“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18 - Manual Kultivasi
Kabut pagi masih menggantung rendah di antara lereng-lereng Puncak Awan Pengembara ketika rumor mengenai “hantu api penunggang babi” mulai menyebar semakin liar ke seluruh area sekte luar. Bahkan beberapa murid yang sebelumnya tidak percaya pada cerita “hantu ayam” kini mulai menunjukkan ekspresi ragu setiap kali topik itu dibicarakan.
Bagaimanapun, kali ini bukan hanya satu atau dua orang yang mengaku melihatnya.
Tiga murid malam dari kandang babi spiritual benar-benar bersumpah bahwa mereka melihat sesosok makhluk menyala berlari menuruni lereng gunung sambil menunggangi babi spiritual hitam sebesar kereta kecil. Salah satu dari mereka bahkan mengaku mendengar suara tawa menyeramkan di tengah kobaran api malam itu.
Akibatnya suasana di Puncak Awan Pengembara mulai berubah sedikit aneh selama beberapa hari berikutnya.
Pada malam hari beberapa murid luar mulai berjalan bergerombol ketika melewati jalan lereng utara. Sebagian lagi menempelkan jimat pengusir roh di depan gubuk mereka. Bahkan kandang ayam spiritual yang sebelumnya ramai hingga larut malam sekarang menjadi jauh lebih sunyi setelah tengah malam tiba.
Namun anehnya para kakak senior dan murid dalam sekte justru tidak terlalu memedulikan semua itu.
Sebagian besar hanya menganggap rumor tersebut sebagai cerita bodoh murid luar yang terlalu banyak bekerja malam hari. Beberapa murid dalam dari Puncak Pedang bahkan sempat datang hanya untuk menertawakan para penjaga kandang babi yang ketakutan.
“Roh api penunggang babi?” salah satu murid dalam tertawa keras sambil bersandar di pagar kandang. “Kalau benar ada makhluk seperti itu, lebih baik suruh dia ikut ujian sekte tahun depan.”
Suara tawa langsung memenuhi area kandang.
Para murid malam yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan wajah pucat sambil bersumpah bahwa mereka benar-benar tidak berbohong. Salah satu dari mereka bahkan masih terlihat ketakutan setiap kali malam tiba.
“Aku melihatnya sendiri…” gumam murid itu dengan suara pelan sambil memeluk mangkuk tehnya erat-erat. “Tubuhnya penuh api… dan matanya merah…”
Han Gu yang sedang berdiri tidak jauh dari sana langsung menundukkan kepala sambil pura-pura batuk keras untuk menyembunyikan tawanya.
Sedangkan Bai Fengxuan hanya bisa memalingkan wajah sambil memijat pelipisnya sendiri. Semakin rumor itu berkembang, semakin ia merasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup di bawah kandang ayam.
Namun untungnya perhatian para tetua dan murid dalam perlahan mulai menghilang. Bagi mereka, kehilangan satu babi spiritual memang cukup merepotkan, tetapi tidak cukup penting untuk diselidiki serius. Terlebih lagi produktivitas kandang babi memang sedang tinggi seperti yang dikatakan Han Gu sebelumnya. Dan itu membuat Bai Fengxuan akhirnya bisa bernapas sedikit lega.
Hari-hari berikutnya kembali berjalan damai seperti biasa.
Pagi hari ia membersihkan kandang ayam bersama Xu Liang sambil mendengarkan ocehan panjang mengenai roh api gunung. Siang hari ia membantu mengangkut pupuk menuju ladang herbal di lereng bawah. Sedangkan malamnya ia dan Han Gu diam-diam menikmati sisa sup babi spiritual di dalam gubuk kayu kecil mereka.
Sup itu bahkan terasa semakin lezat setiap kali dipanaskan kembali.
Lemak spiritual yang larut di dalam kuah emas membuat qi spiritual di tubuh Bai Fengxuan bergerak jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Setelah mencapai Qi Gathering level 1, ia mulai perlahan memahami bagaimana cara mengendalikan aliran qi di dalam meridiannya.
Kadang pada malam hari setelah makan, ia akan duduk bersila di depan tungku batu sambil mengikuti metode pernapasan yang diajarkan Tetua Ji di aula kelas.
Dan setiap kali itu terjadi ia selalu merasakan perubahan kecil pada tubuhnya.
Qi spiritual yang sebelumnya terasa seperti aliran air tipis sekarang mulai bergerak lebih stabil di dalam meridian. Tubuhnya juga menjadi jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Bahkan ketika mengangkat karung pakan ayam spiritual, ia hampir tidak lagi merasa terlalu lelah.
Han Gu sampai beberapa kali menatapnya dengan ekspresi iri. “Monster kecil…” gumamnya suatu malam sambil menyeruput kuah sup. “Aku berkultivasi tiga tahun lebih lama darimu tapi perkembanganmu malah lebih cepat.”
Bai Fengxuan hanya tertawa kecil sambil menambahkan kayu ke dalam tungku.
Meskipun begitu, ia sendiri sebenarnya masih merasa asing dengan dunia kultivasi. Semua yang ia pahami sejauh ini hanyalah dasar-dasar sederhana yang diajarkan Tetua Ji di kelas umum. Ia bahkan belum memiliki manual kultivasi pribadi seperti murid lain yang sudah lebih lama berada di sekte.
Karena itulah ketika kelas mingguan kembali dimulai beberapa hari kemudian, Bai Fengxuan datang lebih awal dibanding biasanya.
Kabut pagi masih menyelimuti lereng tengah gunung ketika para murid luar mulai memasuki aula batu tempat kelas umum diadakan. Suara langkah kaki dan percakapan pelan bergema samar di dalam ruangan besar tersebut sementara cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui jendela-jendela kayu tinggi di sisi aula.
Tetua Ji sudah berdiri di depan sejak awal seperti biasanya. Jubah abu-abunya bergerak pelan tertiup angin gunung sementara tongkat kayu hitam di tangannya mengetuk lantai batu dengan suara berat dan teratur. Rambut putihnya tampak sangat kontras dengan aura tenang yang selalu menyelimuti dirinya.
Namun berbeda dibanding sebelumnya, kali ini tatapan beberapa murid luar diam-diam terus tertuju pada Bai Fengxuan.
Mereka semua sudah mendengar bahwa anak kecil dari kandang ayam itu berhasil mencapai Qi Gathering level 1 di usia sepuluh tahun.
Bagi murid luar biasa itu jelas bukan sesuatu yang normal. Xu Liang bahkan terlihat jauh lebih berisik dari biasanya.
“Adik Bai,” bisiknya sambil menyenggol lengan Bai Fengxuan, “apa benar sekarang kau bisa memukul batu sampai pecah?”
Bai Fengxuan langsung berkedut. “Aku baru Qi Gathering level 1…”
“Tapi kultivator bukannya bisa mengeluarkan api dari tangan?”
“Itu bukan Qi Gathering level 1…”
“Kalau melompat di atas pohon?”
“Itu juga belum.”
Xu Liang terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban itu. Di sisi lain Han Gu yang duduk tidak jauh dari mereka hanya tertawa kecil sambil menyilangkan tangan di dada.
Kelas hari itu berjalan cukup tenang. Tetua Ji mulai menjelaskan mengenai dasar peredaran qi dan pentingnya menjaga stabilitas meridian setelah memasuki tahap Qi Gathering. Suaranya tetap tenang seperti biasanya, namun setiap kalimat yang keluar terasa sangat jelas di seluruh aula.
“Banyak murid terlalu terburu-buru mengejar kekuatan,” ucapnya sambil berjalan perlahan di depan kelas. “Namun fondasi kultivasi yang buruk hanya akan menjadi rantai yang mengikat langkah kalian di masa depan.”
Seluruh aula langsung menjadi sunyi. Bai Fengxuan mendengarkan dengan sangat serius. Ia dapat merasakan bahwa setiap penjelasan Tetua Ji jauh lebih dalam dibanding yang terlihat di permukaan. Bahkan beberapa murid yang sudah bertahun-tahun berada di tahap Qi Gathering masih terlihat kesulitan memahami sebagian penjelasan sang tetua.
Waktu berlalu perlahan hingga akhirnya lonceng siang terdengar dari kejauhan. Kelas pun selesai.
Para murid luar mulai keluar dari aula sambil mengobrol satu sama lain. Xu Liang masih sibuk membicarakan rumor roh api bersama beberapa murid lain sementara Han Gu sudah pergi lebih dulu menuju kandang ayam.
Namun tepat ketika Bai Fengxuan hendak keluar, suara Tetua Ji tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
“Bai Fengxuan.”
Langkahnya langsung berhenti.
Ia segera menoleh dan melihat tetua tua itu sedang berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan tenang.
“Y-ya, Tetua Ji?”
Tetua Ji tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan perlahan menuju jendela aula sambil memandang lautan awan putih di luar pegunungan Forgotten Blade. Angin siang bergerak pelan memasuki aula batu dan menggoyangkan ujung jubah abu-abunya.
“Kau sudah memasuki Qi Gathering,” ucapnya akhirnya. “Bagaimana perasaanmu?”
Bai Fengxuan sedikit terdiam sebelum menjawab jujur.
“Seperti… dunia menjadi lebih jelas dibanding sebelumnya.”
Tetua Ji tersenyum samar mendengar jawaban itu.
“Itu jawaban yang bagus.”
Suasana aula mendadak terasa sangat tenang. Dari luar samar-samar terdengar suara lonceng angin dan kokok ayam spiritual dari lereng bawah gunung. Tetua Ji kemudian perlahan mengeluarkan sebuah buku tipis berjilid biru tua dari dalam lengan jubahnya.
Tatapan Bai Fengxuan langsung tertuju pada benda itu.
“Ini…” Tetua Ji menyerahkannya perlahan, “manual kultivasi dasar untuk murid luar Forgotten Blade.”
Tangan Bai Fengxuan sedikit menegang saat menerima buku tersebut. Sampulnya terlihat sederhana dan sudah cukup tua, namun ia bisa merasakan qi spiritual samar keluar dari lembaran kertas di dalamnya.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Manual kultivasi.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki sekte, ia akhirnya benar-benar memiliki metode kultivasi miliknya sendiri.
Tetua Ji memandangnya cukup lama sebelum kembali berbicara.
“Bakatmu tidak buruk.” Suara tua itu tetap tenang seperti biasanya. “Namun dalam dunia kultivasi, bakat hanyalah permulaan.”
Bai Fengxuan langsung menundukkan kepala hormat.
Tetua Ji melanjutkan sambil menatap pegunungan di kejauhan. “Ada orang berbakat yang mati muda karena kesombongan. Ada pula orang biasa yang akhirnya melangkah jauh karena ketekunan.” Tatapannya perlahan kembali pada Bai Fengxuan. “Jangan terlalu terburu-buru mengejar kekuatan.”
Bai Fengxuan menggenggam manual itu sedikit lebih erat. “Terima kasih, Tetua.”
Tetua Ji hanya mengangguk kecil sebelum perlahan berjalan melewatinya menuju pintu aula. Namun tepat sebelum pergi, langkahnya sempat berhenti sesaat.
Dan tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Selain itu… kurangi makan makanan yang terlalu berminyak di malam hari.”
Tubuh Bai Fengxuan langsung membeku dan wajahnya perlahan berubah pucat.
Sedangkan Tetua Ji, sudah berjalan pergi meninggalkan aula sambil membawa tongkat kayunya seperti biasa.
Untuk beberapa detik Bai Fengxuan hanya berdiri diam di tempat dengan ekspresi kosong. Lalu perlahan ia menatap manual kultivasi di tangannya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia mulai bertanya-tanya apakah Tetua Ji sebenarnya mengetahui sesuatu seperti, “roh api penunggang babi”?
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....