Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Semua Panik
Di sebuah kamar yang cukup bagus dan terawat, tampak sesosok gadis terbaring lemah di atas kasur. Tangan dan kakinya terikat kuat hingga ia tidak bisa bergerak bebas. Ternyata, gadis itu adalah Bianca yang kini dikurung di tempat asing itu. Ia terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya, namun usahanya selalu sia-sia karena ikatannya terbuat dari tali yang sangat kuat.
Bianca kemudian mencoba meraih tas kecil yang sempat dibawanya saat ditangkap. Ia berusaha sekuat tenaga hingga akhirnya tangannya berhasil menyentuh tas itu dan mengeluarkan ponselnya dari dalamnya. Tanpa membuang waktu, Bianca segera menghubungi nomor telepon Leo, satu-satunya orang yang pertama kali terlintas di pikirannya saat itu.
Namun sayang sekali, saat itu Leo sedang berada di dekat Aza di rumahnya. Ketika ponsel Leo berdering terus-menerus, Aza segera melirik dan melihat nama penelepon yang tertera di layar. Matanya seketika terbelalak kaget dan bingung. "Kenapa Bianca bisa menelepon Leo? Bukankah seharusnya dia sudah tidak bisa menghubungi siapa pun?" batinnya panik. Aza mencoba mengangkat telepon itu, namun ia hanya diam mendengarkan suara dari seberang sana.
"Leo... Tolong aku... Aku diculik..." suara Bianca terdengar lirih dan penuh ketakutan dari dalam telepon.
Begitu mendengar ucapan itu, wajah Aza berubah garang. Ia langsung mematikan sambungan telepon itu dan segera menghapus riwayat panggilan masuk dari Bianca agar Leo tidak mengetahuinya.
"Syukurlah Leo sedang pergi ke kamar mandi. Kalau tidak, rencana gue pasti hancur seketika," gumam Aza lega seraya mengembuskan napas panjang.
Tanpa membuang waktu lagi, Aza segera menelepon Bayu, orang suruhannya. Ia memerintahkan Bayu untuk segera mengambil ponsel milik Bianca. Tak lama kemudian, Bayu masuk ke kamar tempat Bianca dikurung dan merebut ponsel itu dari tangan Bianca. Bianca berusaha berteriak meminta tolong sekuat tenaganya, namun Bayu dengan sigap menutup mulut Bianca menggunakan lakban lebar agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.
Setelah tugasnya selesai, Bayu melaporkan kepada Aza bahwa semua perintahnya telah terlaksana dengan baik. Mendengar laporan itu, Aza tersenyum lebar dengan tatapan licik dan bahagia, merasa sangat puas karena semua rencananya berjalan mulus sesuai keinginannya.
(Kilas Balik Aza)
Semuanya berawal saat Aza berada di kamarnya. Ia berusaha mencari nomor telepon Dinda yang digunakan saat ini. Bagi Aza, hal itu bukanlah hal yang sulit karena di dalam grup kampus, seluruh nomor telepon mahasiswa tersimpan lengkap di sana.
Keesokan paginya, Aza mulai mengawasi gerak-gerik Dinda yang tampak sangat murung dan bersedih. Ia terus menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan rencananya. Tepat saat jam istirahat, Aza mulai beraksi dengan menelepon dan meneror Dinda, membuat keadaan mental gadis itu semakin kacau dan ketakutan.
Setelah jam kuliah selesai dan kampus sepi, Aza menyuruh Bayu untuk menelepon Dinda kembali dan mengancamnya agar membawa Bianca ke alamat yang sepi dan terpencil. Di sanalah Bayu menunggu dan menangkap Bianca, lalu membawanya untuk dikurung di tempat tersembunyi itu.
(Kilas Balik Berakhir)
"Kali ini tidak akan ada yang bisa menolong Lo Bi," gumam Aza dengan nada penuh kemenangan. "Barra pasti sibuk sekali karena hari ini ibunya baru pulang dari luar negeri. Sedangkan Leo, akan gue buat sibuk bersama gue seharian ini agar dia tidak ke mana-mana," sambungnya dalam hati.
Aza merasa sangat senang dan puas karena rencananya berjalan sukses sempurna. Walaupun sejauh ini ia belum memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Bianca nanti, ia berjanji akan memikirkannya dengan matang setelah Leo pulang nanti.
Dari kejauhan, Leo yang baru saja kembali dari kamar mandi melihat Aza tertawa sendiri dengan wajah yang tampak sangat bahagia. Rasa penasaran Leo timbul melihat tingkah aneh itu. Ia pun segera menghampiri Aza.
"Kamu kenapa, Za? Kok terlihat sangat senang sekali? Ada kabar gembira apa?" tanya Leo sambil tersenyum ramah dan penasaran.
Kaget karena kedatangan Leo yang tiba-tiba, tangan Aza gemetar hingga ponselnya terlepas dan jatuh ke lantai. Leo bermaksud membantu mengambilkan ponsel itu, namun Aza lebih sigap dan cepat memungutnya sebelum Leo sempat menyentuhnya. Ia takut jika Leo melihat riwayat panggilannya dengan Bayu.
"Tidak apa-apa kok. Aku cuma senang saja bisa mengobrol dan menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu lagi," jawab Aza berusaha tenang, mencoba mengalihkan pikiran Leo agar tidak curiga.
Di tempat lain, Ella sedang sibuk mencoba menghubungi bibinya yang berada di luar negeri untuk meminta bantuan melacak keberadaan Bianca melalui gelang yang dipakainya. Sementara itu, Dinda terus mencoba menghubungi nomor telepon Leo, namun,ponsel Leo tidak aktif. Dinda tidak mau putus asa, ia pun segera menelepon Barra untuk meminta bantuannya. Ia berpikir semakin banyak orang yang mencari, semakin besar peluang mereka menemukan Bianca dengan selamat.
Di seberang telepon, Barra mengangkat panggilan itu. "Maaf ya, Din. gue lagi menemani Mama nih, nanti gue telepon balik ya," ucap Barra hendak mematikan sambungan teleponnya.
Namun dengan cepat dan panik, Dinda segera berteriak, "Tunggu! Bianca hilang, Ra! Dia menghilang dan kami tidak bisa menemukannya!"
Mendengar kabar itu, senyum di wajah Barra seketika lenyap. Ia sangat terkejut dan langsung berdiri tegak dari tempat duduknya. Karena Dinda menangis tersedu-sedu hingga suaranya tidak jelas, Barra menyuruhnya menjelaskan dengan tenang dan benar apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat Dinda yang sudah tidak sanggup bicara karena menangis, Ella segera mengambil alih ponsel dari tangan Dinda . Ia berbicara dengan tegas dan jelas kepada Barra, lalu menyuruhnya untuk segera datang ke alamat yang akan dikirimkannya sebentar lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Barra meminta izin kepada mamanya untuk pergi membantu orang yang sangat dicintainya itu. Ia berjanji kepada mamanya, akan segera mempertemukan mereka.
Sementara di tempat pengurungan, Bianca tidak diam saja. Ia terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya dengan cara menggosok-gosokkan tali itu ke pinggiran kasur yang agak kasar dan tajam. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, namun ia tidak mau menyerah.
Apakah usaha Bianca untuk melepaskan diri berhasil? Apakah Ella dan bibinya berhasil melacak sinyal keberadaan Bianca tepat pada waktunya?