NovelToon NovelToon
Love Comes From Allah

Love Comes From Allah

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Yushang-manis

Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi wallahu waliyyu taufiq" Fatih mengucapkan janji sucinya dengan lantang dan tegas tanpa terbata. Hembusan lega dirasakan oleh mereka yang menyaksikan.

Akhirnya di hari yang mulia ini sepasang kekasih telah sah menjadi suami-istri. Mereka mengucapkan syukur banyak-banyak atas segala kemudahan yang dikaruniakan Allah. Setelah untaian doa selesai, Yasmine dan Nisa mengiring khaulah berjalan memasuki meja akad. Tangisnya pecah saat melihat sang ayah menatap nya sendu. Yasmine melepas sahabatnya untuk berjalan sendiri ke meja akad.

Dengan langkah ringan Fatih menyambut istrinya. Pertama kali dihidupnya mencium tangan laki-laki lain selain Abi dan jid nya. Fatih menempatkan tangan kirinya pada ubun-ubun kepala istri untuk memberikan doa baik untuk istrinya. Kecupan singkat Fatih layangkan di kening istrinya. Hatinya berdebar saat fatih mengecup keningnya.

"Cantik sekali." pujinya. Hal itu membuat pipi khaulah bersemu merah dibalik niqob nya. Tak segan-segan ia menggenggam tangan istrinya meskipun sedikit gemetar tak membuat ia mengurungkan niatnya menuntun istrinya untuk duduk di meja akad.

Disela-sela berdansa Fatih membawa tangan istrinya untuk menyentuh dadanya.

"Di hati ini hanya ada namamu. Uhibbuki fillah. Ya zaujati."

"Wa uhibbuka Fillah. Ya zauji."

Fatih membawa khaulah dalam pelukannya, mengecup singkat pucuk kepala istrinya. Dalam suasana bahagia itu ada seseorang yang tidak suka melihat keromantisan dua insan yang telah sah menjadi suami-istri. Setelah acara dansa selesai para tamu diminta untuk menikmati hidangan lebih dulu. Memberikan ruang untuk pengantin beristirahat.

Khaulah melihat ayahnya melangkah keluar dari pelaminan, membuat hatinya gelisah. Apalagi tadi pagi ayahnya tidak mau sarapan sedikitpun, bahkan untuk sekedar menatap dirinya pun seperti enggan. Khaulah menghela napas gusar, dan hal itu disadari oleh Fatih.

"Kenapa khaulah, kamu terlihat khawatir?"

"Iyah..., saya boleh menyusul abi sebentar?" tanyanya ragu. Kemudian Fatih mengangguk. "Silahkan, mau saya antar?"

"Boleh, ayok."

lantas Fatih dan khaulah pergi menuruni tangga pelaminan dengan hati-hati karena gaun panjang yang dikenakan khaulah membuat pergerakannya terbatas. Alie mengurung dirinya didalam kamar, hatinya belum rela melihat putrinya sudah menjadi milik laki-laki lain. Dia sudah tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk menafkahi putri nya, dia sudah tidak bisa lagi melihat keseharian anaknya.

"Abi..., aku boleh masuk tidak? aku ingin bicara dengan Abi." khaulah mengetuk pintu kamar orang tuanya dengan pelan karena ia yakin ayahnya tahu ada dirinya didepan pintu. Alie menghapus air matanya dan bergegas membuka pintu kamarnya.

Saat pintu sudah terbuka khaulah segera memeluk ayahnya erat seolah tak ingin ia lepaskan. Membuat Alie sedikit terhuyung walau bagaimanapun Alie membalas pelukan itu. Bibirnya membentuk lengkungan indah. Membuat Fatih yang menyaksikan nya ikut bahagia dan terharu dengan eratnya hubungan antara ayah dan anak perempuan nya itu.

"Kenapa kesini hm? harusnya kalian disana saja menyambut para tamu." ujar Alie setelah menguraikan pelukannya.

"Aku mau ngobrol sama Abi, boleh?" tanya khaulah dengan puppy eyesnya. Alie mengangguk. "Dimana nak?"

"Disini aja." tunjuk khaulah pada kamar ayahnya. "Nanti pintunya di buka aja, boleh yah Abi? Gus, boleh tunggu di sana." tunjuknya pada sofa ruang tamu yang tak jauh dari kamar orang tuanya. Fatih mengangguk menurut pada permintaan istrinya. Kemudian Alie dan khaulah masuk ke kamar dan duduk berhadapan.

"Abi..., sal tahu perasaan Abi sekarang seperti apa." khaulah menggenggam tangan keriput Alie. "Abi ridho tapi Abi juga belum sepenuhnya merelakan aku Iyah kan?, Abi...., sal sayang sama Abi selamanya, selamanya Abi."

"Abi sayang kamu nak, lebih dari apapun."

"Aku tahu, karena semua yang sudah Abi lakukan, Abi korbankan itu sudah lebih dari cukup untuk memperlihatkan sesayang apa Abi sama sal. Apa yang membuat Abi sulit merelakan sal?"

"Abi..., takut jika suatu saat kamu tidak lagi membutuhkan Abi.., Abi hanya sedih karena setelah ini Abi tidak bisa lagi melihat keseharian kamu dirumah ini, tanggung jawab yang Abi emban selama 25 tahun kini sudah berpindah ke suamimu. Abi tidak lagi menafkahi mu, tidak lagi memenuhi kebutuhan mu. Karena semuanya telah berpindah menjadi kewajiban suamimu. Rasanya sekarang Abi tidak lagi menjadi seorang ayah seutuhnya, rasanya setengah jiwa Abi hilang nak. Nanti saat kamu pindah, rumah ini akan sepi, hanya ada Abi dan umi." Alie menghapus air matanya dan menghembuskan napas berat. Khaulah memeluk ayahnya dari samping.

"Selamanya sal membutuhkan Abi, karena Abi adalah pusat sal dalam menentukan pilihan sal. Sayang itu selamanya Abi, jadi sampai kapanpun sal akan sayang Abi, dan akan selalu membutuhkan Abi. Meski bukan Abi lagi yang menafkahi sal, memenuhi kebutuhan dan keinginan sal, tapi sal butuh doa Abi karena doa ayah itu sangat mustajab dan doa Abi lebih dari cukup dari semua yang Abi kasih ke sal." khaulah menarik dirinya lalu menatap wajah ayahnya yang sudah keriput. "Jadi, Abi jangan sedih lagi yah? Hati ini harus rela sepenuhnya." khaulah menyentuh dada kiri ayahnya.

"Terimakasih yah nak. Yang dikatakan kamu benar, harusnya sebagai seorang ayah, Abi masih bisa mendoakan mu. Maaf abi terlalu jauh mikirnya."

"Gapapa Abi, aku paham kok, Abi hanya takut kehilangan sal, Iyah kan?" Alie mengangguk lalu mengecup kepala putrinya. "Sal sayang Abi..." khaulah mengecup singkat pipi ayahnya.

Fatih bisa merasakan bagaimana perasaan mereka sekarang. "Wajar jika Abi merasa kehilangan meskipun dirinya sendiri yang melepaskan. Karena yang ia lepaskan begitu indah, berliannya yang ia jaga harus ia bagi dengan saya, suaminya. Jarang sekali ada seorang ayah yang takut untuk kehilangan putrinya. Sedih karena harus melepas tanggung jawab pada putrinya, itu sangat jarang." tak terasa pipinya telah basah karena air mata.

Khaulah dan Alie keluar dari kamar dengan senyuman manis. Alie melepas rangkulannya pada khaulah kemudian ia menghampiri menantunya. "Al barra', kini tanggung jawab Abi, Abi serahkan ke kamu. Jika kamu tidak sanggup kembalikan putri Abi karena Abi tidak mau anak Abi hidupnya berubah drastis saat sama kamu. Tapi, Abi yakin kamu mampu mengemban tanggung jawab ini."

"Terimakasih Abi telah mempercayakan saya untuk menjaga dan merawat berlian Abi." Fatih memeluk mertuanya, pelukan itu dibalas oleh Alie dengan usapan lembut dipunggung anak menantu nya. "Sama-sama."

1
Zenny_ Jason
wow, thor! Gak sabar nunggu karya selanjutnya!
Yu shang-manis: thank you 😍 @
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!