NovelToon NovelToon
Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?

Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.

​Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.

​Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.

Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26

Malam itu, kediaman Wiratama tidak lagi terasa mencekam bagi Arkan. Sebaliknya, setiap sudut rumah yang biasanya terasa seperti jeruji besi, kini tampak seperti istana yang baru saja ia taklukkan kembali.

Arkan melangkah masuk dengan bahu tegak, dagu terangkat, dan sebuah senyum kemenangan yang tak lagi disembunyikan.

"Bi Ijah!" suara Arkan menggelegar di ruang tengah, penuh otoritas yang selama berbulan-bulan ini terkubur.

Wanita tua itu berlari kecil menghampiri, wajahnya tampak bingung melihat perubahan drastis pada tuannya. "I-iya, Den Arkan? Ada yang bisa saya bantu?"

"Siapkan makan malam istimewa. Masak semua makanan kesukaanku. Bebek peking, sup asparagus, dan pastikan wine terbaik sudah ada di meja. Aku ingin perayaan malam ini sempurna," perintah Arkan tanpa melihat ke arah Bi Ijah.

"Tapi Den... Ibu Kinanti biasanya sudah menentukan menu..."

"Mulai malam ini, aku yang menentukan apa yang terjadi di rumah ini, Bi," potong Arkan dengan nada mutlak yang dingin. "Dan satu lagi, panggil pengasuh Arjuna. Bawa Arjuna ke meja makan. Kita akan makan bersama sebagai keluarga."

Bi Ijah tertegun. Di rumah ini, Arjuna biasanya makan di ruang bayi atau ditemani pengasuhnya secara terpisah sesuai jadwal ketat yang dibuat Kinanti.

Membawa bayi ke meja makan formal adalah pelanggaran besar terhadap protokol Kinanti. Namun, melihat sorot mata Arkan yang berapi-api, Bi Ijah hanya bisa menunduk patuh.

Setengah jam kemudian, suasana di ruang makan berubah drastis. Arkan duduk di kepala meja, posisi yang biasanya ia tempati dengan rasa waswas, namun kini ia mendudukinya seolah itu adalah singgasana sah miliknya.

Di sampingnya, seorang pengasuh duduk dengan kaku sambil menggendong Arjuna yang mulai terjaga.

Langkah kaki yang sudah sangat dikenal Arkan terdengar dari arah tangga. Kinanti muncul dengan gaun rumah berbahan sutra hitam yang menjuntai indah.

Ia berhenti di ambang pintu ruang makan, matanya menyapu pemandangan yang tidak biasa di depannya. Alisnya berkerut tipis, sebuah ekspresi kebingungan yang sangat halus, yang bagi Arkan, adalah tanda bahwa pertahanannya mulai runtuh.

"Apa yang terjadi di sini, Arkan?" tanya Kinanti pelan, suaranya tetap tenang namun mengandung nada menyelidik.

"Duduklah, Sayang," Arkan menjawab sambil menuangkan anggur ke gelasnya sendiri. "Aku hanya ingin kita makan malam layaknya keluarga normal. Aku, kamu, dan putra kita. Bukankah ini yang selalu kamu inginkan? Kebahagiaan di bawah satu atap?"

Kinanti menarik kursi di hadapan Arkan. Ia menatap Arjuna, lalu beralih menatap suaminya yang tampak begitu bersinar malam ini. "Keluarga normal tidak membawa pengasuh ke meja makan utama, Arkan. Kamu melanggar banyak aturan hari ini."

"Aturan bisa diubah, Kin. Tergantung siapa yang memegang kendali," Arkan tersenyum sinis. Ia memotong bebek pekingnya dengan gerakan elegan, menikmati setiap detik ketegangan yang merayap di udara.

Makan malam berlangsung dalam sunyi yang ganjil. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal.

Arkan makan dengan lahap, sementara Kinanti hanya mengaduk-aduk makanannya, matanya tak lepas dari Arkan seolah sedang membaca sebuah teka-teki yang sudah ia tahu jawabannya.

Setelah menyesap anggurnya, Arkan meletakkan gelas dengan denting yang cukup keras. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Kinanti tepat di manik matanya.

"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, Kin. Sesuatu yang akan mengubah cara kita memandang satu sama lain mulai besok."

Kinanti meletakkan garpunya. "Oh ya? Katakanlah."

"Seluruh aset yang selama ini kamu banggakan... semua saham di Wiratama Group, properti di Menteng, hingga rekening di luar negeri yang kamu kunci... semuanya sudah kembali ke tempat yang seharusnya," Arkan menjeda kalimatnya, menikmati perubahan raut wajah Kinanti. "Semuanya sudah kembali atas namaku secara sah. Secara digital, hukum, dan kepemilikan, aku sudah memegang kendali penuh atas kekayaanku kembali."

Arkan menyandarkan tubuhnya, merasa di atas awan. "Kecuali rumah ini. Aku cukup murah hati untuk membiarkan rumah ini tetap atas namamu. Anggap saja itu hadiah karena kamu sudah menjaga asetku dengan baik selama ini."

Trak!

Kinanti membanting sendok dan garpunya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat pengasuh bayi tersentak ketakutan. Wajah Kinanti memerah, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap.

"Kamu... kamu melakukan itu?" suara Kinanti bergetar, seolah ia sedang menahan ledakan emosi yang luar biasa. "Kamu berani meretas sistem keamanan yang kubangun? Kamu mencuri dariku, Arkan?!"

Arkan tertawa lepas. Suara tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu. "Mencuri? Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku, Kin! Kamu yang mencurinya dariku dengan cara memeras perasaanku! Sekarang, posisinya berbalik. Kamu tidak punya apa-apa lagi untuk mengancamku. Kamu tidak bisa lagi mengusirku, dan kamu tidak bisa lagi menjauhkan aku dari Arjuna."

Kinanti berdiri dengan kasar, kursinya terdorong ke belakang hingga nyaris terjatuh. "Kamu akan menyesali ini, Arkan! Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena angka-angka di layar itu berubah?! Kamu tidak tahu dengan siapa kamu bermain!"

Kinanti berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya, meninggalkan ruang makan dalam kekacauan emosi. Arkan hanya melihat punggung istrinya dengan senyum kemenangan yang lebar. Ia merasa telah berhasil menghancurkan martabat wanita yang selama ini menginjaknya.

Di dalam kamarnya, Kinanti menutup pintu dengan rapat. Ia bersandar pada daun pintu, napasnya yang tadi memburu perlahan-lahan kembali teratur. Kemarahan yang tadi ia tunjukkan di meja makan seketika menguap, digantikan oleh wajah datar yang sedingin es.

Ia berjalan menuju cermin, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena sandiwara tadi.

"Akting yang bagus, Kinanti," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

Ia mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada Suryo.

"Dia sudah memakan umpannya. Dia merasa sudah menjadi Tuhan malam ini. Biarkan dia menikmati kemenangannya. Suatu saat nanti, saat dia mencoba mencairkan dana atau menandatangani kontrak baru, kita keluarkan dokumen fisik dari brankas."

Kinanti tahu betul bahwa pengkhianatan Arkan dengan Alana bukan hanya soal perasaan, tapi soal pengkhianatan terhadap komitmen dan kerja keras yang telah ia bangun.

Baginya, memaafkan Arkan adalah hal mustahil. Ia tidak ingin sekadar menghukum Arkan, ia ingin menghancurkan Arkan sampai ke titik di mana Arkan merasa bahwa kematian adalah hadiah yang lebih indah daripada hidup sebagai pecundang.

Arkan tidak sadar bahwa keberaniannya malam ini adalah paku untuk peti matinya sendiri. Ia menganggap kemarahan Kinanti adalah tanda kekalahan, padahal itu adalah bagian dari rencana besar Kinanti untuk menjatuhkannya hingga ke akar-akarnya.

Di ruang makan, Arkan masih menggendong Arjuna, mencium kening bayinya dengan penuh harapan. "Papa sudah kembali, Nak. Tidak ada lagi yang bisa menyakiti kita."

Ia tidak tahu bahwa di atas sana, sang sipir sedang menyiapkan jeruji besi yang tidak terbuat dari digital, melainkan dari dokumen hukum yang sah dan tak terbantahkan, yang akan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Oma Gavin
ceraikan saja Arkan biar bahagia sama selingkuhan pastinya kere dan alana ngga bakalan lagi mau sama arkan tujuan alana ngerebut arkan hanya kekayaan
stela aza
❤️❤️❤️
stela aza
Thor ini jadinya gimana hubungan Arkan dan Kinanti mau lanjut apa di gantikkan sama dewa ,,, kalau emang Ama Arkan mau the end buruan selesai kan hubungan mereka,,, soale wis bosen part Arkan dan Kinanti,,,
Siti Zaid
Author lanjut..kesian pulak pada arkan...tapi itulah harga yg harus dia bayar kerana pengkhianatan nya pada kinanti...
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
pokoknya ya kinanti kamu jangan mudah terbujuk rayu sama arkan kalau bisa kamu siksa arkan sehancur2nya, jangan kalah dr arkan, ceraikan ðlm diam saja, biar dia tdk bisa berkata2 lagi dan jd gembel
Agus Tina
baguus ...
Maria Magdalena Indarti
author makasih ada Dewa untuk warnai hidup Kinanti
Maria Magdalena Indarti
penghianat tetap penjahat.
ga punya hati. .. tetap berselingkuh
Tunggu hukum karma selanjutnya
Maria Magdalena Indarti
wow Kinanti luar biasa. Libas abis kel Hadiningrat... Arkan.. .. ya hianati malah mau berjaya
Maria Magdalena Indarti
horeee... Kinanti sdh sedia payung sblm ujan.
Maria Magdalena Indarti
wah... wah... penghianat akan menang nih.
Kinanti yg dihianati kalah. ga setuju
Siti Zaid
Semoga Arkan menyedari kesalahan nya pada kinanti..walau berkemungkinan mereka akan berpisah juga pada akhirnya...
Maria Magdalena Indarti
kinanti tetap kuat
Maria Magdalena Indarti
lanjut Kinanti
Kale
suka pemeran kinanti,,tanpa airmata,gk menyek" meskipun pernikahannya hancur👍
Maria Magdalena Indarti
mantap Kinanti pegang kendali
Siti Zaid
Author..terima kasih selalu update cerita nya👍👍👍
Agus Tina
Bagus

.👍
Siti Zaid
Alana..nikmati lah rasa bahagia kamu sebelum derita musnah kan seluruh hidup kamu dan juga Arkan😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!