Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pagi di villa itu datang tanpa kehangatan. Cahaya matahari masuk lewat tirai tipis berwarna krem, jatuh lembut di lantai marmer yang dingin, tapi tidak mampu mengusir rasa hampa yang sejak semalam menempel di dada Alexa. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa ringan, tapi kepalanya berat, seperti baru saja melewati mimpi panjang yang terlalu nyata untuk dilupakan.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Di luar, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, membuat suasana terlihat indah sekaligus sepi. Tidak ada suara tawa, tidak ada suara motor lewat, tidak ada suara Genesis memanggilnya dari dapur.
“Pagi, Lex… makan dulu,” suara itu tiba-tiba terlintas di kepalanya, begitu jelas sampai membuat napasnya tersendat.
Alexa menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam.
“Jangan… jangan mulai lagi…” bisiknya pelan, mencoba menahan diri. Ia sudah terlalu lelah menangis semalaman. Hari ini, ia tidak ingin terlihat lemah, setidaknya di depan orang-orang di rumah ini.
Pintu kamar diketuk dua kali, ringan tapi tegas.
“Nona, sarapan sudah siap. Tuan Genta juga sudah menunggu di bawah,” suara pelayan terdengar dari balik pintu.
Nama itu lagi.
Jantung Alexa berdebar satu detik lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu berdiri. “Iya… aku turun,” jawabnya singkat, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan.
Beberapa menit kemudian, Alexa sudah duduk di ruang makan villa yang luas, meja panjang dengan taplak putih bersih dan hidangan yang tersusun rapi di atasnya. Roti panggang, telur setengah matang, jus buah segar, kopi hangat yang mengepul pelan. Semua terlihat sempurna, terlalu sempurna.
Dan di ujung meja, duduk pria itu.
Genta.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang, matanya fokus membaca sesuatu di tablet di tangannya. Tidak ada kesan memaksa, tidak ada aura menekan. Justru… terlalu normal untuk seseorang yang disebut-sebut sebagai calon suami yang “ditentukan”.
Alexa berhenti sejenak sebelum benar-benar mendekat. Entah kenapa, setiap kali melihatnya, dadanya selalu terasa aneh. Bukan seperti saat melihat Genesis yang membuat jantungnya berdebar hangat… ini berbeda. Lebih dalam. Lebih berat. Seperti sesuatu yang pernah ia kenal… tapi terkubur lama.
“Pagi,” suara Genta memecah keheningan, tanpa menoleh. Seolah ia sudah tahu Alexa berdiri di sana.
Alexa tersentak kecil, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengannya. “Pagi,” jawabnya pelan.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring dan detak jam dinding yang terdengar.
Genta akhirnya meletakkan tabletnya, menatap Alexa lurus. “Kamu kelihatan capek,” katanya datar, tapi tidak dingin.
Alexa mengangkat bahu pelan. “Kurang tidur,” jawabnya singkat.
“Masih belum terbiasa?” tanya Genta lagi, kali ini sedikit lebih lembut.
Alexa mengangguk. “Tempatnya… terlalu sepi,” jawabnya jujur.
Genta tersenyum tipis. “Lucu ya. Kebanyakan orang justru cari tempat seperti ini buat kabur dari keramaian.”
Alexa tanpa sadar ikut tersenyum kecil, tapi cepat menghilang. “Mungkin karena aku kebiasaannya kebalik,” gumamnya.
Genta memperhatikannya beberapa detik lebih lama. Ada sesuatu di cara Alexa bicara, cara ia menatap, cara ia memilih kata… yang terasa tidak asing. Tapi ia tidak langsung mengungkapkannya.
“Coba makan dulu. Jangan cuma duduk doang,” katanya akhirnya, mendorong piring ke arah Alexa sedikit.
Alexa mengambil roti, menggigit kecil, lalu tanpa sadar berkata, “Kamu masih suka minum kopi tanpa gula ya?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Alexa membeku di tempat. Tangannya berhenti di udara, matanya perlahan membesar. Ia sendiri kaget dengan apa yang baru saja ia katakan.
Genta juga diam. Tatapannya berubah, sedikit lebih tajam. “Masih?” ulangnya pelan.
Alexa menelan ludah. “Maksudku… kebanyakan orang kan nggak suka pahit…” ia mencoba mengalihkan, tapi suaranya tidak meyakinkan.
Genta tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir kopinya, menatap permukaan hitam itu sejenak, lalu kembali menatap Alexa. “Aku memang nggak suka yang manis,” katanya pelan.
Deg.
Ada sesuatu di dalam dada Alexa yang seperti ditarik paksa. Kalimat itu… cara dia mengucapkannya… intonasinya…
Tiba-tiba, kepalanya terasa berdenyut. Sebuah potongan muncul begitu saja.
Hujan deras. Bau tanah basah. Seorang pria berdiri di depannya, tertawa kecil sambil memegang dua gelas plastik.
“Aku pesenin kamu yang manis. Kamu kan nggak tahan pahit,” suara itu terdengar hangat.
“Kalau kamu?” tanya seorang wanita.
Pria itu mengangkat bahu, tersenyum santai. “Aku? Aku nggak suka yang manis. Cepat enek.”
Kilasan itu hilang secepat datangnya.
“Ah—” Alexa memegangi pelipisnya, napasnya sedikit terengah.
“Kamu kenapa?” Genta langsung berdiri setengah dari kursinya, nada suaranya berubah lebih serius.
Alexa menggeleng cepat. “Nggak… cuma pusing dikit,” jawabnya, meski jantungnya berdetak tidak normal.
Ia menunduk, mencoba menenangkan diri. Tapi kepalanya seperti dipenuhi suara, potongan-potongan kecil yang tidak utuh, gambar yang samar tapi terasa nyata.
Ini… bukan imajinasi.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Genta. Pria itu masih memperhatikannya, alisnya sedikit berkerut.
“Genta…” panggil Alexa pelan.
“Iya?”
Alexa ragu sejenak, tapi sesuatu mendorongnya untuk bertanya. “Kamu… pernah ke tempat yang banyak pohon pinus… jalanannya kecil, sering hujan… terus di dekatnya ada warung kopi sederhana?” tanyanya hati-hati.
Genta mengerjap pelan, jelas tidak menyangka pertanyaan itu. “Tempat seperti itu banyak,” jawabnya netral.
“Tapi yang… yang ada ayunan kayu di depannya,” tambah Alexa cepat, napasnya sedikit memburu.
Genta terdiam beberapa detik. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi ada kilatan kecil di matanya. “Aku nggak ingat,” jawabnya akhirnya.
Jawaban itu sederhana, tapi tidak menenangkan.
Alexa menatapnya lekat-lekat. “Kamu beneran nggak ingat… atau kamu nggak mau ingat?” bisiknya tanpa sadar.
Genta menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap balik dengan tenang. “Pertanyaan kamu aneh pagi-pagi begini,” katanya pelan. “Dan cara kamu nanya… seolah-olah kamu pernah ada di sana.”
Alexa terdiam.
Iya.
Seolah-olah.
Padahal… itu bukan seolah-olah.
Ia menunduk lagi, jari-jarinya mencengkeram ujung meja. “Aku juga nggak ngerti kenapa aku tau…” suaranya melemah.
Genta tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan Alexa lebih dalam, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat.
Di saat yang sama, di tempat lain, Genesis berdiri di balik deretan pohon pinus di luar pagar villa itu. Jaketnya basah oleh embun, sepatu yang ia pakai penuh lumpur, tapi matanya fokus menatap bangunan besar di kejauhan.
“Jadi ini tempatnya…” gumamnya pelan.
Sejak subuh ia sudah di sana. Mengamati. Menghitung jarak. Mencari celah. Ia tahu ia tidak bisa asal masuk. Ini bukan rumah biasa. Ini benteng.
Seorang penjaga lewat di dekatnya, membuat Genesis segera merunduk, menahan napas. Setelah keadaan aman, ia kembali mengintip.
Dari kejauhan, ia bisa melihat jendela besar di lantai bawah. Bayangan dua orang duduk berhadapan samar terlihat dari balik tirai tipis.
Dadanya langsung menegang.
“Lex…” bisiknya lirih.
Tangannya mengepal kuat. Ia belum bisa masuk. Belum sekarang. Tapi satu hal sudah jelas di kepalanya—ia tidak akan pergi sebelum membawa Alexa keluar dari tempat itu.
Kembali di dalam villa, Alexa berdiri sendirian di balkon kamar setelah sarapan itu berakhir tanpa kesimpulan. Angin pagi menyentuh wajahnya, tapi tidak mampu menenangkan pikirannya.
Ia memegang kepalanya, memejamkan mata.
Potongan itu masih terasa.
Suara itu.
Hujan itu.
Dan pria itu.
Ia membuka matanya perlahan, menatap langit yang mulai cerah.
“Kalau kamu memang dia…” bisiknya pelan, suaranya hampir tidak terdengar oleh siapa pun.
Napasnya bergetar.
“Kalau kamu benar-benar Genta… yang dulu…”
Ia menggigit bibir, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Lalu selama ini… siapa yang mati?”