NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Keheningan kamar itu pecah oleh tarikan napas Zivara yang tertahan saat Kaizar mendadak merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan yang sangat erat. Aroma maskulin bercampur sisa air hangat dari tubuh Kaizar menyerbu indra penciuman Zivara, membuatnya mematung.

"Jangan pergi," bisik Kaizar, suaranya terdengar serak dan penuh permohonan yang nyaris putus asa. "Kenapa harus keluar negeri? Kenapa harus sekarang, Vara?"

Zivara berusaha mendorong dada bidang pria itu, mencoba menciptakan jarak di antara mereka. Tenaga Kaizar jauh lebih kuat; pria itu justru semakin mempererat kuncian lengannya, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Zivara akan benar-benar menghilang terbang ke belahan dunia lain.

"Lepas, Kak Kai! Kita tidak bisa seperti ini," protes Zivara, suaranya teredam di dada Kaizar.

"Aku akan bicara pada Om Ridwan," sela Kaizar tanpa mempedulikan penolakan gadis itu. "Aku akan bilang bahwa aku yang akan bertanggung jawab menjagamu di sini. Kalau perlu... aku akan menikahimu sekarang juga."

Kalimat itu bagaikan petir di sore hari bagi Zivara. Ia tersentak, energinya untuk melawan mendadak hilang digantikan rasa terkejut yang luar biasa. Bagaimana mungkin pria sedingin dan seangkuh Kaizar Ravindra bisa memutuskan pernikahan secepat ini? Di kehidupan lalu, butuh waktu bertahun-tahun dan pengorbanan yang menyakitkan hanya untuk mendapatkan status sebagai istrinya.

"Menikah?" Zivara akhirnya berhasil mengurai pelukan itu. Ia menatap wajah Kaizar dengan tatapan tidak percaya. "Jangan bercanda, Kak. Kita masih kuliah. Dan pernikahan bukan solusi untuk menahan seseorang agar tidak pergi."

"Aku tidak bercanda," sahut Kaizar cepat. Sorot matanya tajam, mengunci manik mata Zivara. "Kenapa kamu menolak? Apa kamu meragukanku?"

Zivara terdiam, lidahnya mendadak kelu. Dalam batinnya, ia berbisik bahwa ia sama sekali tidak meragukan kemampuan finansial pria di depannya. Sejak duduk di bangku SMA, Kaizar sudah mulai membantu Ayah Kevin mengelola perusahaan. Meskipun saat ini masih berstatus mahasiswa, Kaizar sudah menduduki posisi manajer di salah satu kantor cabang perusahaan milik sang ayah. Aset dan tabungan pribadinya jelas sudah lebih dari cukup untuk menghidupi seorang istri dengan gaya hidup mewah sekalipun.

Kaizar mengulurkan tangan, menyentuh pipi Zivara dengan lembut, membuyarkan lamunan gadis itu.

"Apa kamu begitu takut padaku? Apa kamu benar-benar tidak mau hidup bersamaku?"

Zivara membuang muka, mencoba menghindari intensitas tatapan Kaizar yang seolah bisa membaca seluruh rahasia masa depannya. "Aku masih delapan belas tahun, Kak. Aku belum terpikir untuk membangun rumah tangga. Aku ingin fokus pada DKV, aku ingin mencari jati diriku sendiri."

Kaizar menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. Ia paham, egonya telah melukai Zivara berkali-kali di masa lalu yang hanya ia sendiri yang ingat. Namun, ketakutan akan kehilangan Zivara jauh lebih besar daripada rasa malunya untuk memohon.

"Aku mengerti... aku tahu ini terlalu mendadak," ucap Kaizar dengan nada yang jauh lebih lembut, hampir terdengar seperti bisikan memohon. "Tapi tolong, Vara... aku minta, bahkan aku memohon padamu. Jangan pergi ke luar negeri. Tetaplah di sini, di jangkauanku."

Zivara tetap bergeming, matanya terpaku pada jemari Kaizar yang masih sedikit bergetar saat menyentuh pipinya. Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka, sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh memori masa depan yang hanya mereka berdua pahami dengan cara berbeda. Kaizar, dengan segala dominasinya yang mulai luruh oleh rasa takut kehilangan, perlahan menarik tangannya.

"Turunlah. Bunda sudah menyiapkan makanan untukmu di bawah," ucap Kaizar, suaranya kini lebih terkendali meski gurat kecemasan masih membekas di keningnya.

Zivara belum sempat memberikan jawaban, tetapi Kaizar sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Pria itu menariknya dengan langkah yang pasti, membawa Zivara menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana, di atas meja jati yang dipoles mengkilap, berbagai hidangan masakan Bunda Dila sudah tersaji dengan aroma yang menggugah selera.

Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh perhatian—sesuatu yang jarang dilakukan Kaizar di garis waktu sebelumnya—ia menarikkan kursi untuk Zivara. Ia berdiri di sana, menunggu Zivara duduk, seolah-olah ia adalah pelayan paling setia bagi ratunya.

Zivara tidak lagi menjadi gadis delapan belas tahun yang akan tersipu malu atau salah tingkah karena perlakuan manis sang pujaan hati. Jiwanya yang pernah melewati usia tiga puluh tahun telah menempa mentalnya menjadi jauh lebih kuat. Ia melangkah dengan anggun, namun alih-alih duduk di kursi yang ditarikkan Kaizar, ia justru memilih kursi di sisi meja yang lain.

Zivara duduk dengan punggung tegak, menatap Kaizar dengan sorot mata datar yang mencerminkan kedewasaan yang melampaui usianya. Tidak ada lagi binar kekaguman yang naif di sana.

"Duduklah, Kak. Aku bisa mengambil makananku sendiri," suara Zivara terdengar tenang, tanpa nada manja sedikit pun.

Kaizar tertegun sejenak, tangannya masih memegang sandaran kursi yang kosong. Penolakan langsung yang begitu berani dari Zivara terasa seperti tamparan halus bagi egonya. Zivara yang dulu selalu patuh dan mengikuti setiap langkahnya kini telah bertransformasi menjadi sosok yang berani menetapkan batasan.

"Makanlah yang banyak, Vara. Kamu masih pucat," kata Kaizar akhirnya, berusaha menutupi rasa canggungnya sambil duduk di hadapan Zivara.

Zivara hanya mengangguk tipis, mulai menyendok nasi ke piringnya dengan gerakan yang tertata.

"Terima kasih atas makanannya. Sampaikan salamku pada Bunda Dila."

**

Di dalam rumah, keheningan terasa begitu berat. Zivara sudah lama terlelap di kamarnya setelah ketegangan di meja makan tadi. Sementara itu, Kaizar menempati kamar tamu di lantai bawah, tubuhnya terbaring kaku di atas ranjang, namun pikirannya tak kunjung tenang.

Rasa lelah akhirnya memaksa kesadaran Kaizar luruh, menyeretnya ke dalam labirin mimpi yang paling ia hindari.

Dalam tidurnya, kilasan kehidupan lampau muncul seperti proyektor rusak yang memutar memori pahit. Ia melihat dirinya yang dulu—Kaizar di usia tiga puluh satu tahun yang jauh lebih angkuh dan buta akan ketulusan. Ia melihat kembali hari pernikahannya dengan Zivara. Senyum manis Zivara yang kala itu masih polos terpancar begitu nyata, namun ingatan itu segera memudar, berganti dengan bayang-bayang kesalahpahaman yang sengaja diciptakan oleh Luna.

Mimpi itu membawa Kaizar pada titik tergelapnya. Ia melihat dirinya bersikap sedingin es, mengabaikan kehadiran Zivara sebagai istri hanya karena hasutan Luna. Lalu, fragmen ingatan beralih ke Italia. Luna, yang kala itu memilih menyusul Adrian, justru terjebak dalam neraka kekerasan rumah tangga.

Atas dasar kemanusiaan—begitu Kaizar meyakinkan dirinya saat itu—ia menolong Luna. Ia memulangkan wanita itu ke Indonesia dan membawanya ke rumah sakit jiwa demi perawatan medis. Kaizar merasa tindakannya benar, akan tetapi ia tidak sadar bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk Luna adalah belati yang perlahan menyayat hati Zivara. Zivara yang mencintainya tanpa syarat hanya bisa berdiri di balik bayang-bayang, menganggap sang suami masih mencintai cinta pertamanya.

Hingga akhirnya, adegan paling tragis itu terulang. Atap gedung rumah sakit jiwa yang dingin. Angin kencang menerpa rambut Luna yang berdiri di tepian. Zivara, dengan segala ketulusannya, mencoba membantu dan mencegah Luna mengakhiri hidup. Alih-alih selamat, sebuah dorongan tak sengaja dari Luna justru membuat Zivara kehilangan keseimbangan.

Kaizar melihat tubuh Zivara jatuh. Ia melihat sosok yang paling mencintainya itu tergeletak tak bernyawa di tengah jalanan.

"ZIVARA!"

Kaizar tersentak bangun. Napasnya memburu, paru-parunya seolah kekurangan oksigen. Keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Ia segera duduk di tepi ranjang, mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Dalam kegelapan kamar tamu, sisi rapuh sang pewaris takhta Ravindra itu tumpah tanpa sisa.

Tangannya yang biasa digunakan untuk menandatangani kontrak bernilai miliaran kini bergetar hebat saat ia menutupi wajahnya. Isak tangis yang tertahan terdengar pilu. Ia merasa gagal. Di masa lalu, ia bukan hanya gagal mencintai, tapi ia adalah alasan utama Zivara kehilangan napasnya. Sikap dingin yang ia tunjukkan sekarang hanyalah sebuah benteng tipis untuk menutupi rasa bersalah yang nyaris menghancurkan jiwanya.

"Maafkan aku... kali ini aku tidak akan membiarkanmu mendekati atap itu lagi," bisiknya parau di tengah kesunyian malam.

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!