Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Setelah melompat pagar mansion, Elara tidak membuang waktu. Dia berlari menembus hutan di belakang kediaman Astoria, memanfaatkan kegelapan malam dan instingnya yang tajam. Dia tahu pengawal Duke akan segera menyisir jalan utama, jadi hutan adalah satu-satunya pelarian yang paling masuk akal.
Napasnya memburu. Kaki Elara yang hanya beralas sepatu curian itu terasa perih terkena ranting pohon, tapi dia tidak peduli. Setelah merasa cukup jauh dia menemukan sebuah celah sempit di balik semak berduri yaitu sebuah gua kecil yang tersembunyi oleh akar pohon raksasa.
"Di sini aman buat sementara" gumam Elara.
Dia masuk dengan waspada dan tangan kanannya mencengkeram linggis kecil di balik gaunnya. Suasana di dalam gua sangat dingin dan bau tanah basah menyengat indra penciumannya. Namun saat langkahnya semakin dalam, hidungnya menangkap aroma lain.
Bau karat, bau darah yang sangat pekat.
Elara membeku dan dia mempertajam penglihatannya di tengah remang cahaya bulan yang masuk lewat celah gua. Di sudut gua bersandar pada dinding batu yang lembap, dia melihat sesosok tubuh yang tergeletak kaku.
"Mayat?" Elara berbisik pelan dan jantungnya berdegup kencang.
Dia mendekat perlahan siap untuk lari jika sosok itu tiba-tiba bergerak. Sosok itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam, bahan kainnya tampak sangat mahal namun kini koyak dan basah oleh darah. Wajahnya tertutup separuh oleh masker hitam yang sudah miring, memperlihatkan rahang yang tegas namun pucat pasi.
Elara memberanikan diri menyentuh leher pria itu. Kulitnya dingin tapi...
Deg Deg.
"Masih hidup" Elara mengembuskan napas lega "Tapi lukanya kayanya parah banget"
Laki-laki itu pingsan dengan luka sabetan dalam di bagian perut dan bahunya. Di tangannya dia masih menggenggam sebuah belati hitam pekat yang tampak sangat mematikan. Penampilannya sama sekali bukan seperti bangsawan sombong ataupun rakyat jelata biasa. Dia terlihat seperti... seorang pembunuh bayaran atau bayangan dari kegelapan.
Elara menatap tas kecilnya yang berisi beberapa roti dan air. Dia punya pilihan antara meninggalkan orang asing berbahaya ini dan menyelamatkan dirinya sendiri atau membantunya dan mendapatkan hutang budi dari seseorang yang tampaknya punya kekuatan besar.
"Yah kayanya malam ini aku ngga akan istirahat dengan tenang deh" gumam Elara sambil mulai merobek sebagian kain dari bagian bawah gaun midnight blue nya untuk dijadikan perban darurat.
Elara jongkok di depan cowok itu sambil memegang sobekan kain gaun nya. Dia menatap kain midnight blue yang harganya mungkin bisa buat beli seisi pasar itu dengan tatapan pedih.
"Ah mending kalau kamu nanti bangun terus bayar ganti rugi ya Mas. Ini kain Aurora Silk bukan serbet dapur" gerutu Elara sambil mulai menekan luka di perut cowok itu. Elara hanya sedikit mengerti tentang pengobatan karena dia tidak pernah diajarkan saat di sekolah dulu.
"Akh—" Pria itu melenguh kecil dalam pingsannya dan wajahnya makin mengernyit.
"Dih bangun? Sstt diem deh, ini ngga seberapa dibanding sakit hati aku dikasih makan makanan sisa tiap hari" sahut Elara asbun seolah cowok itu bisa denger "Lagian kamu ngapain sih malem-malem cosplay jadi ninja di hutan begini? Mana pake baju hitam semua lagi, kalau ketabrak kereta kuda ngga bakal kelihatan tau!"
Elara mulai melilitkan kain itu ke perut si cowok. Karena keterbatasan alat dia terpaksa narik ikatan perbannya agak kencang biar darahnya berhenti.
SREKKK!
"Nah cakep. Udah mirip mumi tapi versi premium karena perbannya sutra" Elara bangga sama hasil kerjanya. Dia kemudian mengambil botol air dari tasnya "Minum nih mumpung aku lagi baik hati dan tidak sombong. Tapi jangan minta boba ya di hutan ngga ada GrabFood"
Elara mencoba menuangkan sedikit air ke bibir pucat pria itu. Tapi karena tangannya gemetar capek abis lari airnya malah tumpah ke hidung si cowok.
"Uhukk! Uhukk!"
Tiba-tiba mata pria itu terbuka lebar. Kilatan matanya tajam banget, warna abu-abu gelap yang dingin. Dalam sekejap tangan pria itu yang tadi lemas langsung menyambar leher Elara dan menodongkan belati hitamnya tepat di urat nadi Elara.
Elara membeku "Eh santai dong Mas! Baru bangun udah mau main tusuk-tusukan aja. Ini namanya toxic positivity ya?"
Pria itu menatap Elara dengan pandangan membunuh dan napasnya tersengal-sengal "Siapa... kau? Kenapa... kau di sini?"
Elara memutar bola matanya meski keringat dingin mulai turun "Aku? Aku bidadari yang lagi tersesat karena Google Maps nya error. Dan kalau aku jahat, kamu udah aku jadiin tumbal hutan dari tadi bukannya dibalut pake gaun mahal begini. Lihat tuh perut kamj estetik banget kan pake warna midnight blue?"
Pria itu melirik perutnya lalu menatap Elara lagi. Cengkeramannya di leher Elara sedikit melonggar karena dia sendiri hampir pingsan lagi gara-gara kehabisan tenaga.
"Jangan... sentuh aku lagi" desis pria itu, suaranya berat dan serak.
"Dih, siapa juga yang mau pegang-pegang? Badanmu dingin kaya es mambo begitu" Elara mendengus sambil menjauhkan diri sedikit. "Denger ya Ninja Hatori. Aku juga lagi buron, kamu juga lagi sekarat. Jadi mending kita damai aja. Kamu jangan bunuh aku aku ngga bakal laporin kamu ke polisi... eh maksudnya ke pengawal kerajaan, gimana? Deal?"
Pria itu tidak menjawab, kepalanya terkulai lagi ke belakang tapi tangannya masih memegang erat belati itu.
"Yah pingsan lagi, dasar beban" gumam Elara sambil meraih sepotong rotinya "Semoga aja kamu bukan orang jahat ya. Kalau iya terpaksa aku getok pake linggis ini pas kamu tidur"
Pria itu tidak benar-benar pingsan total. Di balik kelopak matanya yang berat dia samar-samar mendengar suara kunyahan roti dan gumaman aneh tentang 'linggis' dan 'beban'.
Sial, siapa gadis gila ini? batinnya, sepanjang hidupnya sebagai bayangan belum pernah ada orang yang berani mengatainya 'es mambo', dan apa itu? Saat dia sedang menodongkan senjata. Tapi kesadarannya terlalu tipis kegelapan akhirnya menyeretnya kembali.
Sementara itu Elara duduk bersandar di dinding gua yang berlawanan. Dia menatap pria itu dengan pandangan menyelidik.
"Ganteng sih tapi galak. Pasti kurang piknik" gumam Elara asbun sambil menghabiskan sisa rotinya. Karena terlalu cape kepalanya mulai berat. Dia memeluk tas kecilnya erat-erat siap memukul siapa pun yang mendekat dengan linggis kesayangannya dan akhirnya tertidur lelap.
___
Cahaya matahari yang menyelinap lewat akar pohon menusuk mata Elara. Dia mengerang mencoba meregangkan ototnya yang kaku karena tidur di atas batu.
"Aduh, nih punggung... berasa habis dipukulin warga" rintihnya sambil membuka mata.
Begitu kesadarannya terkumpul dia langsung menoleh ke sudut gua tapi apa yang dilihatnya hanya kosong.
"Loh? Mas Es Mambo nya ke mana?!" Elara langsung berdiri tegak dan linggisnya sudah siaga di tangan "Wah parah sih. Udah diobatin minimal ninggalin sarapan kek atau surat cinta kek. Ini malah main kabur aja. Fix cowok emang ngga ada yang bener di dunia mana pun!"
Elara melangkah keluar gua dengan dongkol. Namun baru saja dia menyibak semak berduri langkahnya terhenti.
Di atas sebuah batu besar tepat di depan mulut gua terdapat seekor kelinci hutan yang sudah mati tapi sudah dibersihkan dan siap dibakar. Di sampingnya ada setumpuk buah beri liar dan sebuah belati kecil yang terlihat sangat tajam. Bukan belati hitam yang semalam tapi sesuatu yang lebih ringkas.
Ada secarik perkamen tua di bawah belati itu. Tulisannya singkat, tajam dan sangat rapi
"Kain gaunmu jelek. Pakai ini untuk memotong leher siapa pun yang berani mendekat. Jangan mati dulu, kau masih berutang penjelasan tentang 'Google Maps' dan lainnya"
Elara bengong. Dia memegang belati itu dengan perasaan campur aduk "Dih dibilang jelek? Ini Aurora Silk ya dasar buta fashion!" omelnya meski sudut bibirnya sedikit terangkat "Tapi lumayan lah dapat sarapan gratis daripada makan roti basi"
Namun suasana damai itu hancur saat suara gonggongan anjing pelacak terdengar dari kejauhan.
"Cepat! Periksa setiap lubang dan gua di area ini! Jangan sampai Lady Elara lolos ke perbatasan!" suara teriakan prajurit Astoria menggema di hutan.
Elara membelalak "Waduh tim hore Ayah udah dateng. Masalahnya aku ngga tahu jalan keluar dari hutan ini ke mana!"
Dia menoleh ke arah belati pemberian si cowok misterius lalu ke arah suara anjing pelacak. Elara menarik napas panjang
"Oke Elara saatnya main petak umpet versi ekstrem. Kalau ketangkap aku beneran bakal getok Duke Astoria pakai linggis ini tepat di jidatnya!"
_______________________________________________
Haii teman-teman jangan lupa tinggalin like sama komen yaaa biar aku tambah semangat update🌹
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/