedari tadi jalan - jalan di meja kelompok Ana, langsung dapat teguran.
"Nathan! Kok kamu jalan - jalan? Ayo kembali kerjakan tugas kelompok kamu. Bantu mereka."
"Ini juga lagi bantu. Bantuin Anabella.." sambil mengedipkan matanya ke arah Ana.
Membuat seisi ruang Laboratorium menjadi heboh. Melihat hal itu, Kai semakin panas.
[Mengepalkan tangan dibalik meja.]
Diam - diam Kai melihat ke arah Ana dan ia ingin membalas atas kelakuan Nathan tadi. Dengan cara pindah tempat duduk jadi disamping Ana dan jaraknya sangat dekat.
Ana langsung membeku.
Ana salah tingkah dan mencoba untuk mengalihkan pandangannya karena sangat dekat dengan Kai.
Ana ingin mengambil gelas ukur dan tanpa sengaja Kai juga ingin mengambil barang yang sama.
Tap.
Tangan mereka berdua bersentuhan, keduanya terkejut dan saling menatap.
Nathan yang melihat Kai sangat dekat dengan Ana, langsung naik pitam.
"Awas aja, aku nggak akan tinggal diam. Dia masih bisa bahagia diatas penderitaan keluargaku." geram Nathan dalam hatinya, sambil menatap tajam.
"Nggak biasanya dia bisa perhatian sama orang lain, apa jangan - jangan dia suka sama Ana?" tambahnya lagi sambil menaikan satu alisnya.
Pelajaran selesai dan bel istirahat pun sudah berbunyi.
"Woy! Ada yang harus kita bicarakan."Panggil Nathan, ketika Kai akan beranjak keluar dari Laboratorium.
Menghampiri Nathan.
"Ada apa?"
"Nggak. Tapi aku cuma penasaran, kenapa kamu peduli sama orang lain. Apa jangan - jangan, kamu suka sama cewek itu, hah?" tertawa meledek.
Kai langsung mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu apa, Nathan?" dengan nada yang menusuk.
#Bersambung...