NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kejayaan Ayah, Kekosongan Anandara

Malam itu, langit kota berpesta dengan taburan bintang yang tak tertutup awan mendung, seolah semesta sedang memberikan penghormatan pada seorang pria yang tak pernah lelah memeras keringatnya. Di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, gemuruh tepuk tangan dari ratusan pengusaha dan pejabat pemerintahan menggema di dalam ballroom yang dihiasi lampu kristal raksasa.

Di atas panggung utama, Pak Dirga berdiri dengan gagah mengenakan setelan jas tuxedo hitam pesanan khusus. Wajahnya yang dulu kuyu, penuh debu proyek, dan dihiasi gurat keputusasaan di rumah kontrakan beratap seng, kini telah bermetamorfosis sempurna menjadi wajah seorang konglomerat yang dihormati. PT. Dirga Rancang Bangun baru saja memenangkan tender mega-proyek kawasan mandiri terpadu senilai triliunan rupiah—sebuah pencapaian monumental yang secara resmi menobatkan perusahaan ayahnya sebagai salah satu raksasa properti terbesar di negeri ini.

Anandara Arunika duduk di meja VIP deretan paling depan. Ia mengenakan gaun malam berwarna sapphire blue yang menjuntai elegan menyapu lantai berkarpet merah. Leher jenjangnya dihiasi kalung berlian sederhana namun memancarkan kilau kemewahan yang tak terbantahkan. Penampilannya malam itu sangat sempurna. Ia adalah lambang dari putri mahkota sebuah dinasti bisnis yang sedang berada di puncak kejayaannya.

Ketika Pak Dirga turun dari panggung sambil membawa plakat penghargaan, pria itu langsung berjalan menghampiri putrinya. Ia memeluk Anandara dengan erat, air mata kebanggaan menggenang di sudut mata tuanya.

"Kita berhasil, Nduk. Kita sampai di puncak," bisik Pak Dirga dengan suara bergetar karena haru. "Semua ini Bapak bangun untuk kamu. Masa depanmu terjamin. Kamu tidak akan pernah kekurangan apa pun lagi seumur hidupmu."

Anandara membalas pelukan ayahnya dan mengukir senyum paling manis yang ia miliki. "Nanda bangga sama Bapak. Sangat bangga. Selamat, Pak."

Namun, di balik senyum sempurna dan gaun mahalnya, mata hitam legam Anandara memancarkan sebuah paradoks yang menyayat hati. Pujian, tepuk tangan, kilatan blitz kamera wartawan bisnis, dan angka-angka triliunan rupiah itu tidak mampu menembus satu milimeter pun ke dalam hatinya. Ia merayakan kemenangan ayahnya dengan tulus, namun di kedalaman jiwanya, ia tidak merasakan euforia. Ia hanya merasakan kehampaan yang menggema.

Dua jam kemudian, acara usai. Mobil limousine hitam mewah membawa ayah dan anak itu membelah jalanan malam kota, melewati deretan gedung pencakar langit yang beberapa di antaranya adalah hasil rancangan perusahaan mereka sendiri.

Mereka tiba di kediaman keluarga Dirga. Sebuah rumah—atau lebih tepatnya, sebuah mansion—berlantai tiga yang berdiri megah di kawasan perumahan paling elit. Gerbang besi tempa yang menjulang tinggi terbuka otomatis. Air mancur di halaman depan memancarkan cahaya keemasan. Pilar-pilar pualam bergaya klasik menopang teras depan yang luar biasa luas.

Ketika pintu utama berukir kayu jati itu didorong terbuka oleh asisten rumah tangga mereka, kemegahan interior rumah itu langsung menyambut. Lantai marmer impor dari Italia memantulkan cahaya lampu gantung. Ada tangga melingkar yang megah, lukisan-lukisan mahal di dinding, dan perabotan berlapis kulit asli yang harganya setara dengan biaya hidup puluhan keluarga selama setahun.

"Bapak mau langsung istirahat?" tanya Anandara saat melihat ayahnya melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan wajah lelah namun puas.

Pak Dirga mengangguk sambil menghela napas panjang. Ia menjatuhkan tubuhnya sejenak di atas sofa ruang tamu utama. "Iya, Nduk. Tulang Bapak rasanya mau rontok. Besok pagi-pagi Bapak sudah harus rapat dengan dewan direksi untuk pembebasan lahan mega-proyek itu. Kamu juga langsung tidur, ya. Jangan begadang terus menerus menatap buku akuntansimu."

"Iya, Pak. Biar Nanda buatkan teh chamomile hangat dulu supaya Bapak tidurnya nyenyak," tawar Anandara.

"Tidak usah, Sayang. Bi Inah sudah menyiapkannya di kamar Bapak," Pak Dirga bangkit berdiri. Ia berjalan menghampiri Anandara, mengecup dahi putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. "Malam ini Bapak tidur dengan sangat tenang, Nanda. Karena Bapak tahu, Bapak sudah berhasil melindungi putri kecil Bapak dari kemiskinan dan kelaparan."

Anandara tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mencapai matanya. "Selamat malam, Pak."

Sepeninggal ayahnya yang menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua, Anandara berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luar biasa luas itu. Asisten rumah tangga sudah kembali ke paviliun belakang. Sunyi senyap seketika mengambil alih kekuasaan.

Anandara melepaskan sepatu hak tingginya, membiarkan telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. Sangat dingin. Sedingin es di kutub utara.

Gadis itu berjalan gontai menuju ruang tengah. Ia menatap ke sekeliling. Langit-langit ruangan itu tingginya mencapai enam meter, dirancang agar rumah terasa megah dan bersirkulasi udara baik. Namun bagi Anandara malam ini, kebesaran ruangan itu justru mencekiknya. Ruang yang terlalu luas ini menciptakan gaung dari setiap tarikan napasnya, mengingatkannya pada betapa kosongnya rumah ini.

Kemewahan, batin Anandara merintih pedih. Inikah harga dari sebuah pengkhianatan?

Semakin tinggi kekayaan ayahnya meroket, semakin dalam jurang kekosongan yang menganga di dada Anandara. Di rumah kontrakan empat kali enam meter yang dulu sering bocor saat hujan, kehangatan itu dipaksakan hadir oleh kepedulian yang sangat sederhana: membagi satu telur goreng menjadi dua, atau ayahnya yang membawakan martabak manis sepulang kerja. Di sana, mereka terikat oleh perjuangan untuk bertahan hidup.

Tapi di mansion raksasa ini, tidak ada lagi perjuangan fisik. Uang telah menyelesaikan semua masalah logistik. Lemari es selalu penuh dengan makanan impor. Sepatu Anandara semuanya bermerek dan tidak ada yang bersol menganga. Semua penderitaan materi telah lenyap tanpa sisa.

Dan justru karena itulah, luka emosional yang selama ini tertutupi oleh masalah finansial, kini terpampang nyata tanpa penghalang apa pun. Rumah ini layaknya sebuah museum berlapis emas: indah, mahal, dipuja banyak orang, namun tidak memiliki nyawa. Tidak ada detak jantung kehidupan. Tidak ada jiwa yang menghangatkannya.

Langkah pelan Anandara membawanya menaiki tangga menuju kamarnya di sayap kanan lantai dua. Ia membuka pintu kayu berukir itu, masuk, dan menutupnya kembali dengan pelan. Terdengar bunyi klik saat kunci otomatisnya terpasang.

Kamarnya adalah manifestasi dari kamar seorang putri kerajaan di era modern. Ranjang king size dengan seprai sutra, walk-in closet yang dipenuhi deretan pakaian desainer, meja belajar dari kayu oak yang luas, dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah dan kolam renang yang airnya memantulkan cahaya lampu kebiruan.

Anandara berjalan menuju jendela kaca itu. Ia menatap ke luar, melihat pantulan dirinya sendiri di kaca yang gelap. Gaun sapphire blue yang ia kenakan memang membuatnya terlihat menawan, tapi wajah di balik kaca itu terlihat sangat rapuh dan lelah. Terlalu lelah untuk gadis berusia sembilan belas tahun.

Ia perlahan menarik ritsleting gaunnya, membiarkan kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai. Ia menggantinya dengan piyama sutra panjang, menghapus riasan wajahnya secara mekanis di depan meja rias, dan melepaskan ikatan rambutnya.

Saat ia duduk di tepi ranjangnya yang empuk, dinding pertahanan yang ia bangun dengan logika seharian ini akhirnya mulai retak. Kesunyian kamarnya yang absolut menjadi katalis bagi segala emosi yang selama ini ia tekan ke dasar palungnya.

Malam ini, ayahnya sedang merayakan pencapaian seumur hidupnya. Namun malam ini pula, di kamarnya yang sunyi, Anandara meratapi kekalahan seumur hidupnya.

Air mata, yang selama ini sangat jarang ia keluarkan jika tidak sedang bersama Sinta dalam keadaan kritis, perlahan merembes di pelupuk mata hitamnya. Satu tetes jatuh ke punggung tangannya yang bertumpu di paha. Disusul tetesan kedua, ketiga, hingga akhirnya pertahanannya hancur lebur berkeping-keping.

Nyonya Es yang ditakuti dan disegani di Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu merosot turun dari ranjang. Ia duduk bersimpuh di atas karpet bulu tebal di kamarnya, memeluk kedua lututnya, dan menenggelamkan wajahnya di sana. Ia menangis. Bukan tangisan histeris yang meraung-raung, melainkan isakan tertahan yang sangat memilukan, suara dari sebuah jiwa yang terkoyak dalam kebisuan.

Anandara menangis karena ia dihadapkan pada sebuah ironi yang sangat menyayat hati. Ayahnya memiliki kekayaan untuk membeli ratusan rumah mewah di seluruh penjuru negeri, namun triliunan rupiah itu tidak bisa membeli satu hal yang paling krusial bagi jiwa seorang anak perempuan: pelukan tulus seorang ibu.

Aku butuh Ibu... Kalimat itu teriak di dalam kepalanya, bertarung hebat dengan logikanya yang membenci kalimat tersebut. Anandara membenci Bu Riri. Ia membenci wanita pengkhianat yang telah menghancurkan ayahnya dan menanamkan trauma di dalam DNA-nya. Ia membenci bau parfum wanita itu, ia membenci sorot matanya yang rakus akan harta.

Namun, bagaimanapun jeniusnya otak Anandara, bagaimanapun kuatnya logika yang ia asah, ia tetaplah seorang anak perempuan. Di dalam hati kecilnya yang selalu ia paksa untuk mati rasa, ada sebuah rongga kosong berbentuk seorang ibu. Rongga yang seharusnya diisi oleh kehangatan maternal, tempat bernaung saat dunia terasa terlalu membingungkan.

Apalagi di usianya sekarang. Usia di mana gejolak emosi, beban kedewasaan, dan dinamika persahabatan serta percintaan sedang menyerangnya dari segala arah. Teman-teman perempuan di kampusnya, Kiera atau Ami, sering kali bercerita bagaimana mereka berkeluh kesah tentang laki-laki atau skincare kepada ibu mereka. Sinta, sahabatnya, selalu memiliki ibunya yang cerewet namun penuh perhatian sebagai tempat untuk mengadu saat hatinya sedang galau.

Lalu Anandara? Ia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak bisa mengadu pada ayahnya. Pak Dirga adalah pria yang luar biasa baik, pahlawannya, namun Pak Dirga tidak bisa mengisi peran seorang ibu. Ia tidak bisa menceritakan masalah hati perempuan kepada ayahnya, apalagi menceritakan bahwa hatinya sedang terkoyak oleh cinta segitiga yang rumit. Pak Dirga akan sangat khawatir, dan Anandara telah bersumpah untuk tidak pernah menjadi beban bagi ayahnya lagi.

Maka ia menelannya sendirian. Semuanya. Kebenciannya pada trauma, kepanikannya saat menyadari detak jantungnya sendiri, dan rasa sakit yang luar biasa perih saat melihat Sinta menatap Angga dengan penuh cinta.

Di dalam keheningan kamarnya, Anandara menangisi kebodohannya sendiri. Ia menangisi nasibnya yang harus terjebak dalam labirin perasaan tanpa jalan keluar.

"Sakit... di sini sakit sekali..." rintih Anandara di sela isak tangisnya, meremas piyama sutranya tepat di atas dada.

Bayangan Angga Raditya kembali berputar di otaknya tanpa ampun. Tatapan mata elang yang dalam itu. Aroma peppermint. Suara baritonnya saat menanyakan catatannya. Mengingat itu saja membuat jantung Anandara kembali berdebar, sebuah reaksi alamiah yang tak bisa ia bunuh, dan hal itu membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.

Mengapa harus dia? jerit batinnya. Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, mengapa perasaanku harus bangkit untuk laki-laki yang dicintai oleh Sinta?

Sinta. Rumahnya. Penyelamat hidupnya.

Teringat pada Sinta membuat tangisan Anandara semakin pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa dirinya adalah makhluk paling hina di dunia. Sinta telah mengorbankan masa depannya agar bisa satu universitas dengannya. Sinta telah mengorbankan nyawanya di atas atap sekolah itu. Sinta memberikan segalanya tanpa pamrih.

Dan sebagai balasannya? Hati pengkhianat di dalam dada Anandara justru merespons getaran cinta dari pemuda yang sangat didambakan oleh sahabatnya itu.

"Aku ini memang anak dari seorang pengkhianat," racau Anandara pada udara kosong di kamarnya. "Darah wanita egois itu ada di tubuhku. Aku mencintai apa yang seharusnya tidak aku cintai. Aku menjijikkan."

Rasa bersalah menimpanya seperti ribuan balok beton. Anandara merasa bahwa rasa cintanya pada Angga adalah sebuah dosa besar yang tidak termaafkan. Seolah-olah sejarah sedang berulang; ibunya mengkhianati pernikahan demi egonya sendiri, dan kini, apakah Anandara akan mengkhianati persahabatan sucinya demi seorang laki-laki?

"Tidak. Tidak akan pernah," bisik Anandara tegas di antara isakannya yang mulai mereda.

Ia mengangkat wajahnya. Mata hitam legamnya yang sembab menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela kaca. Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa amis darah, memaksakan sebuah resolusi yang sangat kejam pada dirinya sendiri.

Jika kekosongan di rumah mewah ini tidak bisa diisi oleh seorang ibu, maka biarlah ia tetap kosong. Jika hatinya tidak bisa dimiliki oleh orang yang ia cintai karena akan melukai sahabatnya, maka ia akan membunuh hati itu selamanya.

Aku akan memastikan Sinta mendapatkan Angga, sumpah Anandara di dalam hati, memahat janji itu dengan rasa perih yang teramat sangat. Sinta berhak mendapatkan pria yang ia cintai. Dan aku... aku akan menjadi jembatan untuk mereka. Sekalipun aku harus terinjak dan hancur di dasar jurang.

Anandara menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan piyamanya. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri, meski lututnya terasa lemas. Ia berjalan menuju kamar mandi, menyalakan keran wastafel, dan membasuh wajahnya berulang kali dengan air es hingga rona merah di matanya sedikit memudar.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Nyonya Es itu kembali. Raut wajahnya kembali mengeras, sorot matanya kembali tajam dan tak tertembus. Sisi rapuh yang meratapi kekosongan kasih sayang ibu dan rasa sakit akibat cinta yang tak terbalas itu telah dikunci kembali di dalam peti mati di dasar palungnya.

"Angga hanyalah teman sekelas. Sinta adalah segalanya," Anandara mengucapkan mantra itu berulang-ulang di depan cermin, mencuci otaknya sendiri, memaksa logikanya untuk menindas perasaannya.

Malam itu, di dalam mansion miliaran rupiah yang dipenuhi oleh perabotan impor dan lantai marmer, pewaris utama dinasti PT. Dirga Rancang Bangun itu kembali ke ranjangnya dengan hati yang luar biasa melarat. Ia adalah gadis terkaya di angkatannya, memiliki otak paling jenius di kelasnya, namun di saat yang bersamaan, ia adalah manusia paling miskin dalam hal kebahagiaan.

Ia memejamkan mata, bersiap menyambut hari esok di kampus. Bersiap untuk kembali memakai topeng senyuman palsunya, bersiap untuk berpura-pura membenci tatapan pemuda yang diam-diam telah mencuri hatinya, dan bersiap untuk kembali menyayat hatinya sendiri demi melihat Sinta tersenyum.

Kekosongan itu kini menjadi teman setianya, dan Anandara memeluknya erat-erat dalam tidur yang gelisah. Setidaknya, pikirnya, kekosongan tidak akan pernah bisa mengkhianatinya.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!