"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PALUNG SUKMA DI PARANGTRITIS
Tiga hari setelah peristiwa besar di Gunung Arjuno, suasana di Pantai Parangtritis berubah mencekam dengan gumpalan awan rendah yang tampak menyentuh laut.
Langit tidak tertutup mendung biasa, melainkan dipenuhi pusaran awan rendah yang seakan menyatu dengan samudra. Di sana, Arka berdiri kokoh di ujung tebing karang yang tajam menghadap laut lepas.
Angin laut yang amis menerjang wajah Arka, mempermainkan rambutnya yang kini mulai gondrong menyentuh bahu.
BOOM!!!
Di bawah kakinya, deburan ombak besar menghujam karang dengan bunyi yang sangat kuat sampai menggetarkan tulang-belulang.
Arka bisa merasakan getaran itu merambat dari telapak kakinya, naik ke sumsum tulang belakang, dan beradu dengan denyut Segel Api di dadanya yang masih terasa hangat.
Di belakangnya, Reyna berdiri tak bergerak. Meski berada di jarak aman, ia tetap dapat merasakan hawa dingin yang menyelimuti suasana tersebut. Jemarinya yang lentik tidak berhenti memutar tasbih kayu cendana.
Ia terus berdoa dengan bibir pucat untuk menolak bala. Rasa takutnya bukan tertuju pada keganasan ombak, melainkan pada apa yang akan bangkit dari dalamnya.
"Arka," suara Reyna nyaris tertelan oleh raungan angin.
"Laut ini berbeda dengan gunung. Api di Arjuno bisa kau lawan dengan ketegasan, tapi air... air akan menyerap segalanya. Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam beban yang kau bawa dari Jakarta."
"Pengkhianatan Maya dan Richard Tan itu seperti pemberat yang diikatkan ke kakimu. Jika kau tidak melepasnya, itu akan membuatmu terseret jatuh ke dalam palung terdalam."
Arka tidak menoleh. Matanya yang kini memiliki semburat ungu-kemerahan menatap lurus ke arah cakrawala yang menghitam.
"Aku merasakannya, Rey. Ada sesuatu yang lapar di bawah sana. Dia tidak marah, tapi dia ingin menelan semuanya."
Tiba-tiba... SRAAAKKK!!!
Sebuah keajaiban alam yang tak masuk akal terjadi seketika di depan pandangan mereka. Laut yang semula bergejolak liar mendadak diam. Sunyi yang mengerikan.
Air laut surut dengan sangat cepat hingga berjarak ratusan meter dari garis pantai. Hal ini menyisakan hamparan pasir hitam yang dipenuhi ikan-ikan yang terkapar karena tidak lagi terendam air.
Di tengah fenomena surutnya laut, muncul sebuah pusaran masif yang seolah-olah sedang menyedot habis seluruh volume Samudra Hindia.
GRRRRROOOOAAAARRRR!!!
Sebuah bayangan besar mulai muncul secara perlahan dari dalam pusat pusaran air tersebut. Itu bukan sekadar naga dalam dongeng. Itu adalah Jaladri, Penjaga Segel Keempat.
Tubuhnya dilapisi sisik biru gelap yang setiap kepingnya sebesar perisai perang, berkilau seperti permata safir di bawah cahaya kilat yang sesekali menyambar langit.
Panjangnya seolah tak berujung, melingkar-lingkar di tengah pusaran air dengan sepasang tanduk perak yang memancarkan energi listrik statis.
Dengan sorot mata yang jernih namun beku, ia memandang Arka hingga membuat waktu seolah-olah tidak lagi berputar.
“Manusia yang membawa api di dadanya...”
DENG!
Suara itu tidak keluar dari mulut sang naga, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak Arka, menciptakan rasa sakit yang tajam seperti paku yang dipukul ke dahi.
“Berani sekali kau mengusik tidurku dengan aroma kebencian yang begitu pekat.”
Jaladri mengibaskan ekornya. WHUUTSSHHH!
Tampak pelan namun berakibat fatal, air laut yang semula surut kembali menghantam pantai dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Tsunami setinggi dua puluh meter menerjang ke arah tebing, siap menghancurkan apa saja yang berdiri di jalurnya.
Reyna memejamkan mata, memperkuat rapalannya. Namun Arka, ia justru melangkah maju.
BYUURRR!!!
Alih-alih menjauh, Arka terjun dari tebing karang ke dalam deburan air hitam. Hantaman permukaan laut itu terasa sangat menyakitkan, sekeras beton yang menghujam tubuhnya.
BLUUB.. BLUUB..
Ia terseret ke dalam kegelapan, diputar-putar oleh arus bawah yang mematikan. Paru-parunya mulai terasa terbakar saat air garam mencoba merangsek masuk melalui hidung dan mulutnya.
Pandangan Arka mulai kabur saat ia tenggelam dalam kegelapan dasar samudera yang sangat pekat. Namun, di saat kesadarannya menipis, sebuah ilusi yang menyakitkan muncul di pelupuk matanya.
Ia melihat sebuah kamar penthouse mewah di Singapura. Di sana, Maya wanita yang pernah ia cintai sepenuh hati sedang tertawa manja di pelukan Richard Tan.
Dengan segelas sampanye di tangannya, wajah Richard terlihat sangat puas seolah telah memenangkan segalanya.
Dan di sudut ruangan yang gelap, Arka melihat seorang anak kecil sedang duduk meringkuk, menangis ketakutan sambil memanggil namanya.
"Papa... Papa, tolong..."
SYUTTT!
Amarah Arka meledak. Di dalam air yang dingin itu, sekujur tubuhnya secara tiba-tiba memancarkan uap panas.
CSSSSSSS!
Aura ungu di tubuhnya berubah menjadi hitam pekat. Ia ingin mencabik-cabik wajah Richard Tan. Ia ingin menghancurkan gedung itu. Ia ingin menenggelamkan Singapura dengan tangannya sendiri.
Semakin ia dikuasai kemarahan, semakin kuat pula air laut menghimpit raganya. KRETEK... KRETEK... Ia merasa tulang-tulangnya akan patah. Ia kehabisan oksigen. Ia sekarat di bawah beban dendamnya sendiri.
"Jadilah samudera, Arka..." suara lembut Reyna mendadak muncul di batinnya, tenang dan jernih.
"Samudera menerima bangkai, menerima limbah, menerima segala kotoran dunia, namun samudera tetaplah biru dan suci. Jangan biarkan kotoran mereka mengubah warnamu."
Arka berhenti meronta. Ia membiarkan tubuhnya lunglai. Ia melepaskan kepalan tangannya. Di tengah kegelapan itu, ia membayangkan wajah anaknya, bukan lagi dengan rasa benci pada Richard, melainkan dengan cinta yang murni. Ia menyadari satu hal: jika ia membunuh karena dendam, ia tidak ada bedanya dengan monster yang ia lawan.
Seketika, tekanan air yang mengerikan itu hilang. Kegelapan di sekelilingnya berubah menjadi cahaya biru safir yang sangat indah. Arka membuka mata di bawah air dan melihat sosok Jaladri kini berenang pelan di hadapannya. Naga itu tidak lagi terlihat mengancam, gerakannya sehalus tarian seorang penari keraton.
“Kau telah melewati Palung Sukma, Arka Nirwana,” suara naga itu kini terdengar seperti gemericik mata air yang jernih. “Gunakan kekuatan ini untuk membasuh luka negerimu, bukan untuk menenggelamkan musuhmu.”
ZINGGG!
Sebuah bola energi berwarna biru tua keluar dari mulut naga tersebut, meluncur perlahan dan meresap masuk ke dalam pusar Arka. Seketika, rasa dingin yang sangat nyaman menjalar ke seluruh sarafnya.
Ia merasa seolah pembuluh darahnya tersambung ke setiap aliran sungai di Kalimantan, setiap tetes hujan yang jatuh di Papua, dan setiap ombak yang menghantam pesisir Sumatra.
Segel Keempat: Segel Kedalaman, telah terbuka.
***
Saat Arka akhirnya terdampar di pasir pantai, ia tidak bangun sebagai pahlawan yang gagah.
UHUK! UHUK!
Ia terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air laut sambil menggigil karena hipotermia. Reyna langsung berlari menghampirinya, menyelimuti tubuh Arka dengan kain mori putih yang sudah diberi doa-doa perlindungan.
"Kau kembali," bisik Reyna, suaranya bergetar. Arka bisa melihat ada sisa air mata di sudut mata wanita itu.
Arka mengatur napasnya yang berat, berusaha duduk di atas pasir hitam yang basah. "Jaladri memberi tahu sesuatu saat energi itu menyatu dengan sukmaku, Rey."
"Richard Tan... dia bukan pengusaha biasa. Dia punya 'sesuatu' dari luar Nusantara yang menjaganya. Itulah kenapa dia bisa begitu kuat di Singapura."
Reyna tertegun. "Kekuatan asing?"
"Ya. Mereka tidak ingin Satria Piningit bangkit. Mereka ingin poros dunia tetap di tangan mereka agar mereka bisa terus menguras negeri ini," Arka berdiri dengan sisa kekuatannya.
Matanya kini benar-benar berbeda. Kedamaian yang ia dapatkan di dasar laut kini menyatu dengan ketegasan yang mematikan.
Jenderal Wironegoro mendekat dari arah helikopter yang mendarat tak jauh dari sana. Wajah pria tua itu terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Gusti Arka! Intelijen kami baru saja menerima laporan. Richard Tan sudah mengetahui pergerakan Anda. Dia telah menyewa kelompok supranatural dari luar, Black Order, untuk menjaga perbatasan Singapura. Mereka tahu Anda akan datang."
Arka hanya tersenyum dingin. Ia menatap ke arah laut lepas yang kini sudah kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi badai besar di sana.
"Biarkan mereka menunggu, Wironegoro. Aku tidak akan ke Singapura sebagai seorang mantan suami yang sedang patah hati. Aku akan ke sana sebagai hukum alam yang datang untuk menagih hutang takdir."
TRAP! TRAP! TRAP!
Arka berjalan menuju helikopter, langkahnya mantap meski tubuhnya masih terasa lemas. Ia menoleh ke arah Reyna yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Rey, bersiaplah. Di Singapura, aku tidak bisa hanya mengandalkan ketenangan. Di sana adalah hutan beton yang penuh dengan racun. Aku butuh kau untuk tetap menjadi jangkarku."
Reyna mengangguk mantap, sebuah janji tanpa kata-kata terpancar dari matanya. "Selama kau ingat siapa dirimu, Arka, semesta tidak akan membiarkanmu kalah."
WUSSSHHHH
Saat helikopter itu terbang membelah kegelapan malam menuju utara, Pantai Parangtritis kembali ke kesunyiannya. Namun di bawah permukaan laut, sang Naga Jaladri memberikan satu raungan rendah sebagai bentuk penghormatan.
UUUUUUUUMMMMM...
Sang Satria Piningit telah menguasai separuh dari kekuatannya, dan tak lama lagi, dunia internasional akan segera merasakan guncangan dari sang Poros Dunia yang baru saja bangun dari tidurnya.
***
Dukung terus perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.