Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pinilaian
“Apa?!"
Semua yang berada di meja makan terkejut mendengar penjelasan Bima yang menjelaskan bahwa Xavero kini bekerja di perusahaan Pramudya Corp dan menjadi asisten Naura.
“Papa serius?” ucap Liora dengan nada tidak percaya.
Bima mengangguk tegas. “Iya, Li. Gara-gara dia, perusahaan Papa gagal menjalin kerja sama dengan Pramudya Corp,” ucapnya kesal. “Padahal itu kesempatan emas untuk Mahendra Group.”
“Kenapa bisa Xavero jadi asisten Naura, Pah? Dia kan cuma seorang buruh pabrik,” tanya Arden dengan nada merendahkan.
“Yang Papa tahu, Nathan yang langsung mengangkat Xavero menjadi asisten untuk adiknya,” jelas Bima.
“Nathan?”
“Iya.”
“Kenapa bisa seseorang seperti Nathan mengangkat dia? Dia kan tidak punya bakat,” sahut Yuliana dengan nada kesal, penuh penilaian.
“Cocoknya tetap jadi kuli pabrik saja,” tambah Layla dengan sinis.
Liora mengepalkan tangannya di bawah meja.
Wajahnya terlihat kesal, namun di balik itu… ada sesuatu yang terusik di dalam dirinya.
“Tidak masuk akal,” ucapnya pelan. “Orang seperti dia bisa masuk ke perusahaan sebesar itu, apalagi langsung jadi asisten pribadi.”
“Li, bukannya kamu yang suruh Arga memecat dia, kan?” ucap Layla.
Liora mengangguk. “Iya, Kak. Arga memecatnya hari itu juga.”
Sementara itu, Bima terdiam.
Ia masih ingat jelas tatapan Xavero saat itu—dingin, penuh arti dan kalimat yang sempat terucap.
Ini baru permulaan.
Bima menggelengkan kepalanya pelan, seolah menolak kemungkinan itu.
“Tidak,” ucapnya tegas. “Dia harus kembali ke tempat asalnya. Menjadi asisten Naura, terlalu tinggi untuk orang serendah dia.”
Semua yang berada di meja makan mengangguk setuju, sejalan dengan ucapan Bima.
Suasana meja makan kembali hening, namun bukan hening yang tenang, melainkan hening yang dipenuhi kesepakatan diam-diam.
Arden menyandarkan tubuhnya, sudut bibirnya terangkat meremehkan.
“Orang seperti dia, cepat atau lambat juga bakal jatuh sendiri.”
Yuliana mengangguk pelan.
“Lingkungan seperti itu bukan tempatnya. Pasti akan ketahuan juga kualitas aslinya.”
Layla terkekeh kecil, memainkan sendoknya.
“Paling cuma numpang nama. Nanti juga disingkirkan.”
Liora masih diam.
Tatapannya menunduk ke arah piringnya, tapi pikirannya jauh ke mana-mana.
“Xavero jadi asisten?” gumamnya pelan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus jatuh. Di sana bukan tempatnya,” lanjutnya penuh tekad.
“Kamu ada rencana?” tanya Layla, menatap adiknya lekat. “Tidak mungkin, kan, kamu diam saja.”
Liora menoleh pada sang kakak, lalu mengangguk perlahan sambil menyunggingkan senyum miring.
“Tentu saja aku punya,” ucapnya pelan, namun penuh keyakinan.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Bima sedikit menyandarkan tubuhnya, jelas tertarik.
“Rencana seperti apa, Li?” tanyanya tenang, namun sarat rasa ingin tahu.
Liora tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyum miring masih menghiasi wajahnya.
“Arga.”
Semua yang ada di meja langsung mengangguk paham.
“Jangan sampai gagal,” ucap Yuliana mengingatkan.
Liora berdiri dari kursinya, meraih ponselnya yang terletak di atas meja.
“Aku tidak pernah gagal,” ucapnya singkat.
°°
“Apa agenda utama saya hari ini?”
“Hari ini Anda memiliki meeting dengan klien luar negeri dan tim investigasi setelah makan siang, Nona. Lokasinya di restoran wilayah timur. Seluruh berkas telah saya siapkan,” jawab Xavero dengan tenang, namun tetap sopan.
Naura mengangguk pelan. Ia bersandar pada kursi, matanya sekilas menatap jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa waktu sebelum meeting dimulai.
“Hmm, baiklah. Kamu boleh pergi.”
Xavero mengangguk hormat, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan Naura dengan langkah tenang.
Dring!
Suara notifikasi dari ponselnya terdengar pelan di tengah ruangan yang kembali sunyi. Naura meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu melihat nama yang tertera di layar.
Ia langsung mengangkatnya.
“Halo, Dad?”
“Kamu sibuk hari ini?”
“Aku mulai sibuk setelah makan siang. Ada apa, Dad?”
“Temui Daddy sebelum makan siang,” ucap suara di seberang sana, tenang namun tegas.
“Di restoran dekat kantor kamu.”
Naura mengernyit tipis.
“Sebelum makan siang?” ulangnya.
“Iya,” jawab sang Daddy singkat. “Dan bawa asisten kamu.”
Naura terdiam sesaat.
“Asisten?” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan.
“Iya. Ajak dia,” tegasnya.
Naura menatap kosong ke depan selama beberapa detik.
“Ada yang ingin Daddy bicarakan?” tanyanya, mencoba menangkap maksud di balik permintaan itu.
“Daddy hanya ingin memastikan sesuatu,” jawabnya singkat. “Jangan terlambat.”
Sambungan terputus.
Naura menatap ponselnya beberapa detik.
Alisnya masih sedikit berkerut.
Kenapa harus Xavero?
Naura meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lalu menekan tombol interkom.
“Xavero, masuk.”
Beberapa detik kemudian, ketukan terdengar.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Xavero melangkah masuk dengan sikap tegap dan tenang.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” ucapnya sopan.
Naura menatapnya sejenak, seolah masih menimbang sesuatu.
“Kita ada perubahan jadwal.”
Xavero menunggu.
“Sebelum meeting, saya harus menemui Daddy di restoran dekat kantor.”
Xavero mengangguk.
“Baik, Nona.”
Naura berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tetap tenang.
“Kamu ikut.”
Xavero sedikit mengangkat pandangan, tapi ekspresinya tetap datar dan profesional.
“Baik, Nona.”
Meski jawabannya singkat, dalam hatinya ada tanda tanya kecil.
°°
Mobil sedan hitam milik Naura berhenti di sebuah restoran yang tak jauh dari kantornya.
Xavero turun lebih dulu dengan sigap, lalu membukakan pintu untuk Naura.
“Makasih, Vero.”
Xavero mengangguk sopan, kemudian menutup kembali pintu mobil dengan hati-hati. Tanpa banyak bicara, ia berjalan mengikuti Naura dari belakang dengan langkah teratur dan sikap profesional.
Restoran itu tidak terlalu ramai, namun jelas terlihat eksklusif.
Interiornya didominasi warna gelap dengan sentuhan emas, memberikan kesan elegan sekaligus menenangkan.
Di salah satu sudut, seorang pria paruh baya duduk dengan tenang.
Setelan jasnya rapi, sorot matanya tajam, dan aura wibawanya terasa bahkan tanpa perlu berbicara.
Nicolas Evander Pramudya—Daddy Naura.
Tangannya bertumpu santai di atas meja, namun dari caranya duduk saja, jelas ia bukan orang biasa.
Tak lama—
Naura datang.
Langkahnya tenang, anggun seperti biasa.
Di belakangnya, Xavero mengikuti dengan jarak yang pas, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Tatapan Daddy langsung tertuju pada mereka.
Lebih tepatnya, pada Xavero.
Naura berhenti di depan meja.
“Maaf membuat Daddy menunggu.”
Daddy mengangguk tipis.
“Duduk.”
Naura menarik kursinya.
Xavero tetap berdiri beberapa detik, menunggu instruksi.
Naura melirik sekilas.
“Duduk.”
Xavero mengangguk sopan.
“Terima kasih, Nona.”
Ia duduk dengan posisi tegap, tidak menunjukkan rasa canggung sedikit pun.
Namun, tatapan Nico masih tertuju padanya.
Menilai.
Mengukur, tanpa kata. Hening sejenak.
Pelayan datang, menyajikan minuman, lalu pergi tanpa mengganggu suasana.
Baru setelah itu, Nico bersuara.
“Kamu asisten baru Naura?”
Nada suaranya tenang.
Namun ada tekanan halus di dalamnya.
Xavero menatap dengan sopan.
“Iya, Tuan.”
Singkat.
Jelas.
Tanpa berlebihan.
Daddy tidak langsung merespons.
Ia hanya menatap beberapa detik lebih lama.
Seolah mencari sesuatu.
“Kamu yang ikut dalam meeting kemarin?” tanyanya lagi.
“Iya, Tuan.”
Naura sedikit melirik ke arah Xavero, memperhatikan.
Daddy menyandarkan tubuhnya perlahan.
“Jadi, keputusan untuk menolak kerja sama itu,” ucapnya pelan, “berasal dari kamu?”
Hening.
Pertanyaan itu, jelas bukan pertanyaan biasa.
Lebih seperti, ujian.
Naura tidak langsung menyela.
Ia ingin mendengar.
Xavero tidak terburu-buru menjawab.
Ia menarik napas kecil.
“Bukan sepenuhnya dari saya, Tuan,” ucapnya tenang.
“Saya hanya menyampaikan analisis.”
Tatapan mereka bertemu.
“Keputusan tetap ada pada Nona Naura.”
Jawaban itu, rapi.
Aman.
Tapi tetap menunjukkan posisi.
Nico menyipitkan mata tipis.
“Analisis seperti apa?” tanyanya lagi, kali ini sedikit lebih dalam.
Naura kini benar-benar memperhatikan.
Xavero membuka sedikit posisi duduknya, tetap tenang.
“Pendekatan Mahendra Group terlalu agresif,” ucapnya.
“Risiko jangka panjangnya tinggi.”
Ia melanjutkan tanpa ragu sedikit pun.
“Dan tidak sejalan dengan prinsip stabilitas yang dijaga oleh Pramudya Corp.”
Hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Hanya tatapan Nico yang semakin dalam.
Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya.
Naura menahan napas kecil tanpa sadar.
Menunggu, reaksi berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya, Daddy tidak langsung berbicara.
Tatapannya masih tertuju pada Xavero,
seolah sedang memutuskan sesuatu di dalam pikirannya.
“Nathan tidak pernah salah menilai seseorang,” ucapnya dengan tenang, penuh wibawa. “Kamu sebelumnya hanya seorang buruh, bukan?”
“Benar, Tuan. Tapi itu tidak menghalangi saya untuk terus belajar lebih,” jawab Xavero dengan tenang, tanpa menunjukkan emosi.
Nico tidak langsung merespons.
Tatapannya masih tertuju pada Xavero… dalam, tajam, seolah menembus sampai ke lapisan yang tidak terlihat.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan.
Lalu, sudut bibir Nico terangkat tipis.
Bukan senyum ramah.
Lebih seperti, tanda bahwa ia menemukan sesuatu yang menarik.
“Jawaban yang bagus,” ucapnya tenang.
Naura sedikit mengangkat alisnya, memperhatikan perubahan kecil itu.
Jarang, sangat jarang. Daddy-nya memberikan respona seperti itu pada orang baru.
Nico menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai.
Tatapannya yang tadi tajam… kini sedikit melunak, meski wibawanya tetap terasa kuat.
“Cukup,” ucapnya singkat.
Naura langsung menangkap maksudnya.
Ia menoleh sekilas ke arah Xavero.
Sementara itu, Xavero tetap duduk tegap.
Tenang.
Seolah memang tidak ada yang perlu dibuktikan lagi.
Nico melirik ke arah pelayan yang sejak tadi menjaga jarak.
“Pesanan,” ucapnya singkat.
Pelayan itu langsung mengangguk dan bergerak cepat.
Beberapa menit kemudian, hidangan mulai tersaji satu per satu di atas meja.
Aroma makanan memenuhi udara, namun tidak menghilangkan suasana elegan yang tetap terasa.
“Anggap saja ini makan siang,” lanjut Nico datar.
Naura sedikit menghela napas dalam hati.
Setidaknya, ketegangan tadi sudah lewat.
“Terima kasih, Dad,” ucapnya.
Nico tidak menjawab.
Ia hanya mulai mengambil makanannya dengan tenang.
Beberapa detik kemudian, Naura menoleh ke arah Xavero.
“Kamu juga makan.”
Xavero mengangguk sopan.
“Terima kasih, Nona.”
Ia mulai makan dengan sikap yang tetap terjaga. Tidak terburu-buru, tidak berlebihan.
Nico memperhatikan, akhirnya bicara lagi.
“Kamu tahu,” ucapnya tanpa menatap langsung, “posisi yang kamu tempati sekarang, bukan posisi yang mudah.”
Xavero berhenti sejenak, lalu mengangkat pandangannya.
“Saya paham, Tuan.”
Nico kini menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
“Banyak orang yang ingin berada di posisi itu,” lanjutnya.
“Dan lebih banyak lagi, yang menunggu kamu jatuh.”
Kalimatnya datar.
Namun maknanya dalam.
Xavero tidak mengalihkan pandangan.
“Saya tidak akan memberi mereka kesempatan itu,” jawabnya tenang.
Naura sedikit melirik ke arah Xavero.
Ada sesuatu dalam cara pria itu menjawab…
yang membuatnya semakin yakin.
Nico terdiam sejenak.
Lalu, ia mengangguk tipis.
Cukup.
Tidak ada pujian berlebihan.
Tapi itu, sudah lebih dari cukup.
Setelah itu, suasana sedikit berubah.
Lebih santai, meski tetap dalam batas wibawa.
Naura menatap Daddy-nya.
“Jadi… Daddy sengaja memanggil aku hanya untuk ini?” tanyanya.
Nico menyeka tangannya dengan napkin, lalu menatap putrinya.
“Kamu pikir Daddy punya banyak waktu untuk hal yang tidak penting?” balasnya tenang.
Naura mendengus kecil.
“Berarti ini penting?”
Nico tidak langsung menjawab.
Ia melirik sekilas ke arah Xavero, lalu kembali pada Naura.
“Orang yang berada di dekat kamu, harus jelas kualitasnya.”
Nada suaranya tegas.
Tanpa kompromi.
Naura terdiam sejenak.
Lalu mengangguk pelan.
“Aku sudah bilang, kan,” ucapnya santai, “aku tidak asal pilih.”
Nico menyipitkan mata tipis.
“Bukan kamu yang memilih.”
Naura terdiam.
Lalu tersenyum tipis.
“Iya, tapi sekarang dia di bawah tanggung jawabku.”
Tatapan mereka bertemu.
Ada sedikit ketegangan kecil, khas ayah dan anak.
Namun, tidak berlangsung lama.
Nico kembali menyandarkan tubuhnya.
“Pastikan dia tidak mengecewakan.”
Naura menoleh sekilas ke arah Xavero.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sejauh ini, dia belum pernah.”
Setelah beberapa saat, makan siang pun berakhir. Xavero melirik jam di ponselnya, memastikan waktu yang tersisa.
“Nona, beberapa jam lagi kita akan meeting. Kita harus segera kembali,” ucapnya dengan sopan.
Naura mengangguk, lalu menoleh pada daddynya. “Daddy, aku pamit dulu,” ucapnya sambil beranjak dari duduknya, diikuti oleh Xavero.
Nico hanya mengangguk singkat. “Hati-hati.”
Xavero menunduk sopan pada Nico. “Saya permisi, Tuan.”
“Hm.”
Setelah Naura dan Xavero meninggalkan restoran, Nico tetap duduk di tempatnya. Ia menatap foto yang terpampang di layar ponselnya, sorot matanya berubah dalam.
“Dia sangat mirip… seperti waktu masih muda,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menghubungi seseorang.
“Temui gue malam ini di tempat biasa. Ada hal penting.”