NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 "Aku Masih Mengingatnya"

Baskara merasa momen ini adalah waktu yang tepat untuk membuka diri. Ia mulai bercerita dengan nada yang lebih santai, tentang ambisinya dulu, tentang mengapa ia memilih menjadi dosen di London meski usianya masih sangat muda. Ia bercerita dengan sedikit rasa bangga tentang pencapaian akademisnya dan bagaimana ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa berdiri sendiri.

​Aruna tetap diam, matanya masih terpaku pada layar ponselnya. Namun, ia mendengar semua cerita dari baskara. Saat Baskara terdengar begitu bangga dengan masa lalunya, Aruna mengeluarkan suara.

​"Bapak masih mengingat kebahagiaan dan kebanggaan itu dengan sangat jelas, ya?" tanya Aruna, suaranya tenang namun tajam. Ia menoleh sedikit, menatap Baskara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lalu... bagaimana dengan hinaan dan luka yang Bapak berikan padaku dulu? Apa Bapak sengaja melupakannya karena itu tidak termasuk dalam bagian 'kebanggaan' hidup Bapak?"

​Seketika, kata-kata Baskara terhenti di tenggorokan. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah cuaca dingin. Rasa bersalah yang luar biasa menghujam dadanya, membuatnya mendadak sesak.

​"Aruna, aku... aku sama sekali tidak bermaksud melupakan itu. Aku tahu aku salah.."

​"Aku tidak mau menjadi penerus ayahku," potong Aruna sebelum Baskara sempat membela diri. "Bapak tahu kenapa? Karena aku terus teringat dengan seseorang yang pernah berkata dengan sangat lantang bahwa sampai kapan pun aku tetap menjadi bawahannya. Bahwa aku tidak akan pernah setara dengannya. Dan sekarang... aku hanya melakukan hal itu. Aku tetap menjadi bawahan yang tidak punya hak untuk memimpin, bukan?"

​Baskara menunduk dalam. Setiap kata yang keluar dari mulut Aruna adalah cermin yang memperlihatkan betapa buruknya dirinya di masa lalu. Ia ingin meminta maaf, ingin memohon jika perlu, namun Aruna belum selesai.

​"Dan satu hal lagi, Pak Baskara," lanjut Aruna dengan nada menyindir yang lebih kental. "Kenapa sekarang Bapak tiba-tiba mendekatiku? Kenapa Bapak repot-repot menjengukku, menjagaku, bahkan membawaku ke sini?"

​Aruna tersenyum pahit, lesung pipinya muncul namun tampak menyakitkan. "Apa karena Bapak sudah tahu kalau aku ini anak dari sahabat karib ayah Anda? Apa karena status 'Prawijaya' yang menempel di belakang namaku sekarang?"

​"Aruna, tidak seperti itu,"

​"Coba bayangkan kalau aku tetap menjadi Aruna yang lusuh, Aruna yang sakit-sakitan dan miskin di London tanpa nama besar papa," Aruna menatap mata Baskara dengan tajam. "Mungkin sampai detik ini, Bapak masih akan memandang rendah diriku. Bapak masih akan menganggapku kerikil yang mengganggu jalan Bapak. Benar begitu, kan?"

​Baskara terdiam seribu bahasa. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa hatinya tulus, namun ia tersadar bahwa tindakannya di masa lalu memang telah menutup pintu kepercayaan Aruna. Ia hanya bisa berdiri mematung di atas pasir yang dingin, sementara hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa bagi Aruna, setiap kebaikannya sekarang hanyalah dianggap sebagai bentuk "balas budi" atas nama besar keluarganya.

Suara deburan ombak yang biasanya menenangkan kini kalah nyaring oleh suara hati Aruna yang pecah. Ia tidak lagi menahan diri. Segala rasa sakit, hinaan, dan diskriminasi yang ia telan bulat-bulat selama empat tahun di London kini dimuntahkannya tepat di hadapan pria yang menjadi sumber penderitaannya itu.

​"Bapak tahu tidak rasanya setiap hari berangkat ke kampus dengan rasa takut? Takut karena aku tahu ada orang yang akan mempermalukanku hanya karena aku tidak memakai barang bermerek?" suara Aruna meninggi, bergetar hebat bersamaan dengan air mata yang kembali membanjiri pipinya.

​"Dulu, Bapak bilang aku ini 'sampah' yang mengotori kelas Bapak. Bapak bilang aku hanya akan jadi beban masyarakat. Dan sekarang, setelah tahu aku anak Deon Prawijaya, Bapak mendadak jadi pahlawan? Lucu sekali, Pak. Sangat lucu sampai-sampai jantungku rasanya mau meledak karena menahan tawa yang pahit!"

​Aruna terus mencerca, menyindir setiap tindakan manis Baskara dengan kalimat-kalimat pedas yang menghujam tepat ke ulu hati. Ia meluapkan semuanya,tentang ijazah yang ditahan, tentang nilai yang dijatuhkan sengaja, dan tentang harga dirinya yang diinjak-injak saat ia sedang berjuang melawan maut sendirian.

​Baskara hanya bisa diam. Setiap sindiran Aruna terasa seperti cambukan yang memang pantas ia terima. Ia melihat tubuh ramping itu berguncang hebat, melihat kulit putih yang kini memerah karena emosi yang meluap. Aruna menangis tersedu-sedu, tangisannya terdengar begitu pilu di tengah luasnya pantai yang sepi.

​Melihat Aruna yang begitu hancur, Baskara tidak sanggup lagi mendengarkan. Bukan karena ia marah, tapi karena ia tidak tahan melihat Aruna menyakiti dirinya sendiri dengan mengingat semua luka itu.

​Tanpa peringatan, Baskara melangkah maju dan menarik Aruna ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh gadis itu dengan sangat erat, seolah-olah ingin menyerap semua rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri.

​"Maaf... Maafkan aku, Aruna... Maafkan aku," bisik Baskara berkali-kali di telinga Aruna.

​Aruna sempat mencoba memberontak, tangannya memukul-mukul dada Baskara, namun kekuatannya tidak seberapa dibandingkan dekapan pria itu. Baskara tidak menangis secara fisik, namun sorot matanya menunjukkan kehancuran yang tak kalah dalam. Ia memeluk Aruna begitu posesif, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, Aruna akan menghilang atau hancur menjadi debu.

​"Demi Tuhan, Aruna... Aku tidak mendekatimu karena nama Prawijayamu. Aku mendekatimu karena aku sadar betapa bodohnya aku telah menyia-nyiakan seseorang sepertimu," ucap Baskara dengan suara serak yang penuh penyesalan. "Pukul aku, marahi aku sepuasmu, tapi tolong... jangan biarkan dirimu sakit seperti ini lagi."

​Baskara membenamkan wajahnya di pundak Aruna, terus mengelus punggung gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, mencoba menenangkannya. Ia membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata Aruna. Di bawah langit yang mulai terang benderang, Baskara bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan pernah membiarkan tangisan ini terulang lagi, meski ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk dibenci oleh gadis yang kini berada dalam pelukannya.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!