Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Entah apa yang di bicarakan Arka pada Bintang, sebab adik sepupuku itu tidak mengatakan detailnya dengan jelas. Yang terpenting katanya Bintang adalah anak yang baik dan anak itu sudah mengerti kalau aku dan juga Afif tidak bisa bersama__hahh.. usia Bintang masihlah lima tahun dan dia masih menjadi anak-anak yang tentunya tidak harus paham dengan hal-hal seperti ini.
Aku merasa menjadi orang tua gagal untuknya. Harusnya di usianya yang masih di katakan kecil ini, dia bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya dan bukan begini__tapi seperti kata bibi juga, aku berhak bahagia. Aku berhak meninggalkan apa-apa yang menurutku tak baik dan malah menyengsarakan.
Benar seperti kata bibi, mungkin aku harus mengobrol dengan Bintang dari hati ke hati. Ya, dari semalam aku berusaha mentusun beberapa kalimat yang bisa di mengerti dan supaya terpahami oleh anak itu.
“Bintang.“Panggilku pada anakku yang terlihat anteng dengan mainan mobil-mobilan yang di belikan om-nya beberapa waktu yang lalu, dia mendongak lalu menatapku dengan kening mengeryit dalam.
“Sini..“Ujarku sambil menepuk-nepuk tempat di sampingku. Lalu Bintang pun tergopoh-gopoh berjalan dan duduk di sampingku, tanganku terulur dan membelai kepalanya lembut, serta membubuhinya dengan beberapa kecupan di kepala.
“Bin..“
“Iya mama?.“Tanyanya sambil mendongak, ku lihat kedua bola mata beningnya yang begitu cantik dengan warna coklat terang, mirip punya Afif. Untuk wajah, postur tubuh, rambut, semuanya mirip denganku. Kalau kata orang sih, kalau anak persis plek ketiplek mirip ibunya, maka si ayahnya sangat kecintaan pada istrinya. Pun sebaliknya. Cuihhh, tapi sayangnya aku tak percaya, ucapan itu hanya seperti angin lalu biatku__kalau iya Afif sangat kecintaan padaku, tentu saja ia takan menduakanku.
“Bintang kangen papa? Mau ketemu sama papa?.“Tanyaku sambil menatapnya lembut, tak lupa aku juga memberinya senyuman tulus dan mengatakan lewat tatapan mataku, kalau aku tidak keberatan sama sekali dengan kejujurannya itu.
Lalu Bintang mengangguk hati-hati, membuat sudut-sudut mataku basah karena air mata yang tak bisa ku tahan, sudah ku duga. Bintang menahan rasa rindu kepada papanya karena tak mau melihatku bersedih, Ya Alloh maafkan aku yang masih egois ini, padahal aku sudah punya anak lho, tapi kenapa aku malah masih memikirkan diri sendiri.
“Yaudah, nanti Bintang di anter sama Om Arka, gak papa kan?.“Ujarku, lalu Bintang memandangku dalam, sudut-sudut matanya ber air dan ku usap dengan pelan, ku bawa dia ke pelukanku dan menepuk-nepuk punggungnya dengan gerakan teratur.
“Maafin mama ya, Bin? Mama belum bisa jadi mama yang baik buat Bintang? Mama juga udah pisahin Bintang sama, papa. Maaf ya?.“Ucapku sambil ikut menangis, pada akhirnya aku dan Bintang pun sama-sama menangis.
Puas melampiaskan energi negatif kami dengan sama-sama menangis dan saling memeluk erat, ku kecupi lagi pucuk kepala anakku pun dengan wajahnya__satu hal yang tidak akan pernah ku sesali dalam hidup ini, yaitu menikah dengan Afif. Sebab, setelah menikah dengannya, aku memiliki Bintang yang menjadi permata hidupku, tunuan hidupku dan salah satu alasan kenapa sampai saat ini aku masih bertahan, dia benar-benar seperti oksigen untukku, sangat penting dan tidak akan pernah tergantikan.
“Eum, Bin. Mulai saat ini Bintang bebas mau nginep sama mama atau papa, mama gak akan larang Bintang lagi.“Ucapku serak sehabis menangis, walau rasanya tak rela harus berpisah darinya, tapi apa boleh buat. Bintang sangat berhak menentukan pilihan, antara mau menginap denganku dan juga menginap di rumah papanya.
“Kenapa Bintang gak bisa tinggal bareng mama sama papa lagi? Kayak dulu?.“Rengeknya dengan air mata yang kembali terlihat di sudut matanya, dari tatapannya jelas dia kecewa dan terluka sekali__yang membuatku bertahan meski Afif sudah dengan nyata menduakanku, tentu hanya karena Bintang, aku tak mau sampai Bintang kekurangan kasih sayang dariku dan Afif. Tapi, aku betulan sudah tidak bisa lagi bersama, buat apa bersama kalau nyatanya malah tersakiti terus menerus??
“Maafin mama, Bintang. Tapi mama udah gak bisa sama papa lagi, tetapi meski begitu Bintang akan selalu jadi anak kesayangan mama dan papa. Papa dan mama sayang banget sama Bintang selamanya.“
Dia terlihat terluka sekali, sampai aku pun hanya bisa mengusap punggungnya, tubuhnya bergetar hebat dan dia kembali menangis kencang, ku pikir setelah berbicara dengan Arka, setidaknya Bintang bisa sedikit mengerti__tapi, ya namanya juga anak-anak, sepertinya aku melupakan fakta itu. dia masih belum punya pemikiran dewasa dan belum paham juga. Seperti kata bibi, aku hanya harus menunjukan kepadanya kalau aku dan Mas Afif masih sayang dan selamanya akan tetap begitu.
“Mama janji, selamanya Bintang akan mama sayangi, pun dengan papa__.“
“Papa gak sayang Bintang, ma. Papa sayangnya sama Salsa aja.“Potongnya dan ku sangkal dengan gelengan kepala.
“Enggak, papa sayang Bintang juga Salsa. Bintang, Salsa, Adek bayi. Semuanya anak papa dan papa pasti akan tetap sayang kalian semua.“
“Apa gara-gara mama Salsa, ma? Gara-gara mama Salsa ngerebut papa dari mama, ya?.“
Ehhh Bintang, bagaimana mungkin??
Tatapan matanya terlihat kecewa sekali dan aku di buat kebingungan harus mengatakan apa, selain menghela nafasku panjang untuk beberapa saat. Aku terlalu terkejut dan juga kebingungan, sampai aku menggeleng keras, aku tak mau Bintang membenci siapapun di sini, ya. Walau memang salah satunya karena wanita itu yang membuatku mantap bercerai dari Afif, tapi aku tidak mau sampai anakku membencinya, aku tak mau anakku punya sifat negatif yang tentunya sangat tidak baik.
“Jahat ya, ma? Kata mama orang jahat selalu di hukum sama Alloh, ya? Kenapa mama Salsa gak di hukum sama Alloh, sih?.“
Aku harus menjawab apa, aku bingung dan pikiranku terasa kosong.
*****
Aku sudah memandikannya, sudah memilih pakaian yang bagus untuknya juga dan tak lupa memilihkan dua stel pakaiannya yang sudah ku kemas di tasnya, berikut dengan beberapa camilan, uang dan juga perlengkapan lainnya__aku tak mau anakku merepotkan orang atau di hina orang, makanya aku sudah siapkan semuanya.
Tak lupa juga aku membelikan ponsel untuk Bintang, ponsel bekas yang masih cukup layak untuk anak seukurannya__hanya ada whatsapps, kamera, radio dan kalkulator. Sengaja aku tidak mendownload apa-apa untuknya selain itu saja__tentunya ponsel itu sengaja ku belikan, supaya dia bisa menghubungiku kapanpun itu, tanpa harus repot-repot meminjam ponsel sang papa, karena aku jelas malas sekali berinteraksi kembali dengan Afif.
Mungkin aku sudah melanggar prinsipku dengan membelikan anakku ponsel dan mengizinkannya untuk memakainya, tapi apa boleh buat. Ketimbang dia meminta bantuan dengan papanya kan? Bintang itu anak yang cukup pintar lho, dia hanya beberapa kali di ajarkan, tapi sudah mahir menggunakan ponselnya, bahkan sebelum mandi, masih semoat-sempatnya dia memotretku, katanya sih supaya dia bisa memandang potretku kalau-kalau dia kangen nanti, ckck.. Bintang ini, padahal dia cuman mau nginep dua hari doang di rumah papanya, bukan untuk seminggu apalagi sebulan, yang tentu saja. Tidak akan pernah aku izinkan kalau selama itu.
Untungnya Afif pun menerima dengan gembira anaknya yang ingin menginap selama dua hari di sana dan untungnya juga, Afif tak membahas soal ketegangan di antara kami untuk sementara ini__tamoaknya dia mengerti, kalau dia harus bisa menyayangi Bintang dan tanpa menyinggung masalah kami di depan Bintang, untunglah. Setidaknya meskipun dia bukan suami yang baik bagiku, tapi masih berusaha menjadi papa yang baik untuk Bintang.
“Pokoknya jangan tidur terlalu malam, batas tidur Bintang hanya sampai jam sembilan malam!.“Tegasku.
“Iya mama.“
“Gak ada main ponsel, Bintang hanya di bolehkan kalau mama telepon, Bintang angkat. Setelahnya simpan di tas.“
“Iya mama.“
“Kalau Bintang mau jajan, ambil uangnya di loket kecil yang ada di depan ya? Jangan minta sama papa atau mama Salsa, ya?.“
“Siap mama.“
“Kalau nanti Bintang di kasih makan, di makan aja, apapun itu. Kecuali udang, ingat, Bintang alergi udang!.“
“Siap mama.“
“Ckckck.. kak, kamu udah ngomong dari semalem lho.“Ujar Arka sambil berdecak dan menggeleng-geleng ke arahku, aku langsung mengangkat wajahku dan menatapnya tajam. Ganggu aja dia, padahal aku sedang memberikan Bintang wejangan apa-apa yang boleh dan apa-apa yang gak boleh di lakukan Bintang selama di rumah papanya itu.
“Kamu kan gak pernah rasain anak kamu ninggalin kamu pergi, kak.“Sahutku, Arka mendengus pelan.
“Astaga kak, aku kan belum punya anak. Bintang cuman mau nginep dia malem aja, bukan pergi berperang, kamu ini bener-bener berlebihan banget sih!!.“
“Iya memang, tapi aku takut kalau sampai Bintang ngelakuin hal-hal yang__.“
“Stttttt..“Arka terlihat menempelkan jari telunjuknya di mulutnya dan seolah menyuruhku diam”Udah, gak usah terlalu khawatir gitu, percaya aja sama Bintang dan calon mantan suami kamu itu, nanti aku juga kasih dia peringatan, kalau sampai dia menyakiti keponakanku, habis dia di tanganku!!.“Ancamnya sambil menggeram, dan membuat tersenyum kecil.
“Iya-iya, tapi kamu juga ikut awasin ya, ka? Kalau mau kerja ke sana dulu, lihat ponakan kamu, di jahatin ibu tirinya enggak? Kalau iya, lapor aja ke aku. Nanti ku jambak rambutnya sampai botak kalau perlu.“
Arka tertawa riang mendengarnya dan satu tangan hampir mampir di kepalaku, dan tentu saja aku tak membiarkannya, ku tepis tangan kurang ajarnya itu.
“Apa sih? Gak sopan ya, sama yang paling tua kayak gitu.“
Arka cengengesan”Maaf, soalnya kakak lucu sih..hehe..“
“Lucu-lucu, aku serius tahu. Gak tahu aja kalau seorang ibu ngeliat anaknya di sakiti kayak apa, pokoknya kamu janji buat awasin ponakan kamu.“
“Iya janji.“Jawabnya yang membuat hatiku tenang, walau rasanya berat sekali harus melepas Bintang hanya dua malam ini saja.
“Yang baik di sana ya, sayang. Harus nurut sama papa dan mama Salsa, pokoknya kalau ada apa-apa, Bintang telepon mama, ya?.“
Bintang mengangguk”Iya.“
“Peluk dulu dong sayang..“Kedua tanganku terbuka lebar dan langkah kecilnya mendekat ke arahku, aku langsung menarik tubuhnya lalu memeluknya erat sekali, sampai kedua tanganku mengusap-ngusap punggungnya pelan, seketika bau telon dan bedak pun memenuhi indra penciumanku dan aku suka sekali__bau yang akan aku rindukan selama dua malam nanti.
Air mataku kembali keluar seiring aku memeluk Bintang erat, aku tahu mungkin akamln di katakan lebay, tapi percayalah. Berat untukku melepas Bintang walau hanya untuk dua malam__aku tahu tidak boleh begini, tapi aku ibunya. Yang mengandung, melahirkan dan mengurusnya dengan susah payah, apalagi selama lima tahun ini, tak pernah Bintang ku izinkan menginap di rumah siapapun sendiri__janji tetaplah janji dan aku tahu kalau aku harus tetap menepatinya, yaitu membiarkan Bintang menginap di rumahku ataupun di rumah Afif.