"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Malam hari di kota Los Angeles selalu menawarkan dua sisi yang sangat kontras. Di satu sisi, gemerlap lampu-lampu pencakar langit di kawasan Downtown memancarkan kemewahan yang tak pernah tidur.
Namun di sisi lain, di dalam keheningan sebuah ruang kerja bernuansa kayu mahoni gelap di lantai dua apartemen Amieyara Walker, atmosfer yang tercipta terasa begitu pekat oleh aroma kertas dokumen tua dan ketegasan hukum.
Yara duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi oleh tumpukan map jilid tebal berlabel segel pengadilan.
Di bawah pendar temaram lampu meja yang melengkung anggun, jemari lentik gadis itu bergerak lincah di atas papan ketik laptopnya. Kacamata berbingkai tipis yang jarang ia gunakan di kampus kini bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan serius dan intimidatif pada wajah cantiknya yang blasteran.
Setelah melewati badai fitnah video manipulasi yang dirancang oleh Caca serta konfrontasi fisik yang terjadi dengan Tuan Walker di kafe akademik beberapa hari lalu, Yara tidak membiarkan dirinya larut dalam ketenangan yang semu.
Sifat rasionalnya sebagai Anak hukum menuntutnya untuk bergerak tiga langkah lebih maju di depan para musuhnya.
Fokus utamanya kini telah bergeser sepenuhnya. Sebagaimana yang dia katakan kepada dekan tempo hari, dibebaskan dari tugas asisten dosen di Fakultas Bisnis justru memberinya berkah terselubung: waktu mutlak untuk merampungkan berkas perkara paling krusial dalam hidupnya.
Sebuah berkas yang siap mengirim Tuan Walker ke balik jeruji besi untuk sisa umur hidupnya.
KLEK.
Suara pintu ruang kerja yang terbuka secara perlahan membuat gerakan jemari Yara terhenti. Dia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk; aroma maskulin khas perpaduan kayu cendana dan mint yang familier seketika menginvasi penciumannya, membawa gelombang kehangatan yang instan ke dalam ruangan yang dingin itu.
Maximilian Valerio melangkah masuk dengan santai. Malam ini dia hanya mengenakan celana jorger hitam dan kaos dalam putih tanpa lengan, mengekspos dengan begitu berani pahatan otot lengannya yang kokoh serta guratan tato geometris yang membentang hingga ke leher tegapnya.
Di tangan kanannya, Max membawa nampan kecil berisi secangkir susu cokelat hangat dan sepiring kecil biskuit gandum.
"Kau sudah menatap layar itu selama empat jam tanpa berkedip, Baby," suara bariton rendah Max mengalun halus, memecah keheningan ruangan. Dia meletakkan nampan itu di sisi meja yang kosong, lalu berjalan memutari meja kerja dan berdiri tepat di belakang kursi Yara.
Tanpa permisi, kedua tangan kekar Max turun ke pundak Yara, memberikan pijatan lembut namun bertenaga pada otot-otot leher dan bahu kekasihnya yang terasa begitu tegang.
Yara mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada dada bidang Max yang terasa sangat hangat dan kokoh. Dia melepaskan kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah.
"Aku harus menyelesaikan draf tuntutan sekunder ini sebelum hari Senin, Max. Tim pengacara Tuan Walker sedang mencoba mencari celah untuk menggugurkan dakwaan pencucian uang dengan alasan prosedural formal. Aku tidak akan memberi mereka ruang untuk bernapas."
Max menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu menundukkan kepalanya hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Yara. "Kau tahu, jika kau mau, aku hanya perlu menelepon pengacara utama dinasti Valerio untuk mengambil alih seluruh berkas ini dalam lima menit. Mereka bisa membuat hakim menandatangani surat perintah penahanan permanen tanpa kau harus mengotori jemari cantikmu dengan mengetik draf membosankan ini."
Yara tersenyum tipis, sebuah senyuman khas yang dipenuhi oleh kemandirian yang tinggi. Dia meraih tangan kekar Max yang berada di bahunya, mengusap punggung tangan itu lembut. "Aku tahu kekuatan keluargamu bisa melakukan itu dengan sangat mudah, Max. Tapi ini adalah perangku. Aku ingin menjatuhkan Tuan Walker dengan tanganku sendiri, menggunakan hukum murni yang selama ini dia sepelekan. Aku ingin dia tahu bahwa sampah yang dia injak selama belasan tahun ini adalah orang yang mengunci pintu selnya dari luar."
Max menatap wajah samping Yara dari dekat, melihat binar ketegasan dan keberanian yang begitu pekat di dalam manik mata wanita itu. Rasa kagum yang mendalam kembali bergemuruh di dada pemuda berusia dua puluh tahun itu.
Keras kepala Yara bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah pesona mematikan yang selalu berhasil membuat Max berlutut secara sukarela di bawah pesonanya.
"Baiklah, Sayang. Lakukan sesukamu," kekeh Max rendah, desis napas hangatnya menggelitik kulit leher Yara. Dia mengecup sekilas rahang tegas kekasihnya sebelum menegakkan tubuhnya kembali.
"Tapi minumlah susumu dulu. Aku tidak ingin pacarku ini jatuh sakit sebelum sempat melihat musuhnya merangkak di pengadilan."
Yara menurut. Dia mengambil cangkir yang dibawa Max dan menyesap isinya perlahan, membiarkan cairan hangat itu merilekskan sistem sarafnya yang sempat menegang.
Sementara itu, di sebuah sudut kota yang jauh dari kedamaian, suasana di dalam mansion keluarga Walker terasa laksana neraka yang membeku.
Ruang tamu mewah yang biasanya dipenuhi oleh gelak tawa sombong dan pamer kekayaan kini tampak berantakan. Beberapa vas bunga porselen mahal pecah di sudut lantai, hasil dari pelampiasan amarah Tuan Walker yang belum padam sejak kepulangannya dari kampus tempo hari.
Cinmocha Walker duduk meringkuk di atas sofa beludru dengan tubuh yang sesekali masih gemetar samar.
Leher indahnya yang biasa dihiasi kalung berlian kini ditutupi oleh syal sutra tebal berwaran hitam—sebuah usaha mutlak untuk menyembunyikan bekas memar keunguan yang ditinggalkan oleh cengkeraman jari-jari besi Maximilian Valerio.
Trauma psikologis yang dialami Caca benar-benar masif. Setiap kali dia memejamkan mata, dia seolah kembali merasakan sensasi mengerikan saat pasokan udara di tenggorokannya terputus total dan tatapan mata haus darah Max mengunci jiwanya.
Siasat video skandal palsu yang dia rancang dengan begitu matang tidak hanya gagal total, melainkan juga berbalik membakar dirinya sendiri hingga ke dasar eksistensinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kita tidak bisa hanya diam seperti pecundang di rumah ini!" Nyonya Walker, sang ibu tiri, berjalan mondar-mandir di depan suaminya dengan wajah yang penuh dengan guratan kecemasan yang bercampur dengan kedengkian.
"Lihat apa yang dilakukan bajingan Valerio itu pada anak kita, Mocha! Dia hampir membunuhnya di kampus! Dan semua ini karena jalang kecil bernama Yara itu!"
Tuan Walker yang duduk di kursi kebesarannya hanya diam dengan wajah pias dan tatapan kosong.
Pergelangan tangannya sendiri masih dibalut perban elastis akibat sentakan kasar Max di kafe akademik. Keangkuhannya runtuh bukan karena dia menyadari kesalahannya, melainkan karena dia menyadari skala kekuatan dinasti Valerio yang berdiri kokoh di belakang Yara.
"Kau pikir aku tidak tahu?!" bentak Tuan Walker tiba-tiba, suaranya serak dan sarat akan keputusasaan. "Pengacara kita baru saja menelepon satu jam yang lalu. Mereka mengatakan bahwa seluruh akses rekening bisnis kita di luar negeri telah dibekukan sementara oleh otoritas federal atas permintaan resmi yang didukung oleh dokumen tambahan yang dikirimkan oleh pihak Yara. Kita terisolasi, Martha! Jika hari Senin nanti hakim menolak penangguhan penahanan permanenku... kita tamat!"
Caca perlahan mengangkat kepalanya dari balik syal sutranya. Sepasang matanya yang dulu selalu memancarkan kelicikan kini tampak sayu dan dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam.
Namun, di balik rasa trauma fisik yang masif itu, benih kebencian di dalam hati Caca terhadap Yara justru semakin mengakar pekat.
Bagi Caca, seluruh kehancuran keluarganya, hilangnya status sosialnya di kampus, dan rasa malu yang dia tanggung adalah kesalahan Yara mutlak.
"Ibu..." suara Caca terdengar serak, hampir habis karena pita suaranya sempat tertekan hebat tempo hari. "Yara tidak akan pernah berhenti sampai kita semua membusuk di penjara. Dia memegang seluruh dokumen lama... termasuk dokumen transaksi dari... video-video masa lalunya."
Mendengar kata 'video', Tuan Walker seketika tersentak. Itu adalah rahasia paling kotor yang melibatkan eksploitasi ilegal terhadap Yara sejak gadis itu remaja—sebuah bisnis hitam lintas negara yang menghasilkan jutaan dolar bagi keluarga Walker sebelum Yara berhasil melarikan diri dari rumah.
Jika Yara berhasil membawa berkas spesifik tersebut ke meja hijau, dakwaannya bukan lagi sekadar pencucian uang atau penggelapan pajak, melainkan kejahatan kemanusiaan tingkat tinggi yang tidak akan pernah mengenal kata pengampunan hukum.
"Kita harus memusnahkan dokumen itu sebelum hari Senin," desis Nyonya Walker, matanya menyipit kejam laksana seekor ular.
"Jika kita tidak bisa menyentuh Yara karena perlindungan Maximilian Valerio... maka kita harus menghancurkan fondasi buktinya. Tanpa berkas fisik asli atau salinan digital utamanya, laporan hukumnya di pengadilan hari Senin akan dianggap cacat prosedur."
Tuan Walker menatap istrinya dengan pandangan ragu. "Bagaimana caranya? Dia menyimpan semuanya di apartemen pribadinya. Dan apartemen itu dijaga ketat oleh keamanan modern, belum lagi keberadaan Valerio yang sering menginap di sana."
Sebuah senyuman culas yang sangat tipis kembali terukir di bibir pias Caca. Rasa dendam telah berhasil mengalahkan rasa takutnya untuk sementara waktu.
"Ada satu celah di sistem pemeliharaan gedung yang bisa kita manfaatkan melalui orang dalam."
Caca mengetatkan cengkeramannya pada syal hitamnya, membayangkan wajah anggun Yara yang hancur di bawah kakinya. "Kita tidak perlu menyentuh fisiknya malam ini. Kita hanya perlu melenyapkan seluruh otaknya—berkas itu. Setelah dia kehilangan senjatanya di persidangan hari Senin, Maximilian Valerio juga perlahan akan bosan melihat wanita cacat yang tidak lagi memiliki kegunaan apa-apa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke apartemen Yara, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Jam dinding digital di ruang kerja mengeluarkan bunyi bip halus yang menandakan pergantian waktu.
Yara baru saja menutup laptopnya setelah memastikan seluruh sinkronisasi berkas sekunder ke dalam peladen hukum pribadinya selesai dengan aman. Dia melepaskan penat dengan menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Max yang masih setia menemaninya, duduk di sebuah sofa kecil yang terletak di sudut ruang kerja.
"Selesai?" tanya Max lembut, tangannya bergerak mengusap permukaan lengan baju tidur satin Yara dengan gerakan teratur yang menenangkan.
"Untuk tahap awal, ya," jawab Yara pendek, matanya terpejam menikmati momen kebersamaan mereka yang langka tanpa gangguan dunia luar. "Hari Senin akan menjadi penentuan. Jika hakim menerima draf tuntutanku, Tuan Walker tidak akan pernah melihat matahari bebas lagi selama sisa hidupnya."
Max terdiam sejenak, menatap helai demi helai rambut hitam Yara yang tergerai indah di atas dadanya. "Baby... tentang kasus lain yang kau katakan di ruang kelas Fakultas Bisnis tempo hari... kasus yang membuatmu belum sanggup untuk bercerita padaku..." Max menggantung kalimatnya, memberikan jeda agar Yara tidak merasa terdesak. "Apakah itu ada hubungannya dengan alasan kenapa kau begitu membenci ruangan gelap?"
Yara seketika membuka matanya. Tubuhnya sedikit menegang mendengar pertanyaan lembut namun sangat tepat sasaran dari Max.
Memori tentang kamera tersembunyi, Dan membayangkan bagaimana menjijikkannya para pembeli video Menjadikannya Pelampiasan Hasrat juga nafsu mendadak melintas laksana kilat di benaknya. Rasa perih yang amat sangat dalam kembali mengiris harga dirinya sebagai seorang wanita.
Namun, alih-alih menarik diri seperti yang biasa dia lakukan dulu, Yara justru mempererat pelukannya pada pinggang tegap Max.
Dia membenamkan wajahnya di dada bidang tanpa kain milik kekasih berondongnya itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Max yang selalu berhasil menjadi jangkar bagi kewarasannya.
"Ya, Max... itu ada hubungannya," bisik Yara, suaranya terdengar sangat lirih, sarat akan beban trauma yang luar biasa berat.
"Itu adalah bagian paling busuk dari hidupku. Sebuah bagian di mana aku tidak lebih dari sekadar komoditas komersial bagi orang-orang yang kupanggil keluarga. Aku... aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu setelah persidangan hari Senin selesai. Aku hanya perlu memastikan bahwa bajingan tua itu sudah mengenakan pakaian tahanan terlebih dahulu, agar aku merasa cukup aman untuk membuka luka itu di hadapanmu."
Max merasakan setitik kehangatan yang basah menembus kulit dadanya—air mata Yara. Wanita tangguh yang tidak pernah menangis di depan bentakan musuhnya kini sedang menumpahkan setitik kerapuhannya hanya di dalam dekapannya.
Max mengetatkan pelukannya, mengecup puncak kepala Yara dengan penuh perasaan posesif dan proteksi yang mutlak.
"Aku memegang janjimu, Baby. Menangislah malam ini jika itu membuat bebanmu berkurang. Tapi ingat, hari Senin nanti, aku yang akan memimpin barisan di ruang sidang untuk memastikan bahwa setiap tetes air matamu malam ini dibayar dengan kehancuran total bagi mereka."
Di dalam keheningan malam kamar apartemen itu, di bawah perlindungan lengan kekar seorang Maximilian Valerio, Amieyara Walker akhirnya membiarkan dirinya tertidur dengan lelap—bersiap mengumpulkan seluruh energi kedewasaan dan ketegasan hukumnya untuk menghadapi babak akhir dari kehancuran dinasti keluarga Walker yang akan segera meledak di awal pekan.