NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Simfoni Larut Malam

Kehidupan di rumah besar itu berubah total dalam sekejap. Jika dulu keheningan adalah teman setia bagi Arumi saat menulis, kini suara tangisan bayi yang nyaring menjadi melodi utama yang mengisi setiap sudut ruangan. Minggu pertama menjadi orang tua adalah transisi yang paling menguras emosi dan fisik, jauh melampaui tenggat waktu penulisan novel paling ketat sekalipun.

Abimanyu ternyata adalah bayi yang sangat aktif, terutama saat jarum jam menyentuh angka dua pagi.

"Mas, giliranmu..." bisik Arumi parau. Ia masih terduduk di tempat tidur, mencoba menahan kantuk yang luar biasa setelah sesi menyusui selama satu jam yang baru saja selesai.

Adrian, yang dulu tidak bisa tidur jika suhu ruangan berubah satu derajat saja, kini melompat dari tempat tidur dengan mata yang masih setengah tertutup. Ia tidak lagi mengenakan piyama sutra rapi, melainkan kaos oblong yang sedikit kusut dengan bekas muntahan bayi di bahunya.

"Iya, Sayang. Biar aku yang menggendongnya sampai dia tenang. Kamu tidurlah," ujar Adrian sambil menggendong Abi dengan gerakan yang sudah mulai terlatih.

Ia membawa Abi keluar kamar, berjalan perlahan menuju perpustakaan. Di sana, di tengah ribuan buku yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, Adrian berayun pelan sambil menggumamkan lagu-lagu klasik. Anehnya, sang CEO yang biasanya bicara tentang valuasi perusahaan kini justru fasih membicarakan jenis popok dan cara sendawa yang efektif.

"Lihat, Nak. Ayah punya banyak buku di sini. Nanti kalau kamu sudah besar, kita akan baca semuanya bersama Ibu," gumam Adrian pada bayi kecil yang kini mulai tenang di pelukannya.

Namun, bagi Arumi, minggu-minggu pertama ini tidak selalu berjalan mulus. Ia mengalami tantangan yang sering dialami ibu baru: produksi ASI yang sempat tersendat dan rasa nyeri yang luar biasa setiap kali menyusui. Ada momen di mana Arumi merasa gagal sebagai ibu.

Suatu sore, Ratna yang masih berada di Jakarta menemukannya sedang menangis di depan boks bayi.

"Rum, ada apa? Kenapa menangis?" tanya Ratna lembut, sambil mengelus punggung putrinya.

"Aku merasa tidak berguna, Bu. Abi menangis terus karena ASI-ku tidak cukup. Aku sakit, aku lelah, dan aku merasa seperti kehilangan diriku sendiri. Aku tidak bisa menulis, aku bahkan tidak bisa mandi dengan tenang," adu Arumi di tengah isak tangisnya.

Ratna menarik kursi dan duduk di samping Arumi. "Itu namanya baby blues, Nak. Wajar sekali. Kamu baru saja mengeluarkan nyawa dari tubuhmu, hormonmu sedang berperang. Jangan merasa harus menjadi sempurna. Menjadi ibu itu bukan lomba lari, tapi perjalanan panjang."

Ratna kemudian membuatkan ramuan jamu dan sup kacang hijau hangat, resep turun-temurun dari Jogja. Kehadiran Ratna memberikan kekuatan tambahan bagi Arumi. Ibu mertua Adrian itu bukan hanya membantu urusan domestik, tapi juga menjadi penopang mental bagi Arumi.

Perubahan paling mencolok terlihat pada Adrian.

Rekan-rekan bisnisnya di kantor mulai heran Adrian sering kali membatalkan rapat sore hanya untuk bisa pulang dan memandikan Abi. Ia bahkan memasang kamera pemantau bayi yang tersambung langsung ke ponsel dan layar besar di kantornya.

Suatu hari, Pandu datang berkunjung untuk menanyakan perkembangan revisi novel Arumi.

Ia terperangah melihat Adrian sedang duduk di lantai beralaskan karpet bulu, mencoba memasang mainan gantung sambil membacakan laporan tahunan perusahaan dengan nada seperti mendongeng.

"Pak Adrian? Ini benar-benar Anda?" Pandu hampir tidak percaya.

Adrian menoleh, wajahnya tampak lelah tapi ada binar kebahagiaan yang tak pernah ada sebelumnya. "Pandu, jangan keras-keras. Abi baru saja tidur. Dan soal pekerjaan, kirim saja ke surel. Aku hanya bekerja dari rumah minggu ini."

Pandu tertawa kecil. "Arumi benar-benar berhasil mengubah seorang hiu korporat menjadi lumba-lumba yang penyayang."

Arumi keluar dari kamar, tampak lebih segar setelah sempat tidur siang sebentar. "Dia bahkan lebih protektif daripada Ibu, Ndu. Dia mencatat setiap mililiter susu yang masuk dan setiap menit Abi tidur."

"Itu namanya manajemen risiko, Arumi," balas Adrian membela diri, meski ia sendiri tersenyum malu.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah ujian kecil muncul. Keluarga besar Pramoedya—paman dan bibi Adrian yang haus akan kekuasaan—mulai menekan Adrian tentang masa depan pewaris. Mereka ingin segera diadakan pesta penyambutan besar-besaran yang bersifat politis bisnis.

"Mereka ingin menggunakan Abi sebagai 'wajah baru' untuk menarik investor, Arumi. Mereka ingin menunjukkan bahwa keluarga Pramoedya sudah stabil dan siap untuk ekspansi besar-besaran," ujar Adrian saat mereka sedang bersantai di teras.

Arumi menatap bayinya yang sedang tertidur di ayunan kayu jati pemberian ayahnya. "Aku tidak mau Abi dijadikan alat bisnis sejak bayi, Mas. Dia punya hak untuk tumbuh dengan tenang, tanpa sorotan kamera dan jabat tangan orang-orang yang hanya peduli pada saham."

Adrian mengangguk setuju. "Aku sudah menolaknya. Aku bilang pada mereka, pesta akan diadakan, tapi dengan cara kita. Hanya keluarga inti dan teman dekat. Dan dananya akan kita alihkan untuk membangun perpustakaan desa melalui yayasanmu."

Keputusan ini tentu saja memicu kemarahan beberapa anggota keluarga lama, namun Adrian tidak peduli. Ia sudah memiliki prioritas baru. Ia menyadari bahwa kekayaan yang paling berharga bukan lagi yang tersimpan di bank, melainkan yang sedang menggenggam jarinya dengan tangan kecil yang mungil.

Memasuki bulan kedua, Arumi mulai menemukan ritme hidupnya kembali. Ia mulai bisa mencuri waktu satu atau dua jam sehari untuk menulis. Menariknya, tulisannya kini berubah menjadi lebih hangat dan penuh harapan.

Ia mulai menulis sebuah buku baru, bukan thriller atau misteri, melainkan sebuah memoar tentang perjalanannya. Tentang bagaimana seorang wanita yang merasa hanya sebagai "cadangan" bisa menjadi "utama" di hati seseorang dan menjadi "segalanya" bagi seorang anak manusia.

Suatu malam, saat hujan rintik membasahi Jakarta, Arumi sedang duduk di meja tulisnya. Adrian masuk membawa secangkir cokelat panas. Ia berdiri di belakang Arumi, memijat bahunya yang kaku.

"Bagaimana progresnya, Penulis Hebat?"

"Sudah sampai bab di mana sang tokoh utama menyadari bahwa rumah bukanlah sebuah alamat, Mas, tapi sebuah pelukan," jawab Arumi sambil tersenyum.

Adrian mencium puncak kepala Arumi. "Dan pelukan itu sekarang ada di sini. Selamanya."

Abimanyu tiba-tiba bersuara dari boksnya, sebuah gumaman kecil yang menandakan ia mulai bangun. Adrian dan Arumi saling berpandangan, lalu tertawa kecil bersama. Mereka beranjak menuju boks bayi itu, siap menyambut "tugas negara" berikutnya dengan hati yang penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!