Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Waspada
Tubuh Alea begitu lemah saat ingin kembali ke kamarnya. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi pak Tio agar mengirim dokter wanita untuknya. Sebagai orang kepercayaannya Alea, pak Tio tampak sigap meminta dokter keluarganya untuk menangani Alea.
"Nona, apakah aku perlu ke apartemenmu?" tanya pak Tio kuatir.
"Tidak perlu pak Tio. Aku hanya butuh dokter dan perawat untuk membantunya di sini", ucap Alea lemah.
"Apakah tuan Daniel tidak ada di samping anda?" tanya pak Tio yang belum tahu masalah pasangan suami istri itu.
"Dia sedang ke Amerika. Tolong jangan beritahu dia kalau aku lagi sakit", pinta Alea agar pak Tio tidak ikut campur urusannya kecuali dalam keadaan genting.
"Baik nona. Aku paham", Pak Tio hanya bisa pasrah dengan keputusan majikannya itu. Alea sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
Tidak lama kemudian, dokter Mita tiba di unit apartemen Alea. Alea masih berbaring lemah. Seorang perawat membantunya untuk duduk.
"Nona, apa anda masih kuat?" tanya dokter Mita.
"Masih dokter. Ada apa denganku?" tanya Alea begitu dokter Mita menyentuh perutnya. Dokter minta tersenyum saat menekan perut bagian bawah Alea. Iapun menanyakan beberapa hal pada Alea.
"Kapan haid terakhirnya?"
Mendengar pertanyaan itu Alea sudah paham apa yang terjadi pada dirinya. Alea mengingat sesaat lalu menatap wajah dokter.
"Sudah satu bulan ini aku tidak mendapatkan haid. Apakah aku hamil?" tebak Alea begitu penasaran.
"Sepertinya begitu Nona. Tapi untuk lebih jelasnya anda bisa melakukan tes urin. Bisa ke kamar mandi?" tanya dokter Mita sambil melirik meja nakas di mana ada foto mesra Alea dan Daniel.
"Baiklah. Tolong bantu papah aku dokter....!" pinta Alea.
Perawat Marni sigap membuka pintu kamar mandi. Setibanya di dalam kamar mandi Alea melakukan apa yang diminta oleh dokter. Lima menit kemudian, apa yang dicurigainya benar adanya. Diri hamil tepat di saat hubungan dengan suaminya tidak baik-baik saja.
"Ya Allah sayang, kenapa kamu datang di saat yang tidak tepat?" keluh Alea dengan mata berkaca-kaca.
Keesokan harinya, Daniel sudah tiba di Amerika. Ia dikawal ketat oleh orang-orang suruhan Alea. Padahal tanpa pengawal pun, Daniel bisa mengatasinya sendiri namun ceritanya saat ini dirinya masuk dalam daftar seorang buronan.
"Kenapa jadi seperti ini Alea?" batin Daniel kala menuju kediamannya yang ada di tepi pantai. Sudah berulang kali ia menghubungi Alea namun istrinya itu enggan untuk mengangkatnya. Daniel akhirnya menulis satu kata singkat.
"Kangen Sayang", tulis Daniel melalui pesan singkat itu.
Mobil tiba-tiba saja berhenti mendadak. Daniel tersentak lalu mengangkat kepalanya melihat ke depan. "Tuan. Di depan sana banyak penjagaan", ucap sang sopir.
Daniel menarik nafas berat. Ia melirik arlojinya di mana bisa memberitahu dirinya berapa orang yang menjaga di depan pagar rumahnya.
"Sial.....!kenapa mereka ada di sini?" umpat Daniel kepada rombongan FBI yang merupakan rekannya sendiri.
"Tuan, apakah kita akan maju terus?" tanya sang sopir.
"Maju saja. lagi pula mobil ini anti peluru. Aku tidak melakukan kejahatan. Aku hanya ingin pulang ke rumahku", ucap Daniel yang sudah pasrah jika hidupnya harus berakhir dengan mati ataukah di penjara. Ia sudah tidak peduli karena Alea sudah membenci dirinya.
Sang sopir juga tidak gentar. Ia yakin mereka akan selamat. Mobil kembali melaju dengan stabil. Daniel tetap waspada dengan mata tajam menyapu area sekitar kediamannya.
Daniel cukup kaget dengan seorang pria yang sangat di kenalnya. "Bukankah itu tuan Reagan?" batin Daniel yang tahu siapa pria itu. Pria yang menjadi ayah angkatnya di masalalu lalu membuangnya di panti asuhan jauh dari kota kelahirannya.
"Apakah dia yang menghancurkan keluargaku?" batin Daniel.
"Berhenti pak...!" titah Daniel pada sang sopir.
"Baik tuan." Daniel turun dengan wajah yang tidak bisa lagi dilukiskan saat ini. Ia menghampiri tuan Reagan. Pria itu terlihat salah tingkah sendiri.
"Selamat pagi Daniel....!" sapa tuan Reagan namun Daniel sedikitpun tidak tersenyum padanya.
"Ada apa ini? kenapa banyak sekali orang di sini?" tanya Daniel pura-pura tidak tahu.
"Begini Daniel, tuan Roy, maksudku calon presiden tuan Roy ingin menemuimu. Saya diminta untuk mendampingimu menemuinya di kediamannya", ucap tuan Reagan.
"Saya tidak mau didampingi olehmu. Kebetulan sekali saya ingin menemui beliau", ucap Daniel tegas.
"Tapi, keadaanmu tidak memungkinkan kamu bisa menemui tuan Roy sendirian karena....-"
"Kau tahu dengan jelas aku tidak membunuh tuan Marlon bosku sendiri. Apa jangan-jangan kamu yang menyusun skenario ini demi menutupi aibmu dimasalalu?" sindir Daniel.
Tuan Reagan berpura-pura tidak mendengar. Ia tersenyum kaku walaupun sebenarnya tubuhnya ingin jatuh tersungkur. Ia memutar otak untuk menjauhkan Daniel dari tuan Roy.
"Jika anak ini muncul di depan Roy, maka tamatlah riwayatku", batin tuan Reagan.
Daniel mengabaikan tuan Reagan, namun tuan Reagan melirik salah satu rekan Daniel untuk menangkap Daniel. " Maaf tuan Daniel, kamu harus ikut kami sekarang....!" ucap rekan Daniel namun Daniel hanya menatapnya horor.
Keadaan di tempat itu terlihat sangat menegangkan. Diantara Daniel dan rekannya sama-sama siap menarik pistol mereka dari sarungnya. Namun belum sempat Daniel ditangkap oleh orang-orangnya tuan Reagan, tiba-tiba datang mobil hitam yang disinyalir milik tuan Roy. Tuan Reagan mundur. Wajahnya makin terlihat pucat.
"Apakah itu tuan Roy? bagaimana ini?" batin tuan Reagan. Daniel memperhatikan siapa yang ada di dalam mobil mewah itu. Tapi matanya tetap mengawasi tuan Reagan yang tampak gugup.
"Sepertinya bedebah ini punya dosa dimasalalu dengan ayahku. Benarkah tuan presiden adalah ayahku?" batin Daniel. Begitu pintu dibuka ternyata sosok itu adalah tuan Peter bodyguard tuan Roy.
"Saya diminta tuan Roy untuk menjemput sendiri saudara Daniel", ucap tuan Peter pada tuan Reagan.
"Tidak mungkin. Tuan Roy sudah menyuruhku untuk menjemput pria keras kepala ini", protes tuan Reagan.
"Aku akan ikut denganmu tuan Peter", tegas Daniel lalu masuk ke mobil mewah milik ayah kandungnya.
Dalam sekejap mobil mewah itu menghilang dari hadapan tuan Reagan dan anggota FBI yang sejak kemarin mengawasi kediamannya Daniel saat tahu jika Daniel sudah berada di Amerika.
"Daniel, apakah kamu sudah menemukan dokumen rahasia negara?" tanya Peter.
Daniel terhenyak. Namun ia bisa mengendalikan dirinya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan Peter.
"Maaf, misiku gagal. Aku tidak bisa menemukan dokumen itu", ucap Daniel.
"Baiklah. Tidak masalah. Yang penting anda selamat sampai di sini", ucap Peter. Beruntunglah Daniel menitipkan dokumen rahasia itu di pesawat jet pribadi milik Alea.
Apalagi ia sudah mengetahui isi dokumen rahasia negara itu yang tidak boleh dilihat siapapun kecuali presiden yang merupakan ayah kandungnya.