NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua jiwa dalam satu raga

Di kesunyian ruang pribadinya, Raja Indra terduduk diam. Pikirannya melayang pada selembar surat dari Pangeran Elias yang selama ini tersimpan rapat. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya , sebuah fakta yang seharusnya sudah ia bagikan kepada Cakra saat mereka bertemu malam itu .

"Bagaimana aku bisa melupakan hal ini?" bisik Raja Indra pada dinding-dinding bisu.

"Cakra harus tahu siapa sebenarnya Sedra. Wanita yang dia buru habis habisan itu ternyata bukan sekadar pemberontak biasa, melainkan mantan prajurit kepercayaan Raja Seno yang telah berkhianat."

Raja indra pun memutuskan untuk memberitahu Cakra saat putranya itu sudah kembali ke istana . Hingga seorang pengawal tiba tiba menerobos masuk dengan napas memburu.

"Lapor Yang Mulia ! Sedra kembali membuat teror . Dia menyerang kerajaan-kerajaan kecil di wilayah selatan dan menjarah semua harta benda tanpa sisa!"

Wajah Raja Indra seketika memerah padam. Amarahnya meledak, urat-urat di lehernya menegang. "Berani sekali dia! Mengusik wilayah Selatan sama saja dengan meludah di wajahku. Ini adalah tantangan perang!"

Dengan langkah yang menggetarkan lantai aula, sang Raja mengumpulkan para jenderal dan panglimanya. Suaranya menggelegar penuh otoritas. "Kerahkan pasukan terbaik! Tangkap iblis itu sekarang juga—bawa dia kepadaku, hidup atau mati!"

Di tengah ketegangan itu, Julian melihat celah. Ia melangkah maju dengan seringai tipis yang sarat akan ambisi. "Aku bersumpah dengan nyawaku sendiri, Ayah. Akan kubawa kepala Sedra ke hadapanmu sebagai bukti baktiku."

***

Sementara itu, di bawah naungan pohon-pohon besar yang lembap, Nayan berjalan bersisian dengan Cakra. Sesekali ia membungkuk untuk memungut ranting kering, sebuah sandiwara kecil agar tujuannya tidak terendus.

Nayan menghela napas panjang, menatap punggung Cakra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa kemana mana jika Cakra terus bersamaku ." gumamnya begitu lirih, nyaris tertelan suara gesekan daun.

Cakra berhenti mendadak dan menoleh. "Kau bicara sesuatu?"

"Ah... tidak. Aku hanya sedang melamun," sahut Nayan cepat, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

Cakra terdiam sejenak. Ia menatap Nayan dengan intens, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak diduga. "Nayan... apa kau pernah memiliki seseorang di masa lalumu? Maksudku... kekasih? Apa kau benar-benar menghabiskan hidupmu sendirian selama ini?"

Langkah Nayan terkunci. Pertanyaan itu seperti sembilu yang menyayat luka yang belum sepenuhnya kering. Seketika, memori pahit tentang Pangeran Elias , pria yang dulu Sedra cintai dengan seluruh jiwanya namun berakhir mengkhianatinya hingga membuatnya menjadi buronan berputar liar di kepalanya seperti mimpi buruk.

Menyadari Nayan yang tertinggal di belakang, Cakra segera berbalik. Ia melihat gadis itu mematung dengan tatapan kosong yang menyakitkan. "Nayan? Ada apa? Kau baik-baik saja?"

Nayan buru-buru mengerjapkan mata, mengusir genangan air mata yang hampir jatuh. Ia mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, berusaha mengembalikan topeng ketenangannya. "Aku tidak apa-apa, Cakra. Ayo, Matahari sudah mulai tinggi . "

Nayan berjalan mendahului dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Cakra tetap berdiri di sana, menatap punggung Nayan yang tampak begitu rapuh namun keras kepala. Ada desir aneh yang menusuk hatinya , sebuah rasa bersalah sekaligus keinginan untuk melindungi.

"Apa tadi aku salah bertanya ." batin Cakra penuh sesal.

.....

Langkah mereka terhenti saat segerombolan pria dengan wajah garang tiba-tiba menyembul dari balik semak. Bilah-bilah pedang berkarat langsung terhunus, mengunci pergerakan mereka berdua.

"Serahkan semua harta kalian!" bentak salah satu dari mereka dengan suara parau.

Nayan, yang sedetik lalu memiliki tatapan setajam elang, seketika mengubah raut wajahnya saat menyadari Cakra menoleh. Ia langsung memasang wajah pucat pasi dan gemetar hebat, memerankan sosok gadis desa yang tak berdaya.

"Tuan..., kami tidak punya apa-apa. Kami hanya rakyat miskin yang sedang mencari kayu bakar." ucap Nayan dengan suara bergetar, sebuah akting yang nyaris sempurna.

Cakra tidak bersuara. Mata tajamnya menyisir setiap pergerakan lawan dengan kewaspadaan penuh. Lengannya yang kokoh bergerak melindungi Nayan, menyembunyikannya di balik punggungnya yang lebar.

Para penjahat itu saling bertukar pandang, sebelum akhirnya mata mereka tertuju pada Nayan. Tatapan mereka berubah menjadi lapar dan menjijikkan, menelusuri wajah hingga lekuk tubuh Nayan.

"Ck, kalau tidak punya harta, kau masih punya wajah dan tubuh yang indah, Nona. Itu lebih dari cukup untuk kami," celetuk si pemimpin sambil menyeringai busuk.

Rahang Cakra mengeras seketika. Matanya berkilat merah, memancarkan aura membunuh yang dingin mendengar Nayan dilecehkan.

"Akan kupastikan kalian tidak akan pernah bisa bicara lagi," desis Cakra tajam.

Sret!

Dalam satu gerakan yang nyaris tak tertangkap mata, Cakra mencabut belati dari balik jubahnya. Ia melesat seperti bayangan di antara kerumunan penjahat itu. Gerakannya sangat efisien namun brutal. Dengan teknik tingkat tinggi, Cakra menyayat urat nadi dan menusuk titik-titik vital lawan dalam hitungan detik.

Darah segar menyembur, membasahi tanah hutan saat satu per satu dari mereka tumbang tanpa sempat berteriak. Cakra berdiri di tengah mayat-mayat itu, memutar belatinya sebelum disarungkan kembali dengan sisa darah yang masih menetes.

Nayan terpaku di tempatnya. Sebagai Sedra, melihat pertumpahan darah adalah hal biasa. Namun, bukan mayat-mayat itu yang membuatnya tertegun, melainkan cara Cakra memainkan belatinya.

"Gerakan ini... kenapa terasa begitu familiar? Cara dia memegang gagang belati, sudut tusukannya... ini bukan teknik sembarangan. Siapa pria ini sebenarnya?" batin Nayan penuh tanya.

Cakra berbalik, napasnya sedikit memburu. Ia melihat Nayan yang masih mematung dengan tatapan kosong. Mengira gadis itu trauma karena menyaksikan pembantaian di depan matanya, Cakra segera menghampirinya dengan cemas.

"Nayan? Hey, Nayan!" Cakra menggoyang-goyangkan bahu Nayan, mencoba menyadarkannya.

Nayan tersentak. Ia harus segera memberikan reaksi yang pas agar tidak dicurigai sebagai petarung yang sudah terbiasa dengan darah. "Sial, aku harus bersikap seperti apa.." Detik itu juga, sebuah ide muncul. Ia memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya lemas sepenuhnya.

Nayan jatuh pingsan . Dengan sigap, Cakra menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah, mendekapnya erat dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.

Bersambung....

🌻🌻🌻🌻

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!