NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:476
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Mulai Terusik

“Siapa yang nelpon?” Harsa menoleh, bertanya pada Anin yang kini tengah memegang ponselnya.

“Anggara,” sebut Anin pada nama adik kedua Harsa itu. Yang mana langsung membuat Harsa berhenti lalu meraih ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.

Tumben sekali adik laki-lakinya itu menghubungi.

“Hem, kenapa?” tanya Harsa pada adik keduanya di seberang telepon.

“Aku lagi di Bogor.”

Sementara Anin, ia lebih memilih sibuk mengasihi Zura. Ia menutupi bagian dadanya dengan totebag yang ia bawa sambil sebelah tangannya sibuk bermain ponsel, memotret suaminya dari belakang, sesekali mencuri dengar atas perbincangan Harsa.

 Anin sangat suka memotret Harsa diam-diam seperti ini, karena baginya Harsa terlihat sangat berwibawa dan kharismatik saat sedang diam dan serius. Siluet yang berkali-kali membuatnya jatuh hati. Tinggi, tegap, bersih, potongan rambut yang rapi membuat Anin selalu kagum. Senang sekali sosok ini bisa jadi suaminya.

Namun, saat tengah fokus beralih melihat wajah lewat kamera depan ponsel, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat kening Anin menyerngit, hanya menyapa, ’Hai’. Hal yang paling tak Anin suka saat seseorang tidak langsung to the point mengatakan apa tujuannya menghubungi.

Dengan kesal ia lalu mengetikkan balasan.

 Anin : Siapa? Kalau ngechat tuh tolong to the point aja. Jangan hai - hai doang.

Tulisnya dengan ketus pada pesan itu. Anin yang biasanya tak menggubris tiba-tiba jadi tertarik karena mendadak kesal.

Tak butuh lama, nomor asing itu pun langsung membalas pesannya. Yang langsung membuat Anin mencebik.

+62 297×××× : Kamu apa kabar?

   : Aku penggemarmu.

Hell. Sakit nih orang! Anin makin kesal, yang benar saja. Penggemar darimananya? Ia bertanya jengah. Bisa-bisanya ada orang setidak jelas ini. Ia bahkan bukan orang terkenal yang harus memiliki penggemar. Followers saja hanya sekitar lima ribuan. Itu pun ia dapatkan karena dulu pas masih jadi pramugari ia memang sering memosting video tutorial hair styling kesehariannya setiap menata rambut untuk penerbangan dan cukup banyak yang menyukai dan mulai mengikuti. Itu pun dulu, sudah lumayan lama sebelum ia vakum, kemudian setelah menikah ia memilih memprivasi akun media sosialnya.

 Lalu datang dari mananya penggemar yang bahkan tahu nomor pribadinya ini? Anin bertanya ketus. Karenanya pula ia tak lagi fokus pada Harsa yang masih sibuk berteleponan, Zura bahkan sudah tidur. Anin lalu menarik payu daranya pelan dari mulut Zura. Perlahan menutupnya dan kembali fokus pada nomor tak dikenal yang lumayan mengusik.

Anin : Tolong gak usah menye-menye. Kalau ada hal penting langsung to the point aja, kalau gak, saya blokir, mau?

Anin juga bingung kenapa dia malah buang-buang tenaga meladeni chat tersebut. Tak seperti biasanya ia yang selalu memilih abai. Padahal tanpa ia mengancam demikian, orang yang ada kepentingan jelas akan langsung membahas inti kepentingannya. Bukan malah seperti ini.

Dan lagi, tak butuh waktu lama. Nomor itu sudah membalas cepat. Membuat keningnya kiat mengkerut, Anin mendengkus kesal.

+62 297×××× : Oke oke, aku minta maaf.

           : Aku Bumi.

          : Maaf kalau mengganggu, aku cuma mau tahu kabar kamu aja.

Entah kenapa perasaan Anin tiba-tiba jadi tak enak begitu tahu siapa sosok yang mengirimnya pesan. Seakan ada hal yang menyengat di relung hati. Sensasinya bergejolak, tetapi sulit dijelaskan.

Di saat yang bersamaan Harsa juga sudah selesai dengan teleponnya. Suaminya itu berbalik dan tengah melangkah ke arahnya. Membuat Anin memilih mengabaikan pesan itu dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia ingin fokus pada suaminya yang raut wajahnya tampak tegang setelah menelpon.

“Angga kenapa?” tanyanya penasaran. Ia tahu suaminya dilanda sesuatu yang tak mengenakkan. Wajahnya tampak tegang.

Harsa menghela napas panjang. Sambil berdecak pandangannya tertuju pada Zura. “Tidur?” tanyanya yang tampak seperti orang tak fokus. Matanya menyorot, tapi Anin tahu betul Harsa tengah memikirkan hal yang berat dan belum mau membuka diri.

Kini Anin ikut menghela napas. Menyadari Harsa seperti ini membuatnya khawatir. Suaminya memang suka memendam masalah sendiri, dia bukan tipe yang langsung berbagi keluh-kesah, apalagi jika itu akan membebankan istri dan anaknya. Meski begitu, Harsa biasanya tetap akan bercerita sendiri jika berhasil mengendalikan diri dan melawan rasa.

“Iya, dia capek main kali.” Anin menjawab sambil mengangguk. Matanya masih fokus menatap Harsa yang masih berdiri di depan mereka, tangannya tergerak menggenggam tangan Zura, lalu teralih mengusap kepala Anin lembut.

Sambil tersenyum, Harsa berkata, “Ayo balik ke villa, sini Zura aku yang gendong. Berat,” ujarnya setelah mengakhiri usapan lembut di kepala Anin dengan mengusap pipi istrinya itu dengan ujung ibu jari.

Anin balas tersenyum, rasanya tentram sekali diperlakukan seperti ini. Tangannya balas megusap penuh sayang lengan Harsa setelah suaminya itu dengan hati-hati membawa Zura ke dalam dekapannya. Harsa mengecup wajah Zura, lalu menggandeng tangan Anin, ke luar dari sana.

“Gimana cara bawa sepedanya, Mas?” tanya Anin saat baru menyadari ternyata ada sepeda listrik yang mereka kendarai.

Langkah Harsa terhenti begitu menyadari perkataan Anin. Ia pun hampir lupa. Dalam hitungan detik ia segera mencari ide dan langsung menuju loket pendaftaran archery tadi.

“Mas, ada yang bisa bantu bawa sepeda listrik kembali ke penyewaan gak?” tanyanya pada beberapa orang yang ada di sana. Entah yang mana yang petugas dan yang mana yang bukan, Harsa tidak tahu. Yang jelas ia butuh bantuan.

“Ada dua. Anak saya tidur, kami gak bisa pake sepedanya.” Ia kembali menjelaskan situasi. “Saya kasih harga sewa deh buat jasa antarnya.”

“Oke, Mas. Kami bisa bantu.”

Dan setelah itu, Anin dan Harsa pun berjalan cukup jauh menjelajahi area tersebut untuk sampai ke Villa. Hitung-hitung sambil olahraga.

“Kata Angga, katanya dia abis ketemu Om Arif.”

Kening Anin menyerngit mendengar nama adik almarhum Andi Haeriani, mama mertuanya. Yang beberapa tahun terakhir ini memang tinggal di Jakarta sejak terpilih melaju ke Senayan sebagai aggota DPR RI dapil Kota Palopo. Sementara Anggara sendiri juga sudah tinggal di Jakarta sejak setelah Ramadhan mendapat Mutasi Promosi dari kantor cabang ke kantor pusat di kota ini

“Katanya Papa mau jual tanah warisan Ibuk yang di Luwu.”

Anin yang berjalan di samping Harsa lantas menoleh mendengar ucapan suaminya itu. Meski cukuo tercengang, tetapi ia agak senang, karena tak butuh waktu lama Harsa langsung membagi hal yang jelas membuat pikirannya kalut. Biasanya suaminya itu memilih masa tenang sebelum mau bercerita.

“Loh, kenapa gitu?” tanya Anin lagi. Mendengar Harsa menyebutkan nama daerah asal ibu mertuanya membuatnya kian penasaran. Yang mana ia tahu, tanah itu adalah tanah peninggalan almarhumah ibu mertuanya untuk kelima anaknya, termasuk Harsa dan keempat iparnya yang lain. Memang cukup luas, dan penghasilannya juga dibagi secara merata, menjadi salah satu penghasilan Harsa selain gaji pokok profesi dan beberapa properti yang dibangun dari hasil sawah dan perkebunan keluarga. Diurus oleh adik ketiga Harsa yang menetap dan menikah dengan orang sana.

“Nggak tahu, mertua laki-laki kamu tuh emang aneh. Gak tahu apa maunya.” Harsa tak habis pikir. Satu hal yang membuat hubungan dengan Papanya semakin renggang ialah karena laki-laki mantan Prajurit yang pernah dipecat karena melakukan Kesalahan dengan menduakan ibunya kala itu.

“Jadi gimana?” tanya Anin heran.

Harsa berdesah pelan. Kaki mereka terus melangkah menyusuri sore yang kian memekat. Kabar ini memang membuat dadanya sesak. Pusing memikirkan bagaimana Papanya bisa mengambil tindakan seperti itu. Sejak bersatu dengan mantan selingkuhannya dulu itu membuat tingkah laku Papanya semakin menyebalkan di mata Harsa. Semua aset sudah pernah hampir melayang jika Maurin dan Dira tak melapor padanya.

Mata Harsa mengerjap, ia menoleh menatap istrinya lembut. “Maaf, ya. Kita gak bisa ikut nginap.”

“Mas mau pulang?” tebak Anin, dengan wajah cemas tangannya menyentuh punggung Harsa. Kaki mereka masih setia melangkah beriringan. Sebentar lagi akan sampai di villa.

Harsa mengangguk pelan, “maaf ya. Kali ini liburannya kacau lagi.”

Harsa masih minta maaf karena merasa bersalah dan Anin lekas menggeleng. Ia tak ingin Harsa berpikir demikian. Sungguh ia tidak apa-apa, ia paham situasi dan hal yang membuat pikiran suaminya kalut. Juga ini adalah hal mendesak.

“Gak apa-apa, aku paham situasi.” Anin memilih menenangkan. Tangannya tergerak mengusap punggung Harsa lembut.

“Aku janji lain kali bakal ganti liburan kita yang kacau karena masalah ini.”

“Jadi kita mau langsung pulang sekarang?” Anin menatap wajah Harsa lekat.

“Iya, kalau jadi aku dan Angga harus nyusul Papa. Dia sekarang di Palopo.” Kini mereka sudah memasuki villa. Ruang tamu villa itu tampak kosong, tapi suara riuh dari anak-anak Laksmi di lantai atas membuat keduanya ikut menoleh menatap pintu kamar Gita. Laksmi sudah ada, yang artinya Gita dan Nana juga sudah kembali.

Harsa mengangguk, kini langkah mereka berirama menapaki tangga menuju lantai dua, tempat kamar mereka berada.

“Kamu pasti capek banget, hmm.” Tak henti-hentinya Anin mengusap punggung Harsa, berusaha bantu menenangkan. Lalu ia segera membuka pintu kamar setelah merogoh kunci dari totebagnya.

Harsa melangkah menuju tempat tidur, dengan hati-hati ia meletakkan putrinya ke kasur. Menepuk-nepuk bokongnya saat tubuh mungil itu menggeliat mencari mamanya. Lalu Anin segera melepas overall dressnya, menyisakan celana pendek dan kaos lengan panjangnya lalu berbaring di sisi Zura untuk kembali mengasihi.

“Ya, mau gimana lagi.” Harsa mendesah pelan, ia masih berdiri di sisi tempat tidur. Tangannya tergerang menggaruk pelipis dengan senyuman yang tampak dipaksakan.

Anin menatap dalam. Ia tahu itu hanya usaha Harsa untuk menenangkan diri. Anin tahu Harsa pasti sangat marah, ia pasti terluka lagi karena kelakuan Papanya. Harsa bahkan bingung mengekspresikan diri harus seperti apa di saat luka masa lalu yang Papanya berikan belum benar-benar sembuh lalu setiap waktu ia malah mendengar kabar bagaimana Papanya bertingkah tak selayaknya orang tua. Semenjak berkeluarga, Papanya lebih mementingkan wanita selingkuhannya yang sudah dinikahi dan membiarkan Maurin juga Dira tersakiti.

Anin pernah menyarankan agar Harsa atau Anggara membawa kedua adiknya itu untuk ikut bersama mereka, tetapi Maurin tolak, karena katanya tunggu sampai Dira lulus SMA dulu.

Anin masih sibuk memerhatikan Harsa. Dia terdiam dengan kepala yang jelas berisik memikirkan semua. Ia menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya melangkah untuk menyusun barang mereka yang sudah ke luar separuh.

“Biar aku aja yang beresin, Mas!” Anin berseru sedikit berteriak saat melihat Harsa malah memilih cari kesibukan, jelas untuk mengalihkan pikiran.

..........

Bonus, foto liburan keluarga kecil ini🤭

Ya, kurang lebih ginilah ya penampakan mereka 🤭🤟🏻

Mama Anin, Azura, dan Papa Harsa

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!