Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Momen Pahlawan
Pintu besi itu tidak langsung terbuka.
Gemboknya baru, rangkanya tua, dan ruang di baliknya berisi suara napas yang terlalu lemah untuk menunggu prosedur panjang. Kapten Wira memotong besi dengan alat hidrolik kecil. Bunyi logam patah memantul di lorong drainase, membuat air di lantai bergetar.
"Mundur," perintah Komisaris Sari.
Pintu didorong. Bau lembap, darah kering, dan obat bius murah langsung menghantam wajah mereka. Di dalam rumah pompa yang sempit, tiga anak terikat di dekat dinding. Bagas setengah sadar, Lala menangis tanpa suara, dan Naila memukul lantai pelan dengan tumit karena mulutnya ditutup kain.
Sari berlutut lebih cepat daripada semua orang. "Medis! Korban ditemukan hidup. Tiga korban hidup!"
Suara di radio pecah oleh teriakan perintah.
Arya tetap di ambang pintu. Ia tidak masuk sembarangan. Ruang kecil seperti itu bisa menyimpan jebakan, kabel, atau botol kimia. Matanya menyapu lantai: ember air, sisa roti, botol obat tidur, tali plastik, dan sebuah kotak kayu kecil di bawah panel mesin.
"Jangan sentuh kotak itu," katanya.
Kapten Wira yang sudah melangkah berhenti. "Kenapa?"
"Terlalu bersih. Semua benda lain kotor karena udara lembap. Kotak itu baru dipindahkan."
Sari menoleh. "Buka dengan alat."
Penyidik memakai sarung tangan dan kait logam. Di dalam kotak ada ponsel murah tanpa kartu SIM, beberapa kertas berisi potongan jadwal sekolah, dan foto siswa dengan lingkaran merah. Tidak hanya tiga korban. Ada foto Putri. Ada foto Rizky. Ada foto Arya yang diambil dari jauh, blur, tetapi jelas cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah.
Rizky tidak ada di lokasi, tetapi jika ia melihat foto itu, mungkin ia akan benar-benar berhenti bercanda selama sehari penuh.
Putri menerima kabar dari Pak Surya di sekolah. Ketika mendengar namanya ada di daftar target, ia tidak menangis. Ia hanya duduk di kursi guru, tangan dingin, lalu bertanya, "Arya tahu?"
Pak Surya mengangguk pelan.
Di rumah pompa, Arya mengambil napas pendek. Foto dirinya memberi dua petunjuk: Rahman memilih lebih dari korban mudah, dan pihak yang menyuruhnya sudah memperhatikan perubahan di sekolah. Kasus ini tidak dimulai dari Bagas. Kasus ini hanya permukaan.
Namun tiga korban masih hidup, dan urusan pertama adalah membawa mereka keluar.
Bagas hampir pingsan ketika tali di tangannya dipotong. Ia melihat seragam polisi, lalu melihat Arya. Matanya melebar. "Kamu... anak baru itu?"
"Iya. Jangan banyak bicara. Hemat tenaga."
"Dia bilang..." Bagas batuk. "Dia bilang anak pintar bikin dunia rusak. Dia bilang ada yang menyuruhnya membersihkan calon masalah."
Sari mendekat. "Siapa yang menyuruh?"
Bagas menggeleng lemah. "Dia cuma bilang... Bayangan melihat semuanya."
Nama itu jatuh seperti batu ke air hitam.
Arya menyimpan kata itu. Bayangan. Bukan nama organisasi yang ingin terdengar resmi. Lebih seperti cara orang fanatik menyebut sesuatu yang tidak boleh dilihat. Di dunia lamanya, nama seperti itu biasanya dipakai oleh kelompok yang tidak ingin meninggalkan struktur jelas.
Lala mulai panik ketika tandu datang. "Jangan lewat lorong gelap. Jangan lewat sana."
Sari memegang bahunya. "Kamu aman. Kami polisi."
"Dia bilang polisi lambat. Dia bilang semua orang dewasa lambat."
Arya menjawab sebelum Sari sempat tersinggung. "Kali ini tidak."
Kalimat sederhana itu membuat Lala menatapnya. Ia tidak tahu kenapa ia percaya, tetapi ia percaya. Mungkin karena anak laki-laki di depan pintu itu tidak memberi janji manis. Ia hanya mengatakan fakta dengan nada datar.
Proses evakuasi berlangsung dua puluh menit. Hujan makin deras. Di atas, ambulans menunggu dengan lampu merah biru menari di dinding pabrik es kosong. Ketika korban pertama diangkat keluar, ibu Bagas yang sudah tiba menerobos garis polisi dan jatuh memeluk anaknya. Ketika Lala keluar, ayahnya menangis seperti anak kecil. Ketika Naila diangkat, Komisaris Sari menutup matanya sebentar, seolah baru saat itu ia mengizinkan dirinya merasa lega.
Pak Surya tiba bersama Budi. Ayah Arya turun dari motor dengan wajah pucat, lalu melihat anaknya berdiri utuh di dekat mobil polisi. Ia ingin memarahinya. Ia ingin memeluknya. Yang keluar hanya satu kalimat, "Kamu bikin Ayah tua lima tahun."
Arya menjawab, "Saya juga belum makan malam."
Budi memukul bahunya pelan, lalu memeluknya begitu cepat sampai Arya hampir kehilangan keseimbangan.
Sari mendekat. Untuk pertama kalinya, ia tidak memanggil Arya dengan Dik seperti tameng jarak. "Arya, tanpa analisismu, kami mungkin menemukan mereka terlambat."
Kapten Wira berdiri di belakangnya, wajah masih keras tetapi suara lebih rendah. "Saya tidak suka mengakui ini. Tapi kamu benar dari awal."
Arya melihat ambulans bergerak menjauh. "Benar dari awal tidak penting kalau terlambat di akhir. Untungnya kali ini belum."
Pak Surya mendengar kalimat itu dan merasakan sesuatu di dadanya. Ia pernah mengira tugasnya hanya menemukan siswa berprestasi. Sekarang ia sadar: sekolahnya mungkin berdiri di atas medan perang yang tidak pernah ia ketahui.
Malam itu, berita belum menyebut nama Arya. Polisi masih menahan detail. Namun di antara guru, satpam, dan keluarga korban, cerita bergerak lebih cepat dari sirene. Anak yang dulu disebut bodoh membaca pola yang dilewatkan semua orang. Anak itu membuat polisi memasang jebakan. Anak itu menemukan pintu menuju korban hidup.
Sebelum naik mobil, Bagas yang masih lemah mengangkat tangan dari tandu. "Terima kasih."
Arya hanya mengangguk.
Di saku Komisaris Sari, ponsel barang bukti menyala sekali. Layarnya retak, baterainya hampir habis. Tidak ada kartu SIM, tetapi ada satu pesan tersimpan di memori perangkat, dikirim sebelum kartu dicabut.
Sebelum para korban dinaikkan ke ambulans, Arya meminta satu hal kepada Sari: foto kondisi ruangan sebelum semua barang dipindahkan. Sari hampir menolak karena tim medis bergerak cepat, tetapi Arya menunjuk posisi ember dan tali.
"Jika ember itu diletakkan setelah korban kedua, lalu tali baru setelah korban ketiga, berarti pelaku memperbaiki metode. Orang yang memberinya instruksi mungkin menilai kegagalannya. Kita perlu tahu urutan perubahan."
Sari memerintahkan dokumentasi tambahan. Kapten Wira tidak protes lagi. Ia bahkan memberi senter kepada Arya agar anak itu bisa menunjukkan detail tanpa masuk terlalu jauh.
Di tengah semua kepanikan, momen kecil itu terasa aneh: polisi dewasa mengikuti arahan siswa SMA di ruang penahanan korban. Namun tidak ada yang merasa martabat mereka turun. Tiga anak bernapas di depan mereka. Fakta itu mengalahkan gengsi apa pun.
Naila, yang paling lemah, membuka mata sebentar saat tandunya melewati Arya. Ia tidak tahu namanya. Ia hanya berbisik di balik masker oksigen, "Mas... terima kasih."
Arya menunduk sedikit. "Pulang dulu. Terima kasihnya nanti kalau kamu sudah bisa makan."
Bunyinya singkat: Jika gagal, hilangkan jejak anak bernama Arya.