Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk dipangkuan
Raisa kembali duduk di kursinya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih cepat.
Ia sempat melirik ke bawah meja Evan masih di sana, diam tapi waspada.
Raisa menatap Mona.
"Makan yang banyak ya… kamu tadi kelihatan lemes," ucapnya, berusaha terdengar normal.
Mona mengangguk kecil, tersenyum tipis.
"Iya… mungkin cuma kecapekan aja."
Raisa memperhatikan wajah Mona lebih lama.
"Kamu pucet banget… apa perlu aku anter ke dokter?" tanyanya pelan.
Mona langsung menggeleng.
"Nggak usah… aku memang mau ke dokter habis ini."
Raisa mengangguk.
"Mau nambah lagi nggak?"
Mona menggeleng lagi.
"Segini aja cukup."
Suasana sempat hening sejenak, lalu Mona kembali membuka pembicaraan.
"Ngomong-ngomong… kamu serius sama pacar kamu sekarang?" tanyanya.
Raisa mengangkat bahu kecil.
"Aku nggak tahu… namanya juga jodoh, rahasia Tuhan."
Mona menatapnya lekat.
"Ngomong-ngomong… pacar kamu kenapa belum turun? Nggak sarapan? Atau sudah pergi?"
Raisa menjawab cepat,
"Dia masih tidur."
Di bawah meja, Evan malah menggoda, membuat Raisa sedikit menegang.
Mona hanya mengangguk pelan.
"Oh… gitu."
Namun dalam hatinya, Mona berpikir lain.
"Kenapa belum bangun juga… kalau aku kenal siapa dia, bisa aku ajak kerja sama," batinnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Mona sedikit kaget.
"Astaga… kenapa Theo telepon sekarang…" gumamnya dalam hati.
Ia berdiri.
"Aku angkat telepon dulu ya."
"Iya," jawab Raisa.
Mona berjalan menjauh menuju kamar.
Begitu Mona hilang dari pandangan Evan langsung keluar dari bawah meja, naik dari samping Raisa.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mencium bibir Raisa.
"Mas—!" Raisa kaget.
Evan tersenyum tipis.
"Dia sudah pergi," ucapnya pelan.
Raisa mendorong pelan.
"Minggir… sempit, mas."
Evan justru bergeser, lalu menarik Raisa dan mendudukkannya di pangkuannya.
Raisa kembali salah tingkah jantungnya berdetak kencang.
Evan mendekat, lalu berbisik pelan di telinga Raisa.
"Suapin mas, Sa…"
Raisa langsung merinding.
"Ih… geli, mas," ucapnya sambil sedikit menjauh.
Evan tersenyum tipis.
"Yaudah… tapi tetap disuapin."
Raisa menghela napas kecil, lalu mengambil piring di meja. Ia menggeser posisinya agar lebih nyaman, kemudian menatap Evan.
"Kamu ini ya…"
Ia mengambil satu sendok nasi goreng, lalu menyuapkannya.
"Buka mulut."
Evan menurut.
"Ah…"
Setelah menelan, Evan tersenyum puas.
"Enak banget… makin spesial kalau kamu yang nyuapin."
Raisa memutar mata.
"Gombal terus."
Evan terkekeh pelan.
"Yang penting kamu nurut."
Raisa kembali menyuapinya, meski sesekali melirik ke arah kamar, memastikan Mona belum keluar.
"Cepet makan… nanti dia keluar lagi," bisiknya pelan.
Evan mengangguk santai.
"Tenang aja… selama sama kamu, mas bisa sabar."
Raisa hanya menggeleng kecil tapi diam-diam, wajahnya memerah.
Raisa tiba-tiba menegang, wajahnya sedikit bingung.
"Mas… aku ngerasa ada yang… ganjel di bawah," ucapnya pelan.
Evan tersenyum tipis, menatapnya dengan penuh arti.
"Masa kamu nggak paham, sayang?" ucapnya rendah. "Memangnya… selama ini Aditya nggak pernah begitu?"
Raisa langsung menggeleng.
"Aku nggak pernah… duduk kayak gini sama dia," jawabnya jujur.
Evan mengangkat alis, sedikit heran.
"Kamu nikah lima bulan… terus ngapain aja?" tanyanya.
Raisa menunduk, suaranya melemah.
"Kita… ya cuma hidup bareng aja. Dia jarang di rumah… kalau pun ada, ya biasa aja."
Evan terdiam sejenak, ekspresinya berubah lebih serius.
"Mas nggak bermaksud bikin kamu ingat hal yang nggak enak," ucapnya pelan. "Mulai sekarang… kita jalanin semuanya pelan-pelan. Mas bakal wujudin apa aja Love language kamu."
Ia mengangkat dagu Raisa perlahan, menatapnya sebentar, lalu mendekat.
Raisa sempat terdiam sebelum akhirnya membalas, napasnya sedikit tak teratur.
"Mmmh…"
Di tengah kedekatan itu, Raisa tiba-tiba tersadar.
"Mas… piringnya nanti jatuh…" ucapnya pelan di sela-sela momen itu.
Evan tersenyum tipis, lalu sedikit menjauh.
"Kamu ini ya… masih sempat mikirin piring," godanya ringan.
Raisa menunduk malu, tapi tangannya tetap berusaha menjaga piring agar tidak jatuh.
Suara Mona tiba-tiba terdengar dari arah depan.
"Sa… aku mau pulang sekarang ya."
Raisa langsung kaget, refleks menoleh ke arah pintu.
"Mas… ngumpet! Mona datang!" bisiknya panik.
Evan yang masih dekat dengannya langsung berdiri cepat.
"Seriusan dia sudah di sini?" ucapnya pelan.
"Iya, cepet!" desak Raisa.
Evan buru-buru menyingkir, mencari tempat sembunyi lagi.
Raisa langsung merapikan diri, menarik napas dalam, lalu berjalan keluar seolah tidak terjadi apa-apa.
Mona sudah berdiri dengan tas di tangan.
"Kamu buru-buru banget, nggak sarapan dulu?" tanya Raisa.
Mona menggeleng.
"Nggak, aku harus ke dokter."
Raisa mengangguk.
"Oh… yaudah, hati-hati ya."
Mona menatap Raisa sebentar, lalu tersenyum tipis.
"Iya, Sa… makasih ya sudah nginepin."
Raisa membalas senyum itu.
"Iya, sama-sama."
Mona berbalik pergi.
Begitu pintu tertutup Raisa langsung menghela napas lega.
"Huft… akhirnya…" gumamnya pelan.
Evan keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menatap Raisa yang masih berdiri di ruang depan.
"Udah aman?" tanyanya santai.
Raisa mengangguk sambil menghela napas panjang.
"Udah… dia sudah pergi."
Evan tersenyum tipis, lalu mendekat.
"Yaudah… sekarang kamu mandi, siap-siap," ucapnya.
Raisa mengernyit.
"Siap-siap ke mana?"
Evan menatapnya serius.
"Kita ke rumah mami sama papa."
Raisa langsung terdiam.
"Sekarang?" tanyanya ragu.
Evan mengangguk mantap.
"Iya. Sekalian mas kenalin kamu dengan cara yang benar."
Raisa terlihat gugup.
"Tapi… aku belum siap, mas…"
Evan menggenggam tangannya.
"Nggak ada kata siap atau nggak. Mas ada di samping kamu."
Raisa menatapnya, masih bimbang.
"Mas serius?"
Evan mengangguk.
"Serius. Jadi ayo… mandi dulu, jangan lama-lama."
Raisa akhirnya menghela napas pelan.
"Iya… aku siap-siap dulu."
Evan tersenyum kecil.
"Good girl."
Raisa langsung melotot.
"Ih, apaan sih…"
Evan hanya tertawa pelan, sementara Raisa bergegas ke kamar bersiap menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perasaan mereka.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya