NovelToon NovelToon
Pembantu Gendut Istri Kontrak Sang Majikan

Pembantu Gendut Istri Kontrak Sang Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:18.7k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.

Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.


Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

"Tinggalkan saya sendiri," perintah Arga kepada Kartini dengan mata terpejam.

Kartini tertegun menatap Arga yang tampak kacau. Rambut acak-acakkan dan sepatu pantofel masih melekat di kaki. Sungguh aneh Arga tidak melepas alas kaki ketika masuk ke kamar.

Kartini beranjak keluar dari kamar, lalu ke dapur menyiapkan makan malam. Ketika sedang memasak ia masih memikirkan Arga. Apa yang terjadi dengan suaminya.

Sore itu selesai memasak, Kartini mandi di dapur tidak berani masuk ke kamar. Setidaknya menghargai Arga yang tidak mau diganggu.

"Arga belum pulang?" Tanya kakek ketika hendak makan malam.

"Sudah Kek..." Kartini bingung menjelaskan, sebenarnya ia ingin memanggil Arga sejak tadi tapi takut marah. Kartini akhirnya minta tolong bibi. Tidak lama kemudian bibi kembali tanpa Arga.

"Den Arga sudah tidur, Tuan," lapor bibi.

"Kenapa anak itu?" Kakek bingung, tidak biasanya Arga tidur jam tujuh malam.

"Mas Arga sepertinya kurang enak badan Kek, biar istirahat saja," Kartini mengatakan kepada kakek. "Sebaiknya kita makan saja," lanjut Kartini menyiapkan makanan di piring kakek.

Kakek Chandresh mengangguk lalu makan hanya berdua dengan Kartini. Selesai makan, Kartini tidak langsung ke kamar Arga, ia ngobrol dulu bersama Kakek membicarakan untuk acara Gala Dinner besok.

"Kalau gitu sebaiknya Kakek istirahat," Kartini mendorong kursi roda kakek ke kamar. Ia tidak mau kakek kurang tidur dan akhirnya kelelahan karena besok malam harus hadir ke acara.

Jam 10 malam Kartini membuka pintu perlahan-lahan agar tidak mengganggu tidur Arga. Di kamar, Arga sudah pindah ke tempat tidur, tapi masih mengenakan kemeja kantor bahkan sepatunya pun belum dia lepas.

"Ya ampun... kenapa ini orang" batin Kartini menatap Arga yang tidur tengkurap kaki digantung di pinggir tempat tidur. Ia berjongkok lalu melepas sepatu Arga hati-hati. Ia takut bila Arga marah kepadanya dan tiba-tiba sepatu kulit yang tebal itu menendang wajahnya.

"Hiii... ngeri," gumam Kartini, sembari membawa sepatu tersebut meletakkan ke tempatnya. Kartini ambil bantal dan selimut kemudian tidur di kursi sofa yang agak jauh dari Arga. Jika tidur di tempat biasa dan akhirnya ngorok bisa-bisa dilempar cermin atau lampu hias oleh Arga. Pikiran Kartini sedikit berlebihan.

Jam 11 malam, Kartini yang belum lama tidur membuka mata ketika samar-samar mendengar percakapan. "Bos ngobrol sama siapa ya?" gumam Kartini dalam keadaan mata masih mengantuk ia mengikat rambutnya lalu berjalan ke arah suara. Dari belakang kamar itulah suara semakin jelas, yakni balkon. Kartini berhenti di balik pintu yang terbuka setengah.

"Malam-malam gini telepon? Kamu belum tidur sayang?"

Terdengar suara Arga yang tidak kencang tapi masih terdengar jelas di telinga Kartini.

"Bagaimana mau tidur jika kamu tidak memenuhi permintaan aku untuk kawin lari, Mas."

Kartini kaget mendengar rengekan Nadine di telpon yang di loudspeaker. "Hari gini kawin lari? Hihihi..." Kartini tertawa dengan mulut tertutup. Dia akhirnya tahu, itulah alasan Arga syok sampai melewatkan mandi dan makan malam..

"Sayang... seperti yang aku katakan tadi siang, tunggu lima bulan lagi ya."

"Ya sudah, tapi izinkan aku untuk hadir di acara Gala Dinner besok malam."

Hening beberapa saat ini, mungkin Arga tengah berpikir.

"Boleh, tapi apa kamu mau menuruti permintaan aku?" Arga memberi syarat.

"Apa itu, Mas?"

"Kamu boleh hadir, tapi sebaiknya kita jangan berdekatan ya, agar keluarga mengira tidak lagi berhubungan."

"Ya deh."

"Oke... besok lagi ya sayang... dada... mu'ah... mu'ah," Arga mengakhiri panggilan romantis itu, lalu melangkah hendak masuk ke kamar.

Menyadari hal itu, Kartini berjalan cepat kembali ke sofa dan pura-pura tidur. Terdengar langkah mendekat dan akhirnya berhenti di sebelahnya, Kartini menahan napas.

Hingga beberapa detik kemudian Arga kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Kartini membuka selimut yang menutup kepalanya sedikit menatap langkah Arga yang tengah keluar kamar.

"Pasti dia lapar, aku ikuti ah," batin Kartini membuka selimut kemudian ke kamar mandi membasuh wajahnya sebelum akhirnya menyusul Arga. Kartini tersenyum kecil ketika dugaannya benar. Arga makan dengan lahap padahal pria itu biasanya anti makan lewat jam 8 malam.

"Lapar Bos?" Tanya Kartini sembari menarik kursi.

Arga sebenarnya kaget tapi tidak menunjukkan rasa itu, hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan makan.

Kartini menuang air putih untuk Arga dan dirinya lalu menarik kursi. Namun, tidak ada ucapan terima kasih dari Arga.

"Kamu sudah makan?" Tanya Arga. Kata paling lembut yang pernah Kartini dengar selama mempunyai suami Arga.

"Sudah, lah!" jawab Kartini lalu minum air putih. "Katanya makan lewat jam 8 malam sudah waktunya diet, tapi kan sekarang hampir jam 12 malam," sindir Kartini.

"Sejak kapan kamu diet?" Arga melirik sekilas kemudian lanjut makan.

"Bukan saya yang diet, saya hanya ingat kata-kata Bos," Kartini menatap Arga tidak sadar jika ia sindir mungkin sangking lapar.

"Mau makan jam berapa dan sebanyak apa, badan saya tidak akan melar sepertimu," jawabnya santai walau sebenarnya khawatir juga.

"Berat badan Bos berapa?" Kartini menahan tawa, sebab diam-diam ia memperhatikan bahwa tubuh Arga tampak lebih gemuk.

"70 kg," Arga yang tingginya mencapai 182 centimeter tidak terlihat gemuk walau beratnya seperti itu.

"Bos yakin dalam waktu hampir satu bulan ini timbangan tetap stabil?"

"Yakin," Arga percaya diri.

"Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana," Kartini meninggalkan Arga, belum ada satu menit ia membawa timbangan yang berada di ruang keluarga.

"Kamu ini mau apa?" Arga terkejut, tentu saja malu jika timbangan benar-benar naik.

"Ayo naik," Kartini menunjuk timbangan yang sudah ia letakkan di pinggir kaki Arga.

"Nggak mau, ah," Arga justru berdiri melangkah pergi, tapi dengan cepat Kartini menahannya. Hingga terjadi tarik menarik tangan.

"Nimbang dulu," Kartini tidak sadar merangkul pinggang Arga lalu menariknya ke timbangan. Mau tak mau Arga naik tapi tidak mau menatap timbangan.

"Hahaha..." Kartini tertawa.

Arga pun akhirnya menunduk menatap angka yang berhenti di 75.

"Nah kan, hahaha..." Kartini lanjut tertawa lebih kencang merasa berhasil ngerjain Arga.

"Diam!" Arga membekap mulut Kartini. Sepasang suami istri itupun kembali seperti Kucing dengan Anjing tidak menyadari jika semua penghuni rumah sedang tidur lelap.

Dari kamar yang tidak jauh dari tempat itu, kakek tengah duduk di kursi roda, tangannya menyibak gorden tersenyum lebar ketika memperhatikan Arga yang tengah mengejar Kartini ketika naik tangga sambil tertawa.

Hos... hos... hos...

Kartini duduk di karpet sambil ngos ngosan, lumayan juga ketika berlari menapaki anak tangga tadi.

"Kamu mulai ngelunjak ya," Arga yang tiba belakangan ambil bantal hendak memukul badan Kartini.

"Ampun... Ampun, Bos," Kartini menghalangi kepalanya dengan bantal.

Arga menjatuhkan bantal di depan Kartini lalu naik ke tempat tidur. Sementara Kartini menggunakan bantal tersebut untuk menggajal kepalanya. Suasana kamar pun tiba-tiba hening hingga satu menit kemudian.

"Bos," ucap Kartini.

"Apa..." jawab Arga berat.

"Emmm... pacar Bos ngajak kawin lari ya?"

Arga yang masih duduk meninggikan bantal terkejut lalu menatap Kartini tajam. Suasana yang awalnya mulai tenang kembali menegang.

"Kamu tadi nguping pembicaraan saya?!" Ketus Arga.

"Nggak nguping Bos, siapa suruh telepon suaranya kenceng. Sudah gitu loudspeaker lagi," Kartini tersenyum miring.

"Dasar pembohong, ketika aku lewat tadi kamu pura-pura tidur kan?" Arga pun turun dari tempat tidur lalu membungkuk mengangkat dagu Kartini.

"Bos yang selalu ajarkan aku untuk berbohong," jawab Kartini tiba-tiba sedih.

Arga pun akhirnya duduk bersila di hadapan Kartini. "Bohong apa saya?" Melihat ekspresi Kartini, Arga pun kini bertanya serius.

"Apakah Bos belum sadar, selama kita menikah sudah banyak melakukan kebohongan? Kita sudah membohongi Kakek, Ayah Ibumu, Nadine, Mas Teguh dan yang paling menyedihkan kita telah membohongi Tuhan," tiba-tiba saja wajah Kartini memerah, hidung merah, dan air matanya berlinang.

Arga terperangah mendengarnya. Ia mulai mencerna kata-kata Kartini tapi lidahnya kelu untuk menjawab.

"Cari jalan keluar agar aku bisa bebas dari masalah ini, saya sudah tidak kuat lagi, Bos," Kartini akhirnya terisak-isak ingat kedua orang tuanya yang tidak pernah mengajarkan berbohong, tapi kini ia hidup dalam kebohongan yang menutup satu kebohongan di atas kebohongan yang lain hingga memupuk dosa entah sampai kapan.

Arga bukan menjawab tapi justru menunduk, ada apa dengan hari ini? Dua wanita tiba-tiba memberi pilihan yang cukup berat. Yang satu minta kawin lari dan satu lagi ingin menyelesaikan masalah yang belum bisa ia penuhi, keluar dari masalah ini berarti harus menceraikan Kartini.

"Jawab Bos! Jangan diam saja!" Kartini menggoyang kedua lutut Arga di depannya.

...~Bersambung~...

1
Eka ELissa
Arga udh nyaman dgn mu mbul...🤣🤭trus .. lama 2 jatuh cinta dong gundik nya Nadine buang aj ke laut 🤣🤣🤭
Lia siti marlia
cie cie yang ngobrol ngalor ngidul terus di pakein jaket besok besok di ajak bobo bareng deh🤭🤭🤭
Rina
Semoga Arga mulai bisa melihat ketulusan dan kebaikan Kartini 🫢🫢🫢
Dew666
🍭🍭
Sri Devi Oktaviani
hati² bos jatuh cinta😍
Riska Baelah
suka bnget dng panggilan kesayangan arga,"mbul"🤣🤣🤣🤭
lnjut kk👍
Teh Yen
cie.pak.bos so sweet hehe
Teh Yen
mikir Arga mikir dengerin tuh omongannya s.gembul huuuh 😤
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
Cah Dangsambuh
arga arga enak kan si gembul berani ngelawan?kamu sih maruk trus ni siapa lagi yang datang awas arga tar kakek ngedrop lagi
Eka ELissa
spa tuh....taksi online kah....
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
Eka ELissa
kamar.....atau ...kama....Mak....🤣🤭
Buna Seta: Haha typo paling
total 1 replies
Rina
Apakah yang datang itu Kenzo atau Nadine 🫢🫢🫢
Sri Devi Oktaviani
up thor🤭pinisirin
Kampili Sariayu
palingan si nadine..tuh
Lia siti marlia
lah lah siapa tuh yang datang 😄
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
Cah Dangsambuh
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Teh Yen
haah rasain emng enk ,, bangun bangun lah tuh kobra mu hihii
Eka ELissa
kobra mu naksir ma gmbul.... Arga...🤣🤣🤭
Eka ELissa
🤣🤣🤣 astagaaa...kocak ni ko cobra bisa Bagun...🤣🤣🤣
Eka ELissa
spa tau dia...bisa.....bawa mobil.. bawa motor gede kmu aja....
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!