Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: PINTU YANG TERKUNCI RAPAT
Setelah berhasil melewati ujian batin yang berat dan hampir merenggut nyawa serta kesadaran mereka berdua, Mo Fei dan Bai Yue kembali melanjutkan langkah mereka dengan hati yang jauh lebih mantap dan teguh daripada sebelumnya. Meski rasa takut, ragu, dan kesedihan yang dulu sempat bersarang di lubuk hati terdalam mereka sudah berhasil disingkirkan dan dikalahkan sepenuhnya, mereka sadar betul bahwa bahaya dan ujian di tempat ini tidak akan berhenti di situ saja. Justru sebaliknya, kemampuan mereka untuk bertahan dan bangkit dari cobaan berat itu menandakan bahwa mereka telah melewati batas ambang awal, dan kini tantangan yang menanti di depan mata akan semakin berat, semakin sulit, dan semakin berbahaya dari waktu ke waktu.
Kabut yang menyelimuti sekujur tempat itu kini berubah sifatnya kembali. Kalau di bagian sebelumnya kabut itu dingin, basah, dan menyesatkan pikiran, kini kabut itu terasa kering, panas, dan menekan berat seolah ribuan gunung kecil diletakkan menindih bahu dan punggung mereka berdua. Setiap langkah yang diambil terasa sangat berat dan melelahkan, seolah tanah di bawah kaki mereka terus berusaha menarik dan menahan tubuh mereka agar tidak bisa bergerak maju sedikitpun. Udara yang mereka hirup pun terasa tipis dan panas, membuat napas mereka menjadi pendek dan tersengal-sengal, serta membuat aliran tenaga dalam di dalam tubuh mereka berjalan melambat dan terganggu parah.
"Kita sudah masuk ke bagian tengah wilayah ini," ujar Mo Fei perlahan dengan napas yang teratur meski rasa berat dan lelah terasa jelas di seluruh anggota tubuhnya. Matanya yang bersinar keemasan terus menatap lurus ke depan, menembus lapisan kabut yang kini berwarna putih keperakan dan jauh lebih pekat daripada sebelumnya. "Tekanan berat ini bukan berasal dari alam atau cuaca semata, melainkan dibentuk dan diatur oleh susunan tenaga raksasa yang tersebar merata di seluruh bagian tengah dataran ini. Tujuannya untuk menyaring siapa saja yang masuk ke sini, memastikan hanya mereka yang memiliki kekuatan, tekad, dan kualitas jiwa yang cukup tinggi yang sanggup lewat dan masuk lebih jauh lagi, sementara yang lemah atau yang hatinya belum murni dan kuat akan perlahan habis tenaganya, menjadi lemah tak berdaya, dan akhirnya lenyap tanpa jejak selamanya di dalam tempat ini."
Mendengar penjelasan itu, Bai Yue mengangguk perlahan sambil terus memadatkan dan memutar tenaga dalamnya sekuat tenaga untuk menahan tekanan berat yang menindih tubuhnya terus-menerus.
"Jadi selama kita masih sanggup berdiri tegak dan melangkah maju, berarti kita sudah lulus syarat awal yang mereka tetapkan kan?" tanyanya dengan suara lembut namun tetap tegas dan mantap.
"Betul sekali," jawab Mo Fei sambil tersenyum tipis. "Selama kita tidak menyerah dan terus berjalan maju, berarti kita sudah membuktikan bahwa kita layak dan berhak mengetahui apa yang tersembunyi di tempat tertinggi dan paling suci itu."
Berhari-hari lamanya mereka terus berjalan menembus tekanan berat dan kabut tebal yang seolah tidak ada akhirnya itu. Selama perjalanan itu, mereka tidak lagi dihadang oleh makhluk buas atau serangan mendadak seperti sebelumnya, namun ujian yang berupa tekanan berat yang tak henti-hentinya menindih tubuh dan jiwa mereka justru terasa jauh lebih berat dan melelahkan daripada pertempuran apa pun yang pernah mereka alami seumur hidup mereka. Daya tahan fisik dan batin mereka diuji sampai ke batas paling ujungnya, di mana rasa lelah yang luar biasa beratnya terus membisikkan di telinga mereka untuk berhenti, duduk beristirahat, dan melupakan segala tujuan yang mereka cari. Namun berkat janji suci dan keyakinan yang kuat di antara mereka, keduanya saling menguatkan dan saling menyemangati satu sama lain, menahan rasa lelah dan keinginan untuk beristirahat, terus berjalan maju selangkah demi selangkah menuju tujuan yang mereka dambakan.
Hingga akhirnya, di suatu pagi di mana kabut di sekelilingnya tiba-tiba menipis dan menyisakan lapisan tipis yang transparan, di hadapan mata mereka terbentanglah pemandangan yang begitu megah, indah, dan menakjubkan hingga membuat napas mereka terhenti sejenak karena terpesona melihatnya.
Di hadapan mereka, berdiri tegak dan kokoh sebuah bangunan raksasa yang menjulang tinggi menembus awan, dibangun di atas bukit batu yang luas dan tinggi, terbuat dari jenis batu berwarna putih gading yang bersinar lembut seolah memancarkan cahayanya sendiri dari dalam. Bangunan itu tingginya tak terukur, tampaknya tak berujung di bagian atasnya, memiliki bentuk yang elegan namun gagah, dihiasi dengan ukiran-ukiran kuno yang rumit dan indah di seluruh bagian dinding dan tiangnya, serta memancarkan suasana yang sakral, tenang, namun sangat berwibawa dan menuntut rasa hormat yang mendalam dari siapa saja yang melihatnya.
Di bagian depan, tepat di hadapan jalan yang mereka lalui, terdapat sepasang pintu raksasa yang tingginya mencapai lebih dari sepuluh kali tinggi tubuh manusia biasa, lebar dan kokoh, terbuat dari bahan yang berwarna gelap namun mengkilap halus, dihiasi dengan ukiran simbol dan tulisan kuno yang berkilau lembut berwarna keemasan di seluruh permukaannya. Itulah dia, tujuan akhir perjalanan panjang dan berat mereka sekian lama: Menara Pengetahuan Abadi.
"Kita sampai..." bisik Mo Fei perlahan dengan suara yang terasa bergetar karena rasa gembira, takjub, dan rasa hormat yang mendalam bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Matanya menatap lurus ke arah bangunan raksasa di hadapannya itu, merasakan aliran energi yang murni, kuat, dan sangat tua yang mengalir deras keluar dari sana, menyadarkan dirinya betul bahwa tempat di hadapannya ini adalah pusat dari segala pengetahuan, sejarah, dan kekuatan tertinggi yang dimiliki oleh umat manusia selama ribuan tahun lamanya.
"Indah dan mengagumkan sekali..." tambah Bai Yue dengan lembut, matanya tak berkedip menatap pemandangan di hadapannya, merasa sangat kecil dan sederhana di hadapan bangunan yang megah dan penuh makna sejarah ini. "Rasanya seolah semua kesulitan, rasa sakit, dan kelelahan yang kita rasakan sepanjang perjalanan seketika lenyap dan terbayar lunas hanya dengan melihat pemandangan ini saja."
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya segera melangkah maju menghampiri pintu raksasa yang tertutup rapat itu. Semakin mereka mendekat, semakin kuat dan berat tekanan yang terpancar dari sana, seolah tempat ini menolak kedatangan siapa pun yang tidak memiliki hak dan izin yang sah untuk masuk ke dalamnya. Begitu mereka berdiri tepat di hadapan pintu raksasa itu, mereka bisa melihat dengan jelas ukiran dan tulisan kuno yang tertera di sana, namun sayangnya tidak satu pun dari mereka yang mengerti arti atau makna dari tulisan yang sudah berusia ribuan tahun itu.
Mo Fei mencoba mendorong pintu raksasa itu dengan tenaga dalamnya yang sudah ia kumpulkan sekuat tenaga, namun pintu itu tidak bergerak sedikitpun, seolah tertanam kokoh di tempatnya dan tidak akan pernah terbuka selamanya. Ia mencoba kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar, namun hasilnya tetap sama persis, pintu itu masih tertutup rapat dan tidak bergerak sama sekali, seolah segala kekuatan fisik dan tenaga dalam tidak ada gunanya dan tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya.
"Pintu ini tidak bisa dibuka dengan tenaga atau kekuatan biasa," ujar Mo Fei perlahan sambil menarik tangannya kembali dan mengamati seluruh bagian pintu itu dengan cermat menggunakan kemampuan matanya yang istimewa. "Lihatlah, seluruh bagian pintu dan simbol yang terukir di sana sebenarnya adalah susunan jaringan tenaga raksasa yang sangat rumit dan canggih, saling berkaitan dan mengunci satu sama lain dengan sangat kuat. Ia dirancang sedemikian rupa agar hanya bisa terbuka dengan cara tertentu, dan hanya akan merespons jenis kekuatan atau tanda pengenal khusus yang sudah ditentukan sejak awal pembangunannya."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Bai Yue dengan wajah serius dan sedikit cemas. "Apakah perjalanan panjang dan berat kita sekian lama berakhir di sini saja? Apakah kita tidak akan bisa masuk dan mendapatkan apa yang kita cari selama ini?"
Mo Fei tidak langsung menjawab, matanya terus bergerak mengamati dan mempelajari setiap pola dan aliran tenaga yang terukir di sekujur permukaan pintu raksasa itu. Semakin lama ia melihat dan mempelajarinya, semakin ia sadar bahwa pola tenaga dan susunan kunci yang digunakan untuk mengoperasikan dan membuka pintu ini memiliki kemiripan yang sangat mencolok dengan pola dasar dari ilmu yang ia pelajari dan miliki selama ini: Ilmu Seribu Jarum Emas.
"Pola ini..." bisiknya perlahan di dalam hatinya, matanya makin terbelalak takjub dan terkejut melihat kesamaan dan keterkaitan yang begitu erat dan jelas itu. "Struktur aliran tenaga, urutan penguncian, dan inti sumber tenaganya... semuanya sama persis dengan apa yang ada di dalam tubuhku dan apa yang kupergunakan selama ini. Apakah benar dugaan yang ada di dalam pikiranku ini?"
Dengan hati-hati dan penuh rasa ragu namun juga penuh harapan yang besar, Mo Fei perlahan mengangkat tangannya dan menempatkannya tepat di tengah bagian utama pintu raksasa itu, di tempat di mana letak sumber tenaga yang paling besar dan kuat berada. Ia perlahan menyalurkan seberkas tenaga dalamnya yang murni dan bersih, mengalirkannya masuk menyusuri pola ukiran di sana, berusaha menyamakan irama dan jenis tenaganya dengan apa yang terkunci di dalamnya.
Begitu tenaganya menyentuh dan masuk menyatu dengan jaringan tenaga di pintu itu, seketika seluruh bagian pintu dan dinding di sekelilingnya bergetar perlahan namun terasa kuat dan dalam. Seluruh ukiran dan tulisan kuno yang tadinya berkilau samar perlahan menyala terang dengan cahaya keemasan yang menyilaukan mata, menyebarkan suasananya ke seluruh penjuru tempat itu, membuat seluruh udara di sana berdenyut kuat dan penuh tenaga hidup yang dahsyat.
Namun kebahagiaan dan harapan mereka tidak berlangsung lama. Hanya sesaat setelah menyala terang, cahaya itu perlahan meredup kembali dan akhirnya padam sepenuhnya, seolah tenaga yang disalurkan oleh Mo Fei tadi belum cukup atau belum memenuhi syarat yang ditetapkan oleh pintu kuno itu. Pintu raksasa itu tetap tertutup rapat dan kokoh di tempatnya, seolah menolak kedatangannya meskipun memiliki hubungan dan kemiripan yang begitu erat dan jelas.
"Kenapa... Kenapa begitu?" gumam Mo Fei dengan nada bingung dan kecewa yang mendalam, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Tenaga yang kumiliki, pola yang kugunakan, dan sumbernya sama persis dengan apa yang ada di sini. Kenapa ia menolakku dan tidak mau terbuka untukku? Apa yang kurang dan apa yang salah dari diriku?"
Ia mencoba kembali berulang kali dengan tenaga yang lebih besar, lebih murni, dan lebih hati-hati, namun hasilnya tetaplah sama persis. Pintu itu menyala sesaat lalu padam kembali, seolah ada syarat terakhir yang sangat penting dan utama yang belum ia penuhi atau belum ia miliki sama sekali.
Di saat ia sedang bingung dan hampir putus asa karena usaha dan perjuangannya tidak membuahkan hasil, tiba-tiba terdengar suara berat dan dalam yang bergema dari seluruh penjuru ruangan di sekelilingnya, seolah suara itu berasal dari dinding, dari lantai, dari udara, dan dari pintu itu sendiri sekaligus. Suara itu kuno, berwibawa, dan dingin, namun terdengar tidak bermusuhan atau jahat, hanya menyampaikan pesan dengan jelas dan tegas sesuai aturan yang berlaku sejak ribuan tahun yang lalu.
"Wahai anak manusia yang membawa darah dan warisan suci zaman purba... Kau memiliki kuncinya, kau mengetahui jalurnya, dan kau memegang warisan yang tepat untuk membuka jalan ini... Namun ada satu hal yang sangat penting dan utama yang masih belum kau miliki dan belum kau pahami sepenuhnya di dalam dirimu saat ini... Kekuatan yang kau miliki masih setengah-setengah, sumbernya masih terpecah belah, dan hakikatnya masih tersembunyi serta terhalang oleh batasan yang kau buat sendiri di dalam hatimu sendiri... Selama dua bagian besar itu belum menyatu kembali menjadi satu kesatuan yang utuh dan sempurna, selama sumber aslinya masih terpisah dan terhalang oleh jarak dan pemisahan... Maka pintu ini tidak akan pernah terbuka untukmu, dan pengetahuan serta kebenaran yang kau cari akan selamanya berada di luar jangkauanmu..."
Mendengar penjelasan dan pesan itu, seketika hati dan pikiran Mo Fei menjadi sangat bingung dan bertanya-tanya. Ia merasa tidak mengerti apa maksud dari ucapan itu, apa yang dimaksud dengan kekuatan yang terpecah belah, dan apa yang harus ia lakukan untuk menyatukan kembali segala sesuatu yang terpisah itu. Namun saat ia sedang berusaha keras memahami makna tersembunyi dari pesan itu, tiba-tiba di dalam benaknya teringat kembali perkataan Kakek Tian Lao sesaat sebelum ia binasa dulu, serta berbagai petunjuk dan rahasia yang perlahan mulai terungkap sepanjang perjalanan mereka selama ini.
"Ilmu Seribu Jarum Emas bukan sekadar ilmu bertarung biasa... Ia diciptakan dari dua sumber kekuatan besar yang saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain... Dan kau, Mo Fei... Kau sendiri sebenarnya adalah gabungan dari dua hal besar yang telah terpisah ribuan tahun lamanya dan akhirnya dipertemukan kembali di dalam tubuhmu..."
Semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar dan menyadari bahwa maksud dari pesan di pintu raksasa itu dan segala petunjuk yang ia dapatkan selama ini sebenarnya mengarah pada satu hal yang sama persis. Ia perlahan menoleh dan menatap tajam dan dalam ke arah Bai Yue yang berdiri diam dan menunggunya dengan sabar serta penuh perhatian di sampingnya. Saat tatapan mata mereka bertemu dan saling melihat satu sama lain, seketika seluruh teka-teki dan pertanyaan yang selama ini menghantui pikiran dan hatinya seolah terjawab dengan sendirinya dengan sangat jelas dan nyata.
Ia mengulurkan tangannya perlahan ke arah gadis itu, matanya bersinar terang penuh kesadaran dan pemahaman yang baru dan lengkap.
"Bai Yue..." panggilnya perlahan namun jelas dan tegas. "Maukah kau menemaniku melakukan satu hal terakhir ini? Mungkin ini berbahaya, mungkin ini berat dan sulit, dan aku sendiri pun belum sepenuhnya paham apa yang akan terjadi nanti... Tapi aku yakin betul, kalau kau ada di sampingku dan kita melakukannya bersama-sama, kita pasti bisa membuka jalan ini dan mencapai apa yang kita cari."
Tanpa bertanya atau berpikir dua kali sedikitpun, Bai Yue tersenyum lembut dan mantap, lalu segera mengulurkan tangannya dan memegang erat tangan Mo Fei di hadapannya.
"Selama itu bersamamu, aku akan selalu dan siap melakukan apa saja, di mana saja, dan kapan saja, Mo Fei," jawabnya dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan dan kesetiaan yang takkan pernah tergoyahkan. "Aku percaya padamu, sama persis seperti kau mempercayaiku."
Mereka berdua berdiri berdampingan di hadapan pintu raksasa yang besar dan kokoh itu, tangan mereka saling bergenggam erat dan hangat. Mo Fei perlahan mulai menyalurkan tenaga dalamnya kembali masuk ke dalam pintu itu seperti yang ia lakukan sebelumnya, namun kali ini tenaga yang disalurkan bukan hanya berasal dari dirinya seorang diri. Dengan aliran tenaga dan hubungan batin yang sudah terjalin sangat erat dan sempurna di antara mereka, tenaga dalam Bai Yue pun perlahan mengalir menyatu dan bergabung dengan tenaga Mo Fei, menyusuri jalan yang sama, menyamakan irama dan jenisnya, hingga akhirnya kedua sumber tenaga yang berbeda asal dan sifatnya itu menyatu sempurna menjadi satu kesatuan energi yang utuh, murni, dan jauh lebih hebat serta dahsyat daripada yang pernah ada sebelumnya.
Begitu penyatuan itu terjadi, seketika seluruh suasana di tempat itu berubah drastis dan luar biasa. Cahaya keemasan yang tadinya hanya menyala samar dan sesaat, kini meledak menyala terang dan menyilaukan mata, memancarkan sinarnya yang kuat dan murni ke segala penjuru seolah matahari kedua baru saja terbit tepat di hadapan mereka. Seluruh ukiran, pola, dan tulisan kuno di permukaan pintu raksasa itu kini hidup dan bergerak sendiri, berputar berirama mengikuti aliran energi gabungan yang terus mengalir deras dan kuat dari kedua tangan mereka yang saling bergenggam erat.
Gemuruh suara yang dalam dan berat kembali terdengar bergema di udara, namun kali ini suaranya terdengar berbeda sepenuhnya dari sebelumnya. Tidak lagi terdengar dingin, tegas, atau menuntut, melainkan terdengar hangat, ramah, dan penuh rasa hormat serta pengakuan yang tulus.
"Bagus sekali... Akhirnya terjadi juga... Dua bagian yang telah terpisah selama ribuan tahun lamanya, kini akhirnya dipertemukan kembali dan menyatu dengan sempurna di hadapan mataku," suara itu berbicara perlahan namun jelas, seolah menyampaikan rasa lega dan bahagia yang mendalam. "Sejak tempat ini dibangun dan pintu ini dipasang, aku telah menunggu selama berabad-abad lamanya, menanti kedatangan orang yang mampu menyatukan kembali kedua kekuatan besar itu dan membuka jalan menuju kebenaran yang sesungguhnya. Dan hari ini, penantian panjang itu akhirnya berakhir dan terpenuhi dengan sempurna."
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan itu, perlahan namun pasti pintu raksasa yang selama ini tertutup rapat dan kokoh itu mulai bergerak. Suara gesekan logam dan batu yang berat dan panjang terdengar bergema di sekujur tempat itu, seolah membangunkan kembali segala benda dan energi yang telah tertidur pulas selama ribuan tahun lamanya. Celah yang terbuka di antara kedua daun pintu itu perlahan melebar semakin besar dan lebar, memperlihatkan apa yang tersembunyi dan tersimpan rapat di baliknya selama ini.
Di balik pintu itu, terbentanglah ruangan yang sangat luas, tinggi, dan megah, jauh melebihi apa yang pernah dibayangkan atau dipikirkan oleh siapa pun di dunia luar sana. Seluruh bagian dinding, lantai, dan tiang penyangganya terbuat dari bahan yang berkilau indah dan memancarkan cahaya lembut berwarna putih keperakan, membuat seluruh ruangan itu terang benderang tanpa perlu ada sumber cahaya atau api di mana pun juga. Di sepanjang sisi kiri dan kanan ruangan yang panjang itu, tersusun rapi dan teratur rak-rak besar yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang tak terlihat ujungnya, dipenuhi dengan gulungan kitab, lempengan batu, dan benda kuno lainnya yang masing-masing memiliki nilai, makna, dan kekuatan yang tak terhitung harganya. Udara di dalam sana terasa sejuk, bersih, dan sangat menyegarkan tubuh serta jiwa siapa pun yang menghirupnya, serta memancarkan suasana damai, sakral, dan tenang yang mampu menenangkan hati yang paling gelisah dan kacau sekalipun seketika.
Namun yang paling menarik perhatian dan membuat napas mereka tertahan karena takjub dan terpesona adalah di bagian paling ujung ruangan itu. Di sana terdapat sebuah panggung datar yang terbuat dari batu berwarna hitam pekat namun berkilau halus, di atasnya berdiri sebuah meja batu yang sederhana namun sangat indah bentuknya, dan di atas meja itulah terlihat benda yang memancarkan cahaya paling terang dan paling kuat di seluruh ruangan itu: Sebuah lempengan segi empat yang terbuat dari bahan kristal bening yang indah, di dalamnya terlihat cahaya yang terus berdenyut dan bergerak perlahan, serta memancarkan energi yang begitu murni, kuno, dan dahsyat hingga membuat seluruh tubuh dan jiwa mereka seakan bergetar hebat hanya dengan melihatnya dari kejauhan.
"Di sanalah letaknya..." bisik Mo Fei perlahan dengan suara yang bergetar karena rasa kagum dan hormat yang mendalam. Matanya menatap tajam dan tak berkedip ke arah benda di kejauhan itu, menyadari dengan sangat jelas bahwa di sanalah tersimpan segala jawaban, segala rahasia, dan segala kunci yang akan mengubah seluruh jalan hidup dan nasibnya serta seluruh dunia ini selamanya. "Di dalam lempengan itu tersimpan seluruh sejarah, pengetahuan, dan rahasia terbesar yang telah dikumpulkan dan disusun oleh para leluhur sejak ribuan tahun yang lalu. Di sanalah letak asal mula segala sesuatu, dan di sanalah pula jawaban dari segala pertanyaan yang selama ini menyiksa dan menghantui pikiran serta hatiku."
Dengan langkah yang perlahan, hati-hati, namun penuh keyakinan dan tekad yang kuat, keduanya pun mulai melangkah masuk melewati celah pintu yang kini terbuka lebar itu, melangkahkan kaki mereka ke dalam tempat yang menjadi tujuan impian dan harapan bagi ribuan pendekar dan ahli ilmu di seluruh penjuru benua ini selama berabad-abad lamanya. Setiap langkah yang mereka ambil di atas lantai yang halus dan dingin itu terasa berat dan bermakna, seolah setiap langkah itu menjadi saksi atas perjalanan panjang, perjuangan berat, dan pengorbanan besar yang telah mereka lalui dan berikan demi mencapai titik ini hari ini.
Semakin mereka berjalan mendekati bagian dalam ruangan itu, semakin kuat dan jelas pula energi serta pengaruh yang terpancar dari segala benda dan peninggalan kuno di sekeliling mereka. Setiap gulungan kitab dan lempengan batu yang tersusun rapi di rak-rak besar itu memancarkan getaran energi dan informasi yang beraneka ragam, mulai dari ilmu bela diri tingkat tinggi, cara penggunaan tenaga dalam yang ampuh, sejarah peristiwa masa lalu yang terlupakan, hingga penjelasan tentang hukum alam dan asal mula penciptaan dunia yang sangat mendalam dan menakjubkan. Semua pengetahuan dan informasi yang selama ini dianggap rahasia besar, hilang, atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh dunia luar, semuanya tersimpan rapi dan lengkap di tempat ini, menanti saatnya untuk ditemukan dan dipelajari oleh orang yang tepat dan berhak menerimanya.
Namun meskipun mata dan pikiran mereka terasa sangat terpesona dan tertarik oleh begitu banyaknya pengetahuan dan benda berharga yang tersebar di sepanjang jalan yang mereka lewati, namun tidak satu pun dari mereka yang berhenti atau mengalihkan perhatiannya ke hal lain sedikitpun. Keduanya tahu betul bahwa tujuan utama dan hal yang paling penting bagi mereka saat ini hanyalah satu hal saja: Mendapatkan dan mempelajari apa yang tersimpan di dalam lempengan kristal di bagian paling dalam sana, karena hanya di sanalah terdapat segala hal yang benar-benar mereka butuhkan dan cari selama ini.
Hingga akhirnya, setelah berjalan terus selama beberapa waktu yang terasa begitu singkat namun juga terasa begitu panjang bagi mereka, keduanya pun tiba tepat di hadapan meja batu tempat lempengan kristal besar itu berada. Dari jarak sedekat ini, mereka bisa melihat dan merasakan dengan sangat jelas betapa hebat dan dahsyatnya kekuatan yang tersimpan di dalam benda kuno itu, serta betapa dalam dan luasnya informasi serta pengetahuan yang dikandungnya di sana.
Namun di saat Mo Fei hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan mengambil benda itu, tiba-tiba di hadapan mereka muncul sesosok bayangan putih yang bercahaya lembut, perlahan terbentuk dan menjadi jelas rupa serta wujudnya tepat di hadapan lempengan kristal itu. Sosok itu tampak berwujud seorang lelaki tua yang tingginya menjulang tegak dan gagah, rambut dan janggutnya berwarna putih bersih seputih kapas, wajahnya tampak ramah namun penuh wibawa dan pengetahuan yang sangat dalam, serta matanya yang berbinar lembut seolah mampu melihat dan mengerti segala sesuatu yang ada di masa lalu, masa kini, maupun masa depan sekaligus.
Ia berdiri tegak dan tenang di hadapan mereka, menatap kedua pemuda itu dengan pandangan yang hangat dan menyeluruh, seolah telah mengenal dan menantikan kedatangan mereka sejak waktu yang sangat lama sekali.
"Selamat datang, anak-anakku..." ujar lelaki tua itu dengan suara yang lembut namun bergema jelas di sekujur ruangan, persis sama dengan suara yang terdengar dari balik pintu raksasa tadi. "Aku adalah penjaga tempat ini, dan juga orang yang terakhir kali menyusun serta menutup rapat seluruh pengetahuan dan rahasia di dalam menara ini ratusan tahun yang lalu. Aku sudah menantikan kedatangan kalian selama masa yang sangat panjang, karena aku tahu pasti bahwa suatu hari nanti kalianlah yang akan datang ke sini untuk melanjutkan perjuangan dan menyelesaikan tugas besar yang belum sempat terselesaikan oleh para leluhur di masa lalu."
Mo Fei dan Bai Yue saling berpandangan sejenak, lalu keduanya pun segera membungkukkan badannya dengan hormat dan rasa takzim yang mendalam kepada sosok lelaki tua di hadapan mereka itu.
"Terima kasih, Kakek Penjaga," jawab Mo Fei dengan nada suara yang sopan dan tulus. "Kami datang ke tempat ini setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berat, melewati berbagai bahaya dan ujian yang mengerikan, semata-mata karena kami ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya, mengetahui siapa diri kami sebenarnya, dan mengetahui cara untuk menghentikan kekejaman serta penindasan yang dilakukan oleh Istana Surga Gelap terhadap seluruh umat manusia selama ribuan tahun lamanya. Kami berharap Kakek bersedia menjawab segala pertanyaan kami, dan memberikan kami petunjuk serta kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh yang begitu hebat dan berkuasa itu di masa depan nanti."
Lelaki tua itu tersenyum lembut dan mengangguk perlahan mendengarkan perkataan Mo Fei, matanya menatap keduanya dengan pandangan yang penuh rasa kasih sayang dan penghargaan yang tinggi.
"Aku tahu semuanya, dan aku mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikiran kalian berdua," jawabnya perlahan dan tenang. "Dan aku juga tahu betul betapa berat dan sulitnya jalan yang telah kalian pilih dan lewati sejauh ini. Tapi percayalah anak-anakku, apa yang kalian hadapi dan apa yang kalian derita selama ini semuanya sudah diatur dan disiapkan sedemikian rupa, bukan oleh orang jahat atau penguasa gelap di tempat tinggi sana, melainkan oleh hukum takdir dan kehendak alam semesta itu sendiri. Karena hanya melalui penderitaan, pengorbanan, dan ujian yang berat itulah seseorang mampu tumbuh, matang, dan mencapai tingkatan yang benar-benar tinggi dan mulia, sehingga layak dan mampu memegang tanggung jawab serta kekuasaan yang sebanding dengan besarnya tugas dan tujuan yang harus dicapai."
Ia menunjuk perlahan ke arah lempengan kristal yang bersinar terang di atas meja batu di sampingnya, lalu kembali menatap wajah kedua anak muda di hadapannya itu dengan pandangan yang serius dan dalam.
"Segala hal yang ingin kalian ketahui, segala jawaban yang kalian cari, dan segala kekuatan yang kalian butuhkan di masa depan, semuanya tersimpan lengkap di dalam benda ini. Di dalamnya terdapat sejarah lengkap tentang asal mula dunia, tentang terbentuknya Istana Surga Gelap, tentang mengapa mereka bertindak dan berkuasa seperti yang kalian lihat, serta penjelasan lengkap mengenai asal-usul kalian dan hubungan tak terputus yang ada di antara kalian berdua sejak ribuan tahun yang lalu."
Mendengar ucapan itu, hati Mo Fei dan Bai Yue seakan berhenti berdetak sejenak karena rasa terkejut dan penasaran yang luar biasa besarnya. Selama ini mereka tahu bahwa ada ikatan yang sangat kuat dan erat di antara mereka, namun mereka sama sekali tidak menyangka bahwa hubungan itu sebenarnya sudah ada dan terjalin jauh sebelum mereka lahir ke dunia ini dan hidup di masa sekarang.
"Hubungan kami... sejak ribuan tahun yang lalu?" ulang Mo Fei perlahan dengan suara yang terdengar terkejut dan tidak percaya. "Apa maksudnya, Kakek? Dan apa sebenarnya asal-usul kami yang sesungguhnya?"
Lelaki tua itu tersenyum misterius namun lembut mendengarkan pertanyaan itu, lalu ia mengangguk perlahan dan memberikan isyarat agar mereka maju selangkah lebih dekat lagi ke arah lempengan kristal itu.
"Ambillah dan bukalah pengetahuan yang ada di dalamnya, dan kalian akan mengetahui segala sesuatu secara lengkap dan jelas," ujarnya dengan suara rendah namun tegas. "Namun ingatlah satu hal yang paling penting: Segala pengetahuan, kekuatan, dan kebenaran yang akan kalian terima dan pelajari nanti, semuanya membawa tanggung jawab yang sangat besar dan berat di pundak kalian. Gunakanlah apa yang kalian miliki dan ketahui itu untuk tujuan yang mulia dan benar, jangan sampai tergoda oleh kekuasaan atau kesombongan yang berlebihan, karena hal itulah yang menjadi awal mula kehancuran dan kejatuhan siapa pun yang memiliki kekuatan besar di dunia ini, baik di masa lalu maupun di masa yang akan datang."
Dengan hati-hati dan penuh rasa hormat, Mo Fei mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaan lempengan kristal yang dingin dan halus itu. Begitu kulit tangannya menyentuh benda kuno itu, seketika aliran informasi dan pengetahuan yang begitu luas, dalam, dan dahsyat langsung mengalir deras masuk ke dalam pikiran, hati, dan seluruh bagian tubuhnya seolah banjir besar yang menutupi dan memenuhi seluruh ruang yang ada di dalam dirinya. Bersamaan dengan itu, di sampingnya, tangan Bai Yue yang masih saling bergenggam erat dengannya pun merasakan aliran yang sama persis, karena hubungan dan penyatuan energi di antara mereka yang sudah terjalin sempurna membuat segala sesuatu yang dialami dan diterima oleh salah satu dari mereka, akan langsung dirasakan dan diketahui oleh yang lainnya juga seketika itu juga.
Di dalam kesadaran mereka yang menyatu dan meluas seketika itu juga, terbentanglah kisah panjang dan luar biasa yang mencakup ribuan tahun sejarah, mulai dari awal mula penciptaan dunia, pembagian kekuatan alam, pertarungan besar antara pihak yang menginginkan keteraturan dan pihak yang menginginkan kekuasaan mutlak, hingga akhirnya terbentuknya susunan dunia dan sistem kekuasaan yang mereka lihat dan alami di masa sekarang ini.
Dan di sanalah akhirnya terungkap segala rahasia besar yang selama ini tersembunyi dan tertutup rapat dari pengetahuan umum maupun dari pengetahuan mereka sendiri...