NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shang Lun (5)

“Ketua Aliansi… master kami mengutus kami untuk menjemput Anda dengan segera. Anda diminta untuk segera datang membantu di Desa Puncak Teratai…” ucap seorang murid dengan napas terengah-engah.

Pemuda itu hampir terjatuh saat ia memasuki aula utama Aliansi Murim. Keringat yang tak kunjung berhenti membasahi pakaiannya, wajahnya yang pucat karena kelelahan. Ia berlari seorang diri hingga sampai ke wilayah pusat aliansi. Padahal awalnya mereka berangkat berdua bersama, namun satu rekannya tumbang di tengah perjalanan mereka dan tak sanggup untuk melanjutkan langkahnya menuju pusat Aliansi Murim.

Di dalam aula, suasana yang tadinya tenang langsung berubah menjadi tegang.

Ketua Aliansi Murim yang duduk di kursi utama mengernyit pelan. Tangannya yang sedang memegang secangkir teh langsung berhenti di udara.

“Puncak Teratai?” tanyanya pelan, alisnya bertaut. “Memangnya apa yang terjadi di sana?”

Murid itu menelan ludah, mencoba untuk mengatur napasnya.

“Ada… ada kobaran api yang sangat besar, Ketua. Disertai dengan badai. Master Yun bertarung melawan seseorang… dan…” Suaranya bergetar. “Banyak murid yang sudah gugur, kami beruntung bisa selamat karena master.”

Cangkir teh di tangan Ketua Aliansi perlahan ia letakkan kembali di atas meja.

Wajahnya yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi serius.

“Ada badai, katamu?” Ia bangkit perlahan dari kursinya, jubahnya langsung bergeser mengikuti gerakannya. “Ada yang mengganggu pikiranku tentang kebakaran itu”

Ia langsung melangkah turun dari singgasananya, lalu menepuk bahu si murid dengan mantap.

“Aku akan pergi sekarang juga, anak muda. Istirahatkan dirimu di sini dengan tenang.”

Lalu ia segera menoleh pada wakilnya yang berdiri tak jauh dari sana.

“Lin Yu.”

Seorang pria paruh baya dengan pakaian putih melangkah maju dan membungkuk hormat. “Ya, Ketua.”

“Kau tetap di sini. Panggil para pendekar yang sedang berlatih dan suruh mereka untuk segera menyusulku.” Ketua Aliansi mengangkat tangannya, memberi isyarat tegas. “Kirim surat juga kepada faksi-faksi putih terdekat. Katakan bahwa ini adalah keadaan darurat. Mereka harus membantu secepat mungkin.”

Lin Yu mengangguk dalam. “Akan segera kulaksanakan Ketua.”

Tanpa membuang waktu, Ketua Aliansi Murim langsung meraih pedang tajamnya yang tergantung di dinding aula. Dalam satu hentakan kaki, tubuhnya melesat keluar seperti anak panah yang di tembakkan dari jarak ratusan kilo.

Sementara itu, jauh dari desa yang telah berubah menjadi lautan abu, di ujung sebuah goa yang sangat dalam, Shang Lun berjalan dengan tertatih-tatih.

Setiap langkahnya meninggalkan bekas darah samar di lantai batu.

“Ah… sialan… biksu tua sialan…” gerutunya sambil memegangi dadanya. Luka dalam akibat ledakan qi Yun Shin membuat pernapasannya berat. Denyut di kepalanya masih belum hilang.

Ia mengeluarkan sebuah artefak kecil dari dalam pakaiannya—benda berbentuk batu giok hitam seukuran kepalan tangan.

Dengan menyalurkan qi ke dalamnya, ia langsung mengaktifkan artefak itu.

Udara di dalam goa bergetar dengan pelan lalu ilusi mulai terbentuk.

Sebuah batu kecil di pintu masuk goa tampak membesar perlahan hingga terlihat seperti bongkahan raksasa yang menutup seluruh jalur. Di bagian dalam goa, lorong yang sebenarnya masih memanjang berubah tampak seperti dinding buntu yang disegel.

“Tak ada yang akan menemukanku di sini…” gumamnya.

Artefak tingkat tinggi itu memang mampu memanipulasi persepsi seorang pendekar. Siapa pun yang masuk akan percaya bahwa jalan yang mereka lewati telah tertutup.

Shang Lun akhirnya mulai duduk bersila. Ia memejamkan satu-satunya mata yang terbuka, lalu mulai mengedarkan qi untuk memperbaiki sirkulasi darahnya yang rusak.

“Tak ada yang bisa membunuhku… aku tak boleh mati di sini jika belum bertemu Pemimpin faksi hitam,” bisiknya lirih.

Beberapa saat kemudian, Ketua Aliansi Murim tiba di Desa Puncak Teratai.

Begitu kakinya menyentuh tanah desa, ia mulai terdiam.

Ladang yang seharusnya sudah siap untuk di panen kini hanya tersisa abu. Bangunan hangus berdiri seperti kerangka. Beberapa warga menangis pelan. Para murid yang selamat tengah mengamankan jenazah rekan-rekan mereka untuk segera dikremasi sesuai adat sekte.

Mayat Yun Shin dibaringkan terpisah dari murid-muridnya. Wajahnya dibuka untuk terakhir kalinya, agar semua orang dapat mengenang jasanya.

Ketua Aliansi menghela napas panjang.

“Astaga…” gumamnya pelan, tangan kirinya mengepal di balik jubah. “Kupikir yang terjadi hanyalah kebakaran biasa…dan aku berdoa bahwa itu bukanlah 'dia' dalam perjalanan kemari”

Ia melangkah pelan mendekati seorang murid yang tampak masih terpaku, menatap tanah dengan mata kosong.

“Nak,” ucapnya lembut sambil menepuk bahu pemuda itu. “Apakah kau tahu bagaimana semua ini terjadi?”

Murid itu tersentak, lalu membungkuk hormat dengan tubuh gemetar.

“I-Itu Shang Lun, Ketua…” katanya lirih. “Ia datang membawa badai dan api. Master Yun Shin lalu bertarung melawannya sangat lama sekali. Kami… kami tak sanggup membantu dan hanya bisa mengevakuasi para warga…”

Air mata mulai mengalir di pipinya saat ia menceritakan semuanya—dari kemunculan Shang Lun, pertarungan panjang, hingga pengorbanan terakhir sang master mereka.

Ketua Aliansi Murim mendengarkannya tanpa menyela sekalipun. Wajahnya semakin muram saat detik demi detik berlalu.

“Shang Lun…” ulangnya pelan, sorot matanya mengeras.

Ia mulai berdiri tegak dan menatap langit yang mulai kembali cerah.

“Rupanya benar…” gumam Ketua Aliansi Murim pelan.

Ia berdiri tegak memandangi puing-puing Desa Puncak Teratai dengan wajah mengeras. Tangannya terlipat di belakang punggung, sementara matanya menyapu ladang yang kini hanya menyisakan abu.

Setelah mendengar seluruh penuturan murid yang selamat, ia menarik napas yang panjang dan segera membuat keputusan.

“Aku akan menetap di sini untuk sementara waktu,” ujarnya tegas kepada para pendekar yang baru tiba menyusulnya. “Bantu warga untuk membangun kembali rumah mereka. Catat semua kebutuhan—kayu, beras, obat-obatan. Kirimkan daftar itu pada Lin Yu secepat mungkin.”

Seorang murid mengangguk dengan cepat sambil mencatat di gulungan bambu. Ketua Aliansi kemudian menatap wajah-wajah lelah di sekelilingnya.

“Jangan biarkan mereka merasa sendirian,” tambahnya, suaranya sedikit melunak.

Jauh di dalam sebuah goa tersembunyi, Shang Lun masih duduk bersila.

Qi di sekitarnya berputar perlahan, mengalir masuk melalui pori-porinya. Wajahnya pucat akan tetapi napasnya mulai stabil.

Luka dalam akibat ledakan Yun Shin belum sepenuhnya sembuh, namun ia sudah mampu menenangkan aliran darahnya yang kacau.

“Biksu tua itu…” gumamnya lirih sambil mengernyit. “Hampir saja menyeretku ke neraka bersamanya.”

Ia tetap dalam posisi meditasi, menjaga kesadarannya agar tidak kembali terganggu oleh ingatan masa kecil yang tadi sempat muncul tanpa kendali.

Malam itu, di penginapan milik Paman Ying, suasana cukup ramai.

Fang Yi masih sibuk membersihkan meja sambil membantu pamannya lembur hingga hampir pukul sembilan malam. Tubuhnya mulai terasa lelah, namun ia tetap bergerak cekatan.

Di sudut ruangan, beberapa pendekar yang baru tiba dari perjalanan duduk mengelilingi meja kayu sambil menenggak arak.

“Hei, apa kau serius?” ucap salah satu dari mereka sambil mengernyit, cangkirnya terhenti di bibir.

“Saudaraku, aku melihatnya dengan mataku sendiri,” balas pria di depannya, menyeka sisa arak di sudut mulutnya. “Kobaran api itu… besar sekali. Aku sedang menunggangi kudaku menuju ke sini saat melihat asapnya.”

“Benarkah? Lalu bagaimana kelanjutannya?” sahut yang lain, condong ke depan dengan wajah penasaran.

Pria itu menghela napas panjang. “Saat aku tiba, Master Yun Shin… biksu tua itu… sudah mati, kawan.” Ia menggeleng pelan. “Beberapa murid juga gugur. Bahkan Ketua Aliansi sendiri datang ke sana.”

“Wow… Ketua Aliansi turun tangan langsung?” salah satu dari mereka bersiul pelan.

“Ya, benar,” jawabnya sambil mengangguk. “Dalang di balik semua ini ternyata Shang Lun.”

“APA? Shang Lun?” Salah satu pria spontan meletakkan cangkirnya dengan bunyi keras.

“Kenapa?” tanya si pembawa kabar sambil mengangkat alis. “Apa kau pernah bertemu seseorang yang mampu membantai satu desa dan membunuh seorang master terkenal?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu menggaruk tengkuknya. “Entahlah… namanya terasa familiar saja.”

Fang Yi yang berdiri tak jauh dari meja itu tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan tersebut.

Tangannya yang memegang kain lap langsung berhenti bergerak.

Shang Lun.

Nama itu entah mengapa membuat dadanya terasa tak nyaman.

Ia teringat Fang Yu yang saat ini berada di rumah sendirian. Meski adiknya menjadi lebih pintar dan terlihat tenang, perasaan gelisah tetap merayap di hatinya.

Tanpa berpikir panjang, Fang Yi berjalan cepat menuju dapur tempat Paman Ying sedang menghitung pemasukan hari itu.

“Paman…” panggilnya pelan.

Paman Ying mengangkat wajahnya dari tumpukan koin, lalu mengernyit melihat ekspresi serius Fang Yi. “Ada apa? Kau terlihat pucat.”

“Bolehkah aku pulang duluan malam ini?” tanya Fang Yi sambil meremas ujung bajunya. “Lembur hari ini akan kuganti di hari lain. Fang Yu sendirian di rumah… dan aku merasa tidak tenang.”

Paman Ying menatapnya beberapa saat, lalu menghela napas pelan. Ia tahu kedua bersaudara itu hanya saling bergantung satu sama lain.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya sambil mengangguk. “Pulanglah. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.”

Ia mengambil beberapa koin dari laci kayu dan menyerahkannya pada Fang Yi.

“Ini upahmu. Delapan koin perak. Kau bekerja dengan baik hari ini.”

Fang Yi menerima koin itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Paman.”

Ia segera menggantung kain lapnya, lalu bergegas keluar penginapan.

Angin malam berembus pelan, membawa sisa kabar tentang badai dan kematian.

Di kejauhan, lampu-lampu rumah mulai redup satu per satu.

Fang Yi mempercepat langkahnya di dalam keheningan malam.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!