Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Epilog - Dua Jiwa yang Saling Menemukan
# Bab 20 — Epilog: Dua Jiwa yang Saling Menemukan
**POV: Hime**
---
Tiga bulan kemudian.
Desa itu kembali tenang. Lampu-lampu menyala setiap malam. Anak-anak bermain di sawah. Ibu-ibu menjemur padi di pinggir jalan. Kehidupan normal—sesuatu yang dulu kupikir tidak akan pernah kembali.
Tapi kembali. Perlahan, tapi pasti.
Aku duduk di beranda laboratorium—kini sudah bersih dan rapi, berfungsi sebagai pusat penelitian kecil—menatap matahari terbenam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, dipenuhi awan tipis yang melayang malas.
"Kau melamun lagi."
Aku menoleh. Reiki berdiri di pintu, tersenyum. Ia memakai seragam sekolah—putih abu-abu—dengan dasi longgar di lehernya. Wajahnya lebih cerah dari tiga bulan lalu. Beban yang dulu menghantuinya kini hampir hilang.
"Hanya menikmati pemandangan," jawabku.
Ia duduk di sampingku. "Indah, ya?"
"Ya."
Kami diam, menatap senja. Seperti yang biasa kami lakukan akhir-akhir ini.
"Bagaimana sekolah?" tanyaku.
"Membosankan. Seperti biasa."
"Tapi kau tidak bolos?"
Ia tertawa. "Tidak. Aku sudah berjanji pada KSAN untuk tidak bolos lagi."
"KSAN? Ketua Siswa Nakal itu?"
"Ia berubah. Sekarang ia jadi ketua kelas."
Aku tersenyum. "Orang bisa berubah."
"Ya. Termasuk aku."
---
Hari-hari berlalu dengan tenang. Aku menghabiskan waktuku di laboratorium, menganalisis data yang kami kumpulkan selama petualangan. Mesin waktuku—yang dulu menjadi satu-satunya tujuanku—kini kusimpan di lemari, tidak pernah kusentuh lagi.
Aku tidak perlu melompat ke masa depan lagi. Masa depanku sudah ada di sini.
Reiki datang setiap sore sepulang sekolah. Kadang ia membawa makanan. Kadang ia hanya duduk diam, membaca buku catatan yang kuberikan—catatan tentang psikis yang dulu milik Dewa Psikis.
"Kau tidak bosan membaca itu?" tanyaku suatu hari.
"Tidak. Ini menarik. Aku bisa belajar banyak tentang dunia psikis."
"Tapi kau sudah tidak punya kekuatan lagi."
Ia menutup buku itu. "Aku tahu. Tapi itu tidak berarti aku harus berhenti belajar."
Aku tersenyum. "Kau benar."
---
Suatu sore, KSAN datang dengan berita mengejutkan.
"Hei, kalian dengar? Hubble dipanggil kembali ke Markas."
Aku mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
"Katanya, laporan tentang gerbang dan Penjaga Gerbang menarik perhatian mereka. Mereka ingin mendengar langsung dari Hubble."
"Apakah itu berbahaya?"
KSAN mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi Hubble bilang ia akan baik-baik saja."
Aku menghela napas. "Semoga."
"Ada satu lagi." KSAN tersenyum lebar. "Ayahku mempromosikan aku menjadi asisten administrasi di balai desa."
"Selamat!" kataku.
"Iya. Akhirnya aku punya pekerjaan nyata."
Reiki menepuk pundaknya. "Ketua Siswa Nakal kini jadi pegawai desa. Perjalanan yang luar biasa."
KSAN tertawa. "Jangan ejek aku!"
---
Dila juga berubah. Ia tidak lagi bersembunyi di bangku belakang. Kini ia sering duduk di depan, menggambar pemandangan desa yang indah. Beberapa karyanya bahkan dipajang di balai desa.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan menunjukkan karyaku pada orang lain," katanya suatu hari.
"Kenapa tidak?"
"Karena aku takut. Tapi sekarang aku tidak takut lagi."
Aku meraih tangannya. "Kau sudah berani, Dila. Itu yang terpenting."
Ia tersenyum. "Terima kasih."
---
Malam itu, aku dan Reiki duduk di bukit di pinggir desa—tempat yang sama di mana kami pertama kali melihat pesawat Hubble mendarat. Bulan bersinar terang. Bintang-bintang berkelap-kelip.
"Sudah tiga bulan," kataku.
"Ya. Tiga bulan sejak semuanya berubah."
"Kau menyesal?"
Ia menatapku. "Menyesal? Tidak. Justru sebaliknya."
"Benarkah?"
"Jika aku tidak pindah ke desa ini, aku tidak akan pernah bertemu Hime. Aku tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Dan aku tidak akan pernah merasakan ini."
"Merasakan apa?"
Ia meraih tanganku. "Kebahagiaan."
Aku tersenyum. Hatiku terasa hangat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya.
"Karena aku mencarimu lama sekali... dan sekarang kau di sini."
"Aku tidak mengerti."
"Tidak apa-apa. Nanti kau akan mengerti."
Ia mengerutkan dahi, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahuku.
Kami duduk di bukit, menatap bintang, tanpa perlu bicara. Angin malam berdesir pelan, membawa bau tanah dan rumput.
Untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku berhenti mencari.
Karena yang kucari sudah ada di sampingku.
---
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan damai. Aku berjalan ke laboratorium, membuka lemari, dan mengeluarkan mesin waktuku.
Perangkat perak itu masih berkilau, masih berfungsi. Tapi aku tidak membutuhkannya lagi.
Aku meletakkannya di atas meja, mengambil alat, dan mulai membongkarnya. Satu per satu, komponennya kulepaskan. Kabel-kabel kupotong. Sirkuit-sirkuit kucabut.
"Kau menghancurkannya?" suara Reiki dari pintu.
Aku menoleh. Ia berdiri di sana, menatapku dengan rasa ingin tahu.
"Bukan menghancurkan. Melepaskan."
"Melepaskan?"
Aku menatap mesin waktu yang kini sudah tidak berbentuk. "Mesin ini adalah jangkarku ke masa lalu. Selama aku masih memegangnya, aku tidak akan pernah bisa move on."
"Dan sekarang?"
Aku tersenyum. "Sekarang aku punya alasan untuk tinggal di masa kini."
Reiki tersenyum. Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingku.
"Aku senang kau memilih untuk tinggal."
"Aku juga."
---
Sore harinya, kami semua berkumpul di laboratorium untuk terakhir kalinya. Hubble sudah pergi ke Markas. Karmas dan Tigap 1 ikut dengannya. Tapi yang tersisa—aku, Reiki, KSAN, dan Dila—berkumpul untuk merayakan awal yang baru.
"Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya KSAN.
Aku menatap Reiki. Ia menatapku kembali.
"Aku akan tetap di sini," kataku. "Di desa ini. Bersama Reiki."
"Aku akan lulus SMA," kata Reiki. "Lalu mungkin kuliah. Atau mungkin bekerja. Yang penting, aku akan menjalani hidup sebagai manusia biasa."
KSAN tersenyum. "Kedengarannya membosankan."
"Membosankan itu baik," jawab Reiki. "Setelah semua yang kita lalui, membosankan adalah kemewahan."
Dila tertawa. "Aku setuju."
Kami duduk di laboratorium, berbicara tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi kecil. Tentang harapan-harapan sederhana.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu menjadi pahlawan. Aku tidak perlu menyelamatkan dunia. Aku hanya perlu hidup—dan hidup dengan orang-orang yang kucintai.
---
Malam itu, setelah yang lain pulang, aku dan Reiki duduk di atap laboratorium. Bulan bersinar terang di atas desa yang tenang.
"Hime."
"Ya?"
"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku."
Aku menatapnya. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu."
"Aku tahu." Ia tersenyum. "Itu sebabnya aku mencintaimu."
Aku merasakan dadaku hangat. "Aku juga mencintaimu, Reiki."
Kami berpelukan di bawah sinar bulan. Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bahwa semua pencarian, semua lompatan waktu, semua rasa sakit—semuanya terbayar.
Karena pada akhirnya, aku menemukannya.
Bukan sebagai dewa.
Tapi sebagai manusia.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
---
## SATU TAHUN KEMUDIAN
Waktu berlalu. Desa itu semakin tenang. Kenangan tentang gerbang, Penjaga Gerbang, dan pertempuran di Ruang Raja mulai memudar, digantikan oleh rutinitas sehari-hari yang damai.
Reiki lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Ia tidak menjadi psikis besar seperti yang mungkin diharapkan orang, tapi ia menjadi guru les untuk anak-anak di desa. Ia mengajar matematika dan fisika—dan kadang-kadang, diam-diam, ia mengajarkan tentang energi dan keseimbangan pada mereka yang tertarik.
KSAN menjadi kepala administrasi balai desa setelah ayahnya pensiun. Ia menikah dengan seorang gadis dari desa sebelah dan memiliki seorang anak laki-laki yang lucu.
Dila membuka pameran seni pertamanya di kota. Lukisan-lukisannya—tentang dunia lain, tentang cahaya biru, tentang pertempuran epik—menjadi perbincangan banyak orang. Tidak ada yang tahu bahwa lukisan itu nyata.
Dan aku? Aku tetap di laboratorium, meneliti data-data yang kami kumpulkan. Tapi bukan untuk mencari sesuatu—hanya untuk memahami. Karena sekarang, aku tidak perlu mencari lagi.
---
## PAGI ITU
Pagi itu, aku duduk di beranda laboratorium, menikmati kopi. Matahari baru saja naik, menyinari sawah-sawah yang menghijau. Burung-burung berkicau riang.
Reiki duduk di sampingku, seperti biasa.
"Kau tahu," katanya, "kadang aku masih tidak percaya semua ini benar-benar terjadi."
"Aku juga."
"Tapi aku bersyukur."
"Bersyukur untuk apa?"
Ia menatapku. "Untuk semua ini. Untuk desa ini. Untuk teman-teman. Untuk kau."
Aku tersenyum. "Aku juga bersyukur."
Kami diam, menikmati pagi yang tenang. Angin berdesir pelan, membawa bau padi dan embun.
"Hei, Hime."
"Ya?"
"Aku cinta kamu."
Aku menatapnya. Matanya—ungu itu—bersinar di bawah sinar matahari pagi.
"Aku juga cinta kamu, Reiki."
Kami berpelukan di beranda, di bawah sinar matahari yang hangat. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa semua pencarianku selama 38 tahun bukanlah perjalanan yang sia-sia.
Karena pada akhirnya, aku menemukan apa yang paling berharga.
Bukan kekuatan.
Bukan pengetahuan.
Tapi cinta.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
** TAMAT **