Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab sembiln belas
Caroline menjadi wanita yang cantik dan anggun. Kini dia menjadi seorang desainer handal. Karirnya melejit dimana-mana. Bahkan satu desain modelnya bisa mendapatkan miliaran.
Caroline kini bisa melakukan apa pun yang dia mau. Merasa bebas dan nyaman. Saat ini tepat di ulang tahun kakek Jakson dan Nenek Dista. Dia memperlihatkan wajahnya. Tidak ada lagi cinta untuk Jake. Kini hanya tersisa dengan kebencian.
"Hey Mom. Kau mau bertemu dengan Daddy?" Tanya seorang anak kecil. Dia bernama Luca. Dia memakai kaca mata hitam dan duduk di atas koper.
Caroline tidak tau anak siapa yang ia kandung. "Tentu saja. Kau masih berharap pada Daddy mu yang sudah membuang kita bagaikan sampah? Kalau begitu, kau saja yang ikut."
Luca membuka kaca matanya. "Tentu saja tidak. Dari dulu Mommy sudah mengajarkan aku tanpa seorang Daddy. Jadi tidak perlu takut. Biar aku yang membantu Mommy mencarikan Daddy."
"Tidak usah. Anak kecil mana tahu."
Luca berdehem saja. Namun dalam hatinya ia harus mencari seorang pria. Gagah, pemberani, dan penyayang terhadap seorang wanita.
Caroline menatap Luca yang memainkan sebuah musik. Ia merasa kasihan pada Luca karena anak seumur Luca di paksa berpikir dewasa. Kini Luca tidak lagi menangis.
Dulu Luca pernah dikatakan anak haram dan menanyakan ayahnya. Ia hanya menjawab bahwa ayahnya Luca telah membuangnya dan juga dirinya. Namun bagaimana pun Luca tetaplah seorang anak. Sekalipun ia tidak membutuhkannya, tapi mungkin Luca berbeda.
"Luca nanti jangan mengatakan sembarang. Kau selalu mencari calon ayah mu. Hal seperti itu tidak perlu. Kau ini sebaiknya fokus pada pelajaran mu."
Luca memang anak genius. Di umur 2 tahun Luca sudah mendapatkan penghargaan. Hitungannya cepat. Di umur 3 tahun Luca mendapatkan penghargaan bermain piano. Di umur 4 tahun Luca menjadi seorang hacker. Di umur 5 tahun Luca kini memiliki anak buah sendiri.
Kini Luca menjadi pribadi yang kuat dan tidak lemah. Banyak orang tidak tau di balik umur lima tahun itu.
"Mommy aku lapar. Bukankah kita harus makan siang dulu," ucap Luca.
Sementara itu, di rumah tuan Dion.
Aurora merasakan penindasan. Banyak para pelayan yang menindas Aurora sama halnya dulu saat Caroline di tindas oleh Aurora.
Seorang pelayan dengan sengaja menyiramkan segelas jus pada Aurora mulai dari rambut. "Status mu lebih rendah dari kami. Kau hanyalah budak. Lihat saja dirimu, kau seperti anjing yang menggogong."
"Berani sekali kau berkata kasar pada Tuan mu." Mommy Melisa datang. Dia membantu Aurora berdiri.
Dua pelayan itu terkekeh. Mereka sama sekali tidak takut dengan amukan, amarah dari Mommy Melisa. Daddy Dion memang menyuruh Aurora dan Mommy Melisa di perlakukan layaknya seorang budak yang begitu rendahan.
"Kalian masih berani. Mungkin Tuan akan menghukum kalian lagi. Kalung anjing itu sangat cocok untuk kalian."
Daddy Dion memutuskan membeli sebuah kalung yang mirip sekali dengan kalung anjing. Jika Mommy melisa dan Aurora kabur. Sontak kalung anjing itu akan menyetrum tubuh mereka.
Kalung itu juga tidak bisa di lepaskan karena memiliki kata sandi.
"Kalian! Bernainya kalian memperlakukan ku dan Aurora. Aku akan membunuh kalian."
Drrt
Drtt
Kalung itu menyetrum tubuh Mommy Melisa dan wanita itu langsung lemah di lantai. Dia menarik kalung sialan itu namun tidak bisa.
Caroline menghubungi kakek Jakson dan Nenek Dista untuk memberitau bahwa mereka sudah sampai. Padahal Kakek Jakson menawarkan untuk menjemputnya. Ia tidak mau karena tidak ingin terlihat bersama dengan orang kakek Jakson. Kini dia tinggal di sebuah hotel.
"Hallo Kakek. Aku sudah sampai di hotel."
"Apa kau bersama cucu ku?" Tanya Kakek Jakson.
Caroline tersenyum, ia kira kakek Jakson tidak akan menerima Luca karena melihat betap banyak tingkahnya ayah Luca. Ia saja tidak tau benih siapa yang berhasil. "Aku membawanya."
Luca berteriak. "Kakek kapan kesini? Oh nanti malam sudah bertemu."
"Bagus-bagus, nanti kakek akan kirimkan banyak hadiah untuk mu. Oh iya Caroline kau sudah siap bertemu dengan mereka. Aku sudah menyiksanya selama lima tahun ini, tapi tidak mempan."
Caroline tersenyum, ia sudah memikirkan caranya. "Kakek tenang saja. Dia pasti mau menandatanganinya."
"Hah, semoga saja begitu. Kakek sudah mengancamnya dengan Aurora, tapi tidak mempan."
"Kakek tidak perlu memikirkannya lagi. Kakek fokus saja pada kesehatan Kakek dan Nenek. Sampai bertemu nanti malam Kakek."
Caroline memutuskan panggilannya. Dia membawa seorang asisten wanita bernama Melin.
"Aku tidak sabar menantinya." Gumam Caroline. Dia juga tidak sabar bertemu dengan Aurora dan ibu tirinya itu. Ayahnya ternyata menjadikan mereka pelayan. Jika dulu ia masih bisa melawan walaupun tetap saja ujung-ujungnya masih kalah, tapi saat ini mereka melawan saja tidaj akan bisa.
...
Caroline menatap wajahnya. Dia menggunakan gaun warna biru dengan gaun yang menutupi lehernya namun terbuka di kedua bahunya. Pinggangnya bagaikan pahatan yang seksi. Tubuhnya begitu ramping dan sempurna.
"Hay Mom, aku sudah selesai." Ucap Luca. Dia menggunakan tuxedo hitam dan jas hitam.
"Kau sangat tampan. Ayo." Ajak Caroline sambil menggengg tangan Luca.
Caroline berjalan di atas karpet merah. Dia menggenggam tangan Luca dan masuk ke dalam. Saat pintu terbuka, semua orang tertuju padanya. Seketika suasana di gedung itu hening dalam sekejap. Orang-orang mulai berbisik.
"Bukankah itu mantan istri dari tuan Jake?" Tanya seorang pria.
"Dia datang. Apa ingin bertemu dengan tuan Jake?"
"Anak di sampingnya siapa? Apa dia anak tuan Jake?"
"Dia cantik sekali. Bahkan aku seorang wanita juga naksir dirinya."
Daddy Dion, Jake dan Tommy terkejut. Mereka menatap Caroline dan anak di sampingnya.
Daddy Dion tidak bisa menahan air matanya. Rasanya terharu sampai ia ingin berhambur memeluk Caroline namun ia merasa malu karena sikapnya dulu. Caroline juga pastinya belum memaafkannya. Dan ia kini menyadarinya hidup anaknya sungguh kuat bahkan keluar dari rumahnya dan keluar dari kehidupan Jake masih bisa merawat anaknya yang ternyata cucunya.
Jake tidak bisa menguasai dirinya. Dia terhuyung ke belakang dan membentur sudut meja. Ternyata Caroline memang hamil lantas anak itu anak siapa? Pikirnya. Dia menatap anak di samping Caroline yang begitu mirip dengannya.
Sedangkan Tommy. Ia menekan dadanya yang berdetak kencang. Ia yakin anak di sampingnya pasti anaknya. Tidak sabar ia memeluk Caroline dan anaknya itu. Tidak perlu di pertanyakan lagi anak siapa, jelas anaknya karena wajahnya mirip dengannya.
Mommy Melisa dan Aurora pun terkejut. Mereka kini menjadi seorang pelayan. Tidak bisa kabur dan hanya mendapatkan siksaan fisik dan hinaan..
"Caroline." Geram mereka.
Caroline pun melangkah. Kakek Jakson dan nenek Dista bergegas menemuinya lalu memeluknya.
"Hay Kakek buyut." Sapa Luca.
Kakek Jakson mengusap pucuk kepala Luca. "Ya ampun ini cucu kakek yang paling tampan."