Ada seorang anak perempuan yang baru lulus SD dan masuk SMP IT bernama AQEELA MENTARI PUTRI dan dia dekat dengan ketua OSIS yang bernama MUHAMMAD RIAN ALFATIH. Mentari yang di panggil Tari ternyata menyimpan luka batin yang sangat dalam dan semua itu ia curahkan kepada Rian apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Awan Mendung Untuk Mentari
Pada pagi hari Sabtu yang cerah, Tari berangkat ke sekolah dengan langkah yang santai. Harapannya sempat melambung tinggi, secerah cuaca pagi itu yang menyiram lapangan sekolah dengan cahaya keemasan. Namun, ketenangannya langsung terusik begitu mendekati gerbang. Seperti biasa, anak-anak sudah berkerumun, nongkrong sambil bersenda gurau sebelum bel masuk berbunyi.
"Nah, ini dia ketua kelas kita yang paling kece dan berisik minta ampun!" seru Sina begitu menangkap sosok Tari. Ia tersenyum manis.
Tari menghentikan langkahnya, menatap teman-temannya dengan curiga. "Pasti kalian ada maunya, nih. Tiba-tiba ngebujuk ketua kelas."
"Ish, mana ada! Jujur dong, kita tuh ngomong dari hati yang paling dalam," sahut Nira cepat sambil tersenyum penuh arti.
Tari hanya mencibir geli, tahu betul tabiat sahabat-sahabatnya itu. Namun, sebelum ia sempat membalas, sebuah suara menginterupsi obrolan mereka.
"Eh Ri, nanti pelajaran olahraga praktik atau apa, ya?" tanya Kak Yuni tiba-tiba.
"Ish, mana aku tahu, kan aku bukan gurunya," jawab Tari sedikit jutek.
"Tapi kan kamu saudaranya Pak Yayat, si guru olahraga. Jadi otomatis kamu tahu dong," desak Kak Yuni, tidak mau kalah.
Tari baru saja hendak membalas desakan Kak Yuni saat perhatian orang-orang di gerbang mendadak teralih. Dari arah jalan, dua orang cowok berjalan beriringan mendekati gerbang sekolah.
"Inilah pasukan cowok cool," bisik Kak Yuni dengan nada kagum yang tertahan.
"Tapi tetap saja Kak Rian yang paling cool," sahut Sina, matanya tidak lepas dari sosok ketua OSIS tersebut.
Mendengar pujian itu, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dada Tari. Untuk menutupi rasa cemburunya, ia langsung menyambar dengan gaya bercandanya yang khas. "Aduh, pegang hidung Kak Rian soalnya takut terbang ada yang bilang paling cool!"
Langkah Kak Rian sempat tertahan mendengar celetukan itu. Ia terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, Sina biasa aja kok, cool dari mananya. Dasar ya, Ri, kamu tuh selalu ada aja kata-kata untuk bercanda."
"Ketua kelas VII emang selalu ada aja tingkahnya," canda Fikri yang berjalan di belakang Rayyan, ikut memanaskan suasana pagi itu.
Tari langsung memutar bola matanya jenaka. "Banyak tingkah jangan dong, nanti takutnya jadi salah tingkah!"
"Salah tingkah bagus dong, apalagi kalau peka terhadap seseorang," sahut Kak Yuni cepat, melirik Tari dengan senyuman penuh godaan.
Tari terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Tepat pada saat itu, Kak Rian mulai melangkah masuk menuju halaman sekolah. Saat berjalan melewati depan Tari, cowok itu memperlambat langkahnya. Ia menoleh, lalu memberikan sebuah senyuman yang sulit sekali untuk Tari artikan.
Senyuman itu begitu manis. Namun, di dalam hatinya, Tari tahu semua itu semu. Mau sekeren apa pun Kak Rian, dan meskipun Kak Rian memberikan senyuman yang paling manis sekalipun, hati cowok itu tidak akan pernah bisa Tari miliki. Perbedaan besar di antara mereka sudah bukan rahasia umum lagi di sekolah ini.
Seketika, sorot mata Tari meredup. Ia terpaku menatap punggung Kak Rian yang perlahan menjauh.
"Yah, mulai deh ketua kelas kita bengong kayak gitu. Lagi liatin apa sih?" goda Fikri, membuyarkan lamunan Tari.
Tari tersentak, lalu buru-buru memasang wajah cueknya kembali. "Liatin lapangan," jawab Tari asal bunyi.
"Bentar, liatin lapangan atau yang di pinggir lapangan?" goda Rayyan dengan senyum misteriusnya.
Wajah Tari memerah, namun ia tetap mencoba bertahan. "Lapangan! Ngapain liatin Kak Rian, gak ada kerjaan banget!" seru Tari, berusaha terdengar meyakinkan.
Kak Yuni menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. "Masa sih?"
Sebelum Tari sempat membalas godaan Kak Yuni, penyelamatnya akhirnya datang. Kringgg! Bel nyaring tanda masuk sekolah berbunyi, menggema ke seluruh penjuru lingkungan sekolah. Kerumunan anak-anak di depan gerbang pun langsung membubarkan diri dan bergerak masuk ke kelas masing-masing.
Tari melangkah masuk ke ruang kelas VII dengan perasaan yang campur aduk. Langkah santainya yang ia rasakan tadi pagi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh pergulatan batin yang melelahkan. Di dalam hatinya, Tari terus bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah aku harus berani mundur dan menjauh dari Kak Rian? Atau... aku tetap dekat dengannya tapi harus membuang jauh-jauh perasaan yang ada di hati ini? Pilihan mana pun terasa sama-sama menyesakkan bagi mentari kecil seperti dirinya.
Pelajaran pertama pun dimulai. Pada menit-menit awal, Tari berusaha keras melupakan kegalauannya. Ia melalui pelajaran itu dengan pikiran yang sangat fokus, mencatat setiap penjelasan guru di papan tulis dengan tekun. Namun sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama karena Rayyan mulai berulah dan mengganggunya.
Sebagai ketua kelas, Tari memang sedang bertugas menyalin materi di papan tulis untuk teman-temannya. Rayyan yang duduk di bangku tengah tiba-tiba menyipitkan mata, memandangi tulisan tangan Tari dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.
"Ri, itu tulisan atau jalan menuju ke asrama?" celetuk Rayyan setengah berbisik, memprotes tulisan Tari yang mungkin agak berkelok-kelok.
Tari yang memang suasana hatinya sedang sensitif langsung berbalik, menatap Rayyan dengan sisa kekesalan di dadanya. Ia menghentakkan kapur/spidolnya pelan.
"Ya udah nih, siapa yang mau nulis di papan tulis? Bersyukur ada yang mau nulis!" kata Tari ketus sambil berkacak pinggang.
Melihat ketua kelasnya benar-benar merajuk, Rayyan langsung menciut. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Ih, maaf, Ri..." kata Rayyan dengan wajah bersalah.
Tari menahan senyum melihat wajah Rayyan yang langsung berubah drastis. Dasar anak cowok, sukanya memancing keributan tapi giliran diomeli langsung takut. "Gak ada maaf bagimu!" sahut Tari bercanda, menirukan dialog drama.
"Ya Allah, Ri..." ratap Rayyan pasrah, membuat wajahnya tampak makin memelas.
Fikri yang duduk tak jauh dari Rayyan tidak bisa menahan tawa melihat pemandangan itu. "Hahaha! Rayyan pasrah!" goda Fikri sambil menertawakan penderitaan sahabatnya.
Beberapa anak di kelas ikut terkekeh pelan, membuat suasana kelas VII yang sempat tegang kembali mencair. Tari akhirnya kembali melanjutkan tulisannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak terasa, jam dinding terus berputar hingga bel kembali berdentang. Pelajaran pertama pun usai.
Pelajaran berikutnya untuk kelas VII adalah kesenian. Bagi Tari, jam pelajaran ini terasa sangat menyenangkan karena materi yang disampaikan hari itu cukup santai. Setidaknya, Tari bisa mengistirahatkan pikirannya sejenak dari bayang-bayang Kak Rian dan coretan papan tulis yang sempat diprotes Rayyan.
Namun, ketenangan itu mendadak sirna begitu bel istirahat berbunyi. Jika bagi murid lain istirahat adalah momen untuk bersantai, bagi Tari hari ini istirahat justru menjadi hal yang sangat menyebalkan. Pasalnya, setelah jam istirahat ini, giliran kelas VII yang akan memasuki pelajaran olahraga.
Tari harus cepat-cepat ganti baju olahraga. Ia tidak boleh terlambat satu menit pun, karena semua orang tahu bahwa gurunya—Pak Yayat, yang juga merupakan saudara Tari—adalah sosok yang sangat tegas sekali. Di sekolah, Pak Yayat tidak pernah memandang bulu. Status Tari sebagai kerabat justru membuat beban Tari dua kali lebih berat; ia harus memberikan contoh yang baik dan disiplin jika tidak mau kena tegur.
Begitu pelajaran olahraga dimulai, kelas VII langsung bersiap-siap. Karena lapangan sekolah tidak digunakan, mereka harus pergi ke lapangan yang berada di area pemukiman warga.
Tari berjalan memimpin teman-temannya keluar dari area sekolah. Namun, langkah kaki Tari mendadak melambat saat mereka berjalan melewati deretan kelas kakak tingkat. Di sana, anak-anak kelas IX tampak baru saja menyelesaikan jam olahraga mereka di paruh waktu pertama tadi.
Tepat di depan kelas IX, Kak Rian sedang berdiri. Cowok itu tampaknya baru saja kembali dari lapangan dan bersiap untuk berganti baju dari kaos olahraga ke seragam putih-biru utamanya.
Saat mau pergi ke lapangan itulah, langkah Tari seolah tertahan. Di antara riuhnya lorong sekolah, tatapan mata Tari mendadak bertemu pandang dengan Kak Rian yang kebetulan sedang berdiri di sana.
Tatap mata yang singkat, namun sukses membuat dada Tari berdesir hebat kembali. Di tengah rasa buru-burunya karena takut pada ketegasan Pak Yayat, tatapan dari Kak Rian seolah magnet yang egois, memaksa Tari untuk terjebak lagi dalam dilema perasaannya yang belum selesai.
Tari buru-buru memalingkan wajah, mempercepat langkah kakinya menuju gerbang luar sekolah agar tidak ketahuan. Namun ternyata, usahanya sia-sia. Begitu mereka mulai berjalan menyusuri gang menuju lapangan di pemukiman warga, barisan anak-anak cewek langsung merapat ke dekatnya.
"Eh Ri, tadi kamu lihat Kak Rian berdiri di pintu kelasnya kan? Masyaallah, dia ganteng banget!" cerocos Sina dengan mata berbinar-binar.
Tari mengembuskan napas, mencoba bersikap sebiasa mungkin untuk menutupi detak jantungnya yang belum juga normal. "Ya iyalah dia ganteng, kan cowok. Masa iya dia dibilang cantik," sahut Tari, mencoba terdengar cuek.
"Tapi aku penasaran deh, emang siapa sih yang sebenarnya Kak Rian liatin tadi? kayaknya dia lagi mandang ke arah barisan kelas kita tahu," tanya Novia ikut menimpali dengan penasaran.
"Ya aku dong!" jawab Aisyah dan Dena barengan, lalu keduanya langsung tertawa heboh karena kekompakan yang tidak disengaja itu.
"Aku kali!" sahut Sina tidak mau kalah, menepuk dadanya bangga.
"Aku!" seru Nira ikut meramaikan suasana.
Melihat teman-temannya yang mulai berebut, Tari memaksakan sebuah senyuman tipis. Ia menoleh ke arah Nira yang berjalan di sebelahnya.
"Pastilah liatin Nira. Secara Nira paling cantik di kelas VII, pokoknya primadona kelas VII," kata Tari dengan nada suara yang terdengar sangat tenang dan tulus.
Teman-temannya langsung bersorak menggoda Nira yang pipinya mulai memerah. Di tengah keriuhan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kalau langkah Tari sempat goyah.
Kata-kata pujian itu meluncur begitu saja dari mulut Tari, namun di dalam hati, rasanya sangat perih. Rasanya seperti ada sembilu yang menyayat pelan. Orang yang selama ini dia kagumi dan dia sembunyikan namanya rapat-rapat di dalam doa, kini sedang diperebutkan oleh para sahabatnya sendiri. Sahabat-sahabat yang dalam pandangan Tari, memiliki segalanya—lebih cantik, lebih percaya diri, dan jauh lebih pantas bersanding dengan Kak Rian daripada dirinya yang serba kurangan.
Tari menunduk, menatap ujung sepatu olahraganya yang mulai berdebu. Sinar matahari Sabtu pagi itu kian terik, namun "mentari" di dalam dada Tari justru terasa semakin redup, tertutup awan mendung yang ia ciptakan sendiri.
Kata-kata pujian untuk Nira tadi meluncur begitu saja dari mulutnya dengan sangat tenang. Namun, di dalam hati, rasanya begitu perih. Rasanya seperti ada sembilu yang menyayat pelan. Orang yang selama ini dia kagumi dan dia sembunyikan namanya rapat-rapat di dalam doa, kini sedang diperebutkan oleh para sahabatnya sendiri. Sahabat-sahabat yang dalam pandangan Tari memiliki segalanya—jauh lebih cantik, lebih populer, dan jauh lebih pantas bersanding dengan Kak Rian daripada dirinya.
Tari sadar, di antara gemerlapnya bintang-bintang di kelas VII, dia hanyalah gadis biasa yang kebetulan diberi mandat memakai ban ketua kelas. Perbedaan antara dirinya dan Kak Rian sudah seperti jurang yang tak mungkin diseberangi, dan kini, kenyataan itu dipertegas oleh kehadiran teman-temannya yang melangkah dengan penuh percaya diri.
Dari kejauhan, peluit panjang Pak Yayat sudah melengking nyaring, memanggil anak-anak kelas VII untuk segera merapatkan barisan di tengah lapangan warga. Tari menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk membuang sesak yang telanjur menyumbat dada. Ia menegakkan kepala, memaksakan senyum terbaiknya kembali muncul, dan berlari kecil menyusul teman-temannya.
Sinar matahari Sabtu pagi itu kian terik membakar lapangan, namun "mentari" di dalam dada Tari justru sudah telanjur redup, tertutup awan mendung yang ia ciptakan sendiri atas nama tahu diri.
Mohon maaf ya aku lama tidak upload karena ada sesuatu hal.. Terimakasih banyak ya buat para pembaca setia.... komentarnya aku tunggu ya
eh tapi gapapa deng. kali aja bisa bertahan smpe ke SMA mwehehe