Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Hantu dalam Cermin
Kapal kargo itu berlabuh di sebuah pelabuhan tikus di wilayah pesisir Jawa Tengah.
Aroma garam dan amis ikan menyambut mereka.
Elena turun dengan langkah yang masih sedikit goyah, bersandar pada lengan Reza yang kokoh.
Sejak chip Lazarus itu dicabut paksa di Singapura, Elena merasa seperti ponsel yang baterainya bocor—cepat lelah, tapi otaknya tetap berputar di kecepatan cahaya.
"Kita aman sekarang, El," bisik Reza sambil membantunya naik ke atas jip tua yang sudah menunggu.
"Paman Han sudah memastikan tidak ada ekor yang mengikuti kita dari Singapura."
Elena hanya mengangguk pelan. Ia menatap telapak tangannya.
Masih ada sisa getaran kecil di sana.
Efek samping dari intervensi saraf itu ternyata tidak hilang begitu saja.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai mereka mencapai joglo di lereng gunung.
Saat jip mereka mendaki jalan setapak yang biasa, Elena melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Kebun lili itu... hangus.
Bukan karena kebakaran hutan.
Tapi karena cairan kimia sengaja disemprotkan ke sana.
Ribuan bunga lili putih yang menjadi simbol ketenangan Sarah kini hanya berupa batang-batang hitam yang layu dan berbau busuk.
"Ibu!" Elena melompat turun dari jip sebelum mobil itu benar-benar berhenti.
Elena berlari masuk ke dalam rumah. Ruang tengah berantakan.
Kursi goyang Sarah terbalik, dan foto keluarga yang baru saja mereka pajang pecah berkeping-keping.
"Elena, di sini!" suara Paman Han terdengar dari arah dapur.
Di sana, Sarah terduduk di lantai, dipeluk oleh Dante.
Ia tidak terluka secara fisik, tapi matanya menunjukkan ketakutan yang mendalam.
Di atas meja makan, ada sebuah tablet yang terus menyala, menampilkan sebuah peta digital dunia yang dipenuhi titik-titik merah.
"Dia datang, Elena," bisik Sarah dengan suara gemetar. "Bukan Adrian. Tapi... 00."
Elena mengerutkan kening. "00? Siapa?"
Dante mengambil tablet itu dan menunjukkannya pada Elena.
"Waktu aku meretas server Adrian di Singapura, aku pikir aku sudah menghapus semuanya. Tapi ada satu file terenkripsi yang tidak bisa kubuka. File itu berjudul 'The First Son'. Dia adalah prototipe pertama, bahkan sebelum kau, El. Versi yang dianggap gagal karena terlalu kasar, tapi ternyata dia disimpan sebagai 'anjing penjaga' terakhir."
Di layar tablet, muncul sebuah video rekaman CCTV dari gerbang depan rumah mereka satu jam yang lalu.
Seorang pria bertubuh besar dengan jubah hitam berdiri di sana.
Ia tidak menutupi wajahnya.
Wajahnya... adalah wajah Haryo Adiguna waktu muda, tapi dengan tatapan mata yang kosong dan dingin seperti es.
"Dia adalah klon Haryo yang pertama," Dante menjelaskan dengan nada ngeri.
"Namanya Adam. Dia memiliki kekuatan fisik tiga kali lipat manusia biasa dan tidak mengenal rasa takut. Adrian menggunakannya untuk membersihkan jejak yang tidak bisa diselesaikan oleh The Eraser."
Tiba-tiba, sebuah suara berat menggema dari pengeras suara di tablet tersebut.
"Adik Kecil... kau menghancurkan taman ayah kita. Sekarang, aku akan menghancurkan semua yang kau cintai. Sampai jumpa di pusat kota Jakarta malam ini. Jika kau tidak datang, aku akan mulai menghapus desa ini dari peta."
Elena mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia pikir dia bisa mengancamku di rumahku sendiri?"
"Elena, jangan!" Reza menahan bahunya.
"Ini jebakan. Dia ingin menarikmu keluar karena di sini kita punya keunggulan medan. Di Jakarta, dia punya pasukan."
"Dia sudah membakar bunga ibuku, Rez," Elena menatap batang-batang lili yang hangus di luar jendela.
"Dia nggak cuma serang aku. Dia serang kedamaian yang kita bangun susah payah. Kalau aku nggak selesaikan ini sekarang, kita nggak akan pernah bisa tidur tenang selamanya."
Malam itu, Jakarta diguyur hujan lebat.
Kota ini tampak seperti Gotham tanpa pahlawan.
Elena berdiri di atap gedung Adiguna Tower yang sekarang sudah disita pemerintah, mengenakan setelan taktis hitamnya yang legendaris.
Reza dan Dante berada di gedung seberang, memberikan perlindungan sniper dan dukungan teknis.
Paman Han menjaga Sarah di tempat aman yang dirahasiakan.
"Dante, status?" tanya Elena lewat earpiece.
"Lantai 50 bersih dari penjaga manusia, El. Tapi sensor gerak mendeteksi sesuatu yang besar di aula utama. Itu pasti Adam," jawab Dante.
Elena meluncur turun menggunakan tali dari helipad ke balkon lantai 50.
Ia memecahkan kaca dan masuk ke dalam aula yang gelap.
Ruangan itu hanya diterangi oleh kilatan petir dari luar jendela.
Di tengah aula, Adam berdiri.
Ia terlihat seperti raksasa di bawah bayang-bayang.
Ia tidak memegang senjata api.
Hanya sebuah pedang pendek yang terbuat dari titanium.
"Elena... mahakarya yang gagal," suara Adam berat dan parau.
"Ayah selalu bilang kau terlalu lembek karena kau punya perasaan. Aku dibuat tanpa itu. Aku adalah kesempurnaan Adiguna."
"Kau cuma barang rongsokan yang lupa dibuang, Adam," balas Elena sambil menarik belati keramiknya.
Pertempuran itu bukan lagi baku tembak yang bising, melainkan tarian maut yang sangat cepat.
Adam bergerak dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
Setiap pukulannya bisa menghancurkan pilar beton.
Elena harus menggunakan kelincahannya untuk menghindar, namun efek samping sarafnya mulai muncul.
Zzap!
Kepala Elena berdenyut hebat. Pandangannya kabur selama satu detik.
Dan satu detik itu cukup bagi Adam untuk menendang dada Elena hingga ia terpental menabrak meja kaca.
"Elena! Status?!" teriak Reza di telinganya.
"Aku... aku oke," Elena terengah-engah, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Adam mendekat, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Waktunya kembali ke tanah, Adik Kecil."
Tiba-tiba, sebuah tembakan sniper dari Reza menghantam bahu Adam.
Pria raksasa itu hanya terhuyung sedikit, peluru itu tidak menembus kulitnya yang ternyata sudah dilapisi kevlar sub-dermal.
"Reza, jangan! Biar aku yang selesaikan ini!" teriak Elena.
Elena memejamkan matanya sejenak.
Ia mencoba memanggil sisa-sisa algoritma Lazarus yang masih tertinggal di otaknya.
Jika ia tidak bisa menang secara fisik, ia harus menang secara kalkulasi.
Analisis gerakan:
Adam menyerang dengan bahu kanan sebagai tumpuan. Kelemahan: Sendi lutut kiri yang menopang berat badannya saat mengayun.
Elena membuka matanya. Dunianya berubah menjadi barisan data hijau. Ia melihat celah.
Saat Adam mengayunkan pedangnya lagi, Elena tidak menghindar ke samping.
Ia justru meluncur di antara kaki Adam, menyayat urat di belakang lutut kiri raksasa itu dengan presisi bedah.
"AGHHH!" Adam tumbang, berlutut di lantai.
Elena berdiri di belakang Adam, menempelkan pistolnya ke tengkuk pria itu.
"Kau bilang kau tidak punya perasaan, Adam. Tapi kau punya rasa sakit. Dan rasa sakit adalah hal paling manusiawi yang bisa kau miliki."
"Bunuh aku..." geram Adam. "Ayah akan tetap... menciptakan yang lain..."
"Tidak akan," Elena menarik pelatuknya. DOR.
Elena segera mengambil tablet dari saku Adam.
Di sana, ia menemukan jalur komunikasi terakhir ke sebuah koordinat di tengah Samudra Pasifik.
Itu adalah lokasi kapal pesiar pribadi milik Adrian Adiguna yang masih melarikan diri.
"Dante, kau dapat koordinatnya?"
"Dapat, El! Aku kirimkan serangan siber masif ke sistem navigasi kapal itu sekarang. Kita buat mereka tenggelam tanpa perlu satu peluru pun," jawab Dante dengan nada puas.
Pagi harinya, Elena duduk di atap gedung, melihat matahari terbit di atas Jakarta.
Reza datang dan duduk di sampingnya, memberikan sebotol air mineral.
"Sudah benar-benar selesai sekarang?" tanya Reza pelan.
Elena menatap tangannya. Getaran itu sudah hilang.
Seolah-olah kematian Adam membawa pergi sisa-sisa Lazarus dari tubuhnya.
"Adrian sudah hilang di laut. Adam sudah mati. Dan semua data riset mereka sudah terhapus permanen," Elena menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
"Tapi aku sadar satu hal, Rez. Kedamaian itu bukan tentang tidak adanya musuh. Tapi tentang bagaimana kita tetap berdiri meski rumah kita dibakar."
"Jadi, kita kembali ke gunung?"
"Ya. Tapi kali ini, aku nggak mau cuma menanam lili," Elena tersenyum miring.
"Aku mau membangun hutan. Sesuatu yang nggak bisa dibakar cuma dengan satu botol kimia."
Reza tertawa, lalu mencium puncak kepala Elena.
"Apapun yang kau mau, El. Apapun."
Di bawah mereka, kota Jakarta mulai sibuk kembali, tidak sadar bahwa di atas salah satu gedung tertingginya, seorang wanita yang pernah dianggap sampah oleh ayahnya sendiri, baru saja menyelamatkan mereka dari masa depan yang gelap.
Elena Adiguna bukan lagi Sang Nyonya yang Terbuang.
Ia adalah Sang Penjaga yang kini memiliki dunianya sendiri.
Bersambung...
Ayo buruan baca...