"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Garis Depan di Bawah Langit Mendung
Perjalanan menuju koridor barat terasa begitu panjang dan menyiksa bagi Aruna. Sepanjang jalan, rintik hujan luar kota terus membasahi kaca mobil, sewarna dengan kegelapan yang perlahan merayap di dalam dadanya. Rasa pening yang berdenyut konstan di pelipisnya kian diperparah oleh rasa sesak yang terus menekan paru-parunya. Namun, ingatan akan tatapan penuh ambisi kaku dari Vano serta keserakan Deon Prawijaya menjadi bahan bakar tersendiri yang memaksa fisiknya untuk tetap bertahan tegak di balik kemudi.
Begitu mobilnya memasuki area perbatasan koridor barat, pemandangan di depan mata langsung membuat darah Aruna berdesir hebat. Di bawah langit pedesaan yang mendung pekat, tiga unit alat berat sudah terparkir di tepi jalan tanah yang becek. Puluhan warga desa, mulai dari bapak-bapak berkopiah lusuh hingga ibu-ibu yang mendekap anak mereka, berdiri merapatkan barisan, membentuk pagar betis manusia di depan lahan pertanian mereka yang terancam digusur.
Di seberang barisan warga, tampak belasan petugas keamanan berseragam hitam yang dikawal ketat oleh tim legal Prawijaya Group. Dan di barisan paling depan, berdiri Vano dengan setelan kemeja formalnya yang bersih, memegang megapron dan draf dokumen eksekusi dengan ekspresi dingin tanpa cela.
Aruna menghentikan mobilnya dengan sentakan kasar. Ia membuka pintu, melangkah keluar menembus udara dingin pedesaan tanpa memedulikan gerimis yang langsung membasahi rambut dan blazer marunnya.
"Hentikan semua aktivitas ini sekarang juga!" seru Aruna, suaranya yang bening memecah ketegangan di udara, mengalun penuh otoritas mutlak saat ia berjalan mendekat ke arah pusaran konflik.
Warga desa yang mengenali Aruna langsung memberikan jalan, menatap wanita itu dengan binar harapan yang besar. Saniya yang sudah berada di lokasi sejak pagi segera berlari menghampiri Aruna dengan wajah panik. "Aruna, syukur kamu cepat datang. Mereka membawa surat perintah eksekusi sepihak dan memaksa warga menandatangani draf ganti rugi yang tidak masuk akal."
Vano menurunkan megapronya saat melihat kehadiran Aruna. Seringai tipis yang dingin terukir di wajah tampannya, sebuah gurat ekspresi yang mempertegas bahwa pria ramah yang dikenal Aruna dulu telah mati, digantikan oleh singa korporat suruhan Deon Prawijaya.
"Kau terlambat, Nona Penasihat Hukum," ujar Vano datar, menatap Aruna dengan sorot mata meremehkan. "Surat perintah ini sudah sah secara legalitas internal perusahaan. Kami memiliki hak atas pembersihan lahan logistik sekunder ini demi stabilitas koridor barat."
"Legalitas internal tidak memiliki kuasa untuk melangkahi hukum agraria dan hak hidup warga, Vano!" Aruna berdiri tegak tepat dua jengkal di depan Vano, menatap mantan sahabatnya itu dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam. Ia mengangkat tinggi-tinggi draf tandingan yang sudah ia siapkan dari kantor relawan. "Saya sudah mengajukan draf gugatan provisi ke pengadilan wilayah sore ini. Segala bentuk aktivitas fisik di atas lahan ini statusnya adalah status quo sampai sidang mediasi pertama berjalan!"
Jemari Vano yang memegang dokumen tampak mengetat samar, terkejut dengan kecepatan pergerakan hukum Aruna. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali. "Gugatanmu butuh waktu untuk diproses, Aruna. Sementara perintah dari Papamu adalah membersihkan area ini hari ini juga. Petugas, operasikan alat beratnya!"
"Jangan berani-berani kalian menyentuh jengkal tanah ini!" Aruna pasang badan, merentangkan kedua tangannya di depan barisan warga desa.
Namun, tekanan emosional yang memuncak, dinginnya hujan yang menusuk kulit, serta waktu tidur yang terpangkas habis subuh tadi mendadak menuntut bayaran mahal dari tubuh rapuhnya. Paru-paru Aruna seketika menyempit hebat. Ia terbatuk kecil, dan dalam hitungan detik, pandangan matanya berputar liar. Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipisnya, membuat kakinya kehilangan daya tumpu hingga tubuhnya limbung ke arah tanah yang basah.
"Aruna!" Saniya berteriak panik, mencoba menggapai tubuh sahabatnya.
Sret!
Sebelum tubuh ringkih Aruna menyentuh tanah becek, sebuah lengan kokoh berbalut jas hitam mewah dengan sigap menangkap pinggangnya, menarik tubuh lemas gadis itu ke dalam sebuah dekapan yang hangat dan protektif. Bau parfum maskulin yang teramat familier seketika menyeruak masuk ke indra penciuman Aruna yang kian menipis.
Baskara Dirgantara.
Pria itu telah berada di sana, muncul bagai hantu di tengah hamparan pedesaan yang kacau. Sepasang netra elangnya berkilat penuh amarah yang teramat pekat namun kemarahan itu bukan ditujukan kepada warga, melainkan tertuju lurus pada Vano dan jajaran petugas keamanan Prawijaya Group. Tatapan Baskara begitu menusuk, memancarkan hawa intimidasi raksasa yang seketika membuat Vano mundur satu langkah karena segan.
Di balik wajahnya yang sekeras marmer, ulu hati Baskara mencengkeram nyeri yang luar biasa saat merasakan betapa dinginnya kulit Aruna dan betapa pendeknya helaan napas gadis itu di dalam dekapannya. Ingatan kelam malam wisuda London kembali berhamburan naik di kepalanya, memicu rasa takut yang teramat sangat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng angkuhnya.
"Siapa yang memberikan kalian izin untuk membuat keributan di wilayah koridor barat saya?" suara bariton Baskara mengalun berat, bergaung dengan nada rendah yang begitu berbahaya, membuat suasana di bawah langit mendung itu seketika membeku.
Vano mencoba menegakkan punggungnya, menantang pengaruh Baskara. "Pak Baskara, ini urusan internal Prawijaya Group. Lahan sekunder ini sudah dilepaskan dari draf revisi Pasal 14 kemarin, jadi.."
"Lahan ini memang dilepaskan dari draf kontrak, tapi akses jalan logistik tunggal menuju koridor ini adalah milik Dirgantara Group secara mutlak," potong Baskara tanpa ampun, suaranya yang dingin tanpa celah memutus argumen Vano dengan telak. Ia mengeratkan dekapannya pada tubuh Aruna yang mulai kehilangan kesadaran penuh, menyembunyikan wajah pucat gadis itu di balik dada bidangnya.
"Rian, perintahkan tim pengamanan Dirgantara untuk memblokir seluruh alat berat ini. Jika ada satu petugas Prawijaya Group yang berani melangkah maju satu jengkal saja... seret mereka ke jalur hukum atas pasal pelanggaran batas wilayah komersial," perintah Baskara mutlak pada asistennya yang baru saja tiba bersama belasan pengawal pribadi berbadan tegap.
Baskara tidak menunggu jawaban dari Vano yang kini berdiri mematung dengan wajah memucat karena kalah taktik. Dengan gerakan yang teratur dan penuh kehati-hatian, Baskara mengangkat tubuh ringkih Aruna ke dalam gendongannya, membawa gadis itu menjauh dari medan laga menuju mobil sedan mewahnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Di dalam gendongan kokoh tersebut, Aruna yang berada di ambang kesadarannya hanya bisa mencengkeram samar ujung jas hitam Baskara dengan jarinya yang mendingin. Di balik pekatnya kabut yang mulai menutup matanya, Aruna menyadari satu kenyataan pahit yang kian mengoyak batinnya, di saat ia ingin berdiri sebagai pelindung bagi orang-orang lemah, fisiknya yang hancur justru kembali memaksanya untuk menjadi pihak yang diselamatkan oleh pria yang paling ia benci di dunia ini. Roda takdir di koridor barat baru saja berputar, membawa intrik korporasi mereka masuk ke dalam pusaran laga emosional yang jauh lebih intim dan berbahaya.