NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

*Wush*!

Pendar sihir teleportasi memudar, membawa Hyal dan Krystal tiba di dalam kamar utama tempat tinggal rahasia Hyal yang berada di sebuah puncak gunung perbatasan antara provinsi Alexandrite-provinsi Herkimer. Ruangan itu dirancang dengan arsitektur yang teramat unik dan mewah sesuai selera Hyal—di mana sebuah ranjang besar bertirai sutra dan kolam pemandian air hangat berbatu pualam menyatu dalam satu lanskap interior tanpa sekat yang masif.

Begitu kakinya menapak di atas karpet bulu yang tebal, pertahanan mental Krystal runtuh sepenuhnya. Tubuh mungilnya terkulai lemas, merosot jatuh ke lantai sebelum sempat Hyal membimbingnya duduk.

Dan di sanalah, di tengah keheningan rumah rahasia yang asing, Krystal menangis sejadi-jadinya.

"Huaaaaaaa...! Dosa apa yang telah kuperbuat hingga hidupku sangat menderita?!"

Raungan tangis itu pecah, menggema membelah sunyinya ruangan. Suara isakan yang teramat perih, sarat akan keputusasaan dan akumulasi luka yang ia pendam sejak masa kecilnya di istana Aethermoor, kini tumpah tak terbendung.

Hyal terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mengepal kuat di kedua sisi. Setiap jeritan Krystal terasa bagai anak panah yang mengoyak jantungnya. Hatinya ikut hancur lebur; ia tahu betul bahwa sebagian dari penderitaan adiknya ini adalah akibat dari keegoisannya di masa lalu yang membiarkan Krystal tumbuh dalam kesendirian dan racun yang menyiksa.

"Huaaaaa... Aku tidak pernah berpikir untuk serakah! Aku tidak peduli pada takhta! Tapi kenapa... kenapa bahkan untuk menginginkan sebuah cinta saja aku tidak bisa mendapatkannya?!" Krystal memukul dada kirinya sendiri dengan tangan yang tidak terluka, terengah-engah di antara badai tangisnya.

Bagi Krystal, penolakan Eros bukan lagi sekadar urusan moralitas atau kesucian. Di dalam kepalanya yang sedang dipenuhi trauma, penolakan itu adalah penegasan bahwa dirinya memang tidak layak untuk dicintai, bahwa semua orang—termasuk pria yang paling ia percayai—pada akhirnya akan mendorong dan membuangnya.

Dengan sisa tenaga dan pandangan yang kabur oleh air mata, Krystal bangkit berdiri. Ia berjalan tertatih-tatih, menyeret langkah kakinya menuju kolam pemandian pualam yang berada tepat di samping area tempat tidur.

Tanpa melepas jubah maupun pakaian luarnya, Krystal melangkah masuk ke dalam kolam, lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air hangat yang jernih.

*Syuuuu...Byuuur*...

Hanya dalam hitungan detik, keheningan itu berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Darah segar yang terus mengalir dari telapak tangan Krystal yang sengaja ia perdalam tadi, langsung menyebar luas, mengubah air kolam yang jernih menjadi merah pekat seperti anggur darah.

Hyal yang menyaksikan hal itu sentak tersentak ngeri. Ketakutan akan kehilangan adiknya membuat kontrol emosinya yang biasanya tenang pecah seketika.

"Hei! Apa kau jadi bodoh?!" Tanpa sadar, Hyal berteriak lantang, suaranya menggelegar dipenuhi kepanikan saat ia melangkah lebar mendekati tepi kolam. "Setidaknya obati dulu lukamu sebelum merendam diri, Krystal!"

Mendengar bentakan yang menggema di ruangan itu, tubuh Krystal bergetar hebat di dalam air. Suara keras Hyal langsung menyenggol bagian paling rapuh dari jiwanya yang trauma pada kekerasan.

Tangisan Krystal justru semakin menjadi-jadi, bercampur dengan histeria yang memuncak. Ia menyembul dari permukaan air dengan rambut basah yang menempel di wajahnya yang bersimbah air mata.

"Pergi...!" jerit Krystal dengan suara parau, menatap Hyal dengan pandangan penuh ketakutan sekaligus kemarahan yang meluap. "Pergi dari sini! Jangan membentakku! Kau bilang kau orangku, kau bilang kau rela menjadi budakku! Tapi kau malah berteriak padaku! Pergi! Aku membenci kalian semua! Pergi?!"

Krystal memukul permukaan air kolam hingga mencipratkan air kemerahan ke segala arah, berulang kali berteriak mengusir kakaknya dengan sisa harga diri yang ia miliki.

Hyal seketika membeku, menyadari kesalahan fatalnya yang telah melanggar sumpah untuk tidak membentak adiknya. Menatap Krystal yang kian histeris jika ia dekati, Hyal perlahan memundurkan langkahnya dengan wajah pucat, terpaksa menuruti keinginan sang adik demi mencegah emosi gadis itu semakin menghancurkan fisiknya sendiri.

Hyal berdiri mematung di balik pintu kayu yang tertutup rapat, napasnya tertahan. Di dalam koridor yang sunyi, ia hanya bisa mendengarkan sisa-sisa isakan lirih adiknya yang perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang teramat mencekam.

Menit demi menit berlalu, dan ruang rahasia itu menjadi terlampau senyap. Firasat buruk seketika menghantam benaknya. Dipicu rasa panik yang membumbung tinggi, Hyal mengabaikan perintah pengusiran tadi dan langsung menyentak gagang pintu hingga terbuka lebar.

"Rys?!"

Pandangan di hadapannya membuat jantung Hyal berdegub keras. Krystal telah merangkak keluar dari kolam, namun ia sama sekali tidak mengganti pakaiannya. Dengan gaun sutra yang basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya, gadis itu berbaring telentang di atas kasur mewah berselimut beludru.

Mata birunya meredup, kelopak matanya perlahan-lahan terkatup seiring dengan kesadarannya yang kian menguap. Di atas seprai yang mulai basah, tangan kanannya yang terluka tergeletak lemas dengan darah yang masih merembes perlahan dari luka robek yang menganga.

Hyal melesat tanpa suara. Ia berlutut di tepi ranjang, langsung meraih tangan mungil Krystal yang dingin ke dalam genggamannya. Ia lupa bahwa saat ini Krystal hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan lukanya sendiri.

"Maafkan aku, Rys... Maafkan aku," bisik Hyal penuh penyesalan.

Jemari Hyal mulai menguarkan cahaya sihir air kebiruan yang hangat. Dengan presisi tinggi sebagai penyihir tingkat atas, ia membersihkan sisa darah, merapatkan jaringan kulit yang terluka, dan menutup luka di telapak tangan Krystal tanpa menyisakan rasa sakit sedikit pun. Setelah fisiknya terobati, Hyal meletakkan telapak tangannya dengan lembut di atas dahi Krystal yang mulai mual. Ia merapalkan mantra pemurnian jiwa—sebuah sihir penenang tingkat tinggi untuk mengusir trauma akut dan memaksa kesadaran adiknya masuk ke dalam fase tidur yang dalam dan damai.

Napas Krystal yang semula tersengal dan berat, perlahan-lahan menjadi teratur. Guratan kepedihan di wajah tidurnya berangsur rileks.

"Tidurlah dengan nyenyak, Rys," gumam Hyal lirih, membetulkan letak selimut kering untuk membungkus tubuh adiknya yang malang. "Aku harap... setelah kau terbangun nanti, perasaanmu bisa menjadi sedikit lebih baik."

Hyal tidak pergi. Sebagai bentuk penebusan dosa dan kesetiaannya yang baru, ia duduk bersila di lantai di samping ranjang, menjaga tidur adiknya dengan setia. Sembari menunggu, ia menggerakkan sebelah tangannya ke arah kolam pemandian; perlahan-lahan, sihir pemurnian air miliknya bekerja, menjernihkan kembali air kolam yang sempat memerah pekat, menyerap setiap bulir darah Krystal hingga air itu kembali suci dan bening bagai kristal.

Sementara itu, di menara penginapan pusat kota Alexandrite, atmosfer terasa tak kalah membeku.

Eros kembali dengan tatapan mata yang kosong namun menguarkan aura menakutkan. Mengikuti perintah terakhir dari bibir Krystal dengan patuh yang menyakitkan, ia mengumpulkan seluruh anggota Proyek LadyBug yang tersisa.

Mira, Kin, Sorento, Elenoir, dan Laura kecil hanya bisa terdiam seribu bahasa di dalam gerbong kereta, tak berani menanyakan di mana keberadaan sang putri.

"Tinggallah di sini sampai Krystal kembali," Eros menyerahkan beberapa kantong emas pada Sorento dan setelah memastikan keselamatan "orang-orang pilihan" Krystal di bawah jaminan perlindungannya, Eros pergi tanpa pamit.

*Syuuuuut*...

Eros kembali ke singgasananya di Kastil Langit—teritori suci yang tak tertembus oleh makhluk fana mana pun.

Begitu kakinya menapak di atas lantai kristal aula surgawi, wujud manusianya yang rapuh meluruh seketika. Tubuhnya memancarkan pendar keilahian; sepasang sayap megah berbulu hitam legam terkembang sempurna dari punggungnya, dan aura kegelapan yang pekat berputar-putar di sekeliling singgasananya. Ia kembali menjadi Dewa Agung seutuhnya.

Namun, kemegahan status itu tidak mampu menutupi kehampaan di matanya. Sang Dewa duduk bersandar di singgasananya, menatap lurus ke arah hamparan awan di bawah kastil.

Ia merenungkan setiap jalinan takdir tak terduga yang baru saja terjadi. Niat luhurnya untuk menjaga kesucian sang putri hingga hari pernikahan justru menjadi bumerang yang menghancurkan satu-satunya hal yang paling ia jaga di dunia ini: kepercayaan dan hati Krystal.

Di dalam kesunyian keabadiannya, sang dewa agung menyadari bahwa belahan jiwanya telah terbang menjauh, memotong tali pengikat di antara mereka dan menyisakan retakan yang teramat dalam di dalam jiwa abadi miliknya.

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!