Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mobil sport merah berjalan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai lalu berhenti disalah satu toko penjual cupcake yang cukup terkenal tempat biasanya Luna membeli cemilan manisnya. Luna yang tergolong perempuan yang mudah berubah suasana hati.
"Beruntung masih buka toko cupcake ini, beli rasa cokelat aja deh."gumam Luna berjalan ke arah masuk toko cupcake.
Tring..
Bunyi lonceng pertanda ada pelangga baru masuk ke dalam toko, Luna sudah dikenal sebagai pelanggan member di sana jadi dirinya mudah di kenal oleh para pelayan dan ownernya.
"Non Luna datang, pesen cupcake seperti biasanya non."tanya salah satu pelayan.
"Iya pesen itu 2 aja. Masih fresh cupcake cokelatnya?"kata Luna.
"Masih non, baru tadi siang ready lagi cupcake."ucap balas pelayan itu.
"Kak Bara ada enggak didalam?"tanya Luna.
"Kebetulan bos Bara enggak ada ditempatnya non, lagi ada urusan lain diluar. Apa ada pesan yang mau kusampaikan nanti?"tanya pelayan itu bernama Joy.
"Enggak ada, salam aja kalau aku cari kak Bara aja. Pesenanku udah siapkan?" kata Luna.
"Ini non, udah siap."ucap Joy.
"Thank's next kesini lagii, salam buat yang lainnya."kata Luna dan dirinya berjalan keluar toko sambil menenteng bungkusan cupcake ditangannya.
Setelah itu Luna masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengendarai meninggalkan toko cupcake untuk menuju ke rumahnya. Luna sampai dirumah masih pukul empat sore suasana dalam rumah sepi yang kebetulan ibu mertuanya sedang ada acara dengan perkumpulan sosialita diluar. Penghuni rumah hanya Luna dan para pembantu.
Luna beranjak masuk kedalam kamarnya berada melepaskan lelah seharian keluar, dan cupcake yang dibelinya tadi telah ditaruh di atas nakas kamar.
"Lelah sekali, padahal hanya ke kantor kak Edward aja tapi sudah menguras tenaga banyak."gumam Luna.
Dirasa badan lengket semua abis dari luar, Luna lekas membersihkan diri sambil berendam dengan aromaterapi kesukaannya rasa mawar.
Drrtt...drrt..drrt..
Ponsel Luna berdering dari tadi, pertanda ada telepon baru masuk. Luna yang masih didalam kamar mandi tak mendengarkan bunyi ponselnya.
Ting..
{Apa sudah dirumah gadis kecilku?}pesan Edward.
Sedari tadi ponsel Luna berdering itu ulah Edward yang khawatir dengan Luna gadis kecilnya. Setelah kurang lebih satu jam Luna berendam dan lekas menyelesaikan membersihkan diri.
Luna keluar kamar mandi dengan handuk yang masih membalut di badannya dan melihat ponselnya.
{Udah kak, udah dari tadi sampai dirumah.}balas Luna.
Setelah Luna membalas pesan kak Edward, lalu dirinya memakai baju santai dan lekas memakan cupcake yang dibelinya tadi sambil meminum teh yang udah disiapkan asisten rumah tangganya.
"Sungguh nikmatnya sore hari sambil makan cupcake dengan ditemenin segelas teh hangat dan mendengar musik. Suasana hati jadi lebih baik dari sebelumnya."gumam Luna duduk disalah satu kursi menghadap luar jendela di kamar.
- -
Lain halnya yang dilakukan suaminya Luna yang saat ini sebenarnya berada dirumah sakit sedang menemani Dita untuk ke dokter dikarenakan Dita merasa tidak enak badan. Akan tetapi saat Akbar dan Dita keluar dari ruangan dokter secara bersamaan ada ibunya Akbar yang kebetulan juga berada bersama beberapa teman sosialitanya untuk menjenguk salah satu temannya yang sedang dirawat di rumah sakit itu.
Akbar yang saat itu menggandeng tangan Dita langsung melepaskannya dan sedikit menjauh dari Dita. Ibu Hana tentu terkejut karena bisa bertemu anaknya dengan Dita disini.
"Ibu, sedang apa disini?"tanya Akbar sambil menghampiri ibunya di ikuti oleh DIta di belakangnya.
Dengan sekuat tenaga Akbar berusaha menyembunyikan kegugupan dari raut wajahnya.
"Ibu sedang berkunjung ke salah satu teman ibu yang dirawat di sini."jawab bu Hana memandang anaknya dengan tatapan sulit diartikan.
"Lalu dirimu sedang apa di sini bersama dengan Dita?" tanya bu Hana gantian pada anaknya.
Teman-teman ibu Hana yang melihat tingkah anak dan ibu yang ada didepan mereka terlihat seperti sebuah tontonan menarik dan tak berniat ikut campur urusan mereka.
"Eh.. kita sedang.."Akbar terlihat bingung dan semakin gugup.
"Kita habis menjenguk teman yang di rawat di sini tante. Apa kabar tante?"kata Dita menyela omongan Akbar.
"Ah.. iya bu, aku kebetulan bertemu dengan Dita didalam."ucap Akbar
"Oh..." Bu Hana mengangguk.
"Ya sudah bu, kami kembali lagi ke kantor, aku pergi duluan ya bu." pamit Akbar
"Tante, Dita juga sama pamit." Dita menimpali Akbar dan mencium tangan bu Hana.
Baru beberapa langkah Akbar dan Dita meninggalkan bu Hana, tiba-tiba salah satu seorang suster berlari sambil memanggil nama mereka berdua. Bu Hana berdiri ditempat dan teman-teman lainnya sudah berjalan lebih dulu.
"Maaf pak Akbar dan bu Dita, ini obat anda ada yang tertinggal." ucap suster itu mengulurkan bungkusan putih bertuliskan nama rumah sakit pada keduanya.
Bu Hana mengerutkan keningnya bingung. Bukankah mereka bilang menjenguk temannya tapi kenapa suster itu memberikan obat? pikir bu Hana melihat Akbar dan Dita.
"Terima kasih sus" ucap Dita ramah, sambil mengambil obat di tangan suster.
"Sama-sama bu, semoga cepet sehat kembali bu Dita."balas suster tersebut yang membuat bu Hana menatap Dita penuh selidik, sedangkan Akbar dan Dita terlihat salah tingkah.
Suster itu langsung masuk lagi setelah mengucapkan perkataan yang membuat ketiga orang itu saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
Bu Hana langsung menghampiri Akbar dan Dita yang mulai terlihat gugup dan gelisah.
"Apa maksud perkataan suster tadi?"tanya bu Hana menatap tajam Akbar dan sahabat anaknya.
"Itu bu..."jawab Dita sedikit gugup.
"Sebaiknya kita pulang dulu aja, kita bicarakan semua ini dirumah ya bu." ucap Akbar sebelum Dita menyelesaikan perkataanya.
Akbar mulai merasa bersalah mengingat istrinya dirumah dan tatapan ibunya kepadanya.
Bu Hana membagi pandangannya pada Akbar dan Dita secara bergantian.
"Baiklah, ibu ikut sama kamu aja, ayo kita pulang sekarang." kata bu Hana
"Iya bu, biar aku ambil mobilku dulu. Ibu tunggu di sini." ucap Akbar memberi isyarat mata pada Dita agar menunggu ibunya disini lebih dulu.
Akhirnya Akbar mengambil mobilnya diparkiran rumah sakit, setelah itu bu Hana dan Dita masuk ke dalam mobil Akbar. Mobil mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.
Di sepanjang perjalanan Akbar berusaha tetap terliat kuat dan mencoba menghilangkaan gelisahnya dirinya sekilas memikirkan istrinya jika tau kalau dirinya sudah mengkhianati pernikahannya.
"Ya.. tuhan.. aku harus bagaimana? aku tak ingin membuat istriku berubah semakin lebih dingin lagi dan berpisah dengannya. Aku juga tak tega meninggalkan Dita"gumam Akbar dalam hati sambil sesekali memenjamkan matanya mencoba menguatkan dirinya kalau apa yang disembuyikan selama ini akan berakhir.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦