Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 21
Suasana di dalam ruangan ber AC itu mendadak menjadi sangat panas dan mencekam. Di tengah kepungan tekanan dari Mama Viona dan saran medis dari Dokter Haryo, Andra tiba-tiba melangkah maju. Matanya yang merah karena kurang tidur kini menatap Nadhira dengan kilat kemarahan, kebingungan, dan rasa penasaran yang mendalam.
Ada satu fakta yang mengganjal di kepala Andra sejak Dokter Haryo mengumumkan hasil pemeriksaan tadi. Sebuah fakta yang membuat dadanya bergemuruh hebat.
"Tunggu, Mah. Dokter Haryo, tolong beri kami waktu sebentar," ucap Andra dengan suara rendah namun tegas yang tidak bisa dibantah.
Tanpa memedulikan protes dari ibunya, Andra langsung mencengkeram pergelangan tangan Nadhira. Kali ini lebih erat dan menarik wanita itu menuju sudut ruangan yang agak terpisah oleh sekat lemari medis. Nadhira yang masih menangis tersedu-sedu terpaksa mengikuti langkah lebar Andra. Walau dia sedikit kaget dengan kelakuan pria yang baru menikahinya secara siri itu.
Begitu mereka hanya berjarak beberapa senti, Andra mencengkeram kedua bahu Nadhira, memaksanya untuk mendongak dan menatap langsung ke matanya. Nadhira menolak dan tetap memalingkan wajahnya. Dia marah kepada Andra. Situasinya sekarang tak semudah yang mereka pikirkan sebelumnya. Tak ada lagi tindakan medis yang kedepannya akan mereka lakukan.
"Dhira, tatap aku!" perintah Andra, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Jelaskan padaku, apa maksud semua ini? Kenapa Dokter Haryo bilang kamu masih perawan?! Bukannya kamu bilang, kalau kamu seorang janda?"
Nadhira memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap pria yang kini statusnya sudah menjadi suami sirinya itu.
"Untuk apa aku menjelaskan kesu-cianku padamu? Itu tidak ada hubungannya dengan transaksi kita sebelumnya!" jawab Nadhira dingin dan penuh kemarahan.
"Tentu saja ada hubungannya!" seru Andra, nyaris berteriak namun dia menahannya agar tidak terdengar sampai luar sekat. Napasnya memburu, mengembuskan aroma kopi dan kelelahan tepat di wajah Nadhira.
"Lima tahun lalu, saat kamu tiba-tiba menghilang dari kehidupanku dan menghindari semua orang, kamu mengirimkan pesan terakhir yang bilang bahwa kamu akan menikah dengan pria pilihan ibumu di kampung. Dan beberapabulan lalu, saat kita tidak sengaja bertemu karena adanya kecelakaan. Kamu mengatakan dengan jelas bahwa kamu sudah menjadi seorang janda! Dan saat bersama dengan ibumu juga kamu mengatakan itu, Dhira! Lalu kenapa sekarang?"
Andra mencengkeram bahu Nadhira sedikit lebih erat, menuntut jawaban yang selama ini menyiksa rasa ingin tahunya. Kenapa Dhira berbohong kalau ternyata dia belum menikah dan bahkan masih pera-wan. Apa yang terjadi kepada sahabatnya itu? Dan sekarang, keadaannya semakin sulit baginya. Bagaimana mungkin dia akan. Andra tak habis fikir.
"Kamu memintaku menjauhimu karena kamu bilang kamu adalah seorang janda yang tidak mau merusak rumah tanggaku dengan Diana! Tapi nyatanya apa, Dhira?! Hari ini dokter bilang selaput daramu masih utuh! Kamu belum pernah disentuh oleh pria mana pun! Kenapa kamu berbohong padaku selama bertahun-tahun? Artinya kamu ke kampung tidak menikah! Lalu kenapa kamu selalu menghindari dariku?!"
Air mata Nadhira semakin deras mengalir mendengar rentetan pertanyaan Andra. Tembok kebohongan yang dia bangun dengan susah payah selama lima tahun ini untuk melindungi dirinya dan melindungi Andra akhirnya runtuh berkeping-keping di depan pria itu sendiri.
"Karena aku harus melakukannya, Andra!" teriak Nadhira balik, suaranya serak dan pecah oleh tangis yang meledak. Dia memukul dada Andra dengan tangan gemetar, mencoba melepaskan cengkeraman pria itu.
"Aku harus berbohong agar kamu menjauhiku! Aku harus mengarang cerita bahwa aku sudah menikah dan menjadi janda agar kamu tidak lagi mencariku, agar kamu fokus pada pernikahanmu dengan Mbak Diana! Dan tak lagi melibatkan aku dalam kehidupan kalian!" Nadhira terengah-engah, matanya yang basah menatap Andra dengan pandangan yang begitu terluka.
"Lima tahun lalu, ibumu mendatangi rumah kost aku. Beliau melemparkan segepok uang ke wajahku. Aku harus menjauhi kamu yang seorang anak dari keluarga Antanagara dan menggantinya dengan uang itu! Beliau mengancam akan menghancurkan masa depanmu jika aku tidak pergi dari hidupmu!"
Andra tersentak, matanya membelalak kaget. Dia menoleh sekilas ke arah ibunya yang berdiri di kejauhan dengan wajah datar tanpa dosa. Andra tidak pernah tahu tentang kejadian lima tahun lalu itu.
"Aku tidak punya pilihan, Andra," bisik Nadhira parau, tubuhnya lemas hingga Andra harus menahan pinggangnya agar tidak jatuh.
"Aku harus berpura-pura sudah dinikahi orang lain agar kamu membenciku dan melupakanku. Aku menjaga kesucianku ini demi harga diriku yang tersisa sebagai wanita miskin! Aku tidak pernah disentuh oleh siapa pun! Tapi sekarang kenapa kamu dan ibumu justru datang lagi dan memaksa aku menyerahkan kesucian yang aku jaga mati-matian ini dengan cara yang menjijikkan?!"
Mendengar pengakuan jujur Nadhira, jantung Andra seolah berhenti berdetak. Rasa bersalah yang teramat sangat, bercampur dengan kenyataan bahwa Nadhira telah mengorbankan reputasinya sendiri demi kebaikan Andra di masa lalu, membuat hati pria itu hancur berkeping-keping.
Nadhira tidak pernah mengkhianati persahabatan mereka. Nadhira adalah korban dari keangkuhan keluarganya. Dan kini, Andra menyadari sebuah kegilaan baru. Wanita yang sekarang berstatus sebagai istri sirinya, wanita yang rahimnya sangat sehat dan masih suci, adalah wanita yang dulu hampir saja mengisi hatinya sebelum takdir memisahkan mereka.
Di hadapan Dokter Haryo yang meminta proses dilakukan secara natural, dan ibunya yang terus mengancam menggunakan nyawa ibu Nadhira, Andra kini berdiri di persimpangan jalan yang paling berbahaya dalam hidupnya. Haruskah dia menyentuh Nadhira secara alami, menghancurkan kesucian sahabatnya dengan tangannya sendiri, demi menuntaskan transaksi gila ini?
Ataukah dia membatalkannya dan kembali mencoba membujuk Diana untuk melakukan pemeriksaan dan program kehamilan? Andra benar-benar berada di persimpangan.
"Andra, aku mohon! Kamu sangat mencintai Mbak Diana kan? Aku mohon Andra, lepaskan aku dan aku akan membayar semua hutangku padamu. Aku akan membayarnya dengan hal lain. Tapi tidak dengan kegilaan ini. Walau aku harus bekerja seumur hidup pada keluargamu!" suara Nadhira memohon.
"Aku tak mau nantinya mbak Diana tambah membenciku! Dan dia kembali berbuat nekad padaku seperti dulu!" Andra menatap lekat ke arah Nadhira.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh