NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Sudah seminggu lebih suasana kampus terasa berbeda bagi Luca. Tidak ada lagi sosok tinggi yang menunggunya di depan kelas atau rangkulan posesif di koridor. Brant benar-benar sedang berada di "mode tempur" dengan skripsinya. Mereka hanya bertemu singkat saat makan siang itu pun tak selalu, sisanya? Hanya lewat layar ponsel.Untungnya, si Pawang Brant ini nggak rewel; dia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu singa yang sedang fokus.

​ Suasana sore di ruang tengah rumah Vin dipenuhi oleh aura serius dari tumpukan buku Ekonomi Makro yang berserakan. Rumah cowok itu sengaja dipilih sebagai tempat untuk menyelesaikan tugas matkul yang menguras otak minggu ini. Di sudut meja, Vin fokus membolak-balik halaman literatur dengan kening berkerut. Di sebelahnya, jemari Elena bergerak lincah di atas keyboard laptop, sibuk browsing mencari jawaban di internet. Sementara Rose, sedang meratapi nasibnya karna kecerobohan Luca.

​"Aduh! Sumpah ya, Ca! Kuku gue patah! Ini kuku kesayangan gue!"

Rose memekik sambil memegangi jemarinya yang baru saja tidak sengaja terinjak Luca yang asyik latihan dance TikTok di tengah ruangan.

​"Hehe, sori Rose... refleks," ucap Luca cengengesan tanpa dosa sambil menyeka keringatnya.

​Tak lama, ibunya Vin masuk membawakan nampan berisi es sirup dan camilan. "Awas, Ca! Hampir aja Mama tumpah gara-gara kamu goyang-goyang terus," tegur Mama Vin lembut.

​Setelah Mama Vin keluar, Elena menyenggol lengan Rose. "Gimana perkembangan lo sama Jack? Ada kemajuan?"

​Rose menghela napas, nyender di sofa sambil makan keripik dengan lesu. "Belum ada. Padahal gue pengen ngobrol lebih banyak lagi dengan kak jack." Ucap rose pasrah dengan nada lesu. "Lagian Mereka lagi sibuk skripsi."

​"Emang lo nggak ada nomornya?" tanya Vin heran tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Rose menggeleng pelan.

​Melihat itu, Luca yang masih ngos-ngosan tiba-tiba matanya berbinar. Dia ingat Brant pernah meminjam ponselnya untuk menghubungi Jack, karna waktu itu Brant lagi apes kehabisan data sama pulsa. Tanpa babibubu, Luca langsung merogoh ponselnya, mencari riwayat panggilan itu dan langsung menekan tombol panggil.

​"Eh, Ca! Lo mau ngapain?" Rose panik.

​"Sstt..." Luca menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, Kak Jack? Ini Luca. Kak, Rose katanya mau minta nomor Kakak."

​Vin dan Elena langsung melongo. Rose? Dia sudah gemetaran, mukanya merah padam sampai ke telinga.

Di seberang sana, Jack terdengar bingung. 'Lho, kan lo punya nomor gue, Ca? Kenapa nggak dikasih aja ?' pikir Jack. Tapi ya namanya Luca, logikanya memang suka lompat-lompat.

​"Ini orangnya ada di samping aku, Kak. Ngobrol langsung aja ya, aku mau lanjut dance!" Luca langsung menyodorkan ponselnya ke tangan Rose yang gemetaran.

​Vin dan Elena sudah tidak tahan lagi, mereka membekap mulut menahan tawa melihat Rose yang terpaksa ngobrol dengan Jack dalam kondisi mental yang berantakan. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas setelah menutup telepon, Rose hanya senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan.

​"Rindu Kak Brant..." gumam Luca tiba-tiba, duduk di lantai sambil memeluk lututnya.

​"Sabar, Ca. Brant lagi berjuang buat masa depan kalian juga," Vin memberi pengertian sambil mengusap kepala Luca.

Pada akhirnya, kerja kelompok sore itu selesai dengan pembagian beban yang sama sekali tidak imbang. Vin dan Elena harus bekerja setengah mati memeras otak untuk menyelesaikan hitungan dan mencari jawaban, sementara Luca dan Rose tidak memberikan sumbangsih apa pun selain kebisingan. Dua orang itu malah sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Rose dan Elena pamit duluan karena mau mampir ke toko buku. Luca memilih tinggal sebentar, dan mencoba mengirim pesan ke Brant: 'Kak, aku di rumah Vin. Kalau nggak sibuk, jemput ya?'

​Satu jam berlalu. Hujan mulai turun deras. Pesan Luca belum juga dibaca. Ia akhirnya mencoba memesan taxi online, tapi tarifnya melonjak drastis karena high demand. "Ihhh, harganya bisa dapat 3 gelas boba large, nggak ahh," Guman luca pelan.

​Begitu hujan agak reda, Luca nekat memesan ojol. Ia pun pergi setelah berpamitan. Namun di tengah jalan, langit seolah tumpah lagi. Lebih parah, motor ojeknya mogok. Luca akhirnya berteduh di depan tenda gerobak bakso pinggir jalan. Bajunya basah kuyup, badannya menggigil, dan perutnya mulai keroncongan. Ini siksaan lahir batin bagi luca.

​Saat dia sudah mau menangis karena merasa sendirian terjebak di bawah guyuran hujan yang makin liar, ponselnya bergetar.

Kak Brant Calling.

​"Halo... Kak..." suara Luca bergetar menahan tangis.

​"Ca? Gue di depan rumah Vin, lo di mana?" suara Brant terdengar khawatir.

​Luca langsung tumpah air matanya. Dia menceritakan posisinya. Tak sampai sepuluh menit, motor sport hijau yang sangat Luca kenali membelah hujan dan berhenti tepat di depannya. Brant turun, wajahnya terlihat sangat bersalah.

​"Masuk, Makan dulu ya? Lo basah banget, Ca. Makan biar anget," ucap Brant sambil menarik kursi di warung tenda itu.

​Brant mengusap rambut Luca yang basah, dengan handuk kecil di dalam tas olahraga yang selalu dia bawa. "Sori ya, gue akhir-akhir ini kacau banget fokusnya. Gue janji nggak bakal telat liat pesan lo lagi."

Luca tentu sama pedulinya dengan Brant. melihat kekasihnya itu datang menembus hujan demi dirinya, Luca langsung penuh kecemasan.

​"Kak Brant udah tahu hujan kenapa malah bawa motor? Itu bajunya basah banget. Bisa sakit nanti," ucap Luca dengan nada bergetar, menatap pasrah tubuh Brant yang kini ikut basah kuyup karena dirinya.

​"Biar sama basahnya kayak lu," sahut Brant asal, namun senyum tipis terukir di bibirnya.

​Cowok itu menarik kedua tangan Luca, lalu menggosok-gosokkannya dengan lembut di dalam genggamannya agar terasa lebih hangat. "Di kompleks apartemen gue tadi baru mendung, gataunya di tengah jalan udah hujan deras banget."

​Luca hanya mengangguk sambil meniup kuah baksonya yang panas. menyaksikan Pemandang Luca di depannya ini, membuat Brant merasa ada sesak di dadanya. Dia sadar, Luca benar-benar tidak bisa dibiarkan sendirian menghadapi dunia yang keras ini. Luca butuh dirinya untuk selalu ada untuk menjaganya.

Rumah besar keluarga Brant yang biasanya sepi kini terasa penuh dengan aura otoritas. Kedatangan orang tuanya dari London bukan sekadar kunjungan rindu, melainkan sebuah inspeksi masa depan. Di meja makan yang panjang, denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan.

​"jadi tim basket kamu sudah off. Bagus," Papa Brant membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari hidangannya. Suaranya berat dan penuh penekanan. "Fokus pada skripsi. Papa tidak mau ada gangguan sekecil apa pun. Ingat, kamu itu penerus satu-satunya. Bisnis keluarga kita bukan tempat untuk orang yang gampang terdistraksi."

​​Brant hanya terdiam mendengar rentetan perkataan dari ayahnya. Di bawah atmosfer ruang makan yang mendadak terasa mencekik, ia terus menyuapkan makanan ke dalam mulut tanpa selera; pikirannya benar-benar terbagi. Dalam saku celananya, ponsel Brant bergetar berkali-kali tanpa henti. Tanpa perlu mengecek layarnya pun, Brant tahu betul itu adalah pesan-pesan dari Luca yang terpaksa harus dia abaikan.

​"Bekerja dulu baru pacaran," lanjut Papanya, kali ini tatapannya tajam menghujam Brant. "Bisnis itu bukan cuma asal kerja. Kamu harus fokus 100 persen. Kalau kamu sudah mapan secara finansial dan sukses memegang kendali perusahaan, kamu baru bisa mendapatkan pasangan yang tepat. Pasangan yang levelnya sesuai dengan posisi kamu nanti."

​Pikiran Brant kacau. Kata "pasangan yang tepat" di telinga Papanya pasti sangat jauh dari sosok Luca. Brant mengepalkan tangan di bawah meja. Dia merasa tertekan, namun didikan keras selama bertahun-tahun membuatnya hanya bisa mengangguk pelan. Mamanya yang duduk di seberang Brant hanya bisa menatap dengan tatapan sendu; dia bisa merasakan guncangan di balik wajah datar putra tunggalnya itu.

Ponsel Brant kembali bergetar di atas meja kayu jati saat mereka berpindah ke ruang tamu untuk minum teh. Setiap kali layar itu menyala, sorot mata Brant langsung berubah—ada kegelisahan sekaligus kerinduan yang tertahan di sana. Sang Papa sempat melirik tajam ke arah ponsel itu dengan dahi berkerut, membuat suasana yang sudah kaku menjadi semakin mencekam.

​Sang Mama, yang sejak tadi diam-diam mengamati gelagat putra tunggalnya, menyadari bahwa pikiran Brant sudah tidak lagi berada di ruangan itu. Dia tahu betul, getaran ponsel yang tak berhenti itu pasti berasal dari seseorang yang sangat spesial bagi Brant.

​Sebelum suaminya sempat melontarkan teguran pedas soal kedisiplinan, sang Mama segera bertindak. Dia meletakkan cangkir tehnya perlahan lalu menyentuh bahu Brant.

​"Brant, tolong bantu Mama pindahkan beberapa kotak oleh-oleh ini ke lantai atas, ya? Papa biar sama Mama dulu di sini," ucapnya dengan nada tenang namun penuh arti. Dia memberikan kerlingan tipis seolah berkata, 'Pergilah, beresin urusan kamu'.

​"Setelah itu kamu istirahat saja di kamar. Mama lihat wajahmu pucat, mungkin karena kelelahan," tambahnya untuk meyakinkan suaminya.

​Brant menatap Mamanya sejenak, menangkap sinyal pengertian itu. Tanpa membuang waktu, dia segera menyambar ponselnya dan mengangkat kotak-kotak tersebut. "Iya, Ma. Pa, aku ke atas dulu."

Di lantai dua rumah itu, setelah pintu kamar tertutup, Brant langsung menuju balkon. Udara malam yang dingin terasa sedikit melegakan. Dia segera melakukan video call dengan Luca. ​Begitu layar menyala, wajah ceria Luca muncul, namun langsung berubah sedikit mendung saat melihat latar belakang tempat Brant berada.

"Kak Brant... di rumah ya? Papa sama Mama sudah datang?"

​Brant menghela napas panjang, bersandar pada pagar balkon. "Iya, sori gue baru kasih tahu. Mereka mendadak minta gue di sini selama beberapa hari sampai mereka balik ke London."

​"Oh... pantas apartemen kosong," Luca tersenyum tipis, mencoba terlihat dewasa meski ada rasa kecewa yang terselip. "Tadi aku ke apartemen bawain masakan Mama buat Kakak, tapi karena Kakak nggak ada, makanannya aku kasih ke satpam depan gedung aja. Kasihan kalau dibawa pulang lagi, nanti Mama nanya-nanya."

​Hati Brant mencelos. "Sori, Ca... beneran gue nggak bermaksud..."

​"Nggak apa-apa, Kak," potong Luca cepat. Suaranya lembut, mencoba menenangkan Brant. "Fokus aja sama orang tua Kakak. Aku nggak mau jadi beban buat Kakak di sana. Kita kan masih bisa teleponan."

​Kedewasaan Luca justru membuat Brant semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa dia memberitahu Luca bahwa "masa depan" yang dirancang ayahnya tidak menyertakan tempat untuk mereka berdua?

Keduanya tetap saling bertukar rindu lewat sambungan telepon. Padahal mereka baru berpisah selama dua hari. Namun Luca tidak akan menduga bahwa tak lama lagi jarak dan waktu akan sangat membentang panjang untuk mereka berdua.

​setelah lima hari berlalu seperti siksaan bagi Brant. Setelah mengantar orang tuanya ke bandara, telinganya masih terngiang perintah sang Papa: "Ingat tujuan kamu, Brant. Fokus pada tujuan utama."

Di balik sikap dingin dan pemberontaknya, Brant tetaplah anak yang sangat patuh. Dia kini berdiri di persimpangan jalan—menjadi anak kebanggaan yang sukses di dunia bisnis, atau menjadi pria yang mempertahankan cintanya pada Luca dengan risiko kehilangan segalanya.

Setelah melewati beberapa hari yang mencekam dan penuh tekanan bersama orang tuanya, hari Minggu ini akhirnya datang membawa "oksigen" baru bagi Brant. Bersama Luca, ketiga sahabatnya, serta Jack, Clay, dan Rey, mereka memutuskan untuk pergi bersantai sejenak. Ide piknik ini murni datang dari Jack—sang kapten basket yang juga sudah rindu merasakan ketenangan.

​Tujuan mereka adalah kebun milik keluarga Jack yang terletak di area pegunungan asri. Tempat itu bener-bener paket lengkap; memiliki kolam pancing pribadi dan hamparan hijau dengan pasokan udara segar yang seketika membuat paru-paru mereka berhenti protes.

​"Gila! Udaranya seger banget, anjir! Beda jauh sama polusi kampus," seru Clay sambil meregangkan ototnya begitu turun dari mobil.

​"Woy, jangan cuma numpang napas! Bantuin bawa bahan bakaran!" teriak Rey yang sudah repot membawa bungkusan daging.

​Suasana langsung pecah. Di dekat kolam pancing, kekacauan dimulai. Clay dan Rey sok tahu mencoba menyalakan panggangan, tapi bukannya api yang keluar, malah asap tebal yang bikin mereka batuk-batuk kayak orang kena asma.

​"Lo kipasnya jangan kayak ngusir lalat, Clay! Yang bener dong!" gerutu Rey sambil mengusap matanya yang perih.

​"Sabar, Nyet! Ini arangnya emang toxic kayak mantan lo!" balas Clay tak mau kalah.

​Sementara itu, Jack dan Rose terlihat makin "lengket" di pinggir kolam. Jack dengan telaten mengajari Rose cara memegang alat pancing. "Pelan-pelan, Rose. Kalau ditarik paksa nanti lepas," ucap Jack yang balas anggukan kepala dari rose.sok mengerti padahal ia sedang hilang fokus karna jack memegang tangannya.

​Elena sibuk memotret setiap momen, terutama saat Vin—si manusia paling cuek—terlihat berusaha keras memasang umpan cacing dengan ekspresi jijik yang sangat langka.

​Namun, pusat gravitasi hari itu tetaplah Luca.

​Luca tidak ikut memancing atau membakar daging. Dia justru sibuk mengejar seekor anak ayam milik penjaga kebun yang lepas. Dia berlari zig-zag dengan tawa yang lepas, rambutnya yang tertiup angin gunung membuatnya terlihat sangat bersinar. Di mata Brant, Luca adalah kombinasi unik antara ketampanan yang lembut dan kecantikan yang tidak membosankan.

​"Dapet!" teriak Luca bangga sambil memeluk anak ayam itu dengan hati-hati. Dia menghampiri Brant dengan wajah penuh keringat dan senyum selebar dunia "Kak Brant! Liat, dia gemoy banget kayak aku, kan?"

​Brant yang sedang duduk di kursi lipat hanya bisa terkekeh. Dia menarik tisu, lalu mengusap keringat di dahi Luca. Inilah yang membuat Brant jatuh cinta setengah mati; bukan cuma wajah Luca yang menawan, tapi tingkah konyolnya yang tulus dan kemampuan Luca untuk bahagia dengan hal-hal paling sederhana. Keberadaan Luca seolah menghapus memori kaku tentang meja makan bersama ayahnya kemarin.

​"Iya, sama-sama gemoy. Sekarang lepasin, nanti induknya marah," ucap Brant lembut.

​"Ih, Kak Brant mah nggak seru!" Luca mencebikkan bibirnya, lalu melepaskan anak ayam itu dan langsung menjatuhkan dirinya duduk di rumput, bersandar di kaki Brant.

​"Kak, kalau udah lulus nanti, kita sering-sering ke sini ya? Biar Kak Brant nggak pusing sama urusan kantor terus," ucap Luca polos sambil menatap langit.

Hati Brant rasanya seperti diremas kuat saat mendengar kalimat polos itu. Luca sama sekali tidak tahu bahwa "urusan kantor" yang dia maksud bukan di gedung pencakar langit di pusat kota ini, melainkan ribuan kilometer jauhnya di benua lain.

​Kalimat sederhana itu seperti hantaman keras bagi Brant. Senyumnya sedikit luntur. Di bawah pohon yang rindang itu, dengan latar belakang tawa sahabat-sahabatnya yang sedang berdebat soal daging gosong, Brant merasakan sesak yang luar biasa. Dia merunduk, lalu merebahkan kepalanya di bahu Luca, menghirup aroma rambut kekasihnya itu dalam-dalam.

​"Iya, kita bakal sering-sering jalan," bisik Brant. Suaranya serak, tertahan oleh beban rahasia yang semakin hari semakin membunuh kewarasannya.

​Brant memejamkan mata, berusaha merekam setiap inci tawa Luca, wangi tubuhnya, dan hangatnya matahari di lereng gunung itu ke dalam memorinya. Dia merangkul pinggang Luca lebih erat dari biasanya, seolah-olah dengan pelukan itu dia bisa menahan takdir untuk tidak menariknya pergi ke London.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!